
Perayaan ulang tahun yang telah di rencanakan Bara dan juga Nathan untuk kelima cucu mereka telah di persiapkan dengan sangat baik, dekorasi yang indah dan juga lucu, mengundang para teman triple A dan twins N dan yang pasti semua hidangan kesukaan mereka.
Penampilan Alex, Niko dan Niki yang memakai setelan jas membuat mereka terlihat sangat tampan dan juga memukau. Wajah ketiga terlihat sangat mirip membuat orang lain sedikit kesulitan untuk membedakannya, Nathan memberikan sapu tangan berwarna yang bisa membuat orang lain baru bisa mengenali ketiga anak tampan itu.
Tak jauh dari ketiga saudaranya, Lexa dan Lexi juga memakai gaun yang sangat mewah dan lucu membuat mereka tampak mengemaskan.
Semua tamu hadir dari berbagai negara dan juga para kolega, rekan bisnis dari para orang tua di keluarga Wijaya. Tapi mereka tidak terlalu menghiraukan para tamu undangan tetapi lebih tertarik di prasmanan hidangan makanan.
"Hah, aku sangat tergoda dengan beberapa makanan yang ada di sana," tutur Alex.
"Makanan itu seperti memanggil namaku," sambung Niko.
"Dan tentunya membuatku lupa diri, lupakan pesta dan orang lain. Lebih baik aku kesana dan menikmatinya," ungkap Niki yang berlari tanpa menghiraukan semua orang. Bara menatap cucunya yang 1 itu dan memanggilnya tapi tak di hiraukan oleh si pemilik nama, "kenapa cucu kecebong yang satu itu sangatlah berbeda? dia persis seperti El sewaktu kecil, hanya yang ini lebih dahsyat lagi," gumam Bara yang melihat Niki menikmati makanan dan juga cemilan yang telah tersedia di sana.
Sedangkan Alex, Niko, Lexa, dan Lexi menatap Niki dengan nanar karena tak bisa pergi dari panggung itu, tentu saja di larang oleh Bara dan juga Nathan. Acara di mulai dengan pengenalan seluruh anggota keluarga terkecuali Niki yang tidak tertarik dan tertawa saat melihat keempat saudaranya, "wajah mereka tampak seperti kesal dengan beberapa pertanyaan yang di lontarkan para wartawan dan juga rekan bisnis keluarga." Niki terus saja menyuapi mulutnya dengan cake yang terlihat sangat lezat itu.
Tatapan Niki beralih saat melihat seorang pria berbadan besar dengan brewok tipis di wajahnya sedang mendekati Vivian, "kenapa monyet itu masih di sini? setahuku dia sudah di kirim oleh Paman Kenzi ke Amerika?" gumamnya yang terus mengunyah cake ke dalam mulutnya.
Yah, Niki melihat wajah Vivian yang terlihat kesal akan keberadaan Vero yang selalu menganggu. Hingga terbesit di pikirannya untuk mengerjai pria tampan itu, "kasihan aunty, tapi tenang saja! Niki ada di sini sebagai penyelamat dan aku akan meminta imbalan besar dari aunty Vivian," batin Niki yang mengosok kedua telapak tangannya sembari tersenyum smirk.
Niki mengambil sepotong cake di tangannya, berjalan mendekati target dengan penuh percaya diri. Vivian tau apa yang akan di lakukan oleh keponakannya itu, mereka saling melirik satu sama lainnya dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja Honey, apa ada yang salah dengan penampilanku?" ucap Vero yang membuat Vivian menoleh ke arahnya.
"Sudah aku katakan untuk tidak mengangguku, pergilah ke Amerika dan jangan mengusikku," ketus Vivian.
"Walaupun anak buah dari kakak ipar mengusirku, tentu saja tak membuat halangan di antara kita. Aku akan selalu bersama mu, banyak wanita yang mendekati aku tapi aku lebih memilihmu Honey," tutur Vero yang tersenyum manis menatap seorang wanita cantik di sebelahnya.
"Ehem, masih ada orang lain di sini," sela Niki yang melipat kedua tangan di depan dadanya menatap Vero dengan tajam.
"Astaga, darimana dia datang?" gumam Vero.
"Maafkan aku yang tidak melihatmu di sini, apa yang kamu lakukan? dan kenapa kamu tidak bergabung dengan saudaramu di sana?" ucap Vero yang menunjuk keempat saudara Niki.
"Apa urusanmu? terserah padaku saja," ucap Niki dengan raut wajah dingin membuat Vero meringis.
Ada sepasang mata yang menatap keadaan itu, siapa lagi jika bukan Rayyan, "kepintaran anak itu persis seperti orang tuanya," lirihnya pelan.
Niki menyalin semua data yang ada di ponsel Vero, dia mengabari kepada seluruh para wanita yang ada di kontak ponsel Vero untuk datang ke lokasi pesta saat ini dan tentunya menyamarkan suaranya yang telah di ajarkan oleh ayahnya. Setelah semua telah selesai, Niki melenggang pergi dengan raut wajah tanpa dosa.
"Syukurlah jika si penganggu itu sudah pergi," batin Vero yang menatap kepergian Niki.
"Pergilah dari sini, kamu membuat aku risih."
__ADS_1
"Jangan katakan itu, aku menyukaimu dan memastikan jika wanita yang aku cintai aman," jawab Vero yang meranggkul pinggang Vivian, tapi dengan cepat di cegat oleh tangan Vivian dan langsung memelintir tangan Vero yang hampir mendarat di pinggangnya.
"Jika kamu melakukan itu lagi, maka aku tak segan-segan untuk mematahkan tanganmu. Menjauh dariku, karena aku sudah mempunyai seorang kekasih," ancam Vivian.
"Auhhh....tolong lepaskan tanganku, jika tangan ku patah bagaimana caraku untuk menjagamu? dan jangan membohongiku mengenai kekasih," jawab Vero yang meringis. Vivian melepaskan cengkraman tangannya dan menghempaskan tangan Vero dengan kasar, "untuk apa aku berbohong."
"Aku selalu mengikutimu dan juga mencari semua tentangmu," tukas Vero yang tersenyum miring.
"Semua? aku adalah keluarga Wijaya dan masalah data yang kamu dapatkan hanya setengah dari kebenarannya, biar ku perjelas! aku, VIVIAN WIJAYA TELAH MEMPUNYAI SEORANG KEKASIH." sahut Vivian yang menatap Vero dengan serius, sedangkan pria tampan yang ada di hadapannya seakan terkejut dengan pernyataan yang baru saja dia dengar.
"Itu tidak mungkin, siapa pria itu? perlihatkan kepadaku, aku ingin mengenalnya."
"Tidak perlu, kamu hanya akan merusak segalanya."
"Apa kamu sedang membohongiku Vivi?" Vero menatap Vivian dengan sangat dalam, sorot matanya yang begitu terpukul dan patah hati. Vero sangat mencintai Vivian dengan sepenuh hatinya, berusaha meluluhkan hati sang pujaan hatinya itu. Dia bahkan tidak tahu kapan terjadinya perasaan yang begitu dalam kepada seorang wanita, rasa sakit yang dia rasakan sangatlah menyayat hati seorang Vero.
Vivian yang berusaha menutupi kebohongannya, berusaha untuk mencari cara agar terlepas dari pria tampan yang ada di hadapannya. Hingga dia tersenyum bahagia saat menemukan sebuah ide yang akan menambah keyakinan dengan membuat Vero patah hati dan menjauh darinya.
Vivian berjalan saat menemukan target yang pas, dia menarik tangan Rayyan yang membuat sang empunya terkejut. Vivian membawa Rayyan di hadapan Vero dengan mengandeng tangannya dengan mesra, "dia kekasihku."
"APA?" ucap kedua pria itu yang sangat terkejut dengan situasi saat ini, untuk membungkam mulut Rayyan, Vivian mencubit pinggang pria yang di gandengnya. Untung saja Rayyan mengerti dengan situasi ini dan berakting layaknya kekasih yang sangat mencintai Vivian.
__ADS_1
Sedangkan Vero memegang dadanya yang terasa sangat sakit itu, dia ingin meminta penjelasan kepada Vivian. Tapi beberapa wanita menghalanginya, lebih tepatnya wanita teman kencannya dulu. Sedangkan Niki tersenyum saat melihat melihat hal itu, "itu akibatnya jika menganggu keluarga Wijaya," gumamnya.
"Oho, ternyata keponakanku ini sangat pintar dalam mengerjai orang lain," ucap seseorang yang tak lain adalah Kenzi.