Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 70 - Kecurigaan Vivian


__ADS_3

Vivian bersiap-siap untuk pergi ke acara keluarga Amar, dengan gaun di atas lutut berwarna navi melakat di tubuhnya yang terlihat sangat cocok. Mengurai rambut panjangnya, tak lupa dengan sedikit polesan tipis di wajah agar terlihat segar. Setelah selesai bersiap-siap, Vivian menuruni tangga dengan elegan, membawa tas kecil yang di jinjing di tangannya. Dia berjalan ke mobil yang terparkir di halaman mansion dan membuka pintu mobil untuk masuk ke dalam.


"Wah, kekasihku terlihat sangat cantik ya?!" tutur seorang pria dari kursi belakang, melipat kedua tangan di depan dadanya sembari menatap Vivian penuh selidik.


"Oh astaga, kenapa kamu ada di dalam mobilku?" ucap Vivian yang sangat terkejut, kedua pupil matanya membesar dengan tangan yang menutup mulut.


"Kamu mau kemana? Bukankah malam ini kamu mengatakan sedang tidak sehat?" Dengan cepat Vero duduk di kursi depan, berada samping kekasihnya.


"I-iya aku me-memang tidak sehat." Gugup Vivian yang berbohong. Dia terpaksa berbohong agar terbebas dari Vero, karena kekasihnya itu selalu mengawasinya, tak terkecuali saat ini.


"Aku bukanlah anak-anak yang mudah kamu bohongi, katakan sebenarnya," cetus Vero yang sedikit marah dengan wanita cantik di sampingnya.


"Temanku ingin mengadakan pesta dan aku di undang."


"Aku terima alasanmu," tutur Vero yang mengangguk pelan, Vivian bisa bernafas dengan lega.


"Boleh aku pergi?" Ujar Vivian yang mengedip-ngedipkan kedua matanya yang terlihat sangat mengemaskan, Vero sedikit terpesona dengan kecantikan alami yang di miliki oleh kekasihnya, dan beberapa saat kemudian kembali menunjukkan raut wajah tegasnya.


"Baiklah, kamu boleh ikut. Hanya saja__"


"Hanya saja apa?" ucap Vivian dengan antusias.


"Aku harus ikut denganmu, demi keselamatan dan juga keamanan mu."


"Ya tuhan, apalagi ini? kenapa dia selalu mengikuti aku yang menempel layaknya seekor cicak, dan bagaimana jika dia mengetahui kebohonganku!?" batin Vivian menggerutu, wajah cemberut terlihat jelas. Vero yang sangat mengenal gadis di sampingnya itu membuatnya gemas dan menyentil kening Vivian.


"Jangan mengumpatku."


"Sial, bisakah kamu untuk tidak menyentil keningku? Eh, kamu bisa membaca pikiranku? Katakan ramalan masa depanku!?" desak Vivian yang antusias sembari mengusap keningnya.


Bukannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan, dia justru menyentil kening Vivian untuk kedua kalinya. "Kamu sangat menggemaskan, ingin rasanya aku mencium bibir mu yang cerewet itu. Aku bahkan mengenalmu daripada dirimu sendiri, tentu saja aku mengetahuinya, terlihat jelas di wajahmu. Dan mengenai ramalan? jika bisa aku ingin hidup lebih lama lagi untuk terus bersamamu."


"Ck, jangan berpikir untuk melakukan itu. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan fisik tetapi hati, itu konsekuensi yang harus kamu taati."


"Baiklah, aku tidak akan melanggarnya."


"Kenapa kalimat terakhirmu begitu? apa kamu akan meninggalkan aku?" ucap Vivian dengan serius.

__ADS_1


Vero mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum dengan ciri khas seorang Vero, dia mengusap pucuk kepala kekasihnya dengan sangat lembut lembut.


"Jalankan mobilnya, apa kita akan mengobrol sepanjang malam. Bukankah kamu harus ke pesta?"


"Tidak, katakan yang sebenarnya nya? Apa yang sedang kamu tutupi dariku?" Tolak Vivian yang penasaran.


"Aku hanya bercanda saja, kenapa kamu terlihat sangat serius!?"


"Sepertinya dia sedang berbohong, hatiku sepertinya sangat tidak tenang saat dia mengatakan kalimat terakhir nya. Cepat atau lambat aku akan mengetahuinya," gumam Vivian dari dalam hatinya.


Vero menjentikkan jari-jarinya, berusaha menyadarkan Vivian yang melamun. "Hei, kenapa kamu melamun? Cepat jalankan mobilnya. Apa kamu ingin menghabiskan waktu bersamaku! apalagi suasananya sangat mendukung." Vero membuka baju nya, memperlihatkan perut sixpack berbentuk kotak-kotak.


"Dasar mesum, kamu menodai mataku ku suci ini. Cepat pakai bajumu itu," pekik Vivian yang menutup kedua mata menggunakan tangannya.


"Kenapa? ini pertunjukan perdana ku," celetuk Vero dengan polos.


"Cepat pakai bajumu itu atau aku tidak akan berbicara lagi denganmu!" ancam Vivian yang mengintip dari sela-sela jarinya dan kembali menutup rapat.


"Baiklah, tidak perlu histeris begitu," ucap Vero pasrah dan kembali mengenakan bajunya. "Bukalah matamu, aku sudah selesai mengenakan bajuku," ucap Vero yang menghela nafas.


Vivian kembali membuka matanya dengan perlahan,


"Aku tau!" sahut Vero dengan enteng.


"Eh, jangan katakan jika kamu memata-matai aku lagi?" Selidik Vivian.


"Hehe...itulah aku."


Vivian menepuk keningnya, bahkan dia melupakan jika aktivitas harian dari kekasihnya adalah mengikuti layaknya seekor cicak.


"Hah, kenapa aku bisa melupakan point pentingnya," gumamnya yang terdengar samar di telinga Vero.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Vero.


"Tidak, mungkin kamu salah dengar." Vivian mengemudikan mobil, tidak ada obrolan di sepanjang perjalanan. Mereka terdiam dan hanyut dalam lamunan masing-masing, Vivian menatap lurus dan fokus menyetir.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu kepadamu?" celetuk Vivian tanpa menoleh.

__ADS_1


"Hem, katakan saja."


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Vivian.


"Aku sangat mencintaimu daripada diriku sendiri, kenapa kamu menanyakan itu?" jawab Vero dengan serius menatap dalam wanita yang ada di sampingnya.


Vivian menghentikan laju kendaraan dan menepikannya di pinggir jalan.


"Apa yang sedang kamu tutupi dariku?" Sorot mata Vivian yang tajam dan penuh selidik.


"Aku tidak menutupi apapun darimu."


"Ck, jangan Membohongi ku Kamu sering kali mengatakan kalimat yang seakan-akan meninggalkan dunia ini, atau kamu mempunyai wanita lain di belakangku?" Vivian tak bisa mengendalikan emosinya, dia mengetahui jika sang kekasih berusaha menutupi kecurigaannya.


"Setiap ajal sudah di tentukan oleh tuhan, dan kita hanya mempersiapkannya saja. Kematian akan di alami oleh setiap makhluk hidup, jangan memperkeruh suasana dengan perkataanmu itu." Vero segera membuka pintu mobil dan turun membuat Vivian kesal, dia juga ikut turun dari mobil.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Vivian yang tak mengerti dengan perubahan sikap kekasihnya itu. Mendekati Vero yang memegang kepalanya membuat Vivian merasa khawatir. "Ayo kita ke rumah sakit, sepertinya kamu sedang tidak sehat," ucap Vivian yang memegang lengan Vero.


"Ini hanya sakit biasa saja, aku sangat haus."


"Tunggu sebentar, akan aku ambilkan." Vivian berlari menuju mobil untuk mengambil sebotol air mineral, kembali menghampiri Vero dan membantu membukakan tutup botol. "Minumlah." Vero mengangguk pelan dan meminumnya.


"Apa sudah merasa baikan?" tanya Vivian yang menatap Vero dengan antusias.


"Jauh lebih baik."


"Ini tidak pernah terjadi, ada apa dengan mu?"


"Pekerjaan kantor dan juga membuka beberapa anak cabang baru membuatku tidak bisa tidur."


"Hah, sebaiknya aku mengantarmu pulang ke apartemen dan melupakan acara itu. Aku akan berusaha menjadi kekasih yang baik untukmu."


"Bisakah kamu menginap semalam saja di apartemen ku?" pinta Vero dengan puppy eyes miliknya.


"Kita belum menikah, kamu sedang berada di Indonesia bukan Amerika," cetus Vivian yang langsung cemberut.


"Ayolah, malam ini saja. Aku janji tidak akan melakukan sesuatu kepadamu," pinta Vero dengan penuh harap.

__ADS_1


"Akan aku pikirkan."


__ADS_2