
Seorang wanita sedang duduk di kursi sambil menikmati hidangan makanan yang berada di atas meja makan, menghabiskan beberapa piring yang membuat perutnya kenyang. "Mana makanan penutupnya?" teriak Lea dengan suara yang nyaring bisa terdengar seisi ruangan.
Para pelayan membawakan beberapa menu cemilan manis dan tentunya sehat untuk ibu hamil yang tidak lama lagi akan melahirkan, hanya menghitung hari saja. Lea tidak ingin membebankan pikiran mengenai kelahiran anaknya nanti, dia tidak takut dengan proses melahirkan.
Mata Lea berbinar saat melihat cemilan manis seperti brownies, tanpa menunggu lama menyuapi mulutnya dan menikmati sensasi lumer di mulut. "Hah, indahnya hidup ini," gumamnya yang terus menyuapi brownies ke dalam mulut.
"Sepertinya sangat enak," ucap seseorang dari belakang, Lea menoleh dan tersenyum.
"Duduk di sebelahku, kita bisa memakan brownies yang lumer ini bersama." Lea menepuk kursi kosong di sebelahnya. Kayla menganggukkan kepala dengan cepat, menarik kursi dan duduk. Kedua wanita yang sedang hamil menikmati makanan yang ada di atas meja, melupakan orang-orang sekeliling yang menatap mereka seperti sedang mengadakan kontes makan.
Setelah selesai makan, Lea dan Kayla menonton televisi bersama. Semenjak hamil, mereka tidak pernah terpisahkan, melakukan sesuatu dan menginginkan sesuatu yang selalu sama. Tak sengaja mereka menonton film kartun kembar dengan kepala yang botak, "wah...mereka sangat lucu sekali. Aku ingin memegang kepala botak seperti itu," tutur Kayla yang sangat antusias.
"Mereka sangat lucu," sahut Lea yang melirik Kayla, mereka tersenyum smirk saat mengetahui isi pikiran masing-masing.
"Sayang, kamu di mana? aku sudah pulang," ucap Abian yang celingukan.
"Mana sambutan untukku?" ucap Kenzi yang juga baru saja pulang.
Abian menoleh ke belakang dan menyipitkan kedua matanya, "ck, kenapa kamu selalu saja mengikutiku."
"Aku? Mengikuti mu? Heh, aku hanya memanggil istriku yang sangat cantik itu, walau badannya sekarang membulat," ujar Kenzi dengan bangga.
"Yah, kamu benar. Bahkan berat badan Lea juga meningkat drastis, aku menerima kondisinya yang sekarang persis seperti ikan buntal. Hah, istriku yang terbaik," celetuk Abian yang sangat menyukai bentuk tubuh dari Lea, itu artinya tidak ada pria lain yang berani mendekati istrinya.
Abian dan Kenzi duduk di sofa empuk yang tersedia, mereka berbincang membicarakan kelebihan istri masing-masing dan membanggakannya, hingga melupakan tujuan mereka. "Hah, hidupku sangat bahagia sekarang. Sebentar lagi aku akan menjadi Daddy," ucap Abian yang bersemangat.
"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk bayimu nanti?"
"Bahkan aku menyiapkan namanya sebelum menikah dengan Lea," jawab Abian yang tertawa geli. "Apa kamu sudah USG? apa jenis kelamin dari calon anak mu itu?"
Abian mengerutkan kening sembari menatap pria di sebelahnya.
"Hah, setiap kali pemeriksaan kehamilan. Calon anak ku itu selalu saja menutupi, sepertinya dia pemalu. Apapun itu aku akan menjadi seorang Daddy." Curhat Kenzi.
"Ehem." Mereka yang sibuk dengan mengobrol mendengar suara deheman, menoleh ke belakang dan terlihat Lea dan Kayla yang sedang tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Kalian sudah pulang?" tanya Kayla.
"Hem, kenapa kalian tersenyum begitu?" tanya Kenzi dengan polos, sedangkan Abian yang memahami karakter istrinya menelan saliva dengan susah payah.
"Astaga, aku sangat yakin jika di balik senyumnya terdapat penderitaanku yang sebentar lagi di mulai,"
batin Abian tanpa berkedip saat menatap istrinya.
"Hah, aku melupakan ada pekerjaan kantor yang harus di selesaikan," celetuk Abian yang ingin menghindar.
"Bukankah pekerjaan kantor mu telah selesai?"
"Sial, platipus ini mengatakannya. Aku akan memberikannya pelajaran nanti," batin Abian yang menatap Kenzi dengan kesal.
"Jika kamu beranjak dari sofa, bersiaplah untuk tidur di luar," ancam Lea.
"TIDAK!" jerit Abian di dalam hatinya.
"Kenapa Abian seakan takut dengan Lea, apa yang akan terjadi?" batin Kenzi yang menatap bingung.
"Pertanyaan apa itu? tentu saja aku mencintaimu," jawab Kenzi dengan bersemangat.
"Apa kamu mencintaiku, Abian?" seloroh Lea yang memicingkan kedua matanya, Abian mengangguk dengan cepat.
"Kebetulan kalian sudah pulang, kami ingin meminta satu permintaan." Kayla menyerahkan sebuah kotak yang berisi dua alat pemotong rambut, dengan cepat Kenzi membuka dengan raut wajah bingung, "untuk apa alat ini?"
"Setelah melihat kartun dua anak kembar yang botak, kami berinisiatif untuk melakukan hal yang sama."
"Kami menginginkan rambut kalian menjadi botak layaknya kartun yang baru saja kami tonton," jelas Kayla yang bertos ria dengan Lea.
"APA?" Sontak kedua pria tampan itu syok mendengar permintaan aneh dari istri mereka. Kayla dan Lea mengangguk dengan cepat, menatap suami mereka dengan jurus andalan turun temurun yang tak lain adalah puppy eyes. Membuat kedua wanita hamil itu terlihat sangat menggemaskan.
"Aku ingin pembuktian cinta itu sekarang," rengek Kayla.
"Apa kamu tidak merasa kasihan melihatku yang sebentar lagi akan melahirkan." Lea mengedip-ngedipkan kedua matanya dengan bersemangat.
__ADS_1
"Sudah ku duga," gumam Abian yang menghela nafas.
"Baiklah" Kenzi dan Abian hanya pasrah dengan permintaan aneh dari istri mereka.
Kayla dan Lea bertos ria dan sangat bahagia, tapi tidak dengan Kenzi dan juga Abian yang terpaksa merelakan rambut indah yang sebentar lagi di pangkas habis.
Tak butuh waktu yang lama untuk mereka menggunduli rambut kedua pria itu yang sekarang botak licin, Kenzi dan Abian menatap nanar rambut yang berserakan di lantai.
"Pantas saja mansion ini sangat terang, ternyata ada dua matahari yang bersilauan," ucap seseorang yang tak lain adalah Al dan El yang baru saja pulang dari kantor.
"Diamlah atau aku akan menjahit mulutmu itu," ketua Abian.
"Wah, ada upin ipin," sorak Lexa dan Lexi yang batu bergabung.
"Terlihat seperti porselen," celetuk Alex.
"Tidak, tapi aku melihatnya seperti bakso," sambung Niko.
"Apa aku boleh melukisnya, Paman?" celetuk Niki yang berbinar saat melihat kepala plontos dari kedua pamannya itu. Sedangkan yang di bicarakan memasang wajah cemberut dan juga kecut.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini," ketus Kenzi yang mengusir mereka.
"Tersenyum," ucap Niki membuat Kenzi dan Abian menoleh ke asal suara, dengan cepat Niki memotret mereka. "Sial, dasar tuyul sialan. Berani sekali kamu memotret kami!" ujar Abian yang protes.
"Siapa tuyul yang sebenarnya?" Tantang El yang membela anaknya. Kekesalan di wajah para korban tak bisa di bendung lagi, Kenzi mengambil selang air dan menyiram mereka.
"Rasakan itu!" pekik Abian yang tertawa melihat pemandangan di hadapannya.
"Ayah dan anak sama-sama menyebalkan," gerutu Kenzi yang melihat mereka yang sudah meninggalkan tempat itu.
Sementara Kayla dan Lea juga pergi, tinggallah kedua pria malang yang merutuki nasib sialnya. Kenzi melirik Abian, "sepertinya mansion ini terkena kutukan."
"Hem, kamu benar. Tapi bagaimana dengan ini," Abian menunjuk kepalanya.
"Menutupinya dengan wig," jawab Kenzi yang cekikikan saat membayangkannya.
__ADS_1