
Suasana di dalam Nansion Wijaya, seluruh keluarga ikut hadir, mulai dari Zean dan istrinya Caroline juga putri kecilnya yang baru berusia 8 tahun bernama Baby. Dokter Antoni bersama istrinya indri dan anak mereka yang juga seorang dokter bernama Jimmy, Daniel dan istrinya Nurma sebagai orang tua dari Shena, istrinya Al.
Di sisi lain, ada orang tua dari Anna yang bernama bonar atau sering di sebut sebagai pak pitak, kakek twins N. Bara sekeluarga, dan Nathan sekeluarga, Kinan dan putrinya bernama Melodi, Rayyan, dan terakhir adalah Vero.
Keadaan ramai membuat mereka reunian, kebersamaan yang jarang sekali terjadi. Nathan yang duduk di kursi khusus di meja makan membuatnya terlihat sangat bijaksana, menatap semua orang yang telah duduk di kursi masing-masing dengan berbagai macam makanan yang berada di atas meja makan.
"Terima kasih karena kalian menyempatkan untuk hadir di acara makan malam ini, jangan menunda waktu dan makanlah hidangan yang telah tersedia di atas meja makan," kata Nathan yang mempersilahkan mereka untuk makan.
Semua orang makan dengan khidmat, menikmati hidangan yang mengugah selera. Penuh suka cita dan canda tawa, apalagai Niki makan dengan porsi orang dewasa bahkan melebihi mereka, "apa perutmu tidak akan meletus dengan makan begitu banyak?" tanya Baby yang menatap El dengan membelalakkan kedua matanya karena baru melihat pemandangan itu untuk pertama kalinya.
"Aku sedang berusaha untuk adil," jawab Niki dengan enteng sembari mengambil beberapa lauk yang dia gemari.
"Apa maksudnya itu?" tanya Rayyan yang juga penasaran.
"Hidup harus seimbang, terutama urusan perut. Jika di sisi kanan ku sudah penuh, masih ada di sisi kiri."
"Jimmy, bisakah kamu memeriksa putraku ini?" sela El yang menatap porsi makan Niki.
"Ck, apakah kamu pernah mendengar buah jatuh tak jauh dari pohonnya? itu lah yang terjadi dengan putramu, nafsu makan yang banyak karena turunan dari Daddynya sendiri."
"Sial, kamu sedang menyidirku?" kesal El.
"Tidak, aku mengatakan faktanya," jawab Jimmy dengan santai.
Kenzi tak menghiraukan drama yang menurutnya sangat membosankan, dia lebih tertarik duduk dan memakan makanannya sembari menatap wajah cantik sang istri, "bahkan di saat makanpun dia terlihat sangat cantik," gumam Kenzi.
Sedangkan Melodi menggenggam sendok dan garpu dengan sangat erat, pandangan mata menusuk menatap Kayla yang di masukkan ke daftar hitam dan harus di singkirkan, "aku akan akhiri hidupmu malam ini juga," batinnya.
Lexa dan Lexi melihat niat buruk yang akan di jalankan oleh Melodi, mereka sangat peka di sekitar dan itu salah satu kelebihan dari putri kembar Al, "sepertinya dia akan berniat buruk dengan bibi Kayla," bisik Lexi.
__ADS_1
"Kamu benar, hanya kita yang mengetahui niatnya. Jika kita membicarakan ini dengan para orang dewasa, mereka tidak akan mempercayainya," balas Lexa yang juga berbisik.
"Jika begitu, mari buat rencana. Sepertinya sangat seru!" lirih pelan Lexi.
"Sebelum itu kita akan memberitahukan ini kepada Alex, dan twins N."
"Hem, kamu benar."
Lain halnya dengan Rayyan yang terbakar api cemburu saat di meja makan melihat Vero sangat memperhatikan Vivian, "kedekatan mereka membuat darahku mendidih," batinnya yang membengkokkan sendok menggambarkan perasaannya sekarang, pandangan yang tak luput dari dua objek tak jauh darinya.
Makan malam dengan penuh intrik akhirnya selesai dan setelah itu mereka duduk di ruang keluarga dengan membuat kelompok sendiri sesuai dengan usia yang hampir sama.
"Bagaimana jika kita ke kamar saja, di sini sangat membosankan," lirih Kenzi yang menatap istrinya, mereka lebih memilih untuk duduk di luar sambil menatap kolom renang dengan nuasa biru laut.
"Apakah urat malu sudah putus? di sini masih banyak orang dan kamu memikirkan hal itu?" balas Kayla yang memelankan suaranya.
"Apa yang kita lakukan di sini? aku sangat malas dengan mereka, tidak mungkin aku bergabung dengan kak Al dan juga kak El, apalagi Rayyan, aku sangat bosan dengan mereka yang hampir setiap saat bertemu."
"Dia masih marah kepadaku layaknya seorang anak perawan."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Kayla yang mengerutkan keningnya menatal sang suami.
"Karena kesalahpahaman itu membuatnya akan di jodohkan dengan orang lain, dan aku dengar jika calonnya juga seorang dokter."
"Hem baiklah, bergabunglah dengan mereka. Aku akan pergi ke toilet dulu," ucap Kayla.
"Apa aku boleh ikut?" ucap Kenzi yang mengedip-ngedipkan kedua matanya seperti seorang anak kecil.
"Tidak, aku butuh privasi. Bergabunglah dengan mereka dan jangan susul aku jika tak ingin tidur di luar kamar," ancam Kayla yang sangat mutlak, membuat Kenzi mendengus kesal.
__ADS_1
Kayla berlalu pergi ke toilet meninggalkan semua orang, tak butuh waktu lama untuknya berada di toilet. Kayla mencuci tangannya di wastafel dengan sangat santai, dia melihat ada sebuah bayangan hitam yang baru melintas tak jauh darinya, "siapa itu? aku melihat orang itu bolak balik layaknya setrika.
Kayla yang sangat penasaran dengan cepat memeriksa di luar, karena dia sangat yakin jika itu hanyalah Kenzi yang berusaha menakut-nakutinya. " Aku sangat yakin jika ini adalah ulah dari para keponakan Kenzi yang sangat nakal itu.
Kayla terus mengikuti bayangan hitam hingga sampai ke balkon lantai 3, "tidak ada siapapun di sini?" gumamnya yang sangat penasaran dan menyusuri balkon itu, hingga dia merasakan pergerakan di belakangnya dengan refleks menghindari serangan yang hampir saja meregang nyawa.
"Sial, berani sekali dia menyerangku diam-diam," umpat Kayla yang menghindari setiap serangan orang bertopeng yang membawa Pisau. Kayla terganggu dengan serangan itu mulai membalasnya dengan sangat serius, terjadilah aksi pertarungan.
"Ck, sepertinya dia tidak menguasai ilmu beladiri. Terbukti dengan gerakan yang sangat lemah itu," batin Kayla yang tersenyum miring.
Orang bertopeng itu adalah Melodi yang nekat membunuh Kayla, tapi dia tidak menyangka jika refleks dari rivalnya sangatlah bagus, "sial, padahal sedikit lagi aku bisa membunuhnya," batin Melodi yang kesal.
Tak butuh waktu yang lama untuk Kayla mengalahkan Melodi, dengan cepat dia membuka topeng. "Wow, ternyata orang yang diam-diam menyerangku adalah dirimu, sepertinya kamu salah dalam memilih lawan," ucap Kayla yang menatap mata Melodi dengan sangat dalam, dengan cepat merebut pisau yang ada di tangan Melodi dan menodongkannya. Melodi tidak bisa bergerak, keadaan tersudut membuatnya tersenyum saat mempunyai ide briliant.
"Tolong....tolong, seseorang tolong aku," pekik Melodi yang histeris membuat semua orang bergegas menuju balkon di lantai 3.
"Apa yang terjadi? dan kenapa kamu menodongkan pisau kepada putriku?" tanya Kinan yang sangat mengkhawatirkan Melodi yang tengah tersenyum samar.
"Tolong aku, Kayla ingin melenyapkan aku," ucap Melodi berakting.
"Apa benar begitu Kayla? apa alasannya?" tanya Naina yang sangat cemas.
"Tidak Ma, dia berbohong. Melodi lah yang ingin membunuhku, dengan refleks aku menghindar dari serangan itu."
"Tidak, dia berbohong. Lihatlah buktinya, dia sedang menodongkan pisau, dan periksa sidik jarinya," sanggah Melodi. Semua orang mulai menatap Kayla dan Melodi dengan sangat bingung, mereka tidak bisa memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah.
"Aku tidak yakin jika istriku melakukan hal itu," bela Kenzi.
"Tapi posisinya sekarang sangatlah condong ke arah Kayla," tutur Kinan yang membela putrinya.
__ADS_1
"Bagaimana kita mengetahui kebenaran jika Cctv di balkon sedang rusak," sela Lea.
"Kami punya solusinya," ucap seseorang yang tak lain adalah Niko dan keempat saudaranya, berjalan dengan membusungkan dada melewati para orang dewasa.