Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 75 - Wasiat Vero


__ADS_3

Rayyan sangat terkejut dengan dengan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Vero, dia tak menyangka jika pria itu sebentar lagi akan manemui ajalnya. Rasa iba di hati membuatnya tetap berdiri tanpa berniat untuk pergi, ingin mendengarkan kelanjutan dari obrolan itu.


"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya Rayyan yang memicingkan kedua matanya menatap sang rival menyelidik.


"Ck, aku sangat benci dengan perkataan yang di ulang-ulang. Waktuku tidak banyak lagi dan memutuskan untuk ke Amerika berkumpul dengan kakak dan juga kakak iparku. Dan sebelum aku pergi, aku ingin kamu menjaga Vivian untukku."


"Dasar pengecut, kenapa kamu melibatkan aku untuk urusanmu!" Rayyan meninggikan suaranya dengan sorot mata tajam miliknya.


"Karena hanya kamulah yang bisa menjaga Vivi ku dengan sangat baik, apalagi di saat aku mendengarkan ucapan penyesalanmu dan memeluk kekasihku itu. Ingin rasanya aku membogem wajah tampanmu hingga tak berbentuk lagi, untung saja aku bisa mengendalikan kemarahanku," ungkap Vero yang mengetahui seluk beluk yang terjadi dengan kekasih nya.


"Ck, bahkan aku lebih dulu melakukan hal itu kepadamu," sambut Rayyan yang tak ingin kalah.


"Berjanjilah padaku untuk mencintai Vivian melebihi dirimu sendiri." Kedua mata yang saling menatap satu sama lainnya.


"Heh, dia bahkan tidak ingin melihat wajahku. Apa yang harus aku lakukan saat kamu masih ada di sini?" Rayyan tersenyum simpul saat kembali mengingat Vivian yang membencinya.


"Kamu tau? Aku sangat memahami Vivi daripada dirinya sendiri, mengatakan jika dia mencintaiku. Tapi sebenarnya dia tidak mencintaiku, jika saja umurku lebih panjang aku akan terus berusaha untuk mendapatkan cinta suci yang dia miliki. Sorot matanya begitu dalam saat menatapmu, ada cinta di sana saat menatapmu."


"Ck, jangan berbelit-belit begitu," ketus Rayyan yang kesal.


"Penyakitku tidak bisa di sembuhkan lagi, aku bisa mati kapan saja." Vero tertawa miris sembari mendongakkan wajahnya ke atas menatap keindahan langit. Suasana hari yang cerah membuatnya menikmati pemandangan yang sejuk dan memanjakan matanya, membuat lebih tenang, sedikit menghilangkan beban.


Rayyan sedikit tersentuh dan juga kasihan dengan apa yang di alami Vero sangatlah berat, di sisi lain Vivian dan di sisi lainnya Leukimia stadium akhir. "Jangan menatapku begitu, aku tidak butuh rasa kasihan darimu," ketus Vero dengan tegas.


"Aku tidak merasa begitu, kenapa kamu sangat sensitif?"

__ADS_1


"Lupakan itu, sebelum aku pergi kamu harus berjanji kepadaku," tutur Vero yang meneteskan air matanya dan dengan cepat dia hapus.


"Bagaimana jika Vivian menanyakan mu?" Tutur Rayyan yang melipat kedua tangan di depan dadanya, tatapan fokus.


"Katakan jika aku telah berselingkuh dengan wanita lain saat bekerja di luar negeri, dan berilah dia bukti untuk memperkuat dugaan itu. Ambil flashdisk ini kepadanya jika aku telah tiada, " tukas Vero dengan santai sambil menyerahkan flasdisk itu ke tangan Rayyan.


"Flasdisk? Apa isi nya? Sama saja kamu membuatnya kembali terluka," sahut Rayyan. "Aku tak ingin melakukan hal itu," tolaknya dengan keras.


"Kamu harus melakukannya, ini permintaan pertama dan juga terakhirku." Vero tersenyum.


Perdebatan mengenai menjaga Vivian itu terhenti, di saat melihat tubuh Vero yang semakin pucat dan memegang kepalanya yang sakit tak tertahankan. "Sakkitt...aku sudah tidak tahan lagi!" jerit Vero yang menggenggam rambutnya.


"Aku akan mengantarkan mu ke rumah sakit," tawar Rayyan yang khawatir, membopong tubuh Vero dan membawanya masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit Pelita kasih agar tidak di ketahui para keluarga Wijaya. Mengendarai mobil dengan kecepatan penuh tanpa menghiraukan rambu lalu lintas yang bisa memperlambat kecepatan mobilnya.


Hingga mereka sampai di rumah sakit, Rayyan turun dari mobilnya seraya berteriak memanggil seluruh staf rumah sakit.


"Dokter...suster, aku butuh pertolongan kalian," teriak Rayyan dengan lantang membuat para dokter dan suster datang dengan membawa brankar. Meletakkan Vero di atasnya seraya mendorong brankar dengan langkah tergesa-gesa menuju ruang pemeriksaan.


Vero terus menggenggam tangan Rayyan dengan erat, rasa sakit yang di derita membuatnya yakin akan ajal yang datang dengan cepat. "A-aku mohon, ja-jagalah Vivi," tutur pria tampan di atas brankar.


"Apa yang kamu katakan? Kamulah kekasihnya bukan aku," sambut Rayyan yang sedih dengan kondisi Vero yang sangat memprihatinkan.


"Jangan mengandalkan pria sekarat sepertiku," tutur Vero yang tertawa. Hingga mereka sampai di ruang perawatan Vero, Rayyan yang ingin masuk di cekal oleh suster untuk di larang masuk.


Rayyan sedikit bingung dengan situasinya, hingga dia menelfon Kenzi, Abian, dn twins L. Tapi sedikit bimbang untuk menghubungi Vivian atau tidak, pandangannya gusar memikirkan ucapan dari Vero. Jujur saja dia mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan memulai awal yang baru, sedangkan dia malu dengan cinta pria itu yang sangat besar kepada Vivian.

__ADS_1


"Harusnya akulah yang mengantikan posisi nya itu, Vero mencintai Vivian dengan sangat tulus dan aku merasa sangat buruk. Ya tuhan...dalam sekian tahun, aku kembali meminta sesuatu kepadamu. Berikan kesembuhan untuk pria itu, dia pantas hidup untuk menemani dan mengisi hari-hari Vivian," batinnya.


****


Seorang wanita cantik yang sedang bermain game online di atas ranjang, keseruan melupakan waktu yang dia alami terbuang dengan sia-sia. Vivian sangat kaget saat mendengar suara bingkai fotonya dengan sang kekasih jatuh ke lantai dan kacanya menjadi pecah, perasaannya menjadi sangat gelisah dan penuh khawatir.


Berusaha untuk menghubungi Vero beberapa kali dan tak ada jawaban, tapi Vivian tak berputus asa. Dia kembali menelepon kekasihnya dengan nada yang tersambung, membuatnya sangat senang dengan hal itu.


"Aku sangat mencemaskanmu, di mana kamu sekarang?"


"Aku bukan Vero."


"Di mana kekasihku? Dan kenapa ponselnya ada bersamamu?Dan suaramu sangat tidak asing di telingaku."


"Hem, kamu benar. Aku Rayyan dan sekarang ada di rumah sakit."


"Ck, tidak ada urusannya denganku. Kenapa ponsel Vero ada di tanganmu?"


"Ka-karena Vero ada di rumah sakit Pelita kasih."


"APA?"


Vivian sangat cemas hingga dia melemparkan sembarang ponselnya, dengan cepat menurunu tangga dan terlihat ketiga kakaknya juga melangkah tergesa-gesa.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepada Vero, Kak?" desak Vivian yang mulai menitihkan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2