Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 88 - Dad, tolong nikahkan kami


__ADS_3

Vivian menghampiri wanita paruh baya, di ikuti oleh tripla A dan twins N yang berlari. "Apa Tante terluka?" Tanya Vivian. Wanita paruh baya itu tidak menjawab, tatapan mata yang kagum terlihat jelas dengan mulut yang menganga.


"Gadis ini sangat cantik, bahkan dia sangat lihai ilmu beladiri. Sangat sempurna untuk menjadi menantuku," batin wanita paruh baya itu. Vivian menjentikkan jari di hadapan wanita yang ada di hadapannya dan berhasil menyadarkan wanita yang sedang melamun itu.


"Tante tidak apa-apa?"


"Eh, maafkan aku. Aku tidak apa-apa dan terima kasih sudah menolongku, siapa namamu?"


"Syukurlah jika Tante tidak apa-apa. Vivian, itu namaku!" ucapnya yang tersenyum indah membuat kesan baik di mata wanita paruh baya itu.


"Astaga, dia sangat-sangat cantik sekali," gumam wanita itu di dalam hati yang memuji kecantikan Vivian saat tersenyum.


"Panggil aku dengan sebutan Ibu Lili, apa mereka anak-anakmu?" Lili melirik triple A dan twins N yang juga menatapnya.


"Bukan, mereka keponakanku."


"Kamu terlihat sangat muda, apa kamu sudah menikah?!" ucap Lili yang sangat bersemangat.


"Kenapa wanita tua ini menanyakan hal itu?" bisik Alex.


"Sangat mencurigakan," jawab Lexa yang juga berbisik.


"Aku baru saja lulus kuliah dan bekerja."


"Kesempatan emas, Vivian merupakan gadis yang sangat cocok dengan Amar. Aku akan menjodohkan mereka," gumam Lili di dalam hati, seraya tersenyum dengan rencana perjodohan anak tertuanya.


"Kalau begitu saja pergi dulu, ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan," pamit Vivian yang tersenyum, ingin melangkah pergi tapi terhalang sebuah tangan yang memegang tangannya dengan erat.


"Apa aku boleh meminta nomor ponselmu? Aku ingin mengundangmu makan di rumah sebagai tanda terima kasih, bagaimana?" Lili sangat antusias dan bersemangat, sedangkan mata kelima triple A dan twins N tampak berbinar sambil membayangkan beberapa kudapan lezat yang akan mengisi perut kecil mereka. Vivian ingin menolak, hanya saja tatapan yang di perlihatkan oleh Lili membuatnya tak bisa menolak, apalagi kelima keponakannya mengangguk dengan cepat.


"Baiklah, kami pergi dulu. Lain kali berhati-hatilah!" Vivian dan kelima keponakannya pergi dari tempat itu tanpa menoleh. Sementara Lili tersenyum bahagia, dia sangat yakin jika Amar menyukai wanita itu.

__ADS_1


****


Di sepanjang perjalanan, triple A dan twins N menyorot sang bibi yang sedang fokus dalam mengemudi, Vivian menyadari hal itu, menoleh beberapa detik dan kembali fokus menyetir.


"Kenapa kalian menatapku begitu?"


"Setelah yang terjadi sekarang? Kenapa Bibi memberikan wanita tua itu nomor ponsel?!" sambut Lexa yang cemberut sembari melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Seperti merencanakan sesuatu." Tebak Lexi yang sangat mencurigai niat dari wanita yang mereka tolong tadi.


"Jangan mencemaskan itu, aku akan mengaturnya," jawab Vivian, hingga tak ada obrolon setelah itu. Tak terasa mobil berhenti di parkiran rumah sakit, menuruni mobil dan berjalan menuju ruangan tempat Lea di rawat. Triple A dan twins N berlarian meninggalkan Vivian jauh di belakang, dia hanya menghela nafas dengan berat di sertai dengan geleng-geleng kepala.


Seseorang menepuk pundaknya dari belakang, menghentikan langkah kaki Vivian dan menoleh, seorang pria tampan dengan penuh pesona yang tersenyum indah.


"Hah, kenapa aku harus bertemu denganmu! di kantor dan di rumah sakit. Jangan katakan jika kamu mengikutiku," tukas Vivian yang mendengus kesal.


"Aku datang bukan untuk menemuimu, melainkan Lea, wanita yang pernah singgah di hatiku," jawab Rayyan yang memegang dadanya sembari menghayati perkataannya untuk meyakinkan gadis yang ada di hadapannya.


"Apa urat malu mu itu sudah putus? Jangan pernah mengatakan hal itu atau aku akan membunuhmu."


"Sepertinya kamu perlu ke psikiater untuk membenarkan otakmu yang konslet itu."


"Aku sangat tersanjung dengan pujianmu itu." Rayyan mengedipkan sebelah matanya membuat orang-orang yang lewat terpesona, tapi tidak bagi Vivian yang menurutnya biasa saja.


"Aku sedang mengejekmu, bukan memuji. Katakan niatmu? Kenapa kamu mengikutiku?"


"Apa kamu lupa, jika Abian adalah kakak ku? Jangan membuang waktu, ayo kita kesana untuk melihat keponakan baru." Tangan melingkar di pinggang Vivian tanpa meninta izin terlebih dahulu pada sang empunya, berusaha untuk melepaskan tangan pria itu. Bukannya terlepas, malah tangan itu semakin mengerat.


"Cepat lepaskan aku, dasar tidak sopan!" umpat Vivian.


"Tidak akan, biarkan saja semua orang tau jika kamu hanya milikku seorang. Tidak ada yang boleh mendekatimu selain aku." Kekeuh Rayyan yang mengecup pipi Vivian dengan sangat lembut, membuat beberapa orang melihatnya, mereka tersenyum malu-malu, tapi tidak dengan Rayyan yang tak tau malu, kembali mencium bibir merah merekah.

__ADS_1


Rayyan mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan, pemandangan yang membuat mereka terkejut melihat pinggang ramping Vivian yan di rangkul dengan tangan yang berotot.


"Wah... wah, sepertinya kalian sangat dekat ya," ledek Abian.


"Apa kami terlihat serasi?" Rayyan tersenyum mengembang, sedangkan Vivian yang bertahan dengan raut wajah cemberut.


"Sangat serasi sekali," jawab Zean yang menyetujui hal itu.


"Daddy, tolong nikahkan kami!" desak Rayyan yang memohon.


"TIDAK," tolak Vivian dengan ketus.


"Apa kamu mencintai pria blangsak itu?" Tanya Kenzi yang menunjuk wajah dari sahabatnya.


"Entahlah, aku rasa tidak!" ucap Vivian yang singkat membuat Rayyan semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggangnya.


"Bukan itu, hanya saja kamu belum mengatakannya. Bukankah dulu kamu selalu mengejarku?"


"Heh, itu dulu. Tapi tidak dengan sekarang, esok, ataupun lusa," tegas Vivian.


"Apapun itu aku tetap menikahimu, setuju ataupun tidak. Jika cara halus tidak berhasil, aku bisa menggunakan cara kasar." Rayyan tersenyum menggoda sembari menyelusuri tubuh Vivian.


"Rayyan mengatakan untuk menikah, sementara jawaban dari Vivian malah sebaiknya. Sungguh membingungkan," ucap El yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Di mana keponakanku?" celetuk Vivian yang bersemangat tanpa menghiraukan ucapan unfaedah dari bosnya.


"Ini, gendonglah. Eve pasti ingin jika Bibi Vivian menggendong dirinya. Vivian menggendong bayi mungil itu dengan penuh hati-hati, menimang layaknya seorang ibu. Pemandangan yang tak luput dari pandangan Rayyan, hati kecilnya seakan tersentuh melihat kasih sayang dari gadis pujaan hatinya.


"Jiwa keibuannya sangatlah kental, dan aku sangat yakin jika anak-anakku mendapatkan kasih sayang darinya. Aku tidak ingin jika nasib anak ku kelak sama sepertiku yang kurang akan kasih sayang Mommy," batinnya yang menarik kedua sudut bibirnya dengan sempurna.


"Biar aku tebak, jika kamu sedang memikirkan adikku," bisik Kenzi yang baru saja menghampirinya.

__ADS_1


"Kamu benar, aku akan membuat tempatku sendiri di hatinya. Aku sangat mencintai Vivian, doakan aku segera menjadi adik iparmu," sahur Rayyan yang juga berbisik.


"Baiklah."


__ADS_2