Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 54 - Orang asing


__ADS_3

Kedatangan kelima anak kecil membuat semua orang sedikit terkejut, Kayla tetap tidak bergerak dan terus mengancam Melodi dengan pisau yang ada di tangannya. Dia paham rencana apa yang ingin di lancarkan Melodi kepada nya, "kalian datang di waktu yang pas," ucap Kayla yang tersenyum.


Mendengar penuturan dari Kayla membuat semua orang menatapnya dengan bingung, "apa maksudmu dengan mengatakan itu?" tanya Rayyan menyelidiki.


"Karena melodi sudah masuk ke dalam jebakanku, untung saja triple A dan twins N memberitahukan niat wanita ini yang ingin membunuhku. Tapi dia sangat licik dan meminta kalian untuk memeriksa ganggang pisau yang dipenuhi sidik jariku," jelas Kayla. Dengan cepat Kenzi berdiri di samping Kayla untuk membelanya, "apakah kalian masih meragukan istriku? bahkan aku juga mempunyai bukti atas tindakan konyolnya itu."


"Bohong, mereka semua berbohong!" pekik Melody yang histeris.


Semua orang mulai menatap kebenaran lewat handycam yang di pengang oleh Niko, Kinan sangat terkejut saat melihat rekaman Cctv di rumahnya juga terputar di layar laptop milik Niki dan Alex memeriksa sidik jari yang ada di pisau itu. Alex dengan mudah menemukan siapa pemilik sidik jari itu, "untung saja Bibi Kayla sangat pintar mengetahui hal ini dan menggunakan sebuah cairan agar sidik jarinya tidak terdeksi di pisau ini, hanya ada sidik jari nona Melodi," ungkap Alex yang semakin membuat Melodi terpojokkan.


Kinan mendekati anak semata wayangnya dengan menatapnya dalam, "Mom, me-mereka telah menjebakku," kilah Molodi yang tidak bisa melawan, karena di luar dugaan ternyata rencananya sudah di ketahui dan masuk dalam jebakan sendiri. Kinan merasa sangat malu mengenai Melodi yang ingin merebut Kenzi dari istrinya, tetesan air mata yang mengalir deras di pipi dan tatapan tajamnya.


Kinan seketika menampar pipi Melodi dengan sangat keras, suara tamparan yang menggema, meninggalkan jejak memerah dan sedikit bengkak, "kenapa kamu menyukai suami orang hah?" tanyanya yang meninggikan suara, Kayla yang terkejut melepaskan Melodi yang hanya diam terpaku sembari menatap ibunya dengan tanda tanya di pikirannya saat ini.


"Kenapa Mom menamparku? apa kesalahanku dengan itu? aku hanya mencintainya dan berusaha untuk mendapatkan cintaku," lirih pelan Melodi yang juga meneteskan air mata.


"Mom sangat malu dengan ulahmu ini, sikapmu perlahan mulai seperti Daddy mu yaang tidak punya perasaan akan hubungan," cetus Kinan.


"Apa kesalahanku? bahkan aku lebih dulu mencintainya daripada wanita itu," ujar Melodi yang menunjuk Kayla.


"Tapi kami saling mencintai, jika kamu berniat untuk membuat kami berpisah? aku bahkan rela membuatmu tidak mempunyai kesempatan untuk hidup," kata Kenzi yang penuh dengan ancaman.


"Sedikit saja katakan jika kamu pernah mencintaiku," desak Melodi yang menaruh harapan besar dari jawaban Kenzi.


"Tidak, karena cinta pertama ku adalah istriku Kayla."


Kinan berjalan mendekati Dita dan juga Naina, dia sudah kehilangan wajahnya akibat tindakan memalukan dari Melodi, menyatukan kedua tangan tanpa berani menatap matanya. "Aku menyatukan kedua tanganku kepadamu dan mengharapkan balas kasih walau akan sulit bagi kalian. Aku meminta maaf dengan perbuatan Melodi, dan mulai saat ini aku akan membawa putriku bersamaku untuk tinggal jauh dari kalian semua."

__ADS_1


"Apa maksudmu dengan itu? apakah kamu ingin menjauh dari sahabatmu ini?" sahut Dita yang juga meneteskan air mata.


"Aku tidak punya pilihan lain lagi atau sifatnya menjadi seperti Daddynya."


"Baiklah jika itu keputusanmu," pasrah Dita.


Kinan menyeret tangan melodi dengan kasar dan menjauh dari anggota keluarga, "Mom, aku tak ingin pergi kemana pun," pekik Melodi yang terus memberontak. Kinan tidak mempedulikan ucapan dari anaknya dan memilih menyeret dengan kasar keluar dari mansion Wijaya.


"Kita akan pegi ke Singapura, jangan memberontak jika tak ingin Mom berbuat nekat," ancam Kinan yang seketika membuat Melodi bungkam.


Kenzi memeluk istrinya dengan erat beberapa detik, "apa kamu terluka?" tanyanya sembari membolak balikkan badan sang istri dan kembali memeluknya dengan sangat erat.


"Aku baik-baik saja, jangan mencemaskan aku. Bisakah kamu melepaskan pelukan ini? semua orang melihat kita," ujar Kayla yang memandangi semua orang satu persatu.


Pelukan dengan suasana yang kurang tepat tak pernah bertahan lama karena Niki menghidupkan petasan di dekat sepasang suami istri itu dan dengan cepat melarikan diri menggunakan langkah seribu.


"Itu baru cucu sultanku," gumam Bonar yang tersenyum melihat cucunya berbuat ulah.


Suasana yang awalnya mencekam sekarang sedikit mencair karena perbuatan Niki yang selalu berbuat ulah, "lupakan kejadian ini dan kalian kembalilah duduk," tutur Dita yang mempersilahkan.


Semua orang mengangguk dan mengikuti Dita, tapi tidak dengan Vero yang menahan tangan Vivian. Dan hal itu tak luput dari pandangan Rayyan yang mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna, "Kakak pergi saja, aku ingin di sini dulu," ucap Rayyan kepada Abian.


"Hem, terserah kamu saja," sahut Abian yang tak peduli.


Vero memegang kedua tangan Vivian dan menatapnya dalam, suasana yang romantis di malam hari. Vivian sedikit kaget dengan aksi Vero, "kamu mau apa?"


"Sesuatu yang harus aku katakan dan ini termasuk ucapan hal yang sama setelah puluhan kali di tolak," ujar Vero dengan tersenyum dengan nasibnya.

__ADS_1


"Biar aku tebak, apa kamu ingin menyatakan perasaanmu lagi?"


"Wah, bagaimana kamu bisa tau. Apa kamu telah beralih profesi sebagai tukang ramal?"


"Tidak juga, karena aku sudah mengenalmu."


"Aku merasa sangat tersanjung karena itu tandanya kamu memperhatikanku," jawab Vero dengan nanar dan seketika berjongkok dengan salah satu kaki yang menjadi tumpuannya, memegang tangan Vivian dan mengeluarkan sebuat kotak kecil yang berisi sebuah kalung mutiara yang sangat indah.


"Vivi, kamu sudah mengetahui apa maksudku. Aku akan mengatakannya sekali lagi, aku sangat mencintaimu, apakah kamu ingin menjadi kekasihku?" ucap Vero.


Belum sempat Vivian menjawab, tiba-tiba sebuah pukulan mendadak mendarat di wajah tampan dari pria bermata biru itu. Dia sangat kaget melihat siapa yang menjadi tersangka, dengan cepat Vero berdiri dan membalas pukulan yang juga sama kerasnya, "itu akibatnya jika kamu mengusikku," tutur Vero yang menatap tajam mata Rayyan yang sedang mengusap salah satu bibirnya yang berdarah.


"Sialan," umpat Rayya yang ingin menghajar Vero tapi di cekal oleh Vivian.


"Stop! apa yang kamu lakukan di sini? jangan menganggu urusan pribadiku dan kenapa kamu menghajar Vero dengan tiba-tiba?" ketus Vivian yang berjalan mendekat Vero sembari memeriksa luka yang ada di sudut bibir pria tampan itu.


"Karena aku tidak ingin dia menyatakan perasaannya kepadamu," sahut Rayyan yang terbawa oleh emosi.


"Siapa kamu? dan apa hubungannya denganmu? kita hanyalah orang asing dan bertingkahlah layaknya orang asing, apa kamu mengerti?" ucap Vivian yang membuat Rayyan bungkam.


"Tapi kamu masih mencintaiku," tutur Rayyan.


"Aku? mencintaimu? iya, itu memang benar sebelum perkataanmu melukai perasaanku. Perasaan ku kepadamu telah pudar dan aku sekarang mencintai Vero," sarkas Vivian yang membuat kedua pria itu terkejut.


"Apa artinya kamu menerimaku?" celetuk Vero yang di angguki kepala oleh Vivian.


"Iya, itu memang benar. Kamu selalu ada di saat aku membutuhkan bantuan, menghiburku, dan mengisi kekosongan hatiku ini," jujur Vivian yang tersipu malu, dengan cepat Vero memeluk kekasih barunya tanpa menghiraukan perasaan Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2