
Keesokan harinya, sesuai dari perkataan Robert yang ingin membantu sepasang suami istri itu penyembuhan Lea. Kayla terus berusaha sekuat tenaga dan melakukannya secara berulang-ulang, walau beberapa kali mengalami kegagalan.
"Sial, aku gagal lagi!" umpat Kayla yang sangat kesal.
"Tenanglah dan coba lagi, pusatkan pikiranmu untuk membuat komposisi yang benar dengan takaran yang pas," ucap Robert yang berusaha menenangkan Kayla dengan cara mengelus pundak muridnya, hal yang biasa menurutnya tapi tidak dengan Kenzi yang bernafas seperti di kejar anjing.
"Berani sekali pria itu menyentuh istriku, aku akan memberinya pelajaran," gumam Kenzi yang berlaru dengan cepat menghampiri tersangka untuk memberinya sebuah bogeman mentah.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Kayla yang meninggikan suaranya menatap Kenzi dengan menusuk.
"Itu akibatnya jika dia berani menyentuhmu," jawab Kenzi tanpa bersalah.
Robert yang terjatuh itu berusaha untuk berdiri sambil memegang hidungnya yang keluar cairan berwarna merah akibat pukulan kuat yang di terimanya, "kamu suka sekali memukulku ya!" sela Robert tmyang tersenyum miring sembari mengelap darah yang baru saja keluar dari hidungnya.
"Jangan pernah berpikir untuk mendekati istriku, " ancam Kenzi yang menunjuk wajah Robert sembari pergi dari tempat itu, karena dia sangat kesal melihat Kayla membantu pria itu.
"Sial, kenapa Kayla membelanya?" gumam Kenzi.
Robert tersenyum samar saat menatap punggung Kenzi yang meninggalkan tempat itu, "ini baru awalnya saja, sebentar lagi akan terjadi ledakan besar," batinnya.
Robert mengajari Kayla dengan sangat teliti, setelah beberapa jam berlalu, mereka berhasil membuat ramuan yang telah di ubah menjadi beberapa pil berwarna biru tua. Tanpa sepengetahuan dari Robert, Kayla mengambil 3 butir pil yang cukup untuk menyembuhkan Lea dan memasukkan nya ke kantong celana.
"Sudah selesai, aku pergi dulu." Pamit Robert yang meninggalkan ruangan itu, tapi Kayla terus bertahan di sana untuk mendapatkan beberapa tanaman yang sangat langka.
****
Di malam hari, Kenzi menatap wajah istrinya, "kenapa kamu membela pria itu?"
"Aku tidak membela siapapun, kenapa kamu selalu saja emosi?" cetus Kayla.
"Karena....karena aku tidak menyukai pria itu, kamu tau? jika aku sangat tidak mempercayainya sama sekali dan aku juga tau jika dia bukanlah pria baik-baik, apalagi saat kak El menelfonku," tutur Kenzi yang memelankan suaranya,untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan.
"Kak El? apa yang dia katakan?"
"Aku sangat malas menceritakan hal ini dan sedikit memalukan," ujar Kenzi yang sedikit ragu.
__ADS_1
"Katakan saja, aku sangat penasaran."
"Kamu pasti tau bagaimana kelakuan dari kelima keponakanku itu, tapi yang lebih aku kesalkan adalah Niki, dia selalu mengincarku dan menjadikan sasarannya."
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti?" potong Kayla yang mengerutkan keningnya.
"Niki kembali memata-matai aku dengan menyelipkan GPS di cela*na da*lam ku," bisik Kenzi dan seketika tawa Kayla mambludak.
"Oh ya tuhan, aku tidak menyangka jika mereka bisa melakukan hal itu. Kamu sangat ceroboh, lain kali lihatlah dulu sebelum memakainya," tutur Kayla di sela-sela tawanya.
"Mana aku tau, jika Niki meletakkan Gps di tempat-tempat yang tidak normal."
"Lupakan bagian itu, katakan selanjutnya," seru Kayla.
"Mereka meretas Cctv mansion ini dan melihat sebuah fakta yang sangat mengejutkan," tutur Kenzi yang sangat serius.
"Fakta apa?" tanya Kayla yang sangat penasaran.
"Bahwa sebenarnya Robert bukanlah Robert."
"Ck, katakan dengan jelas," cetus Kayla.
"Tunggu dulu! jadi kakak iparmu juga bukan orang sembarangan?"
"Yah, kamu benar. Walaupun papa Bara adalah tentara, tapi dia juga bergabung di aliansi Mafia, dan seluruh anggota Wijaya adalah Mafia yang paling di takuti yang di pimpin oleh paman Nathan," jawab Kenzi dengan sangat antusias.
"Astaga, apakah identitasku telah di ketahui semua orang?" tukas Kayla yang sedikit khawatir.
"Papa Bara dan paman Nathan sudah mengetahui identitasmu saat awal perjodohan," ucap Kenzi yang baru saja mengetabui hal itu.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Tidak ada, lupakan itu dan kembali membahas topik."
"Baiklah."
__ADS_1
Kayla menyimak setiap pembicaraan dari suaminya, mereka sangat terkejut saat mengetahui bahwa Robert yang di lihat itu bukanlah yang asli melainkan orang lain yang menyamar dengan sangat baik.
Hingga keduanya membuat rencana untuk meloloskan diri dari mansion itu.
Di sisi lain, Robert palsu tertawa dengan sangat menyeramkan, memegang segelas wine di tangannya dan sesekali meneguk. Robert palsu melempar gelas yang berisi Wine dan melepaskan topeng yang menutupi wajah aslinya, "ini sangat menyenangkan, aku sangat di untungkan dengan ini."
Ya, dia adalah Xavier atau yang lebih di kenal adalah Tuan X. Menyamar dengan sangat baik sesuai dengan rencana yang di atur dengan sedemikian sempurna. Penyerangan yang dia lakukan kepada Kenzi dan Kayla serta menfitnah mereka dengan wilayah selatan yang ada di genggaman tangannya. Xavier sangat ingin menguasai aliansi dari Black Wold dan Sky Blood dan setelah mendapatkannya dia akan menargetkan Tiger, aliansi Mafia yang di kendalikan oleh Rayyan.
Lawan yang sangat licik tapi tak selicik Al dan juga El, mereka terpaksa turun tangan untuk melepaskan Kenzi dan Kayla yang mereka yakini tidak akan lolos dari mansion itu. Apalagi Abian juga ikut serta dalam membantu saudaranya yang tengah kesulitan, dia sangat tau musuh apa yang akan mereka hadapi.
Kali ini mereka menggunakan pesawat kecil yang dapat mengangkut mereka sekaligus, bahkan Rayyan juga ikut bergabung untuk menuntaskan permasalahan yang di hadapi oleh sahabatnya.
Di saat mereka sedang mempersialkan senjata apa yang di gunakan, tiba-tiba Rayyan mendengar adanya suara bersin dari belakang tempat muatan beberapa peti senjata.
"Siapa itu?" ucap Rayyan yang membuat semua orang menoleh.
"Ada apa?" tanya Abian yang menatap Rayyan dengan sekilas dan kembali memasukkan beberapa peluru di dalam pistol.
"Aku mendengar suara bersin di dalam peti senjata."
"Mungkin kamu salah dengar, mana ada senjata yang bersin," tutur El sembari mengelap senjata kesayangannya.
"Ck, aku tidak berbohong. Untuk apa aku melakukan hal itu."
"Benarkah? aku rasa kamu hanya berkhayal saja, karena selalu memikirkan Vivian," tutur El.
"Jangan membahas masalah pribadi."
Hingga terdengar suara bersin dari dalam peti senjata, tapi kali ini semua orang mendengarnya.
"Dia berkata benar," kata Al yang berjalan mendekati peti senjata dengan menodongkan pisto sembari membuka peti yang tidak terkunci itu, alangkah terkejutnya Al dan semua orang saat melihat hal itu.
"Kapan terakhir kali kalian membersihkan peti ini," gumam orang itu yang tak lain adalah Alex yang keluar dari peti dan di ikuti oleh Niko dan Niki.
"Sangat-sangat berdebu," komentar Niki yang mengusap sudut peti di tangannya.
__ADS_1
"Akhirnya, aku bisa bernafas lega atau aku mati dengan kentut Niki sialan itu," gerutu Niko.
"KALIAN?" ucap mereka dengan kompak sembari menatap ketiga anak kecil itu dengan kompak.