Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 73 - Kegundahan hati Amar


__ADS_3

Amar terlihat kecewa saat Vivian tidak menghadiri acara perkenalan untuknya yang akan di kenalkan kepada sang ibu sebagai calon istri. Pesta yang mengundang beberapa orang dan juga kerabatnya dari kampung, di gelar dengan mewah, sekarang dia menjadi bulan-bulanan sang ibu yang selalu menanyakan calon menantu yang tak pernah tau rimbanya. Amar membaringkan tubuhnya sembari menghela nafas dengan berat, yang kelelahan bekerja akibat sang atasan yang jarang hadir ke kantor semenjak kehamilan istrinya, kedua tangan di selipkan kebelakang yang di jadikan tumpuan kepala, menatap langit-langit kamar dan merutuki nasibnya yang tidak beruntung.


"Apa yang harus aku katakan sekarang? Ibu tidak mempercayai aku lagi, dan kenapa Vivian tidak mengangkat telfonku," gumamnya yang melamun. Suasana sepi membuatnya lebih leluasa dalam merutuki nasib sialnya. Mengeluarkan ponsel mahal sembari menggeser layar dan menatap begitu banyaknya foto Vivian yang tersimpan di layar ponselnya, mencium foto itu dengan sangat lembut.


"Andai saja kamu datang, aku pasti tidak akan semalu ini, ini semua karena ibu yang datang tanpa mengabari aku terlebih dahulu," racaunya yang kesal. Suara ketukan pintu membuat lamunannya terhenti, dengan cepat dia melangkahkan kakinya yang malas dan membuka pintu. Kedua pupil matanya membesar saat melihat kedatangan Kartini, ibu kandung dari Amar.


"Ibu masih di sini? seharusnya ibu sudah sampai di kampung, apa yang terjadi sekarang?" Amar mengusap wajahnya dengan kasar karena nasibnya akan sangat sial jika Karini ada di dekatnya.


" Dasar anak durhaka, apa kamu ingin di kutuk?" ketus Kartini yang menarik salah satu telinga dari anak tertuanya.


"Auh...lepaskan jeweran ini, Bu. Aku hanya menanyakannya dengan baik-baik, kenapa ibu cepat sekali tersinggung?" pinta Amar yang memegang tangan Kartini agar mau melepaskan jeweran di telinganya.


"Baiklah, mulai sekarang Ibu akan menginap di apartemenmu. Kamu tidak bisa mengeluh masalah perut, Ibu akan memasakkannya untukmu," titah Kartini yang menepuk pundak anaknya, melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen mewah itu seraya menyeret satu koper besar di tangannya.


"Katakan alasannya kepadaku, kenapa ibu kembali lagi?" tanya Amar dengan penuh selidik.


"Ibu kesini ingin melihat menantu, bawa gadis itu di hadapanku dan perkenalkan atau aku akan mencarikanmu calon istri, bagaimana? apalagi kamu gagal membawakan calon menantu ibu kemarin," ungkap Kartini. Amar seakan ingin berteriak di dalam hati saat mendengarkan ucapan sang ibu yang selalu memaksanya untuk mempunyai seorang istri.


"Dia sedang sibuk dan tidak bisa datang, jika ada waktu aku akan membawanya ke kampung untuk menemui ibu."


"Hem, kamu benar. Hanya saja, Ibu ingin menikmati suasana kota yang sangat indah. Ajak ibu untuk jalan-jalan karena ingin mempostingnya di sosial media, untuk pamer dengan ibu-ibu komplek," tutur Kartini panjang lebar, membuat Amar menghela nafas dengan kasar.


"Terserah Ibu saja, aku ingin membersihkn diri dan pergi ke kantor."


"Apa ibu boleh ikut kesana?" ucak Kartini dengan penuh harap.


"Tidak," tolak Amar yang berjalan menuju kamar sesuai perkataannya.

__ADS_1


****


Di sepanjang perjalan ke ruangannya, Kenzi selalu saja mengukir senyum di wajah yang tak pernah luntur, membuat para karyawan melongo dengan pemandangan langka yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Lain halnya dengan pria yang ada di samping Kenzi dengan wajah jutek, perbandingan dari keduanya terlihat jelas.


Kenzi berjalan masuk ke ruangannya, di ikuti oleh Amar sebagai tangan kanannya di perusahaan. Duduk di kursi kebanggaannya dengan wajah tersenyum, menatap asistennya dengan tajam.


"Kenapa wajahmu seperti benang kusut? Aku sedang bahagia dan kamu malah sebaliknya? Dasar tidak sopan!" seloroh Kenzi dengan sinis.


"Bukan begitu Tuan, hanya saja aku sedang terkena masalah."


"Masalah? Katakan ada apa?" Desak Kenzi yang sangat penasaran.


"Ibuku yang di kampung sekarang ada di apartemen, bisakah Tuan membantuku?" Tutur Amar dengan penuh harap.


"Selagi aku bisa untuk mengabulkannya," sahut Kenzi dengan enteng.


"Apa kamu sudah buta? Adikku sudah mempunyai kekasih dan kamu malah ingin memisahkan mereka," cetus Kenzi, Amar hanya menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal sambil melontarkan senyumam khas nya.


"Mau bagaimana lagi,Tuan? Aku jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Terserah padamu saja, tapi aku katakan kepadamu untuk tidak bermain curang. Aku selalu mengawasi orang-orang yang membuatku curiga."


"Apa itu artinya Tuan merestuiku?" Ujar Amar dengan mata yang berbinar menatap atasanya nanar, Kenzi mengangguk dengan cepat.


"Selesaikan pekerjaanmu atau kamu akan di pecat."


Mendengar hal itu, Amar berlari menuju meja kerjanya dan kembali menjalankan tugas.

__ADS_1


"Ck, sejauh apapun kamu mengejar Vivian tidak akan pernah mendapatkannya. Apalagi Rayyan lebih baik daripada dirimu," gumamnya yang tersenyum miring.


****


Vero sangat kesal dengan keberadaan twins N tanpa tau malu sedikitpun, bertindak seenaknya membuat apartemen itu seperti kandang ayam yang sangat berantakan. Niki terduduk du ruang tengah sembari memeinkan ponsel untuk melacak sistem dan meretas data dari Vero. Tak lama Niki datang dengan membawa cemilan di tangannya, melihat layar pipih yang berada di tangan adik kembarnya.


"Apa yang sedang kamu retas?" tanya Niki yang memasukkan kue kecing yangam ada di tangannya.


"Semua data dan aset yang di miliki akan aku retas," jawab Niki yang terus menekan keyboard dengan kecepatan tinggi.


"Benarkah? Sepertinya sangat menyenangkan."


Twins N yang di sibukkan dengan ponsel mulai meretas data yang di miliki oleh Vero, beberapa perusahaan dan juga aset yang berlimpah. Hanya saja mereka melihat sebuah laporan hasil pemeriksaan ke dokter dengan negara yang berbeda, karena penasaran Niki mencoba untuk mencari tau. Tak butuh waktu lama untuk mereka mendapatkan data dengan mudah akibat kepintaran Niki yang meretas sistem keamanan milik Vero.


"Surat pemeriksaan siapa? kenapa surat itu seperti di blur?" Celetuk Niko yang menoleh ke samping.


"Entahlah, aku juga tidak tau. Hanya saja tertera atas nama Vero," sahut Niki.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" ucap seseorang yang berjalan mendekati mereka. Dengan cepat Niko dan Niki mematikan layar ponselnya agar tidak ketahuan.


"Hanya bermain game saja, di mana Bibi Vivian?" ujar Niko yang celingukan.


"Dia sedang membersihkan dirinya ke kamar mandi, sebaiknya kalian juga membersihkan diri. Paman akan mengantarkan kalian!"


"Baiklah."


Vero tersenyum melihat Niko dan Niki yang menjauh, sorot mata lembut dengan wajah kembali pucat. Darah segar kembali menetes hingga menyentuh lantai, dengan cepat dia membersihkan sebelun ada yang tau mengenai kondisi yang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2