
Vivian yang telah bersiap-siap ingin pergi ke rumah Lili setelah mendapatkan alamat yang di kirimkan oleh wanita itu, menatap cermin di depannya sembari memakai gaun di atas lutut, polesan make up tipis dan juga beberapa semprotan parfum untuk menambah kesan lebih feminim.
Vivian berjalan menuruni tangga sambil bersiul melantunkan beberapa melodi lagu yang dia hafal. "Bibi mau kemana?" Tanya Lexa yang menatapnya.
"Aku ingin keluar, ada apa?" celetuk Vivian yang membungkukkan badannya, membelai pipi keponakannya itu.
"Apa kamu berdua boleh pergi?" Lexi menatap Vivian dengan penuh harap.
"Kalian bermain saja, bukankah ada Alex, Niko, dan Niki."
"Mereka para pria selalu saja membuat aku kesal," jawab Lexa yang menghela nafas.
"Lain kali saja, ini acara orang dewasa dan anak-anak di larang untuk ikut."
"Yeah Bibi...kami ingin ikut," rengek Lexi yang cemberut.
"Kalian bermain saja dengan baby Eve, bagaimana?" Tutur Vivian.
"Hah, uncle Abian selalu saja melarang kami mendekati Baby Eve."
"Bukan hanya itu, bahkan kami di berikan area batasan untuk menjaga jarak minimal satu meter. Sungguh menyebalkan," keluh Lexi.
"Apa Bibi juga akan begitu jika punya baby?" sambung Lexa. Serentetan pertanyaan yang membuat Vivian bingung untuk menjawabnya, dia hanya tersenyum dan mengusap kepala Lexa dan juga Lexi secara lembut.
"Tidak usah di pikirkan, Bibi pergi dulu." Vivian berlalu pergi dengan tergesa-gesa, supaya bisa menghindar di kala Lexa dan Lexi ingin ikut bersamanya.
"Hah, akhirnya aku bisa terlepas dari mereka," gumamnya yang menghela nafas. Vivian masuk ke dalam mobil dan mengemudikan dengan kecepatan sedang, menikmati suasana kota.
"Target masuk ke dalam mobil."
"Kejar dan habisi dia," titah orang itu lewat telfon.
"Baik bos."
Tanpa dia sadari, jika ada yang mengikuti Vivian sedari tadi, menggunakan mobil berwarna hitam dari arah belakang dan dua arah samping kiri dan kanan.
__ADS_1
Vivian melihat spion mobil dan melihat keganjalan yang terjadi, menoleh sekilas, kembali fokus mengendarai dengan menambah kecepatan tinggi. "Siapa mereka? Kenapa mereka mengikutiku?" gumamnya yang berpikir keras. Ponselnya berdering, dengan cepat dia mengangkat dan menghidupkan louspeker.
"Iya kak, ada apa menelfon ku?"
"Kamu ada di mana?"
"Di jalan."
"Di jalan mana?"
"Aku ada di jalan utama di sisi barat, ada beberapa orang yang mengejarku dan aku tidak bisa me__" sambungan telfon terputus akibat ponsel Vivian yang terjatuh akibat mobil membelok di tikungan yang tajam.
"Sial, ponselku terjatuh. Siapa mereka? Dan kenapa mereka menargetkan aku?" Celetuk Vivian yang mengemudikan mobilnya dengan lihai.
Vivian sangat terkejut saat beberapa orang menembak jendela mobil hingga pecah, di sisi samping dan juga dari belakang, perasaan Vivian menjadi cemas di saat dia tidak membawa senjata apapun, tidak ada cara lain selain menghindar.
"Astaga...ada tiga mobil yang mengikutiku. Bagaimana ini?" Gerutunya yang terus mengendarai mobil yang kebetulan melewati jalanan yang sepi kendaraan. Kembali terdengar suara tembakan yang mengenai roda mobil dan membuat kehilangan keseimbangan, dengan cepat Vivian melompat keluar sebelum mobil itu terbakar.
Tubuh yang menggelinding tanpa bisa dia kendalikan, hingga tubuhnya berhenti di saat tubuhnya mengenai pembatas jalan. Luka di sekujur tubuh terutama kedua tangan yang terkoyak akibat beberapa batu tajam yang menggores kulit mulusnya.
****
Kenzi sangat mengkhawatirkan kondisi adiknya, sambungan telfon mendadak membuatnya bergegas pergi setelah melacak keberadaan Vivian.
"Siapa yang berani melakukan ini kepada adikku. Aku tidak akan membiarkan orang itu hidup," batin Kenzi yang mengepalkan kedua tangan dan juga mengeraskan rahang, mata yang tajam ingin mengoyak lawan dengan sangat brutal.
Kenzi yang akan bertemu dengan klien, terpaksa menunda pertemuan itu. Kenzi melangkah dengan sangat tergesa-gesa, membuka jas dan melemparkannya sembarang arah. Masuk ke dalam mobil, mengeluarkan beberapa senjata api dan senjata tajam untuk persiapan menghadapi musuh.
Suara dering ponsel membuatnya dengan terpaksa mengangkatnya, tertera nama Rayyan di layar ponsel mahal miliknya.
"Ck, kenapa kamu menelfonku di saat genting?"
"Dimana Vivian? Apa dia masih di rumah?"
"Ada musuh yang menyerangnya."
__ADS_1
"APA?"
"Jangan berteriak begitu."
"Kirimkan aku lokasinya."
"Baiklah."
Kenzi mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh tanpa memikirkan apapun lagi selain adiknya dalam bahaya, begitupun dengan Rayyan yang sangat mencemaskan wanitanya, bergegas pergi meninggalkan ruang kerjanya dengan beberapa pistol di tangan.
Kenzi dan Rayyan bertemu di persimpangan tiga, tak lupa dengan persiapan penuh untuk menuntaskan lawannya.
"Itu mobil Vivian," gumam Kenzi yang mengejar mobil di depannya, dia sangat terkejut saat beberapa orang menembak jendela mobil adiknya. Kedua pupil mata membesar di saat melihat mobil itu meledak tepat di hadapan matanya, tatapan Kenzi memerah menandakan kemarahan yang akan membawa malapetaka bagi musuh.
Rayyan meneteskan air mata sembari menahan amarah yang ada di benaknya saat mobil yang di kendarai Vivian kehilangan keseimbangan, dengan cepat dia menjulurkan tubuhnya di jendela mobil yang terbuka lebar, menembak satu persatu mobil dengan sangat gesit.
Suara tembakan yang bersahut-sahutan, merusak mobil musuh dan membuat beberapa orang di dalam mobil itu keluar. Rayyan dan Kenzi juga ikut turun dan menghadapi musuh dengan beberapa persiapan.
Tanpa banyak bicara, Kenzi dan Rayyan menembak musuh dengan gerakan cepat. Pertarungan yang sangat sengit bagi kedua kubu, Kenzi menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya saat menghadapi lawan yang jauh di bawahnya.
"Ini akibatnya jika berani melukai adikku," lantangnya yang berjalan mendekati musuh dan meludahi salah satu wajah musuh yang sudah bergeletak di jalanan bersimbah darah. Kedua pria itu berlari mendekati Vivian yang kehilangan kesadarannya, hati mereka terluka di saat melihat kondisi Vivian yang sangat parah.
Kenzi menggendong adiknya untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit milik keluarga, di sepanjang perjalanan, hati kedua pria itu sangatlah gelisah dan juga cemas.
"Semoga Vivian tidak apa-apa," batin Rayyan yang sangat cemas dengan itu. "Siapa yang melakukan ini?" Celetuknya yang mengusap pelan rambut Vivian.
"Aku tidak memiliki musuh, tidak ada yang berani kepada keluarga Wijaya," jawab Kenzi yang fokus mengemudi.
"Apa itu artinya mereka musuhku?"
"Aku rasa begitu, bukankah kamu mengatakan memiliki beberapa musuh yang selalu membuat masalah?"
Rayyan memikirkan ucapan dari Kenzi yang benar adanya, hingga dia kembali fokus kepada gadis yang kepalanya berada di pangkuannya. "Siapapun dia, aku akan membunuhnya dengan sangat kejam," gumamnya di dalam hati yang sudah membulatkan tekad.
"Semoga Vivianku selamat, aku tidak bisa hidup tanpanya. Ya tuhan...tolong selamatkan Vivian," gumam Rayyan dengan penuh harap.
__ADS_1