Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 76 - Nyanyikan aku lagu


__ADS_3

Vivian berlari dengan sangat cepat, menyusuri koridor rumah sakit dan mencari ruangan tempat sang kekasih di rawat. Air mata yang berderai membasahi pipinya, perasaan gelisah sedari tadi membuatnya kalut, dia tidak menghiraukan panggilan dari kakaknya, karena pikiran dan juga fokusnya tertuju kepada Vero.


Langkah kakinya berhenti saat melihat Rayyan yang duduk di kursi tunggu, berjalan mendekati pria tampan itu. "Apa yang kamu lakukan kepada Vero, hah?" ucapnya dengan penuh amarah, air matanya kembali menetes. Rayyan mendongakkan kepala, melihat raut wajah Vivian yang semakin membencinya.


"Aku tidak melakukan apapun," lirih Rayyan pelan, dia mengatakan yang sejujurnya. Hanya saja Vivian belum mengetahui kondisi dan penyakit yang di derita oleh kekasihnya itu dan mengira jika Rayyan berbuat jahat kepada Vero.


"Apa kamu iri dengan kebahagianku, hah?" Vivian mencengkram kerah leher Rayyan dengan sangat kuat, dengan cepat Kenzi melerainya sembari memeluk adiknya.


"Tenanglah, ini bukan kesalahan Rayyan." Mendengar hal itu, Vivian melepaskan pelukan sang kakak, sorot mata yang menatap Kenzi yang tak percaya.


"Apa maksud kakak mengatakan itu? Apa kakak sedang membelanya?" Vivian syok jika sang kakak lebih membela sahabat daripada adik kandungnya sendiri.


"Apa yang di katakan Kenzi benar, selama ini Vero menutupi penyakit leukimia stadium akhir kepada kita semua. Bahkan sebelum mengenal mu," ungkap Al menjelaskan, kabar itu di ungkapkan oleh Rayyan sebelum menelfon Vivian.


"APA? Leukimia stadium akhir?" Vivian sangat terkejut, memundurkan langkah dan menyenderkan punggungnya di dinding karena tak sanggup menompang tubuhnya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Vivian, air mata yang membasahi pipinya menjadi saksi kesedihan, berharap ada keajaiban.


"Kita doakan saja yang terbaik untuknya," ucap Kenzi yang memeluk adiknya, ikut merasakan kesedihan. Vivian melepaskan pelukan itu dan menghampiri Al dan juga El, tatapan dengan penuh harapan.


"Bukankah Kakak sangat ahli dalam pengobatan? Pasti ada obat untuk semuanya," ucap Vivian yang memegang tangan Al dan juga El.


"Tidak ada obat untuk itu," jawab Al yang lesu sembari mengarahkan pandangannya ke samping.


"Apa maksud Kakak? Kak Lea saja bisa sembuh, tapi kenapa tidak ada obat untuk kekasihku?" Cetus Vivian yang menghempaskan kedua tangan kakaknya dengan kasar.


"Ini sudah sangat terlambat dan kasusnya juga berbeda, jika saja dia mengatakannya lebih awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi," sahut El.


Pintu terbuka mengalihkan seluruh perhatian mereka, melihat seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu. Vivian menghapus air matanya dan menghampiri sang dokter, berharap semuanya baik-baik saja.


"Katakan bagaimana kondisi Vero?" Desak Vivian.


Sang dokter hanya menggelengkan kepala dengan pelan dengan wajah yang tertunduk. "Kami sudah bekerja keras, percayakan kepada tuhan. Saya pamit undur diri," ucap Dokter yang berlalu pergi, Vivian melihat kepergian sang dokter yang mulai menghilang dari pandangan. Dengan cepat dia masuk ke dalam untuk melihat kondisi dari kekasihnya itu, Vivian menarik kursi dan memegang tangan Vero.


"Kenapa kamu menutupinya dariku? Kamu pria yang paling menyebalkan, apa alasanmu untuk menutupi semua ini. Jawab aku! kenapa kamu diam saja, cepat buka matamu," lirih pelan Vivian yang menangis karena tak kuasa melihat kondisi kekasihnya yang terbujur lemah dengan beberapa alat yang menempel di tubuh pucatnya.

__ADS_1


Kedua tangan di lipat menjadi penompang dahi, menelungkupkan kepala dan menangis tanpa bersuara. Vivian merasakan sebuah tangan yang mengelus pucuk kepala, dia mendongakkan kepala dan tersenyum senang saat melihat Vero yang baru saja membuka mata.


"Syukurlah kamu sudah sadar," ujar Vivian yang berusaha menyembunyikan air matanya. Vero tersenyum dengan bibir pucatnya, menghapus air mata kekasihnya yang menetes. Vivian tak sanggup untuk menyembunyikan perasaannya kepada pria tampan itu, mendekap tubuh Vero sembil menangis.


"Sudahlah, jangan menangis lagi," lirih Vero yang tersenyum tipis.


"Kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini kepada ku? Apa aku ini tidak penting bagimu?" tanya Vivian mendongakkan kepala menatap Vero.


"Aku tidak ingin jika kamu mengkhawatirkan kondisiku, di mana Rayyan?" tanya Vero yang celingukan.


"Dia ada di luar bersama dengan kak Kenzi dan kak twins L, sedangkan kakakmu yang di Amerika sedang dalam perjalanan menuju Indonesia."


"Bisakah kamu panggilkan Rayyan? Sebentar saja," pinta Vero.


"Baiklah." Vivian melangkah keluar ruangan dan menghampiri Rayyan yaang sedang duduk di kursi tunggu.


"Vero ingin berbicara kepadamu, pergilah!"


Rayyan mendekati Vero, menarik kursi dan menatap pria yang ada di hadapannya. "Kenapa kamu memanggilku?"


"Aku ingin kamu berjanji kepadaku untuk menggantikan posisiku, menjaganya dengan sangat baik."


"Baiklah, aku berjanji."


Vero tersenyum, "aku juga ingin jika kamu memberikan flasdisk itu di saat aku sudah tiada, buat dia bahagia dan jangan menyakitinya lagi. Aku akan mengawasimu dari atas sana," lirih pelannya.


"Apa kamu ingin mati secepat itu? Berjuanglah demi Vivian dan lawan penyakit mu itu," tutur Rayyan.


"Ck, ini sudah takdir yang harus aku terima. Setidaknya aku bisa merasakan bahagia sebelum ajal menjemputku."


"Sialan, air mataku keluar dengan sendirinya." Rayyan menghapus air mata yang sempat menetes.


"Aku senang melihatmu begitu dan ada satu hal yang ingin aku berikan kepadamu," tutur Vero yang menyerahkan catatan kecil miliknya, selalu di bawa kemanapun dia pergi.

__ADS_1


"Buku diari?" Rayyan mengerutkan keningnya dan menatap Vero.


"Itu milikku, kamu boleh membacanya. Ada beberapa kegemaran dan juga kesukaan dari Vivian dan yang pastinya itu berguna untuk mendapatkan hatinya. Tapi jangan baca di part tiga puluh lima," jelas Vero.


"Apa isinya di part itu?" tanya Rayyan yang penasaran.


"Kamu akan sakit hati membacanya, itu bagian saat aku menciumnya," tutur Vero yang tertawa renyah, dia sangat senang melihat raut wajah kesal dari Rayyan.


"Ck, setelah kamu sembuh aku akan memukul wajahmu."


"Dan itu hanyalah mimpi, aku hanya menunggu waktuku saja." Vero mengalihkan perhatian berusaha menutupi kesedihannya.


Vivian, Kenzi, Al dan El masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi lemah dari Vero. Mendekatinya dan tersenyum untuk menutupi kesedihan, "kamu ini sangat lemah, berjuanglah dulu!" celetuk El yang berusaha untuk menghibur.


"Andai saja__"


"Bagaimana dengan kondisimu?" tanya Al basa basi.


"Antara hidup dan mati."


"Berhentilah mengatakan hal itu atau aku akan memukul hidungmu yang mancung hingga patah," ancam Vivian.


Vero tersenyum dan menatap mereka satu persatu, menutup matanya dengan perlahan. Vivian yang sangat terkejut dengan cepat mendekati Vero, mengguncang tubuh lemah pria itu.


"Bangunlah! Vero...Vero." Vivian terus mengguncang tubuh Vero dengan air mata yang kembali mengalir deras, bahkan ke empat pria yang berdiri di sana juga merasakan hal yang sama.


"Ayolah, aku hanya tertidur saja," ucap Vero yang membuka kedua matanya.


"Kamu membuat aku takut saja," ucap Vivian yang menghela nafas dengan lega.


"Maafkan aku, bisakah kamu menyanyikan aku lagu pengantar tidur? Aku sangat mengantuk dan ingin mendengar suaramu saat bernyanyi," pinta Vero.


Vivian menganggukkan kepalanya dan mulai menyanyikan lagu pengantar tidur, air mata yang tidak bisa dia bendung berusaha untuk menyelesaikan permintaan dari sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2