
Kenzi mengerti apa yang di maksud oleh pria tua itu dan mendengus kesal, melihat Niki dan Bonar secara bergantian. "Kakek dan cucu sama-sama mata duitan, kemarin Niki dan sekarang pak pitak. Jika saja ini bukan keinginan istriku, sudah pasti aku tidak ingin berurusan dengan mereka," batin Kenzi yang jengah.
"Beberapa lembar uang berwarna merah tidak akan menjadi masalah besar dan tidak akan membuatmu jatuh miskin," celetuk Bonar.
"Paman Kenzi itu sangat baik, Kek. Dia bahkan memberikan aku dua persen saham di perusahaannya!" puji Niki, sedangkan Kenzi yang mengerti menatap tajam keponakannya. "Kenapa Paman menatapku begitu?" tanya Niki dengan wajah tanpa dosa.
"Jangan bicarakan aku kepada orang lain." Kenzi tidak menyukai hal itu, katena dia sangat tau jika Niki mempunyai rencana. "Apa yang dia rencanakan? Aku sangat yakin dengan ini," gumam Kenzi di dalam hati sembari menyipitkan kedua matanya menatap anak kecil itu.
"Wah, apa aku juga boleh meminta dua persen saham kepadamu?" Pinta Bonar dengan sangat antusias.
"Dasar tak tau diri," umpat Kenzi di dalam hati. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah membuat mata Bonar berkilau dan mengambilnya dengan sangat cepat. "Ambil saja buah kelapa yang kamu inginkan, aku masuk dulu dan menghitung uang ini." Bonar berfokus kepada kertas berharga yang ada di tangannya, berlalu pergi meninggalkan Niki dan Kenzi.
"Di usia tua seharusnya berusaha untuk berbuat baik," lirih Niki yang masih terdengar oleh Kenzi.
"Apa bedanya dengan dirimu?" sindirnya Kenzi yang tersenyum miring.
"Karena aku masih muda, jangan membuang waktu lagi. Cepat ambillah buah kelapanya, karena jam kerjaku sangat padat."
"Heh, aku bahkan tidak mengajakmu ke sini. Kamu sendirilah yang menyelinap masuk ke dalam mobil," cetusnya yang sangat kesal kepada bocah laki-laki di hadapannya.
"Jangan salahkan aku karena penasaran dengan tindakanmu, Paman!" jawab Niki tanpa bersalah.
"Terserah padamu saja."
"Lakukan dengan cepat atau kakek pitak kembali lagi untuk Memerasmu, Paman."
"Hah, kamu benar juga."
Mereka berjalan menuju halaman belakang rumah, berjalan mendekati pohon kelapa, Kenzi mendongakkan kepala dan mencemaskan dirinya saat berbuat kesalahan. "Ya tuhan...sepertinya ujung pohon tidak terlihat, sangat tinggi sekali. Semoga aku tidak ceroboh," batin Kenzi yang menelan salivanya yang seakan tertahan di tenggorokan.
"Kenapa? Apa Paman takut untuk memanjat pohon itu?!" tukas Niki yang tersenyum smirk.
"Tidak ada kata takut di dalam kamusku, minggir!" Kenzi mendorong tubuh Niki dan memanjat pohon kelapa yang tinggi itu, berfokus dengan satu tujuan yaitu buah kelapa muda. Seperti biasa, Niki memotret foto sang Paman yang sedang memanjat pohon, tak lupa membuatnya live streaming ke beberapa media sosial untuk meraup keuntungan.
__ADS_1
Butuh perjuangan untuk sampai ke atas, memetik beberapa buah kelapa dan menjatuhkannya. Setelah merasa cukup, Kenzi turun dengan perlahan sembari memasang wajah yang sombong.
"Bagaimana?" bukankah aku terlihat sangat keren?" celetuk Kenzi yang membusungkan dada.
"Yeah, sangat keren seperti seekor monyet," jawab Niko yang monohok sembari masuk ke dalam rumah meninggalkan Kenzi yang mengeram kesal.
"Hah, sepertinya aku harus mempertebal dan memperbanyak dalam bersabar dan menahan emosi. Untung saja dia keponakanku, jika tidak? Aku sudah menggantungnya di atas pohon kelapa itu," sewot Kenzi sambil mengutip buah kelapa.
Setelah mendapatkan buah kelapa muda yang di inginkan oleh istrinya itu, Kenzi dan Niki memutuskan untuk kembali ke mansion. Menyerahkan buah kelapa muda yang masih utuh kepada istri tercintanya, Kayla yang sangat antusias menerima pemberian dari suaminya itu.
"Pelayan...kemarilah!" panggil Kayla yang sedikit berteriak.
"Iya Nona," sahut salah satu pelayan yang berjalan menghampiri majikannya, menundukkan kepala tanpa berani menatap mata.
"Tolong bawa buah kelapa itu dan bukakan satu untukku," titahnya.
"Baik Nona."
"Terima kasih sudah mengabulkan permintaanku," ucap Kayla yang memeluk dan tersenyum mengembang memamerkan gigi putih juga rapi.
"Hei, bukankah kamu mengatakan malam ini akan libur?" Protes Kayla yang menunjuk wajah suaminya itu, dia menolak ajakan pria tampan itu untuk berhubungan suami istri. Semanjak hamil membuat gairahnya kian menurun dan lebih cenderung mengemil, tapi sang suami malah sebaliknya.
"Tadinya begitu, tapi aku berubah pikiran."
"Dasar curang!" Kayla memukul lengan suaminya dengan pelan sembari berlalu pergi meninggalkan Kenzi.
"Sayang, bagaimana keputusannya?" ucap Kenzi yang menatap kepergian istrinya dengan nanar.
"Lain kali saja," sahutnya tanpa menoleh dan menuju dapur.
"Hah, apa itu juga karena pengaruh hormon kehamilan?" gumamnya yang sedikit kecewa karena tidak mendapatkan jatah. Kenzi mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar, memikirkan jatah malamnya berkurang.
****
__ADS_1
Vivian mengerjakan semua berkas dan menginput data sesuai informasi yang dia dapatkan, tatapan yang terus berfokus di layar laptop dan sesekali mengistirahatkan matanya yang lelah.
"Hah, akhirnya pekerjaanku selesai." Dia menyandarkan punggung di kursi seraya meregangkan otot-otot kaku akibat terlalu lama duduk. Terdengar suara nada dering ponselnya yang berbunyi, Vivian melihat layar ponsel dengan nomor yang tak di kenal.
"Siapa yang menelfon ku?" gumamnya yang memutuskan sambungan telfon. Beberapa saat kemudian, ponsel kembali berdering dengan nomor yang sama, dan dengan terpaksa dia menjawab panggilan itu.
"Halo."
"Apa kamu sibuk?"
"Maaf, ini siapa?"
"Aku wanita yang pernah kamu selamatkam, tante Lili."
"Oh, ternyata itu tante? tolong maafkan aku yang tidak mengetahuinya sama sekali."
"Tidak masalah, aku menelfon mu untuk datang ke rumah sederhana, sebuah perayaan ulang tahunku."
"Baiklah tante, aku akan datang ke rumahmu. Kirimkan saja alamatnya kepadaku."
"Hem, jangan lupa untuk datang. Aku menunggumu!"
"Baiklah."
"Ehem," deheman seseorang menghentikan lamunan dari Vivian yang berbalik badan menatap ke asal suara.
"Kamu ada di sini?" Tanya Vivian yang menautkan kedua alisnya.
"Siapa yang menelfon mu, seorang wanita atau seorang pria?" tukas Rayyan dengan menyelidik sembari memasukkan salah satu tangannya di dalam saku celana.
"Tidak ada urusannya dengan mu, jadi jangan selalu ikut campur!" ketus Vivian yang berlalu pergi. Rayyan dengan cepat mencekal tangan gadis itu dan menoleh menatap wajah cantik yang selalu dia pikirkan.
"Cepat katakan!" seketika raut wajah Rayyan berubah memerah akibat menahan emosi yang hampir saja meledak. Demi menghindar, Vivian menginjak kaki pria tampan di hadapannya dengan sangat keras dan berlari sekuat tenaganya.
__ADS_1
"Sial," umpat Rayyan yang menatap punggung Vivian dengan nanar. Dia berjalan dengan cepat untuk kembali ke ruangan, meretas data ponsel Vivian dan mencari tau siapa yang pernah di hubungi oleh gadis pujaannya.
"Oho, jadi wanita itu adalah ibu dari asisten Kenzi? Sangat menarik!" gumam Rayyan yang tersenyum miring.