
Seorang wanita sedang memakai baju formal, polesan make up tipis membuat terlihat lebih cantik. Vivian menatap cermin besar yang ada di kamarnya, senyum tipis untuk memulai awal yang baru. Menuruni tangga dengan bersemangat, menuju meja makan untuk mengisi perut dan menambah energi.
Semua orang telah berkumpul di meja makan yang sangat luas, ada yang berbicara bisnis, bergurau, bahkan ada juga yang fokus dengan makanan di atas piring masing-masing. Naina mendongakkan kepala, melihat putrinya yang terlihat cantik dengan setelan kantor, "wah...anak Mama terlihat sangat cantik hari ini. Ayo duduk dan ikut sarapan."
Vivian mengangguk dan duduk di sebelah Kenzi, semua orang makan dengan khidmat.
Setelah selesai makan, Kenzi menoleh ke samping. "Jadi bagaimana? Jatuhkan pilihanmu dengan benar."
"Apa maksud Kakak?" ujar Vivian yang menyatukan kedua alisnya dengan sempurna.
"Kamu ingin masuk di perusahaan siapa? Aku, kak Al, kak El, atau Abian?"
"Tidak satupun, aku ingin mencari pekerjaan sendiri tanpa bantuan kalian," putus Vivian.
"Tapi, kenapa? Malahan kamu bisa mendapatkan posisi yang tinggi dengan mudah," sela El.
"Di perusahaanku saja," sela Al.
"Tidak, Vivian akan bekerja di perusahaanku," imbuh Kenzi.
"Oh ayolah, bukankah sudah aku katakan ingin bekerja di perusahaan lain tanpa bantuan dari ke empat kakak ku." Vivian menatap ke empat kakaknya dengan jengah.
"Hah, terserah padamu saja. Jika terjadi masalah kabari aku," tutur Abian yang melirik sekilas.
"Baiklah."
"Apa nama perusahaannya?" tanya El.
"NC Grup, aku ingin mengajukan lamaran di sana."
"NC Grup? Sepertinya nama perusahaan itu tidak asing di telingaku," batin Kenzi yang berusaha untuk mengingatnya.
"Kenapa style rambut Kak Kenzi dan Kak Abian terlihat aneh?" Vivian menunjuk rambut kedua kakaknya yang tampak berbeda.
"Jangan tanyakan pada kami, tapi tanyakan itu kepada istri kami," cetus Abian yang tersenyum kecut.
"Apa yang terjadi?" Tanya Vivian yang meminum air mineral yang ada di dalam gelas. Niko menyentak wig yang terpasang di kepala Abian dan juga Kenzi, sontak Vivian menyemburkan air dari mulutnya mengenai Kenzi. Seketika seluruh ruangan menggema suara gelak tawa dari setiap anggota keluarga, terutama Niko yang membuka kedok dari kedua pamannya itu.
"Apa kesalahanku di masa lalu hingga mempunyai keponakan yang sangat nakal, karena ulah tuyul itu yang telah menjatuhkan martabatku di hadapan semua orang," keluh Kenzi di dalam hati.
__ADS_1
"Sial, aku sudah mengatur wig ini sedemikian rupa, tapi kamu mengacaukannya," ujar Abian yang kesal.
"Hanya mengungkap kebenaran saja," jawab Niko dengan enteng.
"Apa yang terjadi? Apa kalian sedang bermain drama Shaolin?" Celetuk Bara yang kembali mengingatkannya saat di gunduli oleh Naina. "Jangan katakan jika istri kalian mengidam hal yang sama dengan Papa dulu?" Selidiknya yang memicingkan kedua mata menatap Lea dan juga Kayla, mereka mengangguk dengan cepat, mengiyakan ucapan dari Bara yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
"Tak ku sangka itu bisa turun menurun, dulu aku dan twins L, dan terakhir adalah putraku sendiri."
"Aku rasa mansion ini terkena kutukan." Praduga Abian.
"Kamu benar, aku merasa juga begitu. Setelah Kayla melahirkan, kami akan pindah ke luar kota atau bahkan luar negeri," ucap Kenzi.
"Aku juga begitu, ada proyek besar di luar kota," celetuk Abian.
"Haha, baiklah. Terserah kalian saja," ucap Nathan yang menghela nafas.
****
Vivian merasa sedikit gugup, menunggu waktunya yang akan di wawancarai sebelum masuk ke perusahaan yang menjadi incarannya. Dia ingin merasakan hidup mandiri, tanpa bantuan dari keluarganya yang sangat kaya raya itu, bahkan dia juga menyumbangkan seluruh aset Vero ke panti sosial dan membangun beberapa sekolah gratis untuk daerah terpencil.
Vivian juga tidak memakai nama marga keluarga, dan hanya inisialnya saja yang tertera di surat lamaran. Tibalah gilirannya yang di panggil, mempersiapkan dirinya dengan menghirup udara dengan sangat dalam, mengeluarkannya secara perlahan.
"Permisi Tuan, bagaimana dengan wawancaranya?" Vivian memajukan ke depan tubuhnya karena sangat jengah, sudah dua puluh menit dia menunggu atasannya yang belum wawancarainya. Hingga sang asisten dari pemilik perusahaan itu meminta Vivian untuk menandatangani surat kontrak pekerjaan.
"Anda lolos dan bisa menandatangani surat kontrak itu, posisi nona saat ini adalah sekretaris pribadi dari Tuan," ucap sang asisten yang bernama Dino.
"Semudah itu? Tanpa interview?" Vivian mengerutkan kening dan merasa ada yang janggal, dengan cepat dia beranggapan itu sebuah keberuntungan. Tanpa berpikir panjang, Vivian menandatangani surat kontrak setelah membacanya, senyum terukir jelas di wajahnya
"Aku sudah menandatangani kontrak, kapan aku mulai bekerja?"
"Hari ini Nona sudah mulai bekerja, dan tandatangani kertas kosong ini." Dino menyerahkan sebuah kertas kosong ke arah Vivian.
"Untuk apa semua ini?" tanya Vivian dengan penuh menyelidik.
"Untuk mendata karyawan baru."
"Baiklah." Vivian mengambil kertas kosong itu dan menyerahkannya kepada Dino, seseorang tersenyum tipis saat rencananya berjalan dengan sempurna.
"Bolahkan aku bertanya?"
__ADS_1
"Silahkan!" sahut Dino.
"Siapa nama bos ku?"
Dengan cepat pria itu memutarkan kursinya sembari membuka kacamata hitam dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Vivian yang sangat terkejut.
"Rayyan? Jadi ini perusahaan mu juga?"
"Benar, Sayang."
"Kenapa aku bisa terjebak dengan pria ini?" gumam Vivian yang tersenyum paksa.
"Selamat karena kamu di terima di perusahaan ku, aku sangat senang dengan ini. Bagaimana jika kita merayakannya?" tawar Rayyan.
"Lebih baik aku mengundurkan dari perusahaan ini," ketus Vivian yang ingin beranjak pergi, tapi di cekal oleh Rayyan.
"Kamu sudah menandatangani kontraknya, dan jika kamu melanggar? Maka__" Ucapan Rayyan terpotong membuat Vivian mendelik kesal.
"Katakan dengan jelas."
"Kamu akan menjadi istriku."
"Itu tidak ada di perjanjian kontrak."
"Dino," panggil Rayyan seraya tersenyum kemenangan.
"Iya, Tuan."
"Berikan buktinya."
"Baik."
Dino mengutak-atik laptop dan melihat tanda tangan Vivian yang tertera di surat kontrak ke dua, sang asisten itu memperlihatkan layar laptopnya di hadapan Vivian.
"Oho, terjadi konspirasi di sini, kenapa kalian menjebakku!" ketus Vivian yang protes sambil menunjuk Rayyan dan Dino secara bergantian, sorot mata yang menahan amarah.
"Semua adil dalam bisnis, Honey!" ujar Rayyan tmyang menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Dasar licik." Amarah Vivian memuncak akibat Rayyan yang menggunakan kekuasaan untuk menjebaknya, menggebrakkan meja dengan keras membuat Dino dan Rayyan terlonjak kaget.
__ADS_1
"Aku akan menuntut kalian karena mencoba menjebakku." Keluar dari ruangan yang membuat dadanya sesak, mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang selalu di bawanya, menelfon seseorang untuk meminta bantuan.