
Seorang pria tampan telah kembali ke Indonesia, melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi. Seluruh karyawan menundukkan kepala saat melihat atasannya yang berjalan dengan penuh kharisma, tatapan mata tajam dan juga dingin membuat auranya semakin terasa oleh semua orang yang ada di sekelilingnya, kedatangannya di sambut baik dan sang asisten baru bernama Dino.
"selamat datang Tuan." Dino menundukkan kepala dengan hormat, menyambut kedatangan atasannya.
"Hem," sahut Rayyan yang berdehem sembari melangkah menuju ruangannya, Dino mengikuti langkah kaki atasan barunya dari belakang.
Rayyan berjalan masuk ke dalam ruangan, menarik kursi dan duduk sembari menyenderkan punggungnya. Tatapan mata mengarah kepada asistennya yang baru saja di pekerjakan, melihat penampilan dari bawah hingga ke atas membuat Dino sedikit gugup.
"Perkenalkan dirimu," ucap Rayyan dingin.
"Nama saya, Dino Kusuma. Lulusan terbaik di kota X, pekerja keras dan juga sangat teliti," sahut Dino lantang.
"Hem, kamu di terima. Segera pelajari beberapa agenda yang akan aku ikuti dalam waktu satu pekan, jangan membuat kesalahan apapun atau bertindak ceroboh."
"Baik, Tuan." Rayyan menyerahkan beberapa dokumen, dengan sigap Dino mengambil dari tangan atasan barunya.
"Jika tidak ada urusan, kamu pergilah dari ruanganku."
"Saya pamit, Tuan." Dino terus saja menundukkan kepala tanpa berani menatap maka tajam milik atasannya. Rayyan melihat kepergian asisten barunya, beberapa saat kemudian kembali melakukan pekerjaan yang sempat tertunda.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar tak membuat Rayyan berpaling dari layar laptop miliknya, "masuk?!" sahut Rayyan tanpa menoleh. Seseorang menghandle pintu dan terlihat seorang wanita yang membawa beberapa berkas di tangannya, wajah yang cantik dan sedikit dingin membuat suasana mencekam.
"Ini dari kak Kenzi," ujar Vivian yang meletakkan beberapa dokumen di atas meja kerja Rayyan, sebenarnya Vivian tidak ingin berurusan dengan pria yang sudah menolaknya mentah-mentah, akan tetapi Kenzi terus saja memaksanha untuk mengantarkan berkas penting yang tidak bisa di wakilkan kepada orang lain.
Rayyan menghentikan aktivitas saat mendengar suara wanita yang sangat dia rindukan, dengan cepat mendongakkan kepala dan menatap wajah cantik dari Vivian. Berjauhan dengan Vivian membuat Rayyan tidak bisa tidur, apalagi saat mata-matanya mengirimkan sebuah foto gadis pujaannya yang berciuman dengan pria lain. Suasana hatinya sangat kacau saat mengetahui segalanya, dia tidak bisa menerima jika Vivian sekarang telah menjadi kekasih orang lain.
"Kamu di sini?" tanya Rayyan dengan sangat bersemangat dan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Hanya terpaksa," cetus Vivian dengan sinis sembari membalikkan badan dan ingin keluar dari ruangan yang membuatnya sesak. Rayyan merasakan ini kesempatannya dan tak akan menyia-nyiakan, dengan cepat dia mencekal tangan Vivian.
"Apa aku begitu buruk di matamu, hingga tak ingin satu ruangan denganku?"
Vivian mendelik kesal dan membalikkan badannya, mendongakkan kepalanya sembari menatap mata Rayyan dengan datar. Setiap kali dia melihat wajah pria tampan Rayyan di hadapannya kembali teringat akan ucapan dari pria itu yang menolaknya dengan tegas sembari mencium wanita lain di hadapannya. Rasa sakit yang masih membekas hingga saat ini dan membuatnya membenci Rayyan.
"Lepaskan tanganku," ujar Vivian tanpa menghiraukan ucapan dari pria di hadapannya.
"Aku tau kamu marah dengan kata-kata waktu itu, aku minta maaf. Tolong maafkan aku," ucap Rayyan yang menatap Vivian dengan sendu, sorot mata yang penuh dengan penyesalan.
"Kamu siapa? apa kita saling mengenal?"
"Vivian, aku minta maaf. Jujur saja, aku sangat menyesal dengan ucapanku dulu."
"Lepaskan tanganku!" tegas Vivian dengan sorot mata yang tajam.
"Kita tidak ada hubungan apapun! cepat, lepaskan tanganku." Rayyan tetap tak ingin melepaskan tangan Vivian. Emosi yang tidak bisa dia kendalikan membuatnya melayangkan pukulan di wajah pria tampan itu hingga mengeluarkan darah segar dari salah satu sudut bibirnya yang mulai membengkak.
"Itu akibatnya jika kamu masih memegang tanganku."
Dengan cepat Rayyan mengelap sudut bibir yang berdarah menggunakan tangannya.
"Ayo, pukul aku sepuasmu. Asalkan setelah itu kamu mau memaafkan semua kesalahanku." Rayyan tersenyum karena mendapatkan respon yang tak terduga, dia sangat senang jika Vivian memukul wajahnya dan itu artinya tujuannya akan tercapai.
"TIDAK." Tekan Vivian yang ingin keluar dari ruangan itu terhenti saat dua tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Lepaskan pelukanmu, aku tidak ingin bermasalah dengan kekasihku karena ulahmu ini," ancam Vivian tanpa menoleh.
__ADS_1
"Tidak, aku mohon! tolong, maafkan aku."
Vivian benar-benar kehilangan kesabaran saat berhadapan dengan pria bernama Rayyan yang menjadi cinta pertamanya, mengepalkan kedua tangan dengan erat. Vivian menyikut dada Rayyan dan menginjak kaki pria itu dengan sangat keras, hingga terlepas dari pelukan.
"Aku tidak akan diam saat kamu berbuat seenaknya kepadaku, jika sekali lagi kamu memelukku?! aku tidak segan-segan mematahkan kedua tanganmu," ancam Vivian sembari membenarkan bajunya yang sedikit berantakan, berlalu pergi dan menutup pintu dengan sangat keras.
Rayyan mengedipkan kedua matanya sepersekian detik karena suara keras yang di hasilkan dari pintu tertutup keras oleh Vivian, menatap kepergian gadis cantik itu yang menghilang dari balik pintu. Dia kembali mengelap salah satu sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah segar akibat bogeman mentah dari wanita yang mengisi hatinya setelah patah hati dari Lea yang menolaknya.
"Maafkan aku!" lirihnya pelan dengan tatapan nanarnya. Rayyan kembali duduk di kursi kebesaran sembari mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda, menatap fokus dan melupakan kejadian yang baru saja dia alami. Jari-jarinya selalu menekan keyboard dengan kecepatan tinggi, memeriksa pekerjaannya. Rasa bersalah yang menyelimuti dirinya, membuat Rayyan melampiaskan ke beberapa karyawan yang terkena imbas dari permasalahan.
Sementara Vivian merutuki Rayyan dan juga Kenzi, berjalan dengan tergesa-gesa. Dia masuk ke dalam mobil dengan mencengkram erat stir mobil untuk melampiaskan amarahnya, dia mencoba untuk mengontrol emosi dengan menghirup nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Rayyan sialan, berani sekali dia memelukku. Ingin rasanya aku mematahkan kedua tangannya dan menggulat tubuhnya," batin Vivian.
"Ini terjadi karena ulah kak Kenzi, jika saja aku menolak keras, ini pasti tidak akan terjadi. Lebih baik aku ke kantornya saja, itu cara yang sangat efektif dalam menghukumnya."
Vivian memasang seatbelt, membuka atap mobil dengan satu tombol saja dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati pemandangan kota sambil memasang kacamata, membuat penampilan Vivian terlihat glamour.
Seketika hati Vivian mencair saat melihat panggilan masuk dari kekasinya yang menelfon, mengangkat telfon dan mengurangi kecepatan kendaraannya.
"Halo."
"Kamu di mana? aku sudah menunggumu di restoran, cepat datang kesini dan selamatkan aku dari tatapan wanita yang menatapku dengan liar," tutur Vero membuat Vivian tersenyum.
"Ladeni saja, sementara aku akan mencari kekasih baru."
"Aku masih hidup, jika aku sudah mati, kamu boleh menikah dengan pria yang beruntung itu. Setidaknya dengan begitu aku tak melihat pernikahanmu dengan pria lain."
__ADS_1
"Ya...terserah padamu saja."