
Vivian dengan terpaksa membuatkan secangkir kopi untuk bos barunya, perasaan dongkol menyelimutinya. Sesaat kemudian, dia tersenyum saat memikirkan ide untuk mengerjai Rayyan.
Secangkir kopi yang siap di buat, mengetuk pintuk ruangan bos dengan senyuman manis di wajahnya. Meletakkan secangkir kopi dengan perlahan di atas meja kerja Rayyan, membuat pria itu sedikit curiga tapi menepis pikiran buruk nya. "Silahkan di minum," Vivian selalu tersenyum membuat Rayyan terpesona.
Vivian menjentikkan jarinya di hadapan Rayyan untuk menyadarkannya dari lamunan. "Minumlah selagi hangat," ucapnya, seketika Rayyan tersadar dan dengan cepat merubah ekspresi wajah tengilnya.
"Aku harap kamu tidak meracuniku." Rayyan menatap wanita cantik itu seperti mengintrogasi layaknya seorang penjahat.
"Ck, apa terlihat jelas di wajahku?" Protes Vivian.
"Entahlah, bagaimana jika kita membuktikannya."
"Sepertinya dia mencurigaiku! oh ya tuhan, habislah aku," gumam Vivian di dalam hati, berusaha menutupi raut wajah kegelisahan untuk tidak menimbulkan kecurigaan dari bosnya itu.
"Jangan mencurigaiku begitu," ketus Vivian.
"Hah, kamu membuatku semakin yakin dengan asumsi itu."
"Lakukan sesuka hatimu, sebaiknya aku kembali ke ruanganku." Vivian ingin melangkah keluar dari ruangan itu, tapi Rayyan mencekal tangannya.
"Kamu tidak bisa pergi, cepat minum kopi itu. Aku ingin lihat reaksinya," desak Rayyan.
"Lepaskan tanganku, aku akan membuktikan tuduhan palsu itu."
"Baiklah." Rayyan melepaskan cengkraman tangan Vivian dengan seringaian.
Vivian dengan terpaksa meneguk kopi di dalam cangkir yang berada di atas meja kerja milik bosnya, ekspresinya tidak bisa menutupi saat lidah yang seakan mati rasa. Rasa asin yang sangat kental membuatnya menyemburkan kopi yang ada di mulutnya untuk keluar, sedangkan Rayyan menarik salah satu bibirnya ke atas.
"Tiba-tiba aku tak ingin meminumnya, karena aku berbaik hati, maka kamu boleh menghabiskannya."
__ADS_1
"Sial, ini yang di namakan dengan senjata makan tuan," batin Vivian yang merutuki nasibnya.
"Tidak, terima kasih. Sebaiknya aku pergi dulu!" pamitnya yang melangkah keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa.
Rayyan tersenyum memperlihatkan gigi yang putih dan juga rapi, melihat kepergian Vivian yang sedang menahan kekesalan. "Dia terlihat lucu saat seperti itu," gumamnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Kembali berkutat dengan layar laptop dan kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.
****
Di sisi lain ada Kenzi yang sedang duduk di antara para klien, sementara Amar menjelaskan mengenai poyek yang akan di jalani. Menjelaskan secara datail untuk membuat beberapa klien tertarik berinvestasi di perusahaannya. Sebagai bos, dia hanya memperhatikan dan berbicara jika menyangkut proyek yang akan di buat.
Amar yang sangat antusias dalam menerangkan, membuat beberapa klien menyukai cara penyampaian dari asisten itu yang mudah di pahami. Dia kembali melanjutkan presentasi berikutnya, menjelaskan dengan lugas. Hingga semua orang sangat terkejut, bukan karena hasil penyampaian presentasi, melainkan sebuah foto Kenzi dan Abian yang tidak mempunyai rambut alias botak. Para klien saling berbisik mengenai hal itu, ada yang menahan senyum, dan juga memotretnya.
"Astaga, aku tidak menyangka jika tuan Kenzi tidak punya rambut. Persis seperti porselen berjalan," bisik salah satu kliennya.
"Kamu benar, terlihat seperti menekin," balas klien yang di sebelahnya dengan berbisik.
Amar yang penasaran dengan raut wajah semua orang, membalikkan badan. Dia sangat terkejut beberapa detik kemudian tertawa terbahak-bahak karena tidak bisa menahannya lebih lama lagi, suasana yang awal menegangkan kembali cair berkat asisten pintar yang di miliki oleh Kenzi.
"Berani sekali dia menertawakan aku di hadapan semua orang, aku akan memberikan pelajaran yang tidak bisa dia lupakan," batin Kenzi yang mengepal tangan dengan sempurna serta tatapan tajam yang terus mengarah ke target. Amar bisa melihat bagaimana cara Kenzi menatapnya dan diam seketika, "habislah aku," batin Amar yang meringis.
"Maaf, sebaiknya rapat ini hanya sampai di sini saja. Kalian boleh pergi," ucap Kenzi yang sangat malu dengan kejadian itu. Satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan dan menyisakan Amar dan juga dirinya, tatapan tajam yang seakan ingin mencabik-cabik tubuh asisten nya.
"Mendekatlah!" titah Kenzi. Amar menurutinya dan berjalan mendekat, tapi nasib asisten itu sangat sial saat Kenzi menjitak kepalanya dengan sangat keras.
"Itu akibatnya jika kamu berani menertawaiku, mulai sekarang sampai tiga bulan ke depan, gajimu akan di potong dua puluh persen," ucap Kenzi yang meninggikan suaranya.
"APA? Jangan lakukan itu Tuan. Bagaimana caraku untuk melunasi cicilan rumah dan juga mobil?" Rengek Amar yang berlutut, berharap agar sang atasan tidak memotong gajinya.
__ADS_1
"Aku bukan tuhan yang bisa kamu sembah, cepat bangunlah!"
"Tidak, sebelum Tuan merubah keputusan itu," tolak Amar.
"Tidak akan, enyahlah dari hadapanku." Kenzi menghempaskan tangan Amar yang menyentuh kakinya dan berlalu pergi meninggalkan asisten malang itu.
"Ah tidak, andai saja aku menahan dari godaan untuk tidak tertawa. Tapi itu sangatlah lucu," gumam Amar yang merubah ekspresi sedihnya kembali tertawa.
Sedangkan di seberang sana, mereka bertos ria saat menjalan misi dengan tuntas. "Itu akibatnya jika berani melawan ku," ucap seseorang yang tak lain adalah Niki, dia mengingat saat Kenzi pernah mengerjainya.
"Ide mu sangat cemerlang, tapi aku yakin jika paman Kenzi tidak akan diam saja," celetuk Alex.
"Pikirkan itu nanti saja, lebih baik kita merayakan keberhasilan ini. Ingin rasanya aku berada di sana dan melihat wajah bodoh dari paman Kenzi," sahut Niki.
"Kalian berbuat ulah lagi? Bukankah sudah Daddy katakan untuk tidak mengerjai orang lagi dan kalian sudah berjanji untuk itu," sela seseorang yang berdiri di depan pintu, menyenderkan punggungnya dan melipat kedua tangan di depan dadanya. Ketiga anak laki-laki itu mengalihkan perhatian ke asal suara.
"Kenapa Daddy sudah pulang dari kantor?" tanya Niko yang mengalihkan perhatian ayahnya.
"Ck, jangan mengalihkan pembicaraan."
"Hah, kami melupakan bagian penting itu. Kami janji gak akan nakal lagi, dan jika kami mengulangi hal yang sama itu artinya kami lupa," ucap Niki yang membuat El kembali mengingat perkataan yang sama saat dia melakukan kesalahan sewaktu kecil.
"Heh, itu sama saja kamu membuat janji palsu."
"NIKI, NIKO, ALEX...keluar kalian bertiga." Suara yang sangat nyaring itu menggema di seluruh ruangan, sedangkan yang merasa namanya di panggil segera bersembunyi ke tempat yang tak terduga.
"Sial, kita ketahuan!" ujar Niko.
"Aku tidak melakukan apapun, tapi kenapa namaku juga ikut terseret," lirih Alex.
__ADS_1
"Ceramahi kami nanti saja Dad, ada keadaan mendesak yang tidak bisa kami tinggalkan." Ketiga anak itu berlari dengan sangat cepat mencari tempat sembunyi yang cocok.