
Kenzi menatap kedua kakak kembarnya untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi, bukan penyelesaian yang dia dapatkan melainkan cemooh dari Al dan juga El mengenai permintaan konyol dari istrinya itu.
"Bisakah kalian berhenti tertawa, aku datang untuk bertanya bukan untuk di ejek oleh kalian," ketus Kenzi yang menatap Al dan El secara bergantian.
"Itu sangat lucu, harga dirimu seakan jatuh ke bawah," ucap Al yang menahan senyumnya.
"Tak ku sangka panggilan monyet itu melekat kepadamu, aku merasa itu sangat cocok sekali," sambung El di sela-sela tawanya.
"Kalian benar-benar membuat aku kehilangan kesabaran, katakan saja di mana ada pohon kelapa?" ketus Kenzi.
"Baiklah, jangan cemberut seperti anak perawan. Akan aku katakan, kebetulan pohon kelapa di rumah mertuaku tengah berbuah lebat. Kamu bisa kesana untuk memanjatnya," ungkap El.
"Maksudmu pak Pitak itu?" tanya Kenzi dengan serius.
"Ck, tentu saja! mertuaku di kenal dengan rambutnya yang botak di tengah. Pergilah dan bawa juga anak-anak, mereka pasti menyukainya," ucap El.
"Tidak, aku sangat yakin jika mereka hanya akan mengacaukan segalanya dan menertawakanku. Terima kasih telah memberiku informasi itu." Kenzi yang berdiri dari duduknya sembari berlalu pergi menuju rumah pak pitak alias pak Bonar.
Kenzi pergi dengan menyelinap keluar dari Mansion, berharap tidak bertemu dengan kelima keponakannya yang selalu saja menganggu. Berjalan dengan mengendap-endap, menoleh kiri dan kanan untuk melihat jika situasi aman sentosa. Ada beberapa mobil yang berjejer indah dan tersusun rapi, mendekati salah satu mobil dan masuk ke dalam dengan riang gembira.
"Yes, akhirnya aku bisa pergi menyelinap dari Mansion terkutuk itu." Kenzi menyalakan mobil berwarna hitam metalik, dan mengendarainya dengan kecepatan penuh.
Suasana yang tampak sepi, tiba-tiba terdengar suara bersin yang sangat kuat. Karena penasaran, Kenzi mengerem mobilnya sembari mencari sumber suara.
"Astaga, bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Kenzi yang sangat terkejut dengan salah satu keponakannya. Niki tersenyum mengembang dengan memperlihatkan gigi putuh dan juga rapi, melambaikan tangan kecilnya yang menatap Kenzi.
"Mobil ini sangat berdebu, kapan terakhir kali Paman mencucinya? Sangat jorok!" celetuk Niki yang kesal, mengomentari mobil yang berdebu karena telah membuat hidungnya menjadi bersin dan ketahuan.
"Apa kamu datang sendiri?" Tanya Kenzi yang celingukan mencari para keponakannya yang lain.
"Paman tidak akan menemukan apapun, aku hanya datang sendiri saja."
__ADS_1
"Apa kamu berusaha berbohong? Dan kenapa kamu ada di sini?"
"Untuk apa aku berbohong? Aku mengatakannya dengan jujur. Aku tak sengaja melihat Paman menyelinap keluar dari Mansion dan membuat aku penasaran, itu sebabnya aku ada di sini!" jelas Niki yang cekikikan membuat Kenzi sedikit geram.
"Kenapa aku bisa mempunyai keponakan yang sangat menyebalkan sepertimu!" ketus Kenzi.
"Walau aku menyebalkan, tapi jangan lupa iq ku di atas rata-rata. Yah walaupun aku makan yang paling banyak, tetap saja akulah yang paling unggul." Niki membusungkan dadanya dengan bangga, Kenzi mulai jengah melihat drama yang sangat membosankan itu.
"Hentikan memuji diri mu sendiri, cepat turunlah dari mobilku?!" tukas Kenzi yang mengusir Niki.
"Apa Paman tega menelantarkan seorang anak kecil di tengah jalan, yang tidak tau jalan pulang menuju Mansion?!" kata Niki yang berakting sebagai orang tersakiti.
"Itu bagus, setidaknya perusuh di Mansion sudah tidak ada lagi. Aku sudah mengubungi supir Mansion dan sebentar lagi kamu harus ikut dengannya."
"Kemana Paman akan pergi, aku akan mengikutimu. Aku janji, tidak akan nakal lagi, bawa aku bersama mu!" bujuk Niki dengan tatapan mata puppy etes yang membuat Kenzi semakin tidak tahan dengan jurus andalan itu. Kenzi mendengus kesal, mengangguk dengan pelan dan juga pasrah tidak tahan dengan raut wajah yang menurutnya sangat menggemaskan hingga akhirnya luluh.
"Baiklah, kamu boleh ikut. Hanya saja jangan membuat ulah yang akan mempermalukan aku, dan kedua serahkan black card yang telah kamu curi." Kenzi menadahkan tangan kanannya sembari menatap Niki dengan ketus.
"Hah, aku tidak pelit. Hanya saja kamu serakah dalam memakan harta," sindir Kenzi.
"Itu bukan serakah, melainkan investigasi masa depan."
"Sangat pintar mengelak, apa saham yang telah kamu rampas dariku masih kurang? Bahkan aku juga tau jika kamu meretas data perusahaan orang lain dan menjualnya kepada perusahaan yang lebih kecil," ungkap Kenzi yang mengatakan segalanya.
"Eh, darimana Paman tau?" Tanya Niki yang menatap Kenzi dengan raut wajah serius.
"Karena kamu juga mengambil perusahaan yang baru saja aku dirikan, perusahaan tanpa terikat dengan perusahaan milik keluarga," pekik Kenzi dengan lantang.
"Jangan terlalu marah begitu, aku akan mengembalikannya setelah sampai ke Mansion."
"Hem, yasudah. Cepat pindah duduk di depan karena aku bukan supirmu," titah Kenzi yang dengan cepat di turuti oleh Niki.
__ADS_1
Kenzi mengemudikan mobilnya, mereka sampai di tempat tujuan yaitu rumah kakeknya Niki dan juga Niko. "Cepat turun." Kenzi dan Niki turun dari mobil seraya dan melangkahkan kaki menuju rumah yang sangat sederhana itu.
Terlihat dari kejauhan apa yang di lakukan oleh Bonar, bersantai dengan secangkir kopi dan beberapa gorengan yang menjadi lawannya. Mengipasi dirinya dengan kipas sate dan tersenyum senang saat melihat kedatangan salah satu cucunya.
"Kakekk...Niki datang!" ucapnya yang berteriak sembari memeluk sang kakek dengan haru, Bonar membalas pelukan itu dengan erat.
"Oh cucu sultannya Kakek, kenapa kamu baru berkunjung sekarang? Apa kamu melupakan pria tua ini?" Ucap Bonar dengan sendu karena jarang bertemu dengan cucu sultannya.
"Maafkan aku Kek, lain kali aku akan sering berkunjung di sini," tutur Niki yang berusaha menghibur Ayah dari Mommynya itu.
"Kenapa kamu datang sendirian, di mana Niki?" Bonar celingukan mencari salah satu cucu kembarnya.
"Aku di sini, yang Kakek maksud adalah Niko." Ralat Niki yang sedikit kesal dengan Kakeknya karena tidak bisa membedakannya dengan Niko.
"Jangan salahkan aku, wajah kalian tidak ada bedanya."
"Hah, terserah Kakek saja."
"Ehem." Kemzi sengaja berdehem untuk menghentikan aksi yang menurut nya sangat memuakkan.
"Eh, Nak Kenzi. Ayo silahkan duduk!" Bonar menyambut kedatangan Kenzi dan juga Niki. "Tidak biasanya kamu datang kesini, apakah ada hal yang mendesak?" tanyanya.
"Itu benar, saya ingin meminta izin untuk memanjat pohon kelapa yang tumbuh subuh di belakang rumahmu, Paman."
"Bukankah kamu sangat kaya? Beli saja, dan itu sangatlah gampang."
"Tapi istriku menginginkan jika aku memanjat pohon kelapa dan mengambilkannya."
"Ambil saja sepuasmu, hanya saja aku butuh...Yah, kamu pasti tau apa yang aku maksud." Bonar tersenyum, saat sebentar lagi akan mendapatkan uang kaget dari Kenzi.
"Dasar mata duitan," gumam Niki yang melihat Bonar dengan jengah.
__ADS_1