Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 86 - Carilah yang sebanding, Paman!


__ADS_3

Seorang gadis yang sedang berkutat dengan layar laptop, menyelesaikan semua perkerjaan secepat mungkin. Jari yang begitu lihai dalam menekan keyboard, dan tatapan yang berfokus dengan benda pipih di hadapannya.


"Hah, akhirnya pekerjaan ku telah selesai." Vivian bisa bernafas lega telah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, dengan menyenderkan punggungnya di kursi yang sedang di duduki olehnya. Merenggangkan otot-otot yang terasa kaku akibat posisi duduk yang terlalu lama.


Terdengar nada dering ponsel, Vivian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja, melihat siapa yang menelfon membuatnya sangat penasaran dan mengangkatnya.


"Halo."


"Kamu di mana?"


"Apa kakak lupa, jika sekarang aku telah bekerja!"


"Hah, aku melupakan itu."


"Ada apa kakak menelfonku?"


"Mengatakan kabar baik untukmu, Lea telah melahirkan dan putrinya sangatlah cantik dan menggemaskan, kondisi mereka juga baik-baik saja."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Biar aku tebak, apa kakak sedang di rumah sakit keluarga?"


"Yap, kamu benar."


"Aku akan meminta izin kepada bos sialan itu, apa keponakanku punya nama?"


"Namanya Eve, entah mengapa Abian memberikan nama yang sangat singkat. Tapi, yasudahlah...itu hak dia."


"Baiklah, kita bicara lagi nanti."


Vivian memutuskan sambungan telfon, kebahagiaan mempunyai anggota keluarga yang baru membuat raut wajahnya mengukir senyum indah. Membereskan meja kerja yang tampak berserakan, mengambil tas kecil dan juga kunci mobil.


"Untung saja aku telah menyelesaikan pekerjaan ku, lebih baik aku menemui pria yang di sebut bos itu. Ck, bahkan lidahku kaku saat mengatakan nama pria itu," gumam Vivian yang berdiri dari duduknya dan berlalu pergi menuju ruangan atasannya.


Menatap pintu ruangan bos membuat nya kesal, menghela nafas untuk mengontrol emosi jika berhadapan dengan pria yang selalu menganggunya akhir-akhir ini.


"Boleh saya masuk, Tuan?!"

__ADS_1


"Hem, masuklah!" jawab seseorang yang ada di dalam ruang itu.


Vivian meng-handle pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan dengan penuh percaya diri, Rayyan menghentikan pekerjaan sembari melirik sekretaris barunya beberapa detik. "Kamu mau kemana?"


"Aku ingin pulang," jawab Vivian yang tersenyum memperlihatkan gigi putih dan rapinya, sorot mata dengan penuh harap.


"Pulang? Masih ada dua jam lagi, sebaiknya kamu kembali ke meja kerjamu." Rayyan melirik jam mahal yang melingkar di tangannya.


"Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan ku, itu artinya sudah di perbolehkan pulang."


"Siapa bosnya di sini? Kamu terlihat seperti bos yang sedang memerintah bawahan," sindir Rayyan membuat Vivian mendelik kesal.


"Bukankah sudah aku katakan, semua pekerjaan telah aku selesaikan. Ini menyangkut kak Lea yang telah melahirkan, aku harap kamu mengerti dengan memberiku izin." Vivian menggunakan nama Lea agar lolos dari Rayyan yang pernah mencintai kakak sepupunya, dan sangat yakin jika bosnya itu mengizinkan.


"Aku sangat yakin dengan ini, nama kak Lea bisa jadi penangkalnya," gumam Vivian di dalam hati sembari tersenyum.


"TIDAK," sahut Rayyan tanpa menoleh, seketika senyum di wajah Vivian kian memudar, dia sangat kesal mendengar hal itu dan tidak bisa menahan emosinya lebih lama lagi. Suara gebrakan meja kerja yang sangat keras membuat Rayyan yang fokus dengan pekerjaannya menjadi terkejut.


"Apa begini caramu menindas para karyawan lain, hah? Sangat menyebalkan, terserah padamu saja. Aku tetap pergi, dengan izin atau tanpa izin darimu," ketus Vivian yang berlalu pergi, dengan cepat Rayyan menghalagi jalan gadis cantik itu serta mengunci pintu ruangan.


Vivian sedikit gugup, tapi dengan cepat dia mengendalikan kegugupannya. Mendelik kesal menatap Rayyan dengan jengah sembari bertolak pinggang.


Rayyan tersenyum tipis, mendekati gadis cantik yang ada di hadapan nya. "Sekarang kamu tidak bisa lari kemana pun juga, keberanianmu itu membuatku tertantang."


"Oh ya tuhan, terlihat dengan jelas sorot mata yang penuh gairah," batin Vivian yang memperketat kewaspadaan nya.


"Apa kamu takut?"


"A-aku takut padamu? Heh, tidak sama sekali."


"Aku menyukaimu yang berani seperti ini, aku yakin kamu sangat liar di malam hari," bisik Rayyan di telinga Vivian sembari mendekap tubuhnya dengan erat dan tidak memberikannya ruang untuk melepaskan diri.


"Lepas, sebelum aku menendang tututmu hingga tak berbentuk lagi." Ancamnya yang terus memberontak seketika berhenti saat merasakan sesuatu yang mengganjal dari bawah sana.


"Sial," umpat Rayyan yang menutup kedua matanya sekilas seraya mengalihkan pandangan ke arah samping.

__ADS_1


"Aaaargh....apa itu?" Vivian yang teriak memukul benda keramat milih Rayyan dengan kasar, menutup kedua mata menggunakan kedua tangannya, memundurkan langkah menjauhi bosnya.


"Aaargh...lakukan secara perlahan, kamu sangat kasar sekali," pekik Rayyan yang memegang senjata keramatnya, mengipasi menggunakan tangannya. Rayyan segera menjauh dari Vivian agar tidak menjadi korban kedua.


"Hanya refleks saja," celetuk Vivian dengan raut wajah tanpa dosa.


"Jika junior ku tidak berfungsi lagi, bagaimana cara ku membuatkanmu kenyang selama sembilan bulan?!"


"Dasar mesum, apa otakmu hanya sebatas selang*kang*an saja?!" ketus Vivian yang sangat kesal dengan pria yang kelakuannya lebih parah dari mantan kekasihnya.


"Itulah otak pria yang selalu travelling, reaksi yang alamiah terjadi."


"Aku tidak peduli." Vivian berlari menuju pintu keluar tapi di cegat oleh Rayyan. Mengepal tangannya dengan sempurna sembari memukul wajah pria itu, sehebat apapun dia berusaha, tetap saja kalah dari pria itu.


Rayyan berhasil menangkis serangan dan mengunci pergerakan Vivian, bibir merah merekah membuat Rayyan tak melewatkan kesempatan dengan mencium bibir indah yang mempesona.


Kedua mata terbelalak dengan sempurna saat bibir Rayyan menyentuh bibirnya beberapa detik dan melepaskan. "Sialan, aku akan adukan ini kepada kakak ku, kamu tidak akan bisa lepas dari mereka," ketus Vivian yang menghapus jejak bibir Rayyan dengan kasar.


"Adukan saja dan aku tidak peduli, kamu tau? Jika aku ahlinya dalam membalikkan keadaan, apa kamu yakin dengan keputusan mu itu?" Rayyan tersenyum tipis saat melihat raut wajah Vivian yang sangat kesal.


"Dasar monyet, kambing, kadal, unta sialan. Aku sangat menyesal pernah mencintai pria ini," batin Vivian yang mengabsen beberapa nama hewan.


"Dasar licik."


"Tentu saja."


Rayyan kembali berjalan mendekati Vivian yang tampak pasrah karena tidak bisa melawan, pergerakan yang di kunci oleh bosnya itu. Rayyan mendekati wajahnya untuk mencium bibir yang membuatnya ketagihan, semakin dekat membuatnya berambisi.


Pintu terbuka lebar dengan suasa yang sangat nyaring membuat aksi gila Rayyan terhenti, mengalihkan perhatiannya ke asal suara.


"Huft...merekalah yang menjadi penyelamatku," batin Vivian yang menghela nafas.


"Kalian di sini?" Rayyan menatap ketiga anak laki-laki yang juga menatapnya dengan tajam.


"Lepaskan bibi Vivian," lantang Alex.

__ADS_1


"Setidaknya carilah yang sebanding denganmu, Paman!" sambung Niko.


"Yang tua dengan tua dan yang muda dengan muda, dasar kayu berjamur," celetuk Niki.


__ADS_2