
Seorang pria tampan sedang menunggu moment istimewanya, berharap jika sang pujaan hati ingin menemaninya semalam. Vero mempersiapkan kedatangan Vivian dengan makan malam yang romantis, persiapan yang matang membuatnya penuh percaya diri.
Vero mengganti pakaian nya sedikit formal untuk menambah kesan romantis, menyemprot parfum dan menyisir rambutnya dengan rapi. Senyum di wajahnya seakan memudar saat melihat darah segar yang keluar dari hidungnya, dengan cepat dia mengelap dengan tisu.
"Semoga malam ini akan menjadi malam romantisku dengan Vivi, kehadirannya membuat aku kembali bersemangat," batin Vero yang melihat sebuah foto yang terpajang di dinding, tersenyum saat melihat senyuman Vivi yang sedang memeluk dirinya saat di Pantai.
Suara bel pintu membuatnya tersenyum mengembang, memikirkan kecantikan kekasihnya yang sekarang berpenampilan lebih feminim. Dengan cepat dia bergegas untuk membukakan pintu, melihat wajah cantik Vivian yang menenteng paper bag yang berisi makanan yang baru saja dia beli dan beberapa macam buah-buahan di dalam bingkisan.
"Halo Paman," sapa Niko, dan Niki yang melambaikan kedua tangan nya ke arah Vero. Hanya Vivian dan twins N yang pergi untuk menginap, sedangkan Alex lebih nyaman di mansion Wijaya untuk penelitian nya yang tidak ingin di sentuh.
Senyum di wajah Vero memudar melihat kedatangan kedua anak kembar itu yang membawa bantal, selimut dan satu koper besar di masing-masing tangan mereka. "Apa yang kalian bawa itu? Apa sedang di adakan pengungsi korban banjir!?" ledek Vero membuat Vivian sedikit merasa segan.
"Kami di perintahkan untuk mengawasi musang di malam hari," jawab Niko dengan penuh percaya diri.
"Musang?" ucap Vero yang pelan sembari memikirkan perkataan Niko.
"Sudahlah, Paman tidak akan mengerti dengan itu. Sekarang tunjukkan dimana kamar kami," tambah Niki yang sangat kelelahan membawa sekoper besar untuk menginap satu hari.
"Sayang, kenapa kamu membawa mereka?" Vero menatap Vivian yang meminta penjelasan.
"Maafkan aku yang terpaksa membawa mereka, ini perintah yang tidak bisa diubah. Aku di hadapkan dengan dua pilihan sulit," jelas Vivian yang merasa bersalah.
"Tidak masalah, setidaknya kamu datang untuk menemaniku. Jangan berdiri di luar, masuklah! ucap Vero yang mempersilahkan masuk ke dalam apartemen miliknya.
__ADS_1
"Bagaimana kami membawa koper ini? Bisakah Paman membantu untuk membawakan koper itu?" Lirih Niki dengan nada memerintah.
"Baiklah."
Twins N tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam apartemen mewah milik Vero, Vivian tersenyum mengikuti kedua keponakannya yang sangat bersemangat. Sedangkan Vero menggerak-gerakkan kedua tangannya untuk mengangkat kedua koper besar yang menurutnya sangatlah berat jika melihat ukurannya. Dia mengangkat kedua koper besar dengan tenaga penuh, di luar dugaan jika berat kopernya sangatlah ringan seperti tidak mempunyai muatan di dalamnya.
"Eh, apa isi koper ini? Sangatlah ringan," gumam Vero yang sangat penasaran dengan isi koper besar itu sembari mengangkatnya menuju sebuah kamar. Untung saja ada dua kamar kosong yang bisa di tempati.
"Terima kasih Paman," ucap Niko dan Niki bersamaan seraya merebut koper mereka, dengan cepat Niki membuka kopernya membuat Vero memperhatikan hal itu. Kedua mata Vero terbelalak dengan sempurna saat mengetahui isi dari dalam koper besar.
"Oh ya ampun, apa kalian akan berjualan di apartemen ku?" Ucap Vero tak habis fikir dengan yang di lihatnya, satu koper besar yang berisi banyak sekali jenis cemilan dan juga beberapa kotak susu berbagai merk.
"Sediakan payung sebelum hujan, kami sering kelaparan di tengah malam," ucap Niki yang membuka kemasan cemilan dan memakan makanan yang terbungkus di dalamnya tanpa menawarkannya kepada sang pemilik apartemen, Vivian mencengir kuda saat mengetahui tingah laku ajaib dari kedua keponakan.
"Jangan pikirkan itu, kalian istirahat saja di kamar ini."
"Baiklah," jawab Niko dan Niki kompak, mereka saling melirik satu sama lainnya dan tersenyum penuh arti.
"Aku akan mengawasimu, Paman!" batin twins N yang tersenyum smirk.
Vero memegang tangan Vivian dan pergu meninggalkan tempat itu, dengan cepat dia membawa Vivian ke dalam kamarnya serta menutup pintu. Vivian sedikit curiga, otaknya berusaha untuk berpikir positif. Dia sangat terkejut saat melihat ada begitu banyak fotonya yang di potret secara diam-diam dan terpajang dengan indah di dinding.
"Wow, aku tak menyangka jika kamu mengoleksi berbagai fotoku yang di ambil secara diam-diam," cibirnya menoleh ke samping.
__ADS_1
"Bukan hanya di dinding saja, melainkan di dalam hatiku. Namamu telah aku ukir disana, dan kamu adalah sebuah anugrah yang di berikan tuhan untukku," kata Vero yang mencium kening wanita cantik di hadapnnya.
"Dasar gombal, itu tidak akan mempan kepadaku. Rayu saja wanita lain yang membuatmu semakin menggebu-gebu itu " Imbuh Vivian.
"Setidaknya aku mengutarakan cintaku padamu, hanya kamulah yang ada di hatiku." Suasana romantis tak di lewatkan begitu saja, Vero meletakkan tangannya di tengkuk leher Vivian dan mulai mendekatkan wajahnya. Vivian sedikit gugup dengan perlakuan Vero dan refleks menutup kedua matanya, dia sangat ingin mencoba ciuman yang sering di tontonnya bersama Lea dan juga Shena, sebuah drama dari negeri gingseng yang membuat otaknya ternodai. Apalagi ciuman pertama membuatnya terkesan dan ingin mencoba untuk kedua dan ketiga kalinya.
Hembusan nafas yang yang saling menyatu satu sama lain, bibir yang semakin mendekat membuat desiran listrik di antara keduanya. Suasana yang sepi membuat Vero bebas berkelana ingin berciuman. Suara Pintu kamar yang terbuka membuat mereka menghentikan aksinya, menolehkan pandangan melihat sang pelaku yang berdiri di depan pintu. Sedangkan yang di pandang hanya tersenyum tanpa raut wajah penuh dosa.
Vivian terkejut tak sengaja mendorong tubuh Vero yang mundur beberapa langkah. "Apa mereka melihatnya?!" batin Vivian yang sangat terkejut dengan kedatangan Niko dan Niki.
"Sial, padahal tinggal beberapa sentimeter saja. Mereka datang di saat yang tidak tepat," gumam Vero yang sangat menyayangkan moment indah yang terlewati akibat dua tuyul yang datang menganggu.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Vero dengan raut wajah yang masam.
"Kami sangat lapar dan melihat makanan yang ada di atas meja makan, sebagai tamu yang sopan, tentu saja meminta izin dari empunya," ucap Niko.
"Ayolah, perut kami sangat lapar sekali. Kenapa Paman melamun saja?" Tanya Niki yang memegangi perut kecilnya yang sebentar lagi akan membuncit.
"Hem, baiklah. Tapi setelah itu kalian harus tidur," tutur Vero yang ingin menyogok twins N.
"Tidak masalah, perut kenyang membuat mata mudah mengantuk," ujar Niko.
Mereka berempat berjalan beriringan membuat pikiran Vero berkhayal dan membayangkan keluarga kecilnya bersama sang kekasih, lagi dan lagi dia menepis pikiran itu dan kembali dengan kenyataan yang ada.
__ADS_1