
Perlahan tapi pasti, Vivian mulai membuka kedua matanya dengan perlahan. Tapi dengan cepat kembali menutup mata yang silau dengan pencahayaan di ruangan itu, Pandangan mata melihat sekeliling ruangan. Tatapannya tertuju saat dia melihat punggung seorang pria yang sedang berdiri di dekat jendela.
"Siapa kamu? Dan di mana aku?" lirinya yang sangat penasaran. Pria itu menoleh saat mendengar suara Vivian dan berlari mendekati gadis itu dengan bersemangat. "Akhirnya kamu bangun juga, aku sangat merindukanmu," ucap pria itu yang tak lain adalah Rayyan yang mendekap tubuh wanita yang dia cintai.
"Lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa bernafas," ketus Vivian, Rayyan melepaskan pelukannya.
"Apa kamu masih mengenalku?" Rayyan sangat khawatir jika Vivian amnesia dan melupakannya, itu artinya usaha yang di jalankan harus semaksimal mungkin.
"Hanya lenganku yang cedera bukan otakku, tentu saja aku mengingatmu," cetus Vivian.
"Syukurlah jika kamu mengingatku." Rayyan bisa bernafas dengan lega mendengar penuturan dari Vivian.
"Kemana keluargaku? Kenapa mereka tidak datang?" Vivian celingukan menoleh ke arah pintu.
"Baru saja mereka pulang dan aku menawarkan diri untuk menjagamu."
"Itu tidak di perlukan sekarang, kamu bisa pergi!"
"Benarkah? Tapi aku merasa tidak yakin, apalagi kedua lenganmu terluka dan itu cukup sulit untuk melakukan aktivitas seperti makan dan juga minum," tutur Rayyan dengan panjang.
"Hah, beberapa hari belakangan ini kamu terlihat berubah."
"Apa maksudmu dengan itu?" Rayyan mengerutkan keningnya sambil menatap Vivian penasaran.
"Biasanya kamu sangat irit berbicara."
"Perubahan itu perlu di lakukan untuk mendapatkan tujuan," jawab Rayyan dengan enteng.
Obrolan terhenti saat terdengar suara perut keroncongan yang, Rayyan melihat Vivian yang memegangi perutnya. "Wah, suaranya terdengar sangat nyaring ya?" Goda Rayyan yang membuat Vivian tampak malu.
Dengan cepat Rayyan mengambil bubur du atas mangkok yang tersedia di atas nakas, membantu Vivian untuk menyandarkan punggung. Perhatian kecil yang di berikan pria tampan itu membuat jantung Vivian berdetak dengan sangat cepat, hatinya yang tersentuh dengan sikap lembut dari Rayyan. Dia sangat tau bagaimana sibuknya pekerjaan bosnya itu, tapi menyempatkan diri untuk merawatnya.
"Perasaan apa ini? Kenapa jantung ini berdetak dengan sangat cepat?" batinnya yang tampak memikirkan hal itu.
"Apa kamu sudah puas melihat wajahku yang sangat tampan?" Celetuk Rayyan yang kembali menggoda gadis itu.
"Ti-tidak, kamu hanya salah paham saja," ucap Vivian yang menutupi kegugupannya.
__ADS_1
"Apa jantungmu berdetak dengan sangat cepat?" Tanya Rayyan yang menatap dalam mata gadis pujaannya.
"Kenapa kamu menanyakan itu?"
"Aku harap dugaanku benar," ucap Rayyan dengan sangat serius.
Vivian diam membisu, dia juga tidak tau bagaimana perasaan yang sesungguhnya kepada pria yang pernah menyakitinya. Tapi Rayyan sekarang bukanlah yang dulu, pria yang selalu menganggu nya dengan berbagai tindakan. Rayyan meniup bubur yang ada di ujung sendok, menyuapi Vivian dengan penuh cinta, perlakuan yang dulunya di inginkan olehnya.
"Kamu harus menghabiskan bubur ini jika ingin sehat, jangan melakukan apapun sesuka hatimu karena lengan itu belum sembuh. Dan ada kabar baik untuk itu," celetuk Rayyan yang terus menyuapi Vivian dengan perlahan, sedangkan Vivian hanya mengangguk dan mematuhi perkataan Rayyan.
"Kabar baik?"
"Aku akan menjadi pengasuhmu sampai sembuh," ungkap Rayyan yang tersenyum bahagia, setidaknya dia bisa dekat dengan gadis yang selalu saja berbicara ketus kepadanya.
"APA? Aku tidak mau!" tolaknya dengan mentah-mentah.
"Itu adalah latihan untuk kita sebelum menikah."
"Menikah?" Vivian semakin bingung dengan ucapan pria tampan itu, apalagi setelah mendengar kata menikah. "Tunggu dulu, kapan kita merencanakan hal itu? Dan aku bahkan belum mengeluarkan pendapatku," ujar Vivian yang sangat terkejut hingga meninggikan suaranya.
"Terima kasih, kamu sudah membantuku. Tapi kenapa kamu mengatakan otakku bergeser?" gerutu Vivian yang memajukan bibirnya beberapa sentimeter ke depan.
"Hanya ingin mengatakannya saja, jangan cemberut begitu. Apa bibir itu ingin aku cium?"
Dengan cepat Vivian menggelengkan kepala, sedangkan Rayyan tersenyum tipis. "Aku sangat yakin, jika langkahku akan berhasil dalam waktu dekat ini," gumam Rayyan di dalam hatinya.
Tak lama datanglah Zean, Caroline, Bara, dan Naina. Mereka masuk ke daam ruangan untuk mengecek kondisi Vivian yang tidak terlalu parah. "Bagaimana kabarmu, Sayang?" Tanya Caroline yang mengusap pucuk kepalanya.
"Aku baik, Aunty."
"Jangan panggil Aunty, tapi panggil Mommy saja dan itu terlihat lebih akrab," tukas Caroline yang tersenyum, sementara Vivian hanya mengangguk pelan.
"Mommy," ucap Vivian, Caroline memeluk gadis itu beberapa detik.
"Apa itu artinya aku boleh memanggil Bibi Naina dengan sebutan Mama?" Celetuk Rayyan dengan mata yang berbinar dan sangat antusias. Bara menjitak kepala Rayyan dengan sangat keras, raut wajah tersenyum berubah menjadi cemberut.
"Kenapa Papa menjitak kepalaku?" keluh Rayyan yang berpura-pura menangis.
__ADS_1
"Ck, jangan panggil aku dengan sebutan itu karena kamu bukanlah menantuku," cetus Bara.
"Hei, apa kamu meragukan kemampuan putraku?" Seloroh Zean yang membela anaknya.
"Memangnya kenapa? Apa yang aku katakan itu benar, dia bukan menantuku," sahut Bara dengan enteng.
"Buktikan jika kamu mampu menjadi menantu Wijaya." Zean menepuk pundak putranya dengan tekad kuat.
"Apa yang mereka bicarakan? Aku baru saja terbangun dan melihat kedua pria tua itu yang bersemangat debat," batin Vivian yang melihat kejadian di depannya.
"Jangan dengarkan mereka yang selalu saja bertengkar jika dekat dan rindu di saat menjauh," ujar Naina yang mengusap punggung putrinya dengan lembut.
"Apa kamu ingin bertaruh?" Tantang Zean yang tersenyum miring.
"Apa tantangannya?" sahut Bara.
"Jika putraku akan mendapatkan putrimu dalam waktu dua minggu."
"Aku terima, apa hukuman yang kalah?"
"Tentu saja lima belas persen saham untuk pemenang."
"Deal," ucap Bara yang menerima tantangan itu dan mereka saling berjabat tangan.
Sedangkan Rayyan dan Vivian terkejut dengan tantangan itu, mereka tak habis pikir dengan pola pikir kedua pria tua berambut putih.
"Tapi sebelum itu, aku ingin mencari pelaku yang telah mencelakai Vivian. Apakah kalian bisa berhenti bertikai?" Rayyan menatap kesal kepada Zean dan juga Bara.
"Baiklah," sahut mereka dengan kompak.
"Apa kamu sudah menemukan lokasi musuh?" tanya Zean dengan tegas.
"Sudah Dad, sepertinya mereka hanya kelompok kecil saja."
"Jangan meremehkan lawan dengan mengatakan itu, lebih baik kamu persiapkan penjagaan yang ketat kepada Vivian dan juga Baby. Mereka menyerangmu dengan memanfaatkan kelemahanmu," jelas Zean yang sangat berpengalaman.
"Dan jika terjadi sesuatu kepada putriku? Seumur hidupku tidak akan mengampunimu," ancam Bara dengan penuh penekanan.
__ADS_1