Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 96 - Membunuh musuh


__ADS_3

Vivian sangat senang jika dia sudah di perbolehkan pulang, dia sangat bosan dengan suasana di rumah sakit. Kepulangannya di sambut baik oleh semua orang terutama Rayyan yang membatalkan semua janjinya di hari itu demi bisa mengantar sang pujaan hati, perhatian kecil yang di berikan Rayyan merupakan sebuah taktik untuk mendapatkan cinta Vivian.


"Sudah cukup, perutku akan meledak jika kamu terus menyuapi aku!" keluh Vivian dengan malas, melihat makanan encer yang ada di atas mangkok yang masih berisi separuhnya.


"Masih ada setengah lagi, habiskan bubur ini dan meminum obat setelah itu." Rayyan kembali menyuapi Vivian dengan penuh cinta setelah mendapatkan izin dari Bara dan juga Kenzi.


"Apa tidak ada makanan lain? Selalu saja makan makanan encer setiap harinya, aku sangat bosan memakannya."


"Tapi kamu harus memakannya," bujuk Rayyan seperti seorang ibu yang membujuk anaknya untuk makan.


"Sebaiknya kamu keluar saja dari kamarku dan selesaikan urusanmu sendiri?!" ketus Vivian yang mengusir Rayyan.


"Baikalah, jika itu keinginanmu. Aku pergi dulu, jangan lupa untuk minum obatnya." Rayyan berdiri dari duduknya sembari mengusap pucuk kepala wanita itu dengan gemas dan bergegas pergi keluar dari kamar.


Vivian menatap kepergian Rayyan yang menghilang dari balik pintu, menghela nafas dengan berat. Dia merasa kasihan kepada pria yang merawatnya selama sakit tanpa mengeluh sedikitpun. "Dia pria yang sangat berbeda dengan sifatnya dulu, tapi aku menyukainya. Hanya saja rasa sakit itu masih membekas di hatiku," lirih Vivian yang terdengar di sebalik pintu, Vivian menarik selimut sembari memejamkan matanya.


"Maafkan karena kesalahanku yang lalu, aku berjanji akan membuatmu bahagia dan tidak meragukan cinta tulusku," batin Rayyan yang bergegas pargi dari tempat itu.


Dia menuruni tangga sembari mengeluarkan ponsel mahalnya, menelfon seseorang mengenai hal yang sangat penting.


"Bagaimana, apa ada kabar baik?"


"Benar Tuan, jika kami telah menemukan lokasi musuh yang menyerang nona Vivian."


"Bagus, dalam sepuluh menit aku sampai ke markas. Tugaskan tim inti Tiger untuk mengepung tempat itu, dan beritahukan ini kepada Kenzi, karena dia berhak untuk mengetahuinya."


"Baik, Tuan."


Rayyan mematikan sambungan telfon sembari keluar dari kesiaman Wijaya menuju lokasi musuh dengan persiapan penuh.

__ADS_1


"Hari ini, musuh akan lenyap di tanganku," gumamnya yang tersenyum tipis.


Kedua pria yang menyayangi Vivian menggabungkan kekuatan mereka dalam penyerang dengan taktik yang sangat baik, mempersiapkan segalanya dengan penuh hati-hati.


****


Kayla berjalan dengan menuju kamar adik iparnya, mengetuk pintu dengan pelan. "Vivian, apa kamu sudah tertidur?" ucap Kayla yang menggedor pintu.


"Siapa di luar?" pekik seseorang dari dalam kamar.


"Kayla, kakak iparmu."


"Masuk saja kak, pintunya tidak di kunci."


Kayla memasukir kamar milik adik iparnya sembari membawa jus dan kue kering, berjalan menuju Vivian yang sekarang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


"Apa lenganmu sudah baikan?" Tanya Kayla yang meletakkan nampan ke atas nakas yang tak berada jauh dari mereka.


"Kamu sangat beruntung memiliki seseorang yang sangat perhatian kepadamu."


"Aku seakan sangat risih dengan semua itu, Kak." Mendengar perkataan Kayla membuat ekspresinya cemberut.


"Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu, dan ini sangatlah penting."


"Yasudah, bicarakan saja. Aku akan menjadi pendengar yang baik!"


"Apa kamu masih membenci Rayyan? Dan menyimpan dendam hingga kamu tidak memaafkan pria itu?" Tanya Kayla membuat Vivian tampak berpikir mengenai ucapan kakak ipar yang benar adanya.


Seketika dia menundukkan kepala dan kembali mengingat kebaikan dan perhatian yang di berikan oleh Rayyan.

__ADS_1


"Jangan melihat titik hitam di dalam kertas putih, tapi lihatlah kebaikannya. Kamu tau, jika aku di jodohkan dengan pria yang tidak aku cintai. Tapi, rasa cinta yang di berikan oleh kakakmu kepadaku membuat aku luluh. Dunia itu sangat aneh, jika kamu menginginkan sesuatu belum tentu dapat meraihnya. Raihlah apa yang ada di hadapanmu saat ini dan jangan sampai kamu bosan jika dia berhenti mengejar cintamu, aku hanya bisa memberikan nasehat ini kepadamu, jangan sampai kamu menyesal ketika dia sudah menjauh."


"Kata-kata Kakak benar adanya, hanya saja hati kecilku masih belum bisa untuk menerimanya kembali. Perkataannya masih membekas di hatiku hingga saat ini."


"Jangan selalu melihat ke belakang, kamu akan tau artinya kehidupan jika melupakan masa lalumu itu." Kayla tersenyum manis dan keluar dari kamar itu. Vivian menatap punggung kakak iparnya dan kembali memikirkan perkataan Kayla.


"Sepertinya aku harus melupakan masa lalu," gumamnya sembari menghela nafas.


Di sisi lain, Kenzi dan Rayyan berhasil melumpuhkan musuh yang menyebabkan kecelakaan kepada Vivian. Rayyan menatap tajam seorang pria yang telah memerintahkan anak buahnya untuk mencelakai gadis itu.


"Berani sekali kamu menyerang calon istriku," lantang Rayyan dengan tatapan tajam dan juga dingin mengarah kepada pria itu.


"Apakah kamu pernah mendengarkan pepatah ini? Jika ingin menyerang musuh, seranglah titik kelemahannya terlebih dahulu. Padahal sedikit lagi dan rencanaku berhasil, tapi kalian datang. Sangat menyebalkan?!" Tutur pria itu.


"Berani mengusik keluarga Wijaya, sama saja mengantarkan nyawanya sendiri." Kenzi menendang kaki pria itu dan berjongkok di hadapannya, menarik pelatuk, mengarahkan pistol di pelipis musuh.


"Aku tidak ingin dia mati dengan sangat mudah, aku akan memberikannya hukuman terlebih dahulu. Bahkan dia sendirilah yang akan meminta untuk nyawanya di cabut, menyingkirlah! serahkan semua ini kepadaku," ucap Rayyan yang menatap musuhnya seakan ingin menguliti secara terang-terangan. Mengeluarkan pisau lipat yang ada di sakunya, melukis wajah pria itu dengan goresan di ujung pisau yang sangat tajam. Suara teriakan menggema di ruangan itu, tidak ada yang berani mengehentikan aksi gila Rayyan jika menyangkut dengan urusan orang yang dia cintai.


"Bagaimana jika kedua lengan itu hilang?"


"Ti-tidak, jangan lakukan itu. Tolong ampuni aku!" pinta pria itu yang bersimpuh di kaki Rayyan untuk mendapatkan ampunan.


"Maaf mu tidak di terima." Rayyan memotong kedua lengan pria itu dan merasa sangat impas, dia sangat puas bisa kembali bermain dengan pisau. Jiwa psikopat yang dulunya hilang, kini kembali saat menyangkut wanita yang dia cintai terluka.


Rayyan pergi meninggalkan pria itu dan di ikuti oleh Kenzi dari belakang, dengan cepat mengambil pistol di tangan Kenzi dan membalikkan badan menembak musuh tepat di jantungnya hingga tewas.


"Aku berharap jika jiwa psikopat mu tidak menyakiti adikku," tukas Kenzi yang menoleh dengan sekilas.


"Tenang saja, aku bisa mengendalikan diriku sendiri. Yang terpenting, doakan aku untuk Mendapatkan adikmu."

__ADS_1


"Pasti."


__ADS_2