Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 60 - Ketua mafia di rampok


__ADS_3

Kenzi menyipitkan mata mencari asal suara dengan pandangan mata yang menyusuri setiap ruangan, tatapan mata berhenti saat melihat triple A dan twins N yang cekikikan.


"Oho, jadi kalianlah yang menertawai aku!"


"Mau bagaimana lagi? kami sangat bahagia saat melihat raut wajah Paman yang terlihat seperti pengemis." Niki keluar dari persembunyiannya, di ikuti oleh triple A dan Niko yang tertawa lepas.


"Apa di dalam sedang terjadi banjir dan Paman menjadi pengungsi?" ledek Niko.


"Kebetulan kamar tamu sedang di renovasi, jadi Paman dengan terpaksa tidur di sofa," sambung Alex.


"Ck, kalian selalu saja menertawakan nasib orang lain. Daripada menertawaiku, lebih baik kalian menolongku."


"Menolong apa?" tanya Lexi yang sangat penasaran menatap Kenzi.


"Paman ingin tidur di kamar kalian," titah Kenzi yang berlalu pergi menuju kamar Alex.


"Tidak bisa, itu kamar ku. Sebaiknya Paman ke kamar Niko saja," tolak Alex yang merentangkan kedua tangan di hadapan pintu kamarnya.


"Ck, jangan menyulitkan aku dengan ini. Aku hanya menumpang tidur semalam saja, bukan mengambil kamarmu." Kenzi yang sangat kelelahan itu menepikan tubuh Alex dan ingin masuk ke dalam kamar, dengan cepat Alex menendang kaki Kenzi hingga hampir saja tersungkur. Menatap Alex dengan tajam, "apa yang kamu lakukan, dasar nakal." Kenzi berdiri dan menundukkan kepala saat berhadapan dengan Alex yang sedikit pendek.


"Kamar itu adalah privasiku, tidak ada yang boleh masuk kecuali aku." Alex masuk ke kamarnya sembari menutup pintu dengan keras, semua orang menjadi cengo.


Tak putus asa, Kenzi menatap Niko dengan senyum kakunya, "jangan menatapku begitu, senyum itu sangat tidak cocok di wajahmu, Paman." Niko memutarkan kedua bola matanya karena jengah dengan sikap Kenzi.


"Apa Paman bisa tidur di kamarmu? hanya sehari saja," bujuk Kenzi yang menatap Niko dengan penuh harapan.

__ADS_1


Sedangkan yang di tatap berlalu pergi, "tidak."


Kenzi menghela nafas dan menatap keponakannya yang masih berada di hadapannya, tatapan dan tersenyum kaku dari Kenzi membuat Lexa dan Lexi sedikit merinding, "Berhentilah tersenyum dan jangan memaksakannya, sangat tidak cocok. Ayo Lexi, sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Lexa yang menarik tangan saudari kembarnya.


Lagi dan lagi Kenzi menghela nafas dengan kasar, sembari melihat siapa yang tersisa. Dia bisa melihat dengan jelas raut wajah Niki yang tersenyum penuh arti, "aku sangat yakin jika Niki mempunyai niat terselubung," batinnya.


"Hanya kamu yang tersisa, apa aku boleh menginap di kamarmu?"


"Tidak masalah, hanya saja aku mempunyai penawaran terbaik."


"Apa yang dia rencanakan kali ini?" batin Kenzi dengan penuh selidik. "Penawaran apa?" cetusnya.


"Santailah sejenak, jangan terlalu terbawa suasana. Ini kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya," tutur Niki yang kembali memikirkan masa depannya.


"Aku hanya ingin saham 2 persen dari perusahaan Paman saja, tidak lebih dan tidak kurang sedikitpun," jawab Niki yang berkhayal akan kehidupan cemerlang hasil kerja kerasnya tanpa bantuan keluarga.


"Apa kamu ingin merampok ku?" Kenzi sangat heran dengan Niki yang selalu meminta sahamnya.


"Ini yang di namakan kerja keras, jika Paman ingin tidur di luar silahkan saja. Tapi aku tidak bertanggung jawab mengenai apapun yang terjadi kepada Paman," sahut Niki dengan santai.


"Sialan, darimana dia mendapatkan akal bulusnya itu? sangat cerdik dalam persenan," gumam Kenzi yang ingin sekali menjitak kepala Niki yang perhitungan.


"Bagaimana? 2 persen tak ada apa-apa nya untuk Paman, anggap saja uang jajanku selama setahun ke depan."


"Astaga....darimana kamu mendapatkan otak perhitungan itu? aku ini Pamanmu!" ketus Kenzi yang sangat kesal.

__ADS_1


"Entahlah, tapi itu sangat menyenangkan. Mau atau tidak sama sekali? Jangan membuang waktuku dengan hal sepele, lebih baik aku tidur saja." Niki pergi meninggalkan tempat itu, dengan cepat Kenzi mencekal tangan Niki setelah mempertimbangkan segalanya.


"Baiklah, aku setuju."


Niki tersenyum tipis dan menoleh ke arah Kenzi, "bagus, ayo ikut ke kamarku dan anggap kamar Paman sendiri," ajak Niki yang menarik tangan Kenzi dan menuju ke kamarnya.


"Baru kali ini seorang leader mafia di rampok oleh tuyul ini, nama itu sangat cocok kepadanya," batin Kenzi.


Untuk pertama kalinya Kenzi masuk ke dalam kamar Niki yang bernuasa putih dan dekorasi mewah juga berkelas, tidak seperti kamar anak yang seusianya. Kamar itu di penuhi dengan rak buku seperti perpustakaan kecil, dan beberapa koleksi foto Albert Einstein yang menjadi idolanya. Ada rumus-rumus Fisika dan Kimia yang tertempel di kaca lemari pakaian, "aku sekarang jadi tau bagaimana otaknya bekerja, ternyata di kamarnya penuh kejutan," batin Kenzi yang melihat seisi kamar itu.


"Tidurlah di ranjang, aku akan menggosok gigi dan juga cuci wajah, tangan, dan kaki dulu." Niko mempersilah Kenzi dan berlalu pergi menuju kamar mandi sesuai perkataan nya.


Kenzi hanya mengangguk dan melihat punggung Niki yang menghilang dari balik pintu, dia sangat penasaran dengan Niki, tapi tubuh dan otaknya tidak ingin bekerja untuk memikirkan semua itu. Dia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang empuk dan memejamkan kedua matanya.


Niki yng baru keluar dari kamar mandi sedikit terkejut, "astaga....Paman tertidur layaknya katak yang baru saja kena pukul," gumamnya yang menggelengkan kepalanya.Dia mendekati ranjangnya dan tidur di sebelah Kenzi, menatap langit-langit kamar dengan wajah yang sangat senang. Bagaimana tidak? karena sebentar lagi dia akan menjadi kaya raya dengan kemampuannya itu, "ini pasti sangat seru jika aku menjadi miliarder di usia sekarang." Niki terus berkhayal hingga tak sadar jika dia telah memasuki dunia mimpi, dunia yang bisa melakukan apapun.


Kenzi sangat terkejut saat kaki Niki masuk ke dalam mulutnya, "apa ini? kaki? astaga, aku akan rugi jika tidurnya begitu." Dengan cepat dia mengempaskan kaki kecil milik Niki dengan kasar. Kenzi kembali tidur dan siapa sangka jika Niki menendangnya hingga terjatuh dari ranjang, dia sangat kesal karena waktu tidurnya terganggu. "Bahkan di saat tidurpun dia juga membuat aku kesal," ucapnya pelan dan seketika tersenyum saat mendapatkan ide membalas Niki.


Kenzi bergegas menuju dapur dan kembali lagi ke dalam kar Niki, meneteskan sedikit bubuk kasar berwarna bening yang dia bawa dari dapur ke dalam mulut Niki yang sedikit terbuka, "ini pembalasanku karena telah merampok saham dan juga menendang tubuhku hingga tersungkur," gumam Kenzi yang tersenyum jahat yang mengira jika itu adalah garam.


Niki terus icip-icip membuat Kenzi mengerutkan keningnya, "aku memberinya garam tapi tidak menimbulkan reaksi yang ingin aku lihat."


Niki yang setengah sadar, manarik tangan Kenzi dan mengemut layaknya permen.


"Sangat menjijikan," racau Kenzi yang berusaha mengeluarkan tangannya dari dalam mulut Niki.

__ADS_1


__ADS_2