
Seorang pria yang sedang menikmati guyuran air dari shower membuat pikirannya sedikit jernih, menghilangkan noda darah yang melekat di tubuhnya saat membunuh musuh dengan kejam. "Aku akan mendapatkan cintamu dalam dua minggu, empat belas hari dan tiga hari terbuang dengan sia-sia. Masih ada sebelas hari lagi untuk mendapatkan cintanya atau aku tidak akan mendapatkan kesempatan lagi," batinnya dengan tatapan lurus.
Rayyan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya, mengenakan handuk putih untuk menutupi bagian intimnya dan memperlihatkan perut sixpack dan atletis miliknya. Memakai pakaian dengan rapi dan juga tak lupa dengan semprotan parfum maskulin yang biasa dia pakai. Setelah selesai bersiap-siap, Rayyan melirik jam tiga dini hari. Dia sangat tidak sabar untuk melihat wajah cantik sang pujaan hati.
"Sebaiknya aku pergi untuk melihat keadaan Vivian, aku sangat merindukan ketusannya itu, " ucap Rayyan yang cekikikan saat mengingat sikap dingin dari seorang Vivian Wijaya. Mengambil kunci motor sembari bergegas keluar dari kamar, senyum di wajahnya selalu terukir saat di sepanjang perjalanan.
****
Kenzi memeluk tubuh istrinya dari belakang sembari mengusap perut yang membuncit, dia tidak sabar menunggu kelahiran dari anaknya.
"Aku sangat mencintaimu." Kenzi mencium pipi dan juga punggung Kayla dengan penuh kasih sayang. Baru saja dia ingin memejamkan mata, tenggorokan nya terasa kering dan memutuskan untuk turun ke lantai satu. Kenzi menuruni tangga dengan teko kecil di tangganya, berjalan dengan malas karena rasa kantuk yang hinggap di pelupuk mata.
"Selamat pagi, Kakak ipar!" Seseorang melambaikan tangan sembari tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan juga rapi. Kenzi membalas lambaian tangan orang itu, satu detik...dua detik, dan hitungan ketiga detik barulah dia sadar jika di ruangan itu ada orang lain.
"Sepertinya ada orang lain di sini," gumam Kenzi yang memundurkan tiga langkahnya, raut wajah yang penasaran berubah menjadi sangat terkejut.
"Halo, Kakak ipar!" sapa orang itu sekali lagi.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Pekik Kenzi sambil menatap pria itu dengan mengerutkan keningnya.
"Tentu saja bertamu," sahut Rayyan dengan enteng.
"Bertamu? Apa ada tamu yang datang jam tiga dini hari?!" cetus Kenzi yang menunjukkan jam yang di pajang di dinding, tak habis pikir dengan tingkah laku dari sahabatnya itu.
Rayyan dengan cepat mengangguk. "Tentu saja, tamu adalah raja, tidak penting jika dia bertamu dengan jam yang berbeda dari biasanya."
"Hah, baru pertama kalinya aku melihat tamu nekat sepertimu. Mau apa kamu datang ke sini? Sebaiknya kamu istirahat di apartemen milikmu sendiri." Kenzi mengusir sahabatnya karena dia sangat mengantuk sekali.
"Tidak, aku hanya ingin melihat Vivian."
"Kamu boleh melihatnya," sahut Kenzi, sedangkan kedua mata Rayyan berbinar bisa mendapatkan izin dari sahabaynya dengan dangat mudah.
__ADS_1
"Yasudah, tidak ada masalah lagi. Minggirlah!"
Kenzi mencekal tangan Rayyan dan berbalik. "Aku belum selesai bicara."
"Baik, katakan. Cepatlah! aku sudah tidak sabar untuk menjadi orang pertama yang di lihat oleh calon istriku itu," desak Rayyan.
"Datanglah empat jam lagi, sebaiknya kamu pulang karena aku sangat lelah dan ingin beristirahat," keluh Kenzi yang mendengus kesal.
"Aku tidak akan pergi sebelum melihat calon istriku," keukeuhnya.
"Dasar aneh, kamu seakan menjadi budak cinta." Cibir Kenzi.
"Jangan mencibirku begitu, setidaknya aku lebih baik darimu. Menolak menikah hingga kabur, tapi lihatlah sekarang! kamu bahkan selalu berada di bawah ketiak istrimu sendiri," balas Rayyan.
Kenzi yang sangat kesal dengan pernyataan itu, melingkatkan tangannya di leher sang sahabat, dan mengepitnya dengan sangat kuat.
"Sialan, singkirkan tanganmu dari leherku." Bentak Rayyan yang berusaha memberontak.
"Tidak, aku akan melaporkanmu kepada mama Naina dengan tindakanmu yang menindas adik ipar seperti diriku," ancamnya tak membuat Kenzi melepaskan jepitan tangannya, melainkan menambah jepitan tangan dengan sangat keras.
Kedua pria itu saling bergulat di jam tiga dini hari, suara keributan terdengar saat Niki keluar dari kamarnya karena perutnya yang berdemo minta di isi. "Apa ini? Mereka melarangku untuk bertengkar, tapi mereka sendirilah memberikan contoh yang tidak baik," gumam Niki yang mengucek kedua matanya sembari tersenyum smirk.
Kenzi dan Rayyan yang sedang bergulat dengan penuh semangat, mata mengantuk seketika lebih ngejreng seakan mendapatkan asupan nutrisi.
"Cepat keluar atau aku akan membuatmu tidak bisa berproduksi lagi," ancam Kenzi yang melirik junior milik Rayyan.
"Aku tidak takut denganmu, bahkan membalasmu dengan memotong tututmu hingga ke tandan-tandannya," balas Rayyan yang juga tak ingin mengalah.
Pertikaian itu terhenti saat Kenzi terkejut dengan lehernya yang tertusuk jarum, memegang leher belakangnya yang seakan mati rasa, dia tidak bisa bergerak seakan leher itu kaku.
"Kenapa lehermu kaku?" Tanya Rayyan yang sangat penasaran, dia terkejut saat pantatnya terkena jarum hingga membuatnya lemas tak berdaya. Mencoba untuk bangkit tetap saja tubuhnya sangat lemah.
__ADS_1
"Sialan, siapa yang melakukan ini kepada kita?" Cetus Kenzi yang membalikkan badan melihat pelaku sebenarnya, terpaksa membalikkan. Terlihat dengan jelas, jika ada yang berlari dari lantai dua.
"Bagaimana? Apakah kamu melihat pelakunya?" Rayyan tidak bisa melihat Kenzi dengan jelas, seakan tubuhnya menempel ke lantai.
"Tentu saja aku tau, sepertinya Niko atau Niki."
"Ck, di sana aku di kerjai oleh Baby dan di sini keponakanmu yang sangat nakal itu."
"Apa kamu tau apa yang membuat kita begini?"
"Hem, ini semacam menganggu sistem kerja syaraf dan bekerja selama lima menit saja."
"Astaga...kenapa sangat lama sekali! apa kamu punya penawarnya?" Tanya Kenzi dengan penuh harap.
"Aku kesini untuk melihat calon istriku, mana aku tau jika ini terjadi."
"Ck, katakan dengan benar, kamu membuat aku kesal saja." Kenzi mendengus kesal.
"Apa kamu pikir aku seorang tabib yang selalu membawa segala macam ramuan? Aku datang khusus untuk mengunjungi calon istriku."
"Lalu? Bagaimana dengan ini?" Ketus Kenzi.
"Nikmati saja," sahut Rayyan dengan enteng.
Lima menit kemudian..
Akhirnya kedua pria itu terbebas, membuat mereka menghela nafas dengan lega. Rayyan melihat peluang, dia tersenyum tipis dan berlari dengan sangat cepat menuju kamar Vivian.
"Hei, kamu. Kembali sebelum aku menghajar wajahmu," pekik Kenzi sembari menguap, melihat pria itu menghilang dari pandangannya. "Hah, sebaiknya aku tidur saja." Kenzi berjalan menaiki tangga dan menuju kamarnya, melupakan niatnya yang ingin mengisi air ke dalam teko.
Rayyan tersenyum seraya membanggakan dirinya dengan begitu sombong, berhasil kabur dan sekarang berada di pintu kamar milik Vivian. Dia membuka pintu, Vivian mempunyai kebiasaan buruk karena tidak pernah mengunci pintu kamarnya, membuat seseorang masuk dengan begitu mudah.
__ADS_1
"Benar-benar sangat ceroboh," gumamnya.