Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 25 - Lea hamil


__ADS_3

Kenzi tidak bisa fokus dalam pekerjaannya membuat Amar sangat kebingungan dengan apa yang terjadi kepada atasannya yang perfeksionis, "apa yang terjadi dengan tuan?" batin Amar.


"Kenapa aku selalu membayangkan wajahnya? apa yang sebenarnya terjadi dengan ku?" batin Kenzi yang terus memainkan pulpen di atas meja kerjanya. Hingga dia melirik sang asisten yang berdiri sambil menatapnya, "kenapa kamu masih berdiri disini? cepat pergilah atau aku akan memecatmu," cetus Kenzi yang kesal.


"Baik Tuan." Kenzi menatap punggung Amar yang menghilang dari balik pintu, dia kembali menghela nafas dengan kasar.


"Lupakan semuanya dan fokus bekerja," monolog Kenzi yang menyemangati dirinya yang mulai mengerjakan beberapa berkas dan juga menandatangani dokumen penting.


Satu jam kemudian..


Pekerjaan yang menumpuk sudah teratasi dengan baik, baru saja dia menyelesaikan semua pekerjaan itu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang mengalihkan perhatiannya, "masuk." Pintu terbuka membuat Kenzi sedikit gelisah, bagaimana tidak? jika yang datang adalah kelima keponakan nakalnya yang bersama dengan orang tua mereka.


"Tumben sekali kakak datang untuk menemuiku? ucap Kenzi yang berdiri berjalan ke arah mereka.


"Apa aku tidak boleh datang kesini?" cetus yang mulai kesal.


"Kenapa kak El cepat sekali tersinggung? aku hanya menanyakan saja," tutur Kenzi yang tak ingin berdebat.


"Hai Paman," sapa Niki.


"Apa Paman merindukan kami?" sambung Alex.


"Ada apa kalian kesini?"


"Aku dan El akan pergi dalam urusan pekerjaan selama 3 hari, dan selama itu juga kami ingin kamu merawat mereka," tukas Al yang membuat Kenzi tersentak kaget.


"Kenapa harus aku, titipkan saja dengan orang lain," tolak Kenzi.


"Tidak, karena kami sangat mempercayaimu untuk merawat mereka," sahut El.


"Ayolah Kak, di mansion masih ada orang lain seperti Abian dan juga Lea. Minta saja mereka untuk merawat anak-anak kalian."


"Tidak, kami tidak ingin menganggu uncle Abian dan juga aunty Lea," celetuk Niki yang duduk di sofa dan di ikuti oleh keempat saudaranya. Sedangkan Kenzi mendengus kesal, "jadi kalian hanya mengangguku saja?" tanya Kenzi yang mengerutkan kedua alisnya, sementara kelima anak itu menganggukkan kepala dengan cepat.


Kenzi sangat kesal dengan kedua kakak kembarnya yang menitipkan anak-anak nakal mereka kepadanya, hanya pasrah itulah yang terjadi. Setelah kepergian kedua kakak kembar bersama istri mereka, tinggallah triple A dan twins N yang menatap dengan senyuman indah di wajah mereka.

__ADS_1


"Jangan menatapku begitu, katakan maksud kalian untuk datang kesini," tutur Kenzi yang menatap kelima keponakannya satu persatu.


"Aku pikir Paman hanyalah pria bodoh, tetapi aku baru tau ternyata Paman Kenzi sangatlah pintar," celetuk Alex.


"Ck, diamlah."


"Yaya, baiklah."


Sorot mata tajam miliknya selalu mengawasi kelima anak-anak itu yang di sibukkan dengan ponsel mereka, meretas data merupakan hal yang lumrah bagi mereka. Kali ini perusahaan Rusia yang telah berkembang dan juga maju menjadi target berikutnya, kriteria dengan korupsi paling tinggi di perusahaan tersebut. Kenzi mulai memahami apa yang di lakukan oleh anak-anak itu, "aku sangat yakin jika mereka sedang meretas data perusahaan orang lain, ck! dasar pencuri," batin Kenzi yang tersenyum miring.


"Yes, berhasil!" tutur Alex yang membuat kelimanya bertos ria, sedangkan di sisi lainnya membuat orang itu sangat marah. Rahang yang mengeras, gigi yang di gertakkan, serta kedua tangan yang mengepal sempurna.


"Sial, siapa yang berani mengusikku? aku tidak akan melepaskan pelakunya," ucap pria itu dengan lantang sembari menggebrak meja kerjanya berusaha meluapkan emosi dan amarah yang di rasakan di dadanya. Pria berkemeja maroon berjalan menuju jendela, menatap pemandangan dari luar jendela.


****


Abian selalu memberikan minuman yang berisi pil kontrasepsi yang telah dia seduh, memberikannya tanpa sepengetahuan dari Lea yang tidak curiga dengan suaminya itu. Dia berjalan mendekati istrinya sembari membawa segelas susu untuk Lea dan melihatnya dan memastikan gelas itu kosong, "bagus, sekarang tidurlah."


"Tidak, aku belum mengantuk," sahut Lea dengan manja sembari memeluk tubuh atletis suaminya.


"Bagaimana jika kita berolahraga malam saja," ajak Abian yang menatap istrinya dengan tatapan penuh hasrat. Lea dengan cepat menyentil dahi suaminya, "dasar mesum, apa tidak ada kegiatan yang mengarah ke arah positif?" cetus Lea yang bertolak pinggang sembari menatap tajam suaminya.


"Lain kali saja, entah mengapa aku tidak ingin melakukannya."


"Apa kamu berusaha untuk menghindar?"


"Tidak, lain kali saja." Lea membaringkan tubuhnya di ranjang sembari menarik selimut, "apa yang sebenarnya terjadi dengan Lea?" batinnya yang menatap tubuh sang istri yang berbaring di ranjang. Abian sangat khawatir mengenai kondisi istrinya dan menghubungi dokter.


Abian mengecup kening Lea dengan lembut dan pergi meninggalkan kamarnya, dia menghubungi salah satu nomor yang ada di kontak ponsel mahalnya.


"Ada apa menghubungi ku?"


"Apa kamu ingin di pecat?"


"Apa jabatanmu untuk memecatku? berhentilah berdebat dan katakan apa yang mau katakan."

__ADS_1


"Begini, aku merasa ada yang aneh dari istriku."


"Aneh bagaimana?"


"Akhir-akhir ini Lea seakan tidak ingin bercinta denganku."


"Ck, kamu menghubungiku hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting itu?"


"Sialan, aku menghubungi untuk meminta solusi dari masalahku."


"Jangan lama-lama karena jadwalku sangat padat."


"Tingkah laku Lea sangatlah berbeda saat ini, apalagi dia selalu menolak ajakanku dan mengatakan beberapa macam alasan kepadaku."


"Besok pagi bawalah dia ke rumah sakit dan aku akan memeriksanya."


"Hem."


Abian mematikan sambuang telfon dan membaringkan tubuhnya di ranjang sembari memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat, aroma tubuh dari Lea membuat Abian menjadi candu.


Keesokan paginya, Abian terbangun saat mendengar suara berisik dari kamar mandi. Dia meraba ke arah samping dan tidak menemukan sang istri, dengan cepat dia mencari keberadaan Lea di kamar mandi.


"Sayang, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Abian yang terus mengetuk pintu, tak lama pintu itu terbuka. Saat pertama kali Abian melihat wajah Lea yang sangat pucat.


"Hem," deheman Lea yang berjalan gontai menuju ranjang, baru saja dia melangkahkan kaki beberapa langkah. Tiba-tiba pandangan Lea menjadi kabur dan tak sadarkan diri, untung saja Abian dengan sigap menangkap tubuh sang istri dan menepuk pipinya dengan perlahan, "Lea bangunlah, apa yang terjadi dengan mu?" desaknya.


Tanpa berpikir panjang, Abian menelfon dokter keluarga Wijaya yang bernama Jimmy untuk segera memeriksa keadaan Lea. Kedatangan Jimmy membuat seluruh Anggota Wijaya cemas akan Lea, Jimmy menghela nafas dengan berat dan menyeret Abian untuk menjauh dari semua orang, "kenapa kamu menyeretku, katakan bagaimana kondisi Lea?" desak Abian.


"Ini sangat fatal, apa kamu tidak memberinya obat pil kontrasepsi?" Jimmy menatap Abian dengan menautkan kedua alisnya.


"Aku sudah melakukan sesui usulanmu, Tapi bagaimana dengan pemeriksaan Lea."


"Untuk sekarang dia baik."


"Apa maksudmu dengan itu?" ucap Abian yang menatap Jimmy dengan tajam sembari menarik kerah leher Jimmy.

__ADS_1


"Karena Lea tengah hamil."


"Apa? LEA HAMIL?" gumamnya dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan oleh siapapun, dia tidak tau bagaimana penggambaran isi hatinya saat ini.


__ADS_2