
Setelah acara usai, Kayla berpamitan dengan semua orang dan menuju kamarnya. Kenzi yang melihatnya juga ikut menyusul, menggendong tubuh istrinya agar tidak kenapa-napa. "Kenapa kamu menggendong ku? cepat lepaskan," ucap Kayla.
"Mau bagaimana lagi? aku tidak ingin jika istri dan juga calon anakku dalam kesulitan.
Kayla menghela nafas dengan pasrah, dan mengeluarkan pil biru yang pernah dia ambil dari Robert palsu, " coba lihatlah pil ini, aku mengambilnya saat Robert palsu itu membuat ramuan. Apa kamu yakin jika ini obat Lea?" tanya Kayla.
"Entahlah, kita akan mengecek bahan dan juga kadarnya. Aku telah menghubungi Paman Zean dan Rayyan mengenai masalah ini, kita akan membicarakan ini nanti saja," tukas Kenzi yang membuka pintu kamarnya.
Kenzi membaringkan tubuh Kayla dengan sangat hati-hati, bibir ranum milik Kayla membuatnya kembali bergairah dan menciumnya. Baru saja dia menikmatinya tiba-tiba suara nada dering ponsel berdering, dengan terpaksa dia menghentikan aktivitas nya dan mengangkat telfon.
"Halo."
"Kamu di mana?"
"Di kamarku, ada apa?"
"Ini masalah darurat, cepat turun dan aku akan menunggu mu di dalam mobil."
"Ck, mengangguku saja. Baiklah, aku akan kesana."
Kenzi memutuskan sambungan telfon dengan perasaan yang kesal, Kayla melihat bagaimana raut wajah suaminya itu.
"Siapa yang menelfon?" tanyanya dengan menautkan kedua alisnya.
"Rayyan, dia memintaku untuk menemuinya."
"Apa aku boleh ikut?"
"Tidak, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu. Kamu di rumah saja!"
"Baik, ambillah pil biru ini dan minta Rayyan untuk memeriksanya." Kayla menyerahkan 3 pil biru ke tangan Kenzi, "aku pergi dulu," pamit Kenzi yang mengecup pucuk kening istrinya dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Kenzi bergegas dan masuk ke dalam mobil, menatap pria tampan yang ada di sebelahnya, "apa kamu sudah siap untuk masalah Lea?" ujar Rayyan.
__ADS_1
"Hem, aku selalu siap jika ini menyangkut keluargaku."
"Bagus." Rayyan menancap gas dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, perjalanan yang membutuhkan waktu singkat untuk sampai ke Mansion keluarganya.
Mobil berhenti tepat di hadapan bangunan mewah, mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam mansion. Baru beberapa langkah mereka masuk, Kenzi melihat keberadaan Abian yang sedang duduk manis sembari bermain dengan Baby.
"Ayo kita ke laboratorium, Dad Zean telah menunggu!" tegas Abian yang menatap dua orang yang sangat dia kenal.
"Ayolah Kak, aku belum puas bermain. Kenapa kakak pergi lagi," gerutu Baby.
Abian mengusap pucuk kepala adiknya dengan lembut dan tersenyum, "nanti Kakak akan meluangkan waktu untukmu, ada pekerjaan yang tertunda yang tidak bisa di tinggal."
"Baiklah, janji?"
"Kakak janji."
Ketiga pria tampan segera masuk ke dalam laboratorium, mencari obat yang pas setelah mereka menemukan secercah harapan, walau perbandingannya sangat lah tipis. Di dalam ada Zean yang telah meracik ramuan dan berusaha untuk kesembuhan Lea, anak dari sahabatnya itu. Sedangkan nathan mencari keperluan yang akan di butuhkan, karena dia tidak mengetahui masalah obat-obatan.
Mereka bekerja dengan sangat serius, menciptakan beberapa obat. Kenzi memberikan pil yang di berikan oleh Kayla, Zean memeriksa pil biru itu dengan ketelitian penuh.
"Bukan aku tapi Kayla, pil itu hasil dari racikan Robert, maksudku Xavier."
"Apa pil ini pernah di gunakan?"
"Tidak, apa ada yang salah dengan pil itu?" tukas Kenzi yang menautkan kedua alisnya.
"Pil ini perbandingannya 50:50, jika kamu mengkonsumsinya akan menyebabkan kematian dalam dalam waktu 5 menit," jelas Zean yang membuat Kenzi tersentak kaget.
"Dan apa kebenaran lain dari pil itu?" ucap Kenzi yang sangat penasaran.
"Pil ini juga bisa menjadi penyembuh, hanya saja perlu di tambahkan dengan 2 tanaman langka. Dan kebetulan sekali salah satu tanaman itu tersedia, ini suatu kebetulan yang sangat baik. Tapi aku masih memerlukan tanaman yang lainnya!"
"Katakan seperti apa tanaman itu?"
__ADS_1
"Tanaman yang sangat kecil dengan daun yang beruas lebar, ini lihatlah bentuk gambarnya." Zean memperlihatkan gambar tanaman itu dan seketika Kenzi mengingat jika Kayla memegang tanaman itu.
"Syukurlah, tanaman itu ada pada Kayla. Dia mengambil beberapa tanaman langkandi laboratorium milik Xavier sebelum pria itu lenyap."
"Kalau begitu kamu bawa tanama itu, aku akan memprosesnya dan mencampur pil ini. Tapi cepatlah sedikit, jangan membuat aku menunggu lama," tegas Zean.
"Baik Paman." Kenzi bergegas pergi menuju mansion Wijaya, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sedangkan Abian yang mendengar hal itu tersenyum lega.
"Sebentar lagi Lea ku akan sembuh, semoga obatnya bekerja dengan maksimal," gumam Abian yang tanpa sengaja mengeluarkan cairan bening di pelupuk matanya. Dia menelfon ayah mertua, Al dan juga El mengenai kabar baik, jika Lea akan sembuh.
Kenzi menghentikan laju mobilnya saat sampai di hadapan bangunan mewah itu, berlari masuk ke mansion menuju kamarnya. Terlihat dengan jelas jika Kayla sedang menonton film kesukaannya di layar ponselnya, seketika dia menghentikan aktivitas nya saat kedatangan Kenzi, "kenapa kamu lari begitu? apa ada yang ketinggalan?" tanyanya yang penasaran.
"Kamu benar, aku ingin tanaman langka yang pernah kamu bawa dari mansion Xavier."
"Tunggu sebentar aku akan mengambilnya," seru Kaylayang mencari koleksi tanaman obatnya dan menyerahkan ke tangan Kenzi.
"Ambil saja tanaman yang kamu perlukan, katakan apa yang terjadi?" ucap Kayla.
"Obatnya sudah di temukan, hanya memerlukan tanaman langka ini dan untung saja kamu mengambilnya. Itu artinya Lea akan segera sembuh."
"Itu berita yang sangat baik, aku akan memberitahukan Lea mengenai hal ini dan aku sangat yakin jika dia akan senang mendengarnya."
Kenzi mengangguk pelan, "lakukan apa yang menurutmu benar, aku tidak punya waktu dan harus segera kesana lebih cepat." Kenzi berlalu pergi dengan sangat bersemangat, Kayla yang sangat bahagia karena bisa membantu sepupu dari suaminya.
"Sebaiknya aku ke kamar Lea dan mengatakan kabar baik ini," gumamnya yang menuju kamar Lea.
Kayla membuka pintu kamar Lea, seketika raut wajahnya yang bahagia sontak terkejut melihat seorang wanita yang tergeletak di lantai dengan tubuh yang pucat, "LEA!"
Dengan cepat Kayla menghampiri Lea dan menepuk pipinya dengan pelan, kepanikan yang dia rasakan sangatlah besar. "Lea, bangunlah, buka matamu. Apa yang terjadi?" ucap Kayla.
"Mama....Papa, tolong aku. Seseorang yang mendengarku cepatlah kemari," teriak Kayla yang sangta cemas.
Teriakan Kayla membuat semua orang bergegas ke asal suara dengan perasaan yang sangat khawatir, mereka berbondong-bondong untuk masuk ke kamar Lea. Betapa terkejutnya mereka saat melihat kondisi Lea yang sangat pucat dengan tubuh yang lemah, Dita berlari dan memeluk putrinya.
__ADS_1
"LEA."