Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 71 - Kakak posesif


__ADS_3

Setelah makan malam, seluruh keluarga Wijaya duduk bersantai di ruang keluarga. Mereka berbincang satu sama lainnya dengan sangat antusias, sedangkan anak-anak lebih memilih menonton televisi. Sudah menjadi peraturan di mansion, menghabiskan waktu bersantai sejenak melepaskan kepenatan dalam pekerjaan.


"Bagaimana pemeriksaan USG dari kehamilan Lea?" tanya Dita yang sangat bersemangat.


"Semuanya baik, hanya saja ketiga tuyul itu membuat kekacauan di rumah sakit hingga mengalami kerugian puluhan juta," ungkap Abian yang kembali mengingat kejadian saat di rumah sakit. Saat itu Alex, Niko, dan Niki bermain kejar-kejaran dan tak sengaja menyenggol beberapa alat yang ada di ruang pemeriksaan USG, dengan terpaksa Abian mengantinya. Jika saja itu di rumah sakit Wijaya, dia tidak perlu membayar ganti rugi, hanya saja posisinya saat itu adalah ada di rumah sakit Pelita kasih.


"Apa itu benar?" tanya El yang menatap kedua putra kembarnya yang memang sangat nakal.


"Kami tidak merusaknya, itu hanya ketidaksengajaan tersenggol," jawab Niko dengan enteng yang asik menonton televisi.


"Apa rumah sakit itu tempat untuk bermain kejar-kejaran? Bagaimana jika kalian menganggu para pasien di sana?" Sambung Al yang menatap putranya yang juga bersalah.


"Maaf," jawab mereka dengan kompak, menundukkan kepala karena tak berani menatap mata ayahnya yang tajam.


"Sayang, lain kali jangan berbuat semaunya. Nenek tidak ingin mendengar keluhan tentang kalian lagi," tegas Naina.


"Maaf."


"Jadi bagaimana dengan jenis kelamin dari calon cucuku itu?" tanya Dita yang sangat bersemangat, kebahagian dan tangisan bayi akan kembali menggema di mansion Wijaya.


"Berjenis kelamin perempuan," sahut Abian dengan antusias, tidak lama lagi dia akan menjadi seorang ayah. Perasaan yang sangat bahagia, penantian selama bertahun-tahun terbayarkan karena perjuangan Lea yang luar biasa dalam mempertahankan kehamilannya. Abian mengusap perut buncit dari istrinya, memamerkan kepada semua orang, betapa bahagia dan kehidupannya yang lengkap saat ini. Penderitaan semasa kecil dan tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya membuat Abian bertekad dalam dirinya sendiri untuk menyayangi anaknya dan mencurahkan seluruh kasih sayang yang berlimpah kepada sang anak.


"Wah, aku sangat senang mendengarnya. Sekaligus iri, kenapa Jimmy tidak bisa mendeteksi jenis kelamin calon anakku?" sewot Kenzi yang tak terima saat Jimmy mengatakan tidak bisa mengatakan jenis kelamin dari kehamilan Kayla yang baru memasuki trimester pertama.


"Dasar bodoh, tentu saja tidak bisa. Tunggulah hingga masuk trimester kedua dan kamu akan mengetahui jenis kelaminnya, setidaknya di umur dua puluh minggu atau empat bulan," jelas Bara.


"Tidak aku sangka, seorang tentara mengetahui hal itu," cibir Nathan yang menatap adik iparnya dengan sinis.


"Tentu saja, kita harus mempelajari dari pengalaman. Jangan hanya tau membuatnya saja," balas Bara yang juga mencibir kakak iparnya.


"Kalian sudah tua tapi memberikan contoh yang buruk, sebelum berdebat perhatikan dulu di sekeliling kalian ada anak-anak atau tidak!?" cetus Dita yang sudah bosan dengan pertengkaran para penetua di mansion.

__ADS_1


"Apa kesalahanku? Aku bahkan memujinya." Nathan menatap istrinya dengan wajah tanpa dosa.


"Aku tau arah bicaramu, jangan mengelak lagi!" ucap Dita yang sudah memahami karakter dari suaminya dan juga cinta pertamanya itu.


"Hehe...itulah yang membuat aku jatuh cinta kepadamu, Sayang."


"Ingat umur, tubuhmu sudah bau tanah. Tidak perlu mengumbar kemesraan kalian di hadapanku," ketus El yang sangat jengah.


"Apa kamu juga sedang menyindirku?" Lantang Bara yang saat itu memegang tangan istrinya dengan mesra dan merasa tersindir.


"Yah, bisa di katakan seperti itu," sahut El dengan enteng.


"Dasar anak kurang ajar," ucap Bara dan Nathan yang serempak sembari melempar El menggunakan bantal kecil di sofa.


"Bagaimana aku akan mengatakan ini kepada mereka!" batin Vivian yang tampak ragu untuk mengatakan niat dan tujuannya, menggoyang-goyangkan tangannya karena gugup menyelimuti tubuhnya.


"Sepertinya kamu terlihat sangat gugup, ada apa?" tanya Naina yang melekatkan pandangan ke arah putrinya.


"Astaga...mereka menatapku seakan aku ini adalah mangsanya," gumam Vivian di dalam hati sambil menelan saliva dengan susah payah.


"Ada apa? Katakan saja!" ujar Naina.


"Aku ingin menginap di apartemen Vero," lirihnya oelan yang masih terdengar jelas.


"TIDAK BOLEH!" jawab Kenzi, El dan juga Al bersamaan membuat Vivian seakan terpojokkan.


"Hanya semalam saja," rengek Vivian yang menggunakan jurus andalan keluarga itu, yaitu puppy eyes membuatnya sangat menggemaskan dan meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya.


"Aku tidak mempercayai pria berbulu itu, walau dia selalu memperlihatkan sisi positif nya. Tapi, bisa saja itu motifnya," ucap Kenzi yang menentang keputusan dari adiknya itu.


"Apa Kakak tidak mempercayaiku? Aku bisa beberapa ilmu beladiri untuk melindungi diriku sendiri."

__ADS_1


"Ck, pria ibaratkan seekor kucing. Jika mengumpan seekor ikan asin dia akan mencuri walau si kucing itu sudah kenyang," celetuk El.


"Ayolah, malam ini saja. Aku janji akan menjaga diriku sendiri, aku akan menelfon kalian saat tersudutkan," ucap Vivian yang hampir menangis, lebih tepatnya berpura-pura menangis supaya terbebas dari ketiga kakaknya yang mengekang.


"Baiklah, tapi harus di kawal bodyguard dan mengirim tim elit Black Wolf untuk mengawasimu dari jarak yang jauh." Kenzi hanya terpaksa menyetujui permintaan adik kesayangannya.


"Pa, beri aku izin." Vivian menatap Bara dengan wajah yang sangat sedih dan mengacuhkan Kenzi.


"Apa yang di katakan oleh kakakmu, itu sangat benar. Demi keselamatanmu sendiri."


Vivian kembali mempertimbangkan ucapan dari keluarga dan juga ucapan kekasihnya itu, di sisi lain dia tidak tega dengan permintaan Vero, dan di sisi lainnya ada keluarga yang melarang nya. Dia melamun beberapa detik untuk membuat keputusan yang akan dia ambil, hingga senyum di wajahnya terukir dengan sangat indah.


"Baiklah, aku menyetujuinya."


"Alex, Niko, dan Niki akan mengikutimu ke apartemen pria itu." Seketika Vivian melongo dengan perkataan dari Kenzi tanpa bantahan.


"Itu bukan perjanjiannya," protesnya Vivian yang mengerucutkan bibirnya beberapa senti maju ke depan.


"Ya atau Tidak?"


"Ck, Kakak sangat curang. Perjanjian pertama bukanlah itu," cetus Vivian yang mendelik kesal.


"Jawab saja pertanyaanku, bukan memberikan pernyataan."


"Baiklah, aku menerimanya hal itu." Vivian yang pasrah menghentakkan kakinya dengan keras seraya berbalik badan untuk bersiap-siap, sedangkan Kenzi mengulas senyum tipis di wajahnya.


"Aku tidak akan membiarkan pria itu mengambil kesempatan dari kepolosan adikku, pilihan yang sangat tepat membawa ketiga tuyul itu ke apartemennya," batin Kenzi.


"Ck, kamu sangat licik. Tapi kenapa anakku yang menjadi korban? Maksudku, kenapa kamu mengirimnya kesana? Aku tidak yakin jika mereka akan mengawasi, lebih tepatnya mengacau," ucap El.


"Itulah tujuanku," seloroh Kenzi yang sangat puas, membayangkan wajah kekesalan dari Vero.

__ADS_1


__ADS_2