
Kayla menatap Kenzi dengan kesal, "singkirkan sapu tanganmu itu, kapan terakhir kali kamu mencucinya?" ketusnya sembari menghempaskan sapu tangan yang sangat bau itu.
"Hei, kenapa kamu membuangnya? itu sapu tangan keberuntungan ku," ujar Kenzi yang dengan cepat memungut sapu tangannya di lantai.
"Setidaknya kamu mencucinya, aku hampir saja pingsan mencium sapu tanganmu yang sangat bau itu," pekik Kayla yang seolah-olah mual.
"Terserah padaku."
"Ck, ternyata kamu sangat jorok. Sekali lagi kamu melakukannya aku akan memukul wajah tampanmu itu," ancam Kayla yang sangat kesal.
"Aku tidak takut denganmu." Kenzi menatap istrinya dengan serius karena dia sangat yakin dengan penglihatannya yang tidak pernah salah, dengan cepat dia melayangkan pukulan dan menyerang Kayla dengan sangat cepat. Kayla yang merasa dalam keadaan tersudut pun menangkis serangan Kenzi dan juga membalas serangan.
Di malam hari yang panjang, sepasang suami istri itu berolahraga malam dengan keringat yang bercucuran deras di tubuh mereka, bukan karena malam pertama melainkan saling menghajar dan menyerang satu sama lainnya. Kamar yang awalnya sangat rapi itu sekarang berantakan layaknya kapal pecah, Kenzi tersenyum tipis.
Kayla sangat terkejut dengan serangan pria tampan itu, "apa dia adalah pemimpin Black Wolf?" gumamnya yang masih terdengar oleh Kenzi.
"Oho, jadi kamu wanita yang menyerang markasku? analisis ku tidak pernah salah," ucap Kenzi yang juga sama terkejutnya dengan Kayla.
"Wah....wah, ternyata aku bertemu dengan musuhku di sini," ucap Kayla yang tersenyum miring.
"Kejutan apalagi yang akan kamu tunjukkan kepadaku?" tutur Kenzi yang berjalan mendekat.
"Itu tidak penting sekarang, serahkan wilayah selatan yang telah kamu rebut itu," titah Kayla.
"Aku tidak pernah merebut wilayah itu dari mu."
"Dasar pembohong," cetus Kayla kembali menyerang Kenzi yang hanya menangkis tanpa melakukan serangan balik.
"Sepertinya ada kesalahpahaman di antara kita," ungkap Kenzi.
"Aku tidak peduli dengan itu, yang aku inginkan hanyalah wilayah selatan."
__ADS_1
"Sudah aku katakan, jika aku tidak tau apapun tentang wilayah itu. Tidak ada keuntungan nya jika aku berbohong kepadamu," jawab Kenzi dengan sangat serius.
"Anggap aku percaya denganmu kali ini." Kayla berlalu pergi meninggalkan kamarnya dan menutuo pintu dengan kasar, membuat Kenzi tersentak kaget.
Kenzi menari kedua ujung bibirnya ke atas karena dia sangat tertarik dengan kepribadian Kayla yang tidak mudah di tembak, "dia sangat menarik, benar-benar menarik! sepertinya aku mendapatkan semangat baru. Sebaiknya aku akan menyelidiki kasus ini dan mencari pelaku yang sesungguhnya, berani sekali dia mengadu domba dan mencemarkan nama baikku," batin Kenzi.
Di pagi harinya, Naina mengetuk pintu kamar putra dan menantunya yang tidak di kunci. Betapa terkejutnya Naina saat melihat kondisi kamar sangat berantakan layaknya habis berperang, "oh ya ampun? mereka sangat ganas sekali, membuat aku mengingat di saat awal pernikahan ku," ucap Naina yang tersenyum malu dan kembali menutup pintu itu.
Naina berjalan dengan tersenyum malu membuat Bara menatap sang istri dengan perasaan yang sangat penasaran, "apa yang terjadi? kenapa kamu seperti anak ABG saja?" tanyanya.
"Selamat untukmu."
Bara mengerutkan dahinya seraya menatap sang istri dengan serius, "apa maksudmu? aku tidak mengerti."
"Selamat karena sebentar lagi kita akan punya cucu," ucap Naina yang tersenyum bahagia, sedangkan Bara sangat bahagia mendengar penuturan dari istrinya.
"Kenapa kamu sangat yakin sekali? katakan kepadaku yang sebenarnya terjadi?" desak Bara.
"Di saat aku ingin memanggil mereka untuk sarapan, tak sengaja melihat pintunya tidak di kunci. Aku masuk ke dalam dan apa yang aku lihat adalah sebuah kebenarannya, kamar itu sangat berantakan sekali layaknya di tiup angin dengan sekali sentakan."
"Apa itu artinya kami akan segera memiliki adik?" ucap Alex dengan polos yang mendengar percakapan kedua orang dewasa, sedangkan Bara dan Naina menoleh ke asal suara.
"Sejak kapan kalian berdiri di sana?" tutur Bara yang menatap kelima cucunya itu.
"Baru saja, apa yang di bicarakan oleh Kakek benar adanya?" sahut Niko.
"Horee, akhirnya kami mempunyai adik," sorak Lexa.
"Apa keluarga kita menjadi komplit dengan kedatangan cucu kecambah?" tambah Niki yang menatap Bara dan Naina.
"Kamu sangat benar, Kakek akan memberikan tugas penting untuk kalian berlima."
__ADS_1
"Katakan saja apa yang harus kami lakukan?" ucap Lexi yang menatap sang kakek dengan bersemangat.
"Awasi Paman Kenzi dan juga Bibi kalian," titah Bara.
"Itu sangat mudah," jawab Niki dengan enteng dan di angguki kepala oleh ke empat saudaranya.
"Bagus, kalian bersiap-siaplah karena sebentar lagi Paman Kenzi akan mengantarkan kalian ke sekolah."
"Baik Kek," jawab mereka dengan serempak.
Seluruh anggota keluarga Wijaya berkumpul dan sarapan pagi, untung saja meja makan telah di ganti dengan yang lebih baru dan juga lebih besar. Semua orang telah mengetahui kabar terkini yang di ceritakan oleh Bara dan juga Naina, mereka menatap sepasang pengantin dengan senyum yang tak pernah luntur. Kayla dan Kenzi menatap keluarganya dengan tatapan heran, "kenapa kalian tersenyum melihat kami?" tanya Kayla.
"Selamat untuk kalian yang sebentar lagi mempunyai seorang anak," ujar El yang berjalan ingin memeluk adik sepupunya untuk memberikan selamat.
"Uhuk!" Kenzi yang tengah sarapan itu tiba-tiba batuk membuat Niki kesal, bagaimana tidak? jika Niki terciprat sebuah remahan roti mengenai wajahnya.
"Paman sangat jorok, benar-benar jorok!" ungkap Niki dengan kesal seraya mengusap wajahnya dengan tisu.
Dengan cepat Kayla memberikan suaminya segelas minuman air mineral, Kenzi menggenguknya hingga habis dan menatap kakak sepupunya itu.
"Apa yang kakak maksud?"
"Jangan berpura-pura begitu kak, kami semua tau mengenai kabar ini," potong Vivian.
"Ck, jelaskan dengan detail."
"Dasar bodoh, Nana tidak sengaja melihat kamar kalian berantakan. Kalian sangat so sweet sekali," sela Lea yang memeluk lengan suaminya dengan sangat manja.
"Aku lebih so sweet darinya, jangan memuji pria itu dengan tinggi Sayang. Aku bahkan bisa melebihinya," ucap Abian yang menatap Kenzi dengan sinis.
"Apa yang mereka maksud? anak darimana nya? sedangkan kami hanya saling adu fisik dan menyerang," batin Kenzi yang menatap seluruh anggota keluarga Wijaya dengan tatapan anehnya.
__ADS_1
"Sepertinya mereka salah paham dengan apa yang di lihat oleh mama," batin Kayla menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Pasangan suami istri itu menjadi bingung dengan situasinya saat ini, jika mereka mengatakan apa yang terjadi semalam, itu tidak mungkin. Situasi yang membuat keduanya bungkam dan saling melirik sepersekian detik saja.