Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 78 - Lembaran baru


__ADS_3

Langit yang mendung di sertai hujan rintik-rintik seakan ikut merasakan kepergian dari Vero, pria tampan yang selalu mengejar cinta dari Vivian Wijaya. Semua orang mengelilingi pemakan Vero, Lea memeluk Vivian untuk menenangkannya. Sebenarnya Vivian masih di rawat, tapi dia tetap bersikeras untuk menghadiri pemakaman untuk melepaskan kepergian kekasihnya yang terakhir kali.


Satu persatu orang mulai meninggalkan kuburan, hingga tersisa beberapa anggota keluarga Wijaya dan kakak kandung Vero yang bernama James. "Aku turut berduka cita atas kematian adikmu," ucap Abian yang memeluk James beberapa detik dan melepaskannya.


"Hem, aku sangat senang melihat adikku tidak merasakan sakit lagi. Kamu tau? Dia berimpian mempunyai keluarga kecil bersama dengan Vivian, bahkan rela menyusulnya hingga ke sini." ucap James yang sudah lama mengenal Abian, karena mereka dulunya tetangga.


"Hem, kamu benar. Apa rencanamu setelah ini?"


"Aku berniat untuk membawa keluarga ku menetap ke Indonesia, dengan begitu aku lebih mudah untuk datang ke pemakanan nya."


"Jika itu yang terbaik maka lakukanlah," sahut Abian.


Hujan telah berhenti dan kembali cerah, semua orang pergi meninggalkan pemakaman dan kembali pulang ke mansion. Tapi tidak dengan Vivian yang masih ingin di sana, menatap kuburan yang masih basah tanpa air mata yang sudah terkuras habis, mata yang sembab terlihat jelas, saat semalam terus menangis.


Rayyan masih berdiri di belakang Vivian dan memayunginya agar tidak terkena sengatan matahari, apalagi kondisi gadis itu sedang tidak sehat. "Kenapa kamu ada di sini? Pergilah dan tinggalkan aku," paparnya tanpa menoleh.


"Aku akan pergi, tapi sebelum itu aku ingin memberikanmu ini," sahut Rayyan yang memberikan flasdisk yang ada di saku celananya.


"Apa itu di perlukan sekarang?" Cetus Vivian yang merasa terganggu dengan keberadaan Rayyan.


"Flasdisk ini milik Vero, dia menyerahkan kepadaku untuk di berikan kepadamu saat dia telah meninggalkan dunia." Rayyan berlalu pergi mengawasi Vivian dari kejauhan, dia tak ingin menganggu.


Vivian mengambil flasdisk dan menatap punggung Rayyan yang mulai menghilang dari pandangan nya beberapa detik dan kembali menatap kuburan yang ada di hadapanya. "Ini seperti mimpi bagiku, cintamu yang tulus membuatku sangat terpukul juga kehilangan. Aku sangat beruntung bisa menjadi kekasihmu, semoga kamu tenang di alam sana. Aku akan sering datang kesini untuk menjenguk mu," ucap Vivian dengan tatapan sendu, melangkahkan kakinya untuk meninggalkan pemakaman.

__ADS_1


Hampir setengah jam Vivian yang masih setia di sana, hingga Rayyan kembali menjemputnya dan membawanya pulang ke mansion Wijaya. Tidak ada obrolan dari mereka yang sedang asik dengan pikiran masing-masing, mobil berhenti tepat di depan mansion.


"Terima kasih," ucap Vivian dengan rauf wajah yang datar.


"Hem, istirahatlah. Kamu pasti lelah dan juga kecapean," nasehat Rayyan.


"Baiklah."


Rayyan menatap kepergian Vivian dengan nanar, "aku akan memenuhi janjiku kepada Vero dan memperjuangkan cintaku," batin Rayyan yang tersenyum.


Vivian merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya, berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak bersedih. "Apa isi dari flasdisk ini?" gumamnya yang mengambil laptop dan melihat isi dari flasdisk itu karena sangat penasaran.


"File apa ini? Tertera nama VV, apa ini inisial namaku dan dia?" Vivian membuka file yang ternyata berisi sebuah video, karena penasaran membuatnya membuka dan melihat dengan sangat antusias. Satu persatu, dia melihat fotonya dengan Vero yang telah di edit menjadi video yang luar biasa. Foto yang berisi kenangan indah dan juga berkesan, memutarkan video hingga selesai.


"Sayang, maafkan aku yang tidak bisa menemanimu lagi. Aku harap kamu selalu menjaga kesehatan dengan sangat baik. Jangan bersedih, air matamu sangatlah berharga bagiku. Maafkan aku yang telah menyembunyikan mengenai penyakit ini, jujur saja aku hampir kehilangan arah dan ingin mengakhiri hidupku. Tapi semenjak kehadiranmu membuat aku kembali bersemangat untuk menjalankan kemoterapi. Hah, aku sangat bosan dengan bau rumah sakit, dengan melihat wajahmu setiap waktu membuat aku ingin berjuang untuk sembuh. Tapi takdir mempermainkan ku,


alaupun aku tidak bersamamu lagi, setidaknya aku mengawasimu dari atas sana. Apa kamu merindukan aku, Vivi? Aku harap kamu merindukan aku. Maafkan aku yang selalu membuatmu kesal, tapi aku sangat menyukai raut wajah kesalmu. Jalanmu masih panjang, raih mimpi dan juga cita-citamu, ku harap kamu selalu bahagia dengan pria yang akan menggantikan aku, bahkan lebih baik dariku. Jangan menangis lagi, aku benci melihat air matamu yang jatuh. I LOVE YOU."


Vivian yang tak kuasa menahan tangis, menutup laptop dengan kasar. Membenamkan wajahnya dengan bantal dan berharap jika masa sulitnya segera terlewati, "aku berusaha untuk melanjutkan kehidupanku," batin Vivian dengan penuh tekad.


****


Beberapa bulan kemudian..

__ADS_1


Seorang gadis yang baru saja selesai bersiap-siap untuk menunggu kelulusan wisuda, make up tipis membuat Vivian terlihat sangat cantik, tidak ada rasa gugup ataupun nervous. Dia mendapatkan gelar Cumlaude dengan kerja kerasnya yang selalu berfokus untuk meraih nilai sempurna.


Vivian dengan bangga memperlihatkan prestasinya yang membanggakan keluarga, "apa kamu melihatku di atas sana, Vero. Aku telah mewujudkan keinginanmu, aku lulus dengan sangat baik dan terima kasih telah mengisi waktuku," batin Vivian yang tersenyum tipis.


Semua teman dan juga keluarga mengucapkan selamat atas keberhasilan dari Vivian, tak ketinggalan ada Rayyan yang juga menghadiri acara kelulusan. Membawa beberapa buket bunga dan juga boneka yang seukuran orang dewasa.


"Selamat untukmu, ini hadiah kecil dariku," ucap Rayyan yang menepuk tangan sebanyak dua kali, dan tak lama muncullah beberapa orang yang membawa hadiah itu dan menyerahkannya kepada Vivian.


"Astaga, kenapa hadiahnya sebanyak ini dan bahkan barang-barang dan juga semua cemilan itu adalah kesukaan ku," gumam Vivian yang tak percaya dengan perbuatan Rayyan.


"Bagaimana, apa kamu menyukainya? Jika ada yang kurang aku akan memesankan lagi untukmu," ujar Rayyan dengan enteng.


"Ya, kenapa tidak tokonya saja yang kamu beli," ketus Vivian yang sangat jengkel dengan pria tampan di hadapannya.


"Itu ide yang sangat bagus, aku akan menelfon asistenku untuk membawakannya." Rayyan mengeluarkan ponsel mahalnya seraya mencari nomor kontak yang akan dia tuju, sedangkan Vivian mengerucutkan bibirnya beberapa sentimeter.


"Bisakah Kakak menjauhkan pria aneh ini?" pinta Vivian yang menoleh ke samping, menatap Kenzi dengan jengah.


"Tidak, dia pria yang pantang menyerah. Biarkan saja dia melakukannya, setidaknya kelima tuyul akan membantumu untuk menghabiskan seluruh cemilan itu."


"Hah, Kakak benar." Dia menghel nafas dengan kasar sembari menatap triple A dan twins N yang menganggukkan kepala menyetujui perkataan dari Paman mereka.


"Setidaknya paman Rayyan sedikit berguna," ucap Niki yang monohok.

__ADS_1


__ADS_2