
Gadis cantik yang tidak mempunyai kegiatan setelah ujian semester di adakan, hanya menonton televisi sembari mengunyah kripik kentang. Penampilan yang terkesan seperti bangun tidur, rambut yang di ikat secara acak, celana pendek di atas lutut di padu padankan dengan kaos tanpa lengan, siapa lagi jika bukan Vivian.
Naina yang kebetulan lewat melihat penampilan anak gadisnya yang sangat berantakan, "Oh ya tuhan, kenapa aku bisa mempunyai putri yang tidak bisa menjaga penampilannya," ucap Naina yang sengaja mengeraskan suara agar terdengar oleh putrinya.
Vivian menoleh dan tercengir kuda menatap sang ibu, "memangnya aku harus kemana? tidak ada kegiatan yang bisa aku lakukan," jawab Vivian sekenanya.
"Setidaknya kamu menghabiskan waktu dengan jalan-jalan dan bisa mempunyai kekasih, dasar jomblo!" cibir Naina yang mendekati putrinya.
"Tidak ada peraturan mengenai statusku yang belum mempunyai kekasih," sahut Vivian sembari menyuapi mulutnya dengan keripik kentang. Naina bertolak pinggang sembari menatap Vivian yang hanya acuh tak acuh, "bagaimana bisa putriku sendiri hingga saat ini belum mempunyai kekasih? bahkan dulunya Mama ini mempunyai banyak kekasih."
"Jangan bandingkan aku dengan Mama, lebih baik aku sendiri dan bebas tanpa ada yang mengaturku," sahut Vivian dengan enteng.
Hingga pertikaian ibu dan anak terhenti saat mendengar suara bel pintu, Naina berjalan untuk membuka pintu. Terlihat dengan jelas siapa yang datang, seorang pria bule dengan brewok tipis dan juga matanya berwarna biru, "halo tante!" sapa pria itu yang tersenyum mengembang menatap Naina.
"Hah, sudah ku duga jika tamunya adalah dirimu," gerutu Naina yang menatap pria tampan itu.
"Hehe.... apa Vivian ada di dalam?" ucap Vero yang menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Ada, masuklah!" jawab Naina yang mempersilahkan, dia berlalu pergi menuju dapur.
Kedatangan Vero sudah di ketahui oleh Kenzi, dia hanya diam saja setelah mengetahui jika Vero tidak akan menyakiti Vivian bahkan sebaliknya. Hingga Vero bisa bebas keluar masuk Mansion dan menjalin pertemanan dengan Kenzi.
Vero masuk ke dalam mansion dengan sangat bersemangat, pandangan matanya langsung tertuju dengan seorang gadis yang sedang menonton televisi. "Penampilan yang sangat berantakan," celetuknya membuat Vivian menoleh dengan wajah yang cemberut.
"Ini tubuhku dan terserah padaku saja, tidak perlu mengomentari hidupku!" ketus Vivian yang kesal dengan pria itu.
"Ck, kamu selalu saja marah jika aku ada di sini." Vero duduk di samping Vivian dan merebut toples kripik kentang di tangan gadis cantik itu.
"Dasar tidak sopan, kembalikan kripik kentangku," pinta Vivian yang merebut toples dari tangan Vero yang sedang berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Ayo ambillah," tantang Vero dengan santai, bagaimana tidak? tinggi Vivian hanya sebatas dada pria itu.
"Lihatlah tinggimu itu dan perhatikan tinggi badanku juga," gerutu Ayu yang bertolak pinggang.
"Itu tantangannya," sahut Vero yang tersenyum puas.
"Sial," umpat Vivian yang menginjak kaki Vero dengan sangat keras membuat sang empunya meringis sembari memegang kaki nya, dengan cepat Vivian mengambil toples yang berisi kripik kentang dan memakannya sembari tertawa melihat nasib Vero.
"Kamu curang!"
"Aku tidak peduli itu, kenapa kamu datang kesini?" tanya Vivian yang menatap pria di sebelahnya.
"Aku ingin membawamu untuk jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama," ujar Vero dengan sangat antusias.
"Apa kamu sedang membawaku berkencan? kita ini bukanlah sepasang kekasih dan aku tidak tertarik untuk ikut dengan mu," tolak Vivian.
"Walaupun kamu mengatakan itu tapi aku tetap menganggapmu kekasihku, cepat bersiaplah!" kekeuh Vero.
"Kamu sudah mengetahui jika aku tergila-gila kepadamu," jawabnya enteng.
"Tidak, jangan memaksaku. Aku baik kepadamu bukan berarti jika aku selalu mengikuti apa yang ingin kamu lakukan, pergilah dari sini dan jangan ganggu aku."
"Kenapa kamu kasar sekali? perkataanmu menghancurkan perasaan ku," kata Vero yang memperlihatkan akting sedihnya sembari memeluk tangan Vivian dengan manja.
"Lepaskan tanganku," ucap Vivian yang memberontak.
"Tidak."
"Sangat menyebalkan."
__ADS_1
"Itulah aku," sahut Vero yang membanggakan diri.
Sepasang mata menatap kejadian itu dan mengepalkan kedua tangannya, dengan cepat dia menghampiri mereka, "ehem."
Vero dan Vivian mengalihkan perhatian menatap asal suara, seketika raut wajah cemberut Vivian berubah dingin saat menatap Rayyan, "ada apa?"
"Dasar penganggu," gumam Vero yang tidak menyukai keberadaan Rayyan.
Keberadaan Rayyan membuat Vivian tidak menyukainya dan kembali mengingat perkataan pria yang sudah menolaknya dengan kasar, rasa sakit yang ada di hatinya masih membekas. Rayyan hanya diam terpaku, dia tidak tau bagaimana untuk memulai obrolan, dengan cepat dia duduk di sofa empuk yang tak jauh dari Vivian dan Vero sembari menatap interaksi dari keduanya. Vivian tak menghiraukan keberadaan Rayyan dan lebih memilih untuk memakan keripik kentang sedangkan Vero memanfaatkan keadaan yang ada.
"Aku kesini ingin mencari Kenzi," celetuk Rayyan setelah beberapa saat terdiam.
"Cari saja di kantor," sahut Vivian dingin tanpa menoleh.
"Sayang, bukankah sudah aku katakan untuk bersiap-siap. Aku akan membawamu ke suatu tempat romantis dan jangan lupa untuk memakai gaun yang aku hadiahkan kepada mu," sela Vero yang menyentuh rambut yang menghalangi wajah Vivian dan menyelipkannya ke telinga. Perlakuan dari Vero membuat Vivian sedikit gugup, sedangkan Rayyan mengepalkan tangannya dengan tatapan mata yang selalu tertuju ke arah Vero.
"Baiklah aku akan bersiap-siap," jawab Vivian yang tak ingin berada di ruangan yang sama dengan Rayyan. Dengan cepat Vivian berjalan menuju kamarnya dan bersiap-siap.
Tak butuh waktu lama bagi Vivian bersiap-siap, penampilan yang dulunya tomboy sekarang berubah lebih feminim. Penampilan yang berubah bukan semata-mata karena kedua pria itu, melainkan untuk dirinya sendiri. Vivian melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan sangat anggun, suara langkah kaki membuat Vero dan Rayyan mengalihkan pandangannya ke arah tangga. Kedua pria itu tak berkedip saat melihat Vivian menggunakan gaun berwarna pastel dan sedikit polesan di wajahnya. Dengan cepat Vero menyambut Vivian dan mengulurkan tangannya dengan sangat mesra, "kamu sangat cantik sekali Baby," bisiknya.
"Tentu saja," balas Vivian yang mengandeng tangan Vero.
Interaksi dari mereka membuat Rayyan semakin tidak menyukai hal itu, tidak tau mengapa hatinya sangat marah hingga melemparkan vas bunga yang ada di hadapannya, Vero dan Vivian sangat terkejut dengan aksi Rayyan.
"Ada apa denganmu?" tanya Vivian.
"Kenapa kamu memakai gaun? apa kamu ingin merubah penampilanmu karena aku?" ucap Rayyan yang masih duduk di sofa dengan tatapan tajamnya.
"Apa yang aku dapatkan untuk itu? aku merubah penampilan atas keinginanku sendiri."
__ADS_1
"Oh ya? apa kamu sedang menarik perhatianku?"
"Sepertinya kamu lupa jika aku masih ada di sini, dia kekasihku. Jangan pernah menyakitinya ataupun berbicara keras kepada Vivi ku," ucap Vero dengan tatapan tajamnya dan berlalu pergi meninggalkan Rayyan yang sangat kesal.