
Rayyan sangat terkejut dengan kedatangan mereka secara mendadak, melepaskan Vivian dengan kesal.
"Oho, dari mana mereka datang?" batin Rayyan tanpa berkedip.
Alex, Niko, dan Niki melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan itu, mereka saling melirik satu sama lain di sertai seringaian tipis.
"Kenapa kalian meninggalkan kami di mobil," protes Lexi yang baru saja sampai, mengatur nafas yang tersenggal akibat berlarian mengejar saudaranya.
"Ingat! kamu juga meninggalkan aku jauh ke belakang," sela Lexa yang duduk di lantai dengan kedua kaki yang selonjoran.
"Aku sarankan kepada Paman untuk menambah lift baru, karena penuh membuat kami melewati tangga yang mancapai ribuan anak tangga," sewot Lexi.
"Dan aku juga sarankan agar menyiapkan makanan karena perutku sangat lapar akibat melewati tangga itu," sela Niki yang protes saat perutnya berbunyi.
Rayyan menatap satu persatu dari kelima bocah yang ada di hadapannya, "bagaimana mereka bisa masuk? Apakah keamanan dari kantorku sudah berkurang," batinnya.
"Paman pasti heran melihat kami masuk dengan mudah," celetuk Alex yang tersenyum memperlihatkan gigi putih nan rapi.
"Bagaimana kamu tau?" ujar Rayyan yang kebingungan.
"Terlihat jelas di wajah bodohmu, Paman!" jawab Niki dengan raut wajah tanpa dosa sembari bertos ria dengan ke empat saudaranya. Jangan tanya bagaimana reaksi dari Rayyan yang sangat kesal, wajahnya memerah akibat mendengar celotehan ke lima bocah yang ada di hadapannya. Vivian tersenyum kemenangan saat triple A dan twins N yang datang tepat waktu.
"Dino...Dino, di mana kamu? DIIINOO." Pekik Rayyan yang dengan suara lantangnya memanggil asistennya yang tak kunjung tiba. "Di mana keberadaan asisten bodohku itu?" gumamnya.
"Telingaku sangat sakit mendengar teriakan darimu, Paman?!" celetuk Alex yang mengorek telinganya.
"Apa yang Paman maksud pria yang berdiri di depan pintu?" tutur Niko.
"Hem."
__ADS_1
"Sayang sekali, paman jelek itu sudah kami amankan," jawab Niki.
"Anak-anak sialan itu mengikat kedua tangan dan juga kedua kaki, melakban mulutku. Mereka sangat nakal sekali, seseorang tolong aku! apa kalian mendengarkan aku? Aku ada di bawah di dalam lemari, " gumam Dino di dalam hati, berusaha untuk melepaskan diri.
"Kalian benar-benar membuat aku kesal, apa tujuan kalian datang kesini?" Ucap Rayyan dengan tatapan menyelidik.
"Tentu saja dengan misi penyelamatan Bibi Vivian, lepaskan bibi kami atau terima akibatnya." Tantang Alex yang berdiri di atas kursi menyamakan tingginya dengan pria dewasa, menunjuk wajah Rayyan dengan tatapan tajamnya.
"Jangan menunjukku begitu, atau jari itu tidak berfungsi lagi."
Fokus Rayyan terpecahkan saat Lexa dan Lexi melemparinya dengan kertas, untung saja refleks Rayyan sangat bagus hingga bisa menangkis dengan mudah.
"Kertas? Kertas apa ini?" Rayyan menangkap kertas itu dan membukanya, kedua mata terbelalak hampir keluar dari tempatnya. "Dasar bedebah kecil, kalian sudah merusak hasil kerja kerasku," ucap Rayyan yang menangisi nasib sialnya saat bertemu dengan ke lima anak itu.
"Maafkan saja mereka yang hanya anak kecil," tutur Vivian yang merasa bersalah, dia sangat tau bagaimana pentingnya kertas yang di rusak oleh keponakannya.
"Akan aku maafkan, tapi dengan syarat berkencan denganku."
"Kamu benar, sangat licik."
"Aku tidak ingin jika Bibi Vivian berkencan dengan pria itu, aku akan mengerjainya nanti. Lihat saja permainan dari Niki Wijaya," batin Niki yang tersenyum smirk.
Vivian mengela nafas dengan kasar, mengangguk dengan terpaksa. "Baiklah, asalkan kamu memaafkan para keponakanku yang sangat menggemaskan.
" Aku memaafkan mereka, bersiaplah nanti malam, Sayang." Rayyan mencium udara sembari melambaikan tangannya melihat kepergian dari wanita yang dia cintai, sedangkan Vivian menarik tangan para keponakannya untuk menjauh dari bosnya itu.
****
Di perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada obrolan di antara mereka. Hingga Niki sangat bosan dan menatap Vivian dengan dalam, membuat yang di tatap menyadarinya. "Kenapa Bibi menerima tawaran dari kayu berjamur itu?" Tanya Niki yang sedikit kecewa.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku untuk hal ini, aku terpaksa melakukannya karena ulah kalian," jawabnya yang sangat kesal mengingat bagaimana mereka membuat kekacauan di kantor.
"Percayalah kepadaku, Bi. Jika pria itu sangat licik, aku yakin dia mempunyai salinan dari kertas itu," celetuk Niko.
"Hah, lupakan itu. Kenapa kalian ada di kantor Rayyan?Sedang apa kalian di sana?" Ucap Vivian tanpa menoleh karena perhatiannya di sibukkan dengan menyetir mobil. Kelima dari anak-anak itu cengengesa "sebenarnya kami sangat bosan, tidak ada satu orang pun di mansion. Semua orang datang ke rumah sakit, dan kami juga ingin kesana untuk melihat adik," ucap Alex yang sangat bersemangat.
"Baiklah, sebelum itu kita beli hadiah dahulu untuk baby Eve."
"Eve? Apa itu namanya?" Ujar Lexi yang bersemangat.
"Hem, itu namanya."
"Wah, nama yang sangat indah."
Mobil terpaksa berhenti mendadak saat Vivian tak sengaja melihat seorang wanita paruh baya yang di todongkan senjata tajam, pandangannya menatap wanita paruh baya itu dan merasa kasihan.
"Kenapa Bibi berhenti?" tanya Alex.
"Apa yang Bibi lihat?" sambung Niko.
Kelima anak-anak itu mengikuti arah pandangan dari mata Vivian, mereka turun dari mobil dan menghampiri para penjahat untuk membantu wanita paruh baya itu dari tawanan penjahat, tapi merema memilih untuk bersembunyi di semak yang tak jauh dari lokasi.
"Main keroyokan, apalagi sang target juga sudah tua. Mereka seperti seorang pengecut," racau Vivian yang menatap tindakan dari para penjahat di balik semak untuk mendapatkan informasi.
"Tolong lepaskan aku dan jangan menyakitiku, " ucap wanita itu yang memohon sembari menyatukan kedua tangannya.
"Serahkan dulu semua uang dan perhiasan yang melekat di tubuhmu," jawab sang penjahat itu yang tertawa, seketika tubuhnya terjatuh ke tanah dan membuatnya sangat marah. Merasakan batu sebesar kepalan orang dewasa yang mengenai kepala salah satu penjahat itu.
"Siapa yang berani melakukan itu? keluar kalian," pekik salah satu teman dari para penjahat, celingukkan mencari keberadaan sang pelaku. Mereka keluar dari persembunyian, "aku yang melakukannya, pasti sangat menyenangkan, bukan? Lemparanku sangat tepat sasaran," tutur Niko yang membanggakan dirinya.
__ADS_1
Ketiga penjahat itu merasa sangat marah karena sudah ikut campul dalam urusan mereka, hingga menyerang Vivian dan juga triple A dan twins N. Menghadapi para penjahat dengan ilmu beladiri yang hampir sempurna, membuat mereka dengan mudah mengalahkan para penjahat.
"Di mana keberanian kalian tadi, cepat lawan aku!" kata Alex. Ketiga penjahat itu tak menyangka jika lawannya sangat mahir dalam ilmu beladiri, dengan terpaksa membuat para penjahat kabur melarikan diri. Dengan cepat Niki mengketapel pantat dari kebtiga penjahat, "nikmati hadiah dariku," pekik Niki yang bersorak gembira.