
Xavier menatap sang pelaku yang tak lain adalah Kenzi yang sedang tersenyum, "bagaimana? apa kamu menyukai kejutan dariku?"
"Sial, berani sekali kamu melakukan hal ini kepadaku," cetus Xavier seraya melayangkan pukulan ke wajah Kenzi yang dengan cepat menghindar.
"Aku tidak takut denganmu," tutur Kenzi dengan penuh keyakinan dan membalikkan serangan tepat mengenai wajah Xavier.
"Sial, kamu merusak wajah tampanku," ujar Xavier yang melepaskan topengnya, Kenzi menatap wajah pria itu dengan seksama karena tidak mengenalnya.
"Kenapa kamu memusuhiku? bahkan aku tidak mengenalmu sama sekali," tanya Kenzi dengan penuh keyakinan.
"Memang tidak, hanya saja aku ingin menguasai aliansi Mafia terkenal," jawab Xavier dengan enteng.
"Ck, gara-gara perbuatan yang tidak terpujimu membuat aku dan istriku bersitenggang. Ini hadiah untukmu," ucap Kenzi dengan mengebu-gebu dan kembali melayangkan pukulan di wajah Xavier hingga mengeluarkan darah segar di hidungnya.
"Wajah tampanku kembali rusak oleh mu," ucap Xavier yang membalikkan serangan kepada Kenzi, keduanya hanyut dalam Pertarungan. Kenzi menangkis serangan dan menendang tulang kering Xavier dengan sangat kuat, membuat sang empunya meringis kesakitan.
Kayla mengambil kesempatan dengan kelengahan itu dengan memukul kepala Xavier dengan dua botol kaca yang berada di jangkauan. Xavier memegang kepalanya yang terus mengeluarkan darah tanpa henti, dia menoleh dan tertawa mengelegar membuat sepasang suami istri itu menatapnya dengan bingung.
"Masuk jebakan!" tuturnya. Kenzi dan Kayla melihat sekeliling, mereka di kepung oleh suruhan Xavier yang sangat licik. Kenzi dan Kayla bersatu untuk melawan seluruh para musuh yang memakai topeng, "siapa mereka? gerakannya tidak asing," gumam Kayla.
Kayla mengeluarkan belati yang terselip di pahanya, menatap tajam musuh dengan sasaran yang sudah di targetkan. Memainkan kedua pisau di kiri dan kanan, menggores tubuh Lawannya dengan sangat bengis. Kenzi melihat aksi istrinya yang sangat keren, "itu baru istriku, tak khayal jika gerakannya di ranjang juga sangat liar," gumam Kenzi yang kembali memikirkan malam panasnya. Sebuah toyoran di kepalanya menghentikan lamunan Kenzi, "singkirkan pikiran kotormu itu," ketus Kayla.
"Mau bagaimana lagi, semalam kamu tidak memberiku jatah."
__ADS_1
"Aku akan memberimu double asal melawan mereka semua, aku harus pergi!" bisik Kayla yang terus melawan musuhnya.
"Baiklah, tapi kamu mau kemana?" tanya Kenzi yang melihat istrinya semakin jauh.
"Aku ingin buang air kecil," jawabnya santai seraya membuka jalan.
Kenzi melawan seluruh anggota Xavier dengan sangat serius, mengingat jatah malamnya yang akan bertambah. Bukan Xavier namanya jika tak licik, setelah anggotanya banyak yang tewas di tangan Kenzi, dia memerintahkan beberapa orang untuk membuka kandang singa, harimau dan serigala melepaskan ke dalam ruangan yang tertutup rapat.
"Permainan baru saja di mulai, ternyata sangat mudah untuk merebut dua Mafia sekaligus. Hadapilah hewan peliharaan ku," ujar Xavier yang dengan cepat menyentak kakinya dan membawanya untuk naik ke lantai dua berkat tali yang menjadi tumpuan.
"Sial, ternyata dia sangat licik. Dan kemana istriku yang aduhai itu, apa dia ingin melihatku mati terbunuh dan mencari pria lain," umpat Kenzi yang kesal karena tidak melihat keberadaan Kayla.
Kenzi mengeluarkan pisau yang terselip di pinggangnya dan dengan sekuat tenaga dia melawan para hewan liar yang lapar itu. Kenzi terpaksa menyelamatkan dirinya yang tengah di kepung beberapa hewan liar, melawan seorang diri bukanlah pilihan yang tepat.
"Apa kami terlambat?" ucap Rayyan yang menghentikan motornya tepat di hadapan Kenzi sembari melemparkan senjata rakitan.
"Sedikit terlambat," jawab Kenzi yang menangkap senjata itu.
"Naiklah, apa kamu ingin mati di makan hewan liar itu," desak Rayyan yang di patuhi oleh Kenzi. Sekitar 20 ekor hewan liar yang ada di lantai satu, menatap mangsa dengan meneteskan air liurnya.
"Apakah Daddy pernah menghadapi singa?" tanya Niki.
"Tentu saja, hampir setiap hari Dad berhadapan dengan singa, bahkan lebih buas daripada itu," jawab El dengan santai. "Berpeganglah dengan erat dan bidik lah para hewan hewan itu," titah sang ayah yang di angguki kepala oleh Niki. Mereka menjadi pasangan yang solit dan juga royal dalam bertarung, royal dalam hal menghabiskan peluru begitu banyak.
__ADS_1
Al mendelik saat melihat aksi ayah dan anak, "ayah dan anak sama saja, sama-sama menghabiskan begitu banyak peluru," batinnya.
Alex yang tidak puas dengan itu memilih melompat dari motor yang di kendarai oleh Al dan menyerang serigala yang sedari tadi mengejar mereka, sedangkan Al sangat terkejut dengan aksi putranya yang sangat berani, "apa yang kamu lakukan Nak?" tanyanya.
"Aku bosan di atas motor dan mencoba keberuntunganku," jawab Alex. Al yang tidak ingin anaknya kenapa-napa dengan cepat melompat dari motor untuk melawan serigala, mereka saling melirik satu sama lain dan kembali fokus untuk melawan para serigala yang lapar dengan shuriken.
Niko melihat kejadian itu sangat takjub dengan sepupunya, dia melakukan hal yang sama untuk melompat dari atas motor Abian, "hei, apa yang kamu lakukan?" pekik Abian yang menghentikan motor sembari ikut membantu.
"Aku ingin melatih otot-otot kecilku ini Uncle," sahut Niko yang tersenyum pepsodent. Abian yang kesal itu pun menjitak kepala Niko karena sangat mencemaskan keadaan keponakannya itu, "jangan ulangi perbuatan nekat mu."
"Uncle sangat kasar sekali, aku akan adukan ini ke aunty Lea." Niko mengelus pucuk kepalanya yang terasa panas.
"Bisakah kalian serius?" tegas Al yang menatap Abian dan juga El.
"Baiklah," sahut mereka dengan kompak dan kembali memfokuskan tujuan untuk membunuh para hewan liar yang sekarang tengah mengepung mereka.
Niko yang awalnya sangat berani tiba-tiba nyalinya menciut saat melihat taring serigala dengan auman membuat bulu kuduknya berdiri, "Uncle, apakah aku boleh permisi ke toilet?" tanya Niko yang menatap Abian dengan memperlihatkan kelingkingnya.
"Di mana keberanianmu tadi?" ujar Abian yang tersenyum miring.
"Entahlah, aku merasa tidak yakin dengan ini. Taring mereka terlihat sangat tajam," ucap Niko yang berlindung di belakang Abian yang tengan menembak serigala yang hampir menerkamnya.
"Kalau begitu doakan saja para serigala itu sakit gigi," cetus Abian yang sangat terganggu dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Niko.
__ADS_1