Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 100 - Tamat


__ADS_3

Vivian membelalakkan kedua matanya, dia sangat terkejut dengan perlakuan Rayyan dan dengan spontan berbalik memukul wajah pria yang baru saja menjadi suaminya itu.


"Sayang, kenapa kamu memukul wajah tampan ku?" Tanya Rayyan yang mengusap pipinya yang terkena pukulan dari istrinya itu.


"Maaf, aku sangat kaget saat kamu memelukku begitu."


"Kita sekarang sudah menjadi sepasang suami istri, dan itu hal yang lumrah memeluk istri sendiri."


"Pernikahan kita sangat mendadak sekali, hingga aku lupa jika sudah menikah," sahut Vivian dengan enteng.


"Bagaimana jika kita melakukannya sekarang," ucap Rayyan yang tersenyum seperti seorang anak kecil menatap mainan baru.


"Melakukan apa?" Tanya Vivian yang berpura-pura tidak mengerti dari perkataan suaminya itu.


"Unboxing," bisik Rayyan yang sangat antusias.


"A-aku belum siap, bagaimana besok malam saja."


"Ayolah, aku sangat menginginkan itu sekarang. Lagipula kita sudah resmi menjadi suami istri, jadi tidak masalah jika kita melakukannya."


"Aku sangat lelah," tolak Vivian.


"Ayolah, bukankah kamu sendiri mengatakan akan menjadi istri yang baik? Ayo lakukan kewajibanmu."


"Hah, baiklah. Tapi lakukan dengan sangat pelan dan penuh hati-hati," tutur Vivian yang menerimanya, sontak menjadi terkejut saat kedua tangan pria tampan yang berstatus suaminya telah melingkar di pinggangnya.


Vivian hanya pasrah dengan perlakuan suaminya itu, Rayyan mencium bibir Vivian dengan dalam. Ciuman yang kian menuntut di selimuti gairah di antara keduanya, permainan lidah yang menjelajah satu sama lain. Tak ketinggalan kedua tangan Rayyan yang memainkan bagian sensitif dari istrinya membangkitkan gairah dari Vivian yang mulai terangsang, keduanya hanyut dalam samudra cinta untuk mencapai puncak.


Di pagi hari yang sangat indah, sinar matahari menyeruak masuk menembus jendela mengenai pori-pori kulit, hingga membangunkan seseorang dari tidurnya. Rayyan menatap wajah istrinya yang sangat alami, senyum yang tak pernah luntur saat mengingat kesucian Vivian yang telah berhasil dia renggut.


"Akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya," gumamnya sambil menatap wajah Vivian.


Vivian mengerjapkan kedua matanya, kedua matanya terbelalak kaget saat melihat seorang pria yang ada di sebelahnya. Dia berteriak dan menendang tubuh Rayyan hingga terjungkal ke belakang, sedangkan sang korban mengumpati nasib sialnya.


"Ada apa denganmu? Aku suamimu sekarang, jangan katakan jika kamu melupakannya?" Tutur Rayyan yang mengusap pantatnya.


"Maaf, aku sangat terkejut dengan keberadaan mu." Vivian hanya tersenyum paksa untuk menghilangkan kegugupan di wajahnya.


"Cepat bersihkan tubuhmu, aku akan mengajakmu pergi honeymoon!"


"Honeymoon?"

__ADS_1


"Hem."


"Kemana?"


"Rahasia."


Vivian mendengus kesal dengan jawaban suaminya, dan berlalu pergi menuju kamar mandi dengan wajah yang cemberut. Sedangkan Rayyan menatap punggung istrinya dengan tersenyum, dia sangat menyukai wajah cemberut dari istrinya itu.


Rayyan melihat sebuah buku diari milik Vero, mengusapnya dengan perlahan. "Aku ucapkan terima kasih kepadamu yang telah banyak membantu." Dia menyimpan buku itu di sebuah peti kayu dan juga kuno, karena dia tidak ingin bergantung dengan buku itu dan menjalani hari-hati sesuai dengan porsinya sendiri.


Tak lama Vivian keluar dari kamar mandi, menatap curiga suaminya. "Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanyanya dengan tatapan penuh selidik.


"Tidak ada, hanya melihat benda-benda yang ada di dalam peti saja."


"Hem, baiklah. Sekarang katakan kemana kita akan pergi?" Ucap Vivian yang sangat penasaran.


"Kita akan ke korea, sedang ada musim salju di sana."


"Bagaimana dengan pekerjaan kantormu?"


"Aku bosnya, jadi terserah padaku saja!" sahutnya dengan sombong.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Rayyan kepada semua orang yang di sambut baik.


"Ayo duduklah, dan makan sarapan kalian!" ujar Naina yang tersenyum melihat anak dan menantunya.


"Baik, Ma!" sahut mereka dengan kompak.


Rayyan menarik kursi untuk istrinya, setelah itu barulah dia ikut bergabung dengan semua orang. "Apa rencanamu untuk putriku?" Tanya Bara dengan tatapan intimidasi, Naina segera memegang lengan suaminya yang masih marah dengan perbuatan Rayyan kepada Vivian.


"Kami ingin honeymoon ke Korea dan akan pindah setelah beberapa hari," sahut Rayyan.


"Kamu ingin pindah? Kenapa terburu-buru sekali? Setidaknya sampai Kayla melahirkan."


"Tidak, aku ingin membangun keluarga kecil kami berada jauh dari sini."


"Hei, apa maksudmu? Apa kamu ingin memisahkan Vivian dari kami?" Cetus El yang sedikit kesal dengan ucapa Rayyan.


"Tidak, jangan salah paham begitu. Tolong mengertilah keputusanku saat ini, aku ingin ke Paris dan menghuni Mansion milik daddy Zean."


"Apa itu artinya Paman akan membawa Bibi ke Paris dalam waktu dekat ini?" Tanya Niko yang meneteskan air matanya, karena ini pertama kalinya dia berpisah dengan Vivian.

__ADS_1


"Hei, kamu tidak membicarakan ini terlebih dahulu kepadaku?" Bisik Vivian yang ingin meminta penjelasan kepada Rayyan.


"Aku takut kamu tidak akan siap mendengarnya, tapi aku terpaksa mengatakan ini kepada semua orang."


"Tapi kapan kita akan tinggal di Paris?"


"Setelah pulang dari Korea, kita langsung berangkat ke Paris," sahut Rayyan.


"Apa? Secepat itu?" Vivian sangat terkejut dengan keputusan suaminya yang sangat mendadak.


"Hah, jika itu keputusan mu aku akan berusaha untuk menerimanya," celetuk Kenzi yang menerima keputusan dari sahabat sekaligus adik iparnya.


"Terima kasih, kamu benar-benar sahabatku yang sangat mengerti tentangku."


"Hem, makanlah sarapan yang ada di hadapan kalian sebelum dingin. Mama akan membantumu untuk bersiap-siap," ucap Naina yang berusaha untuk menyembunyikan air matanya agar tidak jatuh.


Setelah selesai makan, Vivian dan Naina menuju kamar pengantin baru itu. Membantu anaknya untuk mengemasi pakaian dan juga barang-barang keperluan Vivian dan juga Rayyan.


"Ma, apa itu artinya kita tidak akan bertemu?" Ujar Vivian yang menghentikan tangan Naina yang terlihat sibuk.


"Kamu bisa menemui Mama dan juga papa kapan saja, tapi jaga kondisimu di sana. Kami tidak bisa mengawasimu lagi, semua tanggung jawab itu akan Mama serahkan sepenuhnya kepada Rayyan."


"Aku sangat sedih meninggalkan kalian semua di sini."


"Apapun keputusan suamimu, ikuti saja perkataannya selagi itu baik."


"Baiklah Ma."


****


Rayyan dan Vivian berangkat menuju ke bandara, menatap keluarganya satu persatu dan melambaikan tangannya dengan penuh haru. Air mata yang mengalir dengan deras, Rayyan yang melihatnya memeluk Vivian untuk menenangkannya.


"Apa kamu telah siap?" Tanya Rayyan.


"Iya, aku siap!" sahut Vivian yang menghapus air matanya, melangkahkan kakinya meninggalkan keluarganya di Indonesia.


Bara dan Naina menatap kepergian putri mereka dengan sendu, dengan cepat Naina menghapus air matanya.


" berharap kebahagiaan dari anak-anak ku, semoga mereka selalu bahagia hingga rambut memutih," batin Naina yang tersenyum melihat punggung putri dan juga menantunya yang telah menghilang dari pandangan.


...~Tamat~...

__ADS_1


__ADS_2