Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 90 - Karma


__ADS_3

Kenzi sangat kesal dengan Niki yang sudah mencuri black card yang ada dompetnya tanpa meminta izin, dia berusaha keras memikirkan bagaimana Niki mengambilnya. "Aku tidak menyadari apapun, bagaimana cara dia mengambilnya?" gumam Kenzi. Kembali menjalankan mobilnya.


Cuaca sangatlah cerah tapi tak secerah perasaan Kenzi yang di penuhi kekesalan di hatinya, mengendarai mobil dengan kecepatan penuh tanpa memperhatikan lampu lalu lintas di jalanan. "Bisa-bisanya ketua Mafia di rampok? Seakan harga diriku di injak-injak olehnya, baru tadi pagi mereka menggangguku dan sekarang mengerjaiku?!" gumamnya.


Tak butuh waktu lama mobil berhenti di depan gedung pencakar langit, menuruni mobilnya dan berjalan masuk ke dalam gedung. Berjalan dengan cool dan penuh berkharisma, sorot mata yang tajam dan rahang yang mengeras. Para karyawan menyambut kedatangan Kenzi di pintu masuk, mereka menyapa tapi tak berani menatap mata bos besarnya selain menundukkan kepala. Begitupun dengan Amar yang telah rapi seperti biasanya, berjalan mengikuti bosnya dari belakang.


Kenzi meng-handle pintu masuk ruangannya, berjalan mendekati kursi kebanggaannya dan mendudukkan dirinya. Sedangkan Amar berdiri di sebelah Kenzi, dia bisa melihat ekspresi wajah yang sangat kesal, membuatnya semakin penasaran hingga mendorongnya untuk bertanya.


"Apa yang terjadi denganmu, Tuan? Apa ada masalah yang membuat anda kesal?"


"Eh, kamu masih di sini? Aku kira hanya akulah orang di ruangan ini." Kenzi sedikit terkejut mendengar suara asistennya, dengan cepat dia mengembalikan raut wajah yang tenang.


"Apa aku ini hantu? Bahkan tuan tidak melihatku yang berdiri di sampingnya," gerutu Amar di dalam hatinya.


"Saya di sini Tuan, apa yang membuat anda begitu kesal?" Tanya Amar dengan formal.


"Hah, aku sangat kesal dengan keponakanku itu. Tapi yang lebih mengesalkan itu adalah Niki, berani sekali dia mencuri kartu tanpa meminta izin terlebih dahulu," jelas Kenzi.


"Jika dia meminta izin itu namanya bukan mencuri, Tuan!" jawab Amar yang menahan tawa mengenai kebodohan dari atasannya itu.


"Siapa bosnya di sini, aku atau kamu?!" ketus Kenzi yanh tak ingin di koreksi.


"Tentu saja andalah bosnya."


"Ingat point penting ini, jika bos tidak pernah salah."


"Ck, apa-apaan itu. Apa dia itu tuhan, dewa, atau sebagainya yang tidak pernah salah?" batin Amar.

__ADS_1


"Apa kamu mendengarkan aku?" Kenzi yang kesal itu menggebrak meja dengan sangat keras, kekesalan akibat Niki dengan melampiaskannya kepada asistennya.


"Tuan monyet...eh, monyet." Amar sangat terkejut hingga dia tak sengaja mengatakan hal itu, mengusap dada yang seakan berdetak cepat. Bukan karena jatuh cinta melainkan rasa terkejut yang baru saja dia alami, seketika pandangannya menatap wajah atasannya yang memerah seperti udang rebus.


"Berani sekali kamu mengatai aku monyet? Dasar asisten lucknut, jahanam, dan juga bodoh!" ujar Kenzi yang meninggikan suaranya dengan lantang.


"Maafkan saya yang hanya refleks, Tuan." Amar bersimpuh di kaki Kenzi dan berusaha mendapatkan maaf.


"Maaf katamu? Kamu benar-benar membuat kesabaranku habis." Lantang Kenzi yang berusaha untuk melepaskan kakinya akibat sang asisten.


Tiba-tiba pintu terbuka, Kenzi dan Amar mengalihkan perhatian mereka sejenak saat melihat seorang wanita cantik dengan perut yang membuncit, membawa rantang kecil di tangannya dan senyuman yang terukir indah di wajahnya.


"Walaupun gemuk tetapi masih terlihat sangat cantik," gumam Amar yang tak sengaja keceplosan, Kenzi yang mendengarnya merundukkan tubuh dan menjitak kepala asisten nya itu dengan sangat keras, hingga membuat sang empunya meringis.


"Jika sekali lagi mulut kotormu itu memuji istriku, bukan hanya pekerjaan saja yang menghilang melainkan nyawamu yang akan melayang. Cepat pergi dari ruangan ini," titah Kenzi.


"Tapi, Tuan. Bagimana dengan nasibku__"


Dengan cepat Kenzi merubah ekspresi seperti singa yang mengamuk menjadi seekor kelinci yang sangat menggemaskan saat kedatangan istri tercinta. "Sayang, kenapa kamu repot untuk datang ke kantor?" tanya Kenzi dengan lembut sembari menggandeng istrinya untuk duduk di sofa empuk.


"Aku sangat bosan di mansion, anak-anak pergi ke sekolah, semua orang menjalankan aktivitasnya masing-masing dan hanya aku saja yang tidak memiliki kegiatan apapun," keluh Kayla yang cemberut.


"Bukankah di sana ada Lea dan juga baby Eve?"


"Bukankah kamu sudah tau, jika peraturan yang di buat oleh Abian sangat ketat sekali. Dia menjadi seorang Daddy yang sangat posesif kepada putrinya yang baru berusia beberapa hari itu, dan membuatku sangat kesal."


"Jangan pikirkan itu, dia memang sangat menyebalkan. Kamu sangat romantis sekali, membawakan aku bekal makan siang!" ujar Kenzi yang selalu memandangi rantang kecil yang di bawakan oleh Kayla.

__ADS_1


"Itu makan siangku," sahut Kayla yang singkat.


"Eh, bukankah itu untukku yang di masak dengan penuh cinta?"


"Bukan, aku sangat lapar tetapi tiba-tiba ingin makan di kantormu. Sepertinya sangat menyenangkan," jawab Kayla yang menohok membuat Kenzi melongo seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya karena tak percaya. Sedangkan di sebalik pintu terdengar cekikikan karena sedari tadi dia mendengarkan obrolan suami istri yang ada di dalam ruangan.


"Hah, itulah karmanya. Menindas asisten tampan sepertiku, tak aku sangka doa terkabul dengan begitu cepat," gumam Amar yang segera berlalu pergi sebelum ketahuan oleh bos nya itu.


Kenzi hanya melihat dengan nanar ke arah makanan yang tersusun di atas meja, aroma khas dari masakan membuat Kenzi memegangi perut akibat cacing berdemo. "Apa kamu tega melihat aku kelaparan?" Kenzi berakting untuk mendapatkan perhatian dari istrinya yang sedang asik menyuapi mulutnya dengan makanan.


"Jangan menunjukkan wajah bodohmu, pesan saja dan minta asisten mu membelikannya," cetus Kayla tanpa menoleh.


"Apa kamu tidak sayang kepadaku? Aku minta pengertian darimu, suapi aku!" rengek Kenzi sambil membuka mulutnya dengan lebar.


"Hah, baiklah. Aku akan menyuapimu, tapi ada satu syarat!"


"Syarat?" Seketika perasaan Kenzi menjadi gelisah saat mendengarkan kata itu, dia menjadi sedikit was-was akan kejadian yang menimpanya.


"Aku sangat ingin buah kelapa muda," pinta Kayla.


"Syukurlah hanya kelapa muda dan itu tidak akan sulit, tinggal meminta asisten bodoh itu untuk membelikannya," gumam Kenzi di dalam hati sembari tersenyum.


"Baiklah, itu sangat mudah bagiku." Kenzi menyetujuinya dengan cepat.


"Aku belum selesai berbicara."


"Eh, katakan saja dan aku akan memenuhinya."

__ADS_1


"Apakah kamu sungguh-sungguh dengan ini?" Kayla menatap mata suaminya dengan dalam, Kenzi menganggukkan kepalanya. "Aku menginginkan kamu mengambilkan aku buah kelapa muda dengan cara memanjat pohonnya secara langsung," pinta Kayla dengan suara yang manja.


"APA?"


__ADS_2