Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 85 - Baby Eve


__ADS_3

Caroline memeluk Naina dan Dita bergantian, wajah tersenyum terlihat di wajah mereka, kebahagiaan yang di rasakan oleh semua orang yang menantikan moment indah sejak lama. Banyak suka duka yang mereka rasakan dan di bayar lunas dengan kelahiran salah satu anggota Keluarga Wijaya.


"Selamat untukmu yang sudah menjadi seorang nenek," tutur Caroline.


"Selamat untukmu juga yang menjadi nenek," sambut Dita yang mengulas senyum. Caroline melepaskan pelukannya menatap Naina dengan antusias, "aku sangat bahagia dengan ini, walaupun abian hanyalah anak angkatku, tetapi aku sangat menyayanginya. Memberikan aku sebuah status yang menjadikan aku seorang nenek, ini sangat luar biasa," ucap Caroline antusias tanpa sadar meneteskan air mata.


"Hubungan kita semakin dekat, awalnya musuh sekarang menjadi sebuah keluarga."


"Yeah, kamu benar!" jawab Dita.


Tak lupa pula Zean memeluk sahabatnya dengan erat, ikut merasakan kebahagiaan dari keluarga Wijaya. "Wow, tak aku sangka keturunanmu berkembang dengan sempurna," ucap Zean yang tersenyum tipis.


"Tentu saja, keluarga kecebong," jawab Nathan yang membanggakan diri, menurutnya itu adalah salah satu prestasi yang patut di banggakan.


"Kamu semakin tua tetap saja perilakumu tidak berubah," ledek Zean.


"Ck, kamu juga tidak ada yang berubah."


Zean memeluk Bara dengan seringaian kecil membuat sang empunya mengerti maksud dari Zean, Bara melepaskan pelukannya sembari manatap pria paruh baya yang masih terlihat tampan dengan penuh kharisma dan pesona.


"Kenapa kamu menyeringai?" tanya Bara dengan penuh selidik.


"Sepertinya hubungan kita akan semakin dekat dalam waktu dekat."


"Apa maksudmu mengatakan itu? Aku tidak mengeri."


"Dasar bodoh, tidak ada pengulangan untuk itu," cetus Zean yang melepaskan pelukannya.


"Hah, apa yang kamu maksud mengenai anak-anak?" Tebak Bara yang menyipitkan kedua matanya menatap Zean dengan seksama.


"Tidak lama lagi kita akan menjadi besanan, sungguh hubungan yang sangat unik. Hubungan kita semakin erat berkat anak-anak," ucap Zean yang tersenyum tipis.


"Kita lihat saja nanti." Bara tidak yakin dengan hal itu, walau Vivian terlihat melanjutkan kehidupannya, tetap saja putrinya masih bersedih dengan kematian mantan kekasih yang membekas di hatinya. Vivian yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu, hanya saja orang-orang tidak menyadari hal itu selain Bara.

__ADS_1


Rasa sakit yang di alami saat melahirkan seorang anak butuh perjuangan yang sangat luar biasa, hal itu di alami oleh Lea dan mengetahui bagaimana perjuangan sang ibu saat melahirkannya. Tak terasa air mata menetes dengan indah, cairan bening di pelupuk mata jatuh terurai di saat menggendong bayi mungil yang sangat menggemaskan.


"Hai, Baby girl. Selamat datang di dunia barumu!" Lea mencium pipi gembul anaknya yang baru lahir itu, perasaan yang tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Begitupun dengan Abian juga meneteskan air matanya, kebahagiaannya sekarang sudah lengkap. Mempunya istri dan juga anak yang begitu dia sayangi.


"Dia sangat cantik, persis seperti mu?!" puji Abian yang mengecup pucuk kepala istrinya dengan lembut.


"Sepertinya kita masuk di waktu yang salah," ucap El yang melihat keromantisan dari keluarga kecil di hadapannya.


"Yeah, itu memang benar!?" cetus Abian membuat Lea mencubit suaminya.


"Jangan kasar begitu, dia sekarang adalah kakak iparmu," tukas Lea yang jengah melihat pola pikir sang suami.


"Ya...baiklah. Kamu selalu saja memilih kakak mu itu di bandingkan aku." Abian memajukan bibirnya beberapa centimeter membuatnya kembali menjadi korban saat Al menjitak kepala Abian dengan kasar.


"Wajahmu tidak cocok dengan ekspresi mu," seloroh Al.


"Jika saja kalian bukan kakak iparku, sudah lama aku ingin memukul wajah tampan itu." Abian menatap Al dan El dengan geram.


Mereka sangat penasaran untuk melihat bayi mungil dan masuk ke dalam ruangan dengan berbondong-bondong. Ruangan yang awalnya terlihat kosong menjadi ramai, kebahagiaan dari semua orang yang memuji wajah cantik dari bayi mungil itu.


"Apa yang Ibu bicarakan? Tentu saja boleh." Lea menyerahkan putrinya kepada Dita yang dengan sigap memeluk cucunya dengan senyum bahagia yang terpancar di wajahnya.


"Dia sangat cantik sekali," puji Caroline.


"Kamu benar," celetuk Zean.


"Apa kalian sudah memberikan mereka nama?" Ucap Nathan yang menatap menantunya, dengan cepat Abian mengangguk mengiyakan ucapan dari ayah mertuanya.


"Eve," jawabnya yang singkat, padat,dan jelas. Tanpa embel-embel nama Wijaya di belakangnya, dia tak ingin jika anaknya memakai nama marga dari sang istri.


"Hanya itu?" tanya El yang mengerutkan kedua keningnya.


"Kenapa kamu memberikan nama itu?" Al menatap Abian yang sangat penasaran.

__ADS_1


"Eve artinya kehidupan, berkat kalian yang menolong Lea memberikan kehidupan baru kepada putriku. Aku tidak tau bagaimana nasib anakku ini jika kalian tidak ada, hampir saja aku membunuh darah dagingku sendiri," jawab Abian yang menatap lurus, mengingat kenangan lalu yang menyelimuti rasa bersalah teramat dalam baginya, hingga saat ini masih tersimpan.


"Nama yang sangat bagus, tapi kenapa tidak menambah nama belakangnya?" celetuk Kenzi.


"Aku ingin putriku di kenal dengan identitasnya sendiri tanpa marga dari Wijaya."


"Hah, terserah padamu saja." Al tidak mempermasalahkan hal itu, perhatiannya terus menatap baby Eve yang tertidur.


"Apa aku boleh menggendongnya?" El menatap sang Ibu dengan penuh harap.


"Tentu saja boleh, kamu adalah pamannya."


El menggendong bayi mungil itu penuh hati-hati, dia tersenyum menatap istrinya, senyum dalam artian yang di mengerti oleh Anna. "Kenapa dia menatapku begitu?" gumamnya yang memperhatikan suaminya.


"Sepertinya kita bisa menambah personel baru lagi, bagaimana menurutmu?" Ucap El yang tersenyum nakal seraya menatap istrinya.


"Apa kamu tidak jerah mempunyai anak nakal seperti twins N itu?" sela Abian.


"Tidak perlu mencampuri urusanku, serahkan semuanya kepadaku," El tersenyum kemenangan.


"Tidak, dua anak sudah cukup."


"Ayolah Sayang, aku sangat menginginkannya," rengek El yang membuat baby Eve menangis dengan keras.


"Karena suaramu membangunkan putriku," ketus Abian yang mengambil baby Eve di tangan El.


"Dasar pelit," gerutu El yang cemberut.


Abian menatap putrinya yang terus menangis tanpa berhenti, menggendong baby Eve untuk meredakan tangisan dari bayi mungil itu. Dita menggelengkan kepala melihat aksi orang tua baru di hadapannya.


"Sepertinya dia haus, untuk para pria boleh pergi meninggalkan ruangan ini," titah Naina.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Baby Eve ingin minum ASI, keluarlah kalian." Caroline mengkahkan kaki untuk keluar dari ruangan itu, menarik lengan suaminya dengan lembut. Zean yang keluar ruangan di ikuti oleh beberapa orang pria, sesuai dari perintah Dita.


"Susuilah bayimu, dia pasti sangat haus." Naina tersenyum saat menatap wajah Lea yang sedikit lemah usai melahirkan


__ADS_2