Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 63 - Amar cemburu


__ADS_3

Amar terpaksa memborong semua Es yang di inginkan oleh atasannya, melihat beberapa kantung plastik yang ada di tangan membuatnya tampak senang, itu artinya dia tidak jadi di pecat.


"Aku tidak tau Es apa yang di maksud oleh tuan Kenzi, lebih baik memborong lima gerobak yang menjual jajanan Es. Aku ternyata pintar juga!" ucap Amar yang membanggakan dirinya sembari berjalan menuju mobil. Amar menancap pedal gas setelah memakai seatbelt, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan bersiul untuk menambah suasana. Angin yang menyeruak masuk ke dalam jendela mobil membuat pikirannya semakin damai, untungnya jalanan tidak macet kendaraan.


Tak butuh waktu lama untuknya sampai ke kantor, Amar turun dari mobil dan masuk ke kantor, berjalan beberapa saat dan kembali menggunakan lift khusus. Senyum di wajahnya selalu saja mengembang dengan sempurna saat pintu lift terbuka, Amar melangkahkan kakinya dan membuka pintu ruangan CEO. Seketika senyum di wajahnya pudar di saat tidak melihat sang atasannya, seluruh pandangannya menyusuri ruangan itu.


"Dimana tuan Kenzi?" batin Amar.


Di sisi lain, Kenzi menghentikan kecepatan mobil dan berhenti di depan Mansion Wijaya. Turun dari mobil dan berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa, dia celingukan untuk mencari keberadaan istrinya.


"Sayang...suami tampanmu sudah pulang." Teriak Kenzi yang berlari kecil menggeledah kamarnya dan juga kamar mandi.


"Aku disini! kenapa kamu berteriak?" sahut Kayla sembari memakan cemilan karena akhir-akhir ini perutnya selalu lapar dan tidak bisa di kendalikan, bersantai di balkon kamar mambuatnya sangat menikmati pemandangan dari atas. Dengan cepat Kenzi berjalan menuju asal suara sembari memegang mawar merah di tangannya, tersenyum saat melihat sang istri makan dengan sangat lahabnya.


"Baru satu jam yang lalu aku meninggalkan mu dan sekarang kamu makan lagi?" Kenzi mengerutkan kening menatap istrinya yang gemar mengisi perut.


"Memangnya kenapa? Perutku sangat lapar!" ketus Kayla yang tidak menyukai keberadaan Kenzi.


"Yasudah, makan yang banyak." Kenzi tersenyum dan menarik kursi seraya menatap wajah canti dari wanita yang ada di hadapannya. Seikat bunga dia sembunyikan di belakang punggung, senyum di wajahnya selalu menghiasi wajahnya yang tampan.


"Kenapa kamu menatapku begitu?" celetuk Kayla tanpa menoleh karena perhatiannya teralihkan ke makanan yang ada di atas piring.


"Ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu," ujarnya yang sedikit gugup.


"Mana?!" Kayla celingukan karena penasaran dengan apa yang di katakan oleh Kenzi.


"Taraa...seikat bunga mawar merah, melambangkan cintaku kepadamu." Kenzi tersenyum saat berhasil membuat Kayla syok, dalam kata lain terkejut. Dia tidak tau jika istrinya itu alergi dengan serbuk bunga dan membuatnya bersin-bersin, Kayla menggelap hidungnya yang mulai berair.


"Sialan, apa yang kamu bawa ini, hah? Aku alergi dengan serbuk bunga," ketus Kayla.


"Benarkah? Kenapa aku tidak mengetahui ini?!"


"Cepat pergi dari hadapanku," pekik Kayla yang mendorong tubuh Kenzi.


"Baiklah." Pasrah Kenzi yang berlalu pergi menuju ranjang.

__ADS_1


"Yah, itu bagus."


Baru saja dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk dengan ukuran King size , terdengar suara ponselnya yang berdering. Kenzi mengambil ponsel dari saku celana dan melihat siapa yang menganggu waktu bersantainya sembari mengangkat telefon.


"Ada apa?"


"Tuan, saya sudah membawakan pesanan anda."


"Hah, aku melupakan itu. Sebaiknya kamu makan saja sebelum mencair."


"Es sudah cair, tuan. Bagaimana dengan pekerjaanku?"


"Baiklah, aku tidak akan memecatmu. Tapi dengan syarat, kamu harus membawakan aku ikan ****** berwarna biru dan merah, harus ikan ****** betina."


"Apa maksud mu, tuan. Sangat sulit untuk menemukan ikan ****** betina yang mempunyai corak warna."


"Aku tidak peduli itu, bawakan aku atau kamu akan di pecat."


Kenzi memutuskan sambungan telfon dengan sepihak tanpa memikirkan perasaan Amar yang sangat kesal dengan permintaan konyol tuannya itu.


Sudah beberapa tempat yang sudah dia singgahi untuk mencari ikan hias itu dan bahkan dia juga memposting di sosial media layaknya saembara, itu bisa mengurangi waktu pencarian dengan cepat. Amar menginjak rem mobil dan kembali memundurkan dengan pelan, melihat siapa yang sedang duduk di kursi taman tak jauh dari Danau.


"Sepertinya aku melihat Vian," gumamnya yang mengelokkan mobil menuju Danau. Memicingkan kedua mata dan memperhatikan dengan seksama, "tidak salah lagi jika itu adalah Vian."


****


"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" Vero menatap dalam mata Vivian, mencoba mencari kebenaran dari rasa cinta yang di miliki oleh kekasihnya.


"Hem, aku mencintaimu. Yah, walau terkadang aku sangat kesal dengan tingkahmu yang sangat menyebalkan." Jujur Vivian yang tersenyum hanyat, dia tidak tau kapan mulai mencintai Vero, pria yang selalu ada di saat dia membutuhkan bantuan.


"Jika suatu hari aku pergi, apa yang kamu lakukan?"


"Apa kamu ingin meninggalkan aku?" tanya Vivian tanpa menghiraukan pertanyaan dari pria tampan di sebelahnya.


"Tidak, karena aku sangat mencintai. Aku ingin memberikan sesuatu yang berharga dalam hidupku," tuturnya yang mengeluarkan sebuah liontin dari saku celana. Liontin yang berbentuk matahari di balut dengan mutiara dan juga berlian, Vivian mengambil kalung itu karena sangat penasaran dengan keunikannya.

__ADS_1


"Liontin? Tapi untuk apa? Bukankah ini sangat berharga?" Vivian mengerutkan keningnya.


"Karena kamu sangat spesial di hatiku dan kamu pantas untuk menerimanya, simpan saja sebagai kenang-kenangan dariku."


"Baiklah, jika itu keinginanmu. Sampai kapan liontin ini bersama ku?"


"Itu sudah menjadi hak mu sekarang, simpan saja."


"Baiklah."


"Ehem." Mereka mencari asal suara deheman, Vivian bisa melihat dengan jelas siapa yang datang.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Vero dengan ketus seraya memeluk Vivian dengan posesif.


"Ingin rasanya aku mematahkan kedua tangannnya itu," batin Amar yang mengepal tangannya dengan sempurna, Vero mengetabui jika asisten dari Kenzi juga menyukai kekasihnya.


"Hanya kecoa saja ingin melawanku? tidak mungkin. Bahkan aku juga tak akan memberi seorang pun cela untuk mendekati kekasihku," batin Vero yang tersenyum samar.


"Hanya melihat pemandangan Danau saja dan tak sengaja melihat keberadaan kalian di sini."


"Benarkah?" Celetuk Vero dengan tatapan menyelidik.


"Itu benar."


Sepasang mata menatap mereka dari kejauhan, melihat dan mendengarkan dengan jelas. Dia mengangguk pelan dan merekam dengan jelas yang akan di jadikan bukti.


"Iya king."


"Apa kamu masih di sana?"


"Benar king, saya telah mengawasi nona Vivian dan juga Vero. Tapi ada orang lain yang sepertinya menyukai nona!"


"Awasi mereka dan berikan informasi dengan cepat, jangan sampai kamu lengah atau kamu akan di jadikan santapan singa."


"Baik king."

__ADS_1


Pria itu mematikan sambungan telfon sembari melihat layar ponsel hasil pantauan dari anak buahnya yang mengawasi kegiatan Vivian dan juga Vero.


__ADS_2