
Dengan cepat Kenzi menutupi tubuhnya dengan memakai pakaian setelah meminta Melodi untuk berbalik, dia menghampiri wanita yang telah lancang masuk ke dalam kamarnya. "Apa kamu tidak punya tata krama? ini kamar sepasang suami istri, dasar lancang!" tegas Kenzi dingin.
"Ma-maaf, aku lupa jika kamu telah beristri. Karena aku sudah terbiasa melakukan hal itu," tutur Melodi yang masih memunggungi Kenzi.
"Baiklah, apa yang kamu lakukan di sini hingga masuk tanpa permisi?" tanya Kenzi.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu."
"Katakan dengan jelas?" ucap Kenzi. Melodi tampak berpikir untuk alasan yang akan dia ajukan, hingga dia berbalik badan menatap wajah pria tampan itu.
"Ada yang ingin aku katakan mengenai Lea!" jawab Melodi yang tersenyum.
Kayla mengetahui jika Melodi datang ke kamarnya dengan cara yang tidak sopan, "ck, wanita itu bagaikan kutu yang selalu menempel. Aku akan membuatnya panas dan juga kesal," batinnya yang tersenyum tipis.
"Sayang, siapa yang datang?" ucap Kayla yang merenggangkan otor-ototnya yang kaku sembari duduk di sisi ranjang.
"Maafkan aku, Sayang. Apa tidurmu terganggu karena suara berisik?" balas Kenzi yang sangat bahagia, karena ini kali pertamanya Kayla memanggilnya begitu.
"Oho, jadi kamulah tamu itu," tutur Kayla yang berjalan mendekat setelah memakai piyama seksinya sembari mengikat rambut dengan asal.
"Iya, ini aku. Apa aku boleh meminjam suamimu dulu? ada hal penting yang ingin aku katakan kepadanya," ujar Melodi yang tersenyum.
Kayla mendekati Kenzi sembari memeluknya dengan sangat mesra dan sesekali dia juga mencium pipi dan juga bibir, Melodi yang melihat itu meremas kedua tangannya dengan kesal tapi berusaha untuk menutupinya.
"Kenapa tidak kamu bicarakan ini di sini saja?" tutur Kayla yang terus meraba tubuh suaminya, Kenzi menyukai tindakan istrinya hingga membuatnya kembali berhasrat.
"Aku sudah tidak tahan dengan ini, Kayla terus saja menggodaku. Kapan wanita ini keluar dari kamarku?" batin Kenzi yang menatap Melodi dengan kesal.
"Karena aku hanya ingin membicarakan ini dengannya," cetus Melodi.
"Benarkah? aku ini bukan orang asing melainkan istrinya." Kayla terus saja meraba tubuh Kenzi dan mencium bibir sang suami dengan sangat mesra. Dan benar saja, Melodi merasa sangat marah dengan Kayla yang terus saja memperlihatkan keromantisan mereka.
__ADS_1
"Aku sudah tidak tahan lagi Sayang, ayo kita bermain jungkat-jungkit. Dan kamu pergilah dari kamarku," ucap Kenzi yang sudah tidak bisa menahan sesuatu di bawah sana, seketika dia melirik Melodi dan mengusirnya.
Kayla tersenyum bahagia dan melirik Melodi untuk segera meninggalkan kamar, Kayla melambaikan tangannya, menutup pintu dengan keras dan menguncinya. Melodi sangat marah karena untuk pertama kalinya dia kalah, "aku akan membalas perbuatanmu untuk ini KAYLA," gumam Melodi yang menatap pintu kamar, dia mengelap sudut matanya yang berair dan berlalu pergi.
"Kenapa ini terjadi kepadaku? aku akan membalas wanita itu yang telah merebut cintaku," batin Melodi yang bertekad.
Sementara Kayla menatap suaminya yang tersenyum nakal, "kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Kayla dengan polos.
"Ayo kita berolahraga," ajak Kenzi yang tersenyum dengan lebar.
"Tidak, kita baru saja melakukannya!" tolak Kayla yang ingin melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Karena ulahmu membuat Ciciku kembali mengeras, ayolah ini tidak akan lama," bujuk Kenzi.
"Mulutmu itu sangat manis sekali jima berbicara, kamu selalu saja mengatakan tidak akan lama. Tapi nyatanya berbanding terbalik," cetus Kayla yang masuk ke kamar mandi, Kenzi tersenyum smirk dan dengan cepat dia masuk seraya mengunci pintu.
"Dasar mesum, keluar lah dari sini!" pekik Kayla yang menyiram pria tampan itu dengan shower, bukan Kenzi namanya jika mengalah. Dia berusaha sekuat tenaga hingga sang Cici berhasil masuk di dalam sangkarnya, Kayla yang awalnya memberontak mulai menikmati permainan dari sang suami.
*****
Seseorang menepuk pundaknya, Vivian sangat antusias dan berpikir jika orang itu adalah Rayyan, "kamu di sini?" seru Vivian yang tersenyum bahagia yang menghiasi wajahnya seketika berubah murung.
"Kenapa wajah mu terlihat sedih, bicaralah!" ucap orang itu yang duduk di sebelah Vivian.
"Apa pedulimu, pergilah. Aku hanya ingin sendiri," ketus Vivian yang menatap orang itu dengan kesal.
"Jangan terlalu ketus dengan calon suami, tidak baik!"
Vivian memutar bola matanya dengan jengah, "kenapa kamu selalu mengikutiku? tinggalkan aku sendiri."
"Tidak, aku takut jika kamu kerasukan setan karena sering melamun di sini."
__ADS_1
"Kamu memata-mataiku?" tanya Vivian yang membelalakkan kedua matanya.
"Tentu saja," jawab Vero dengan enteng.
"Apa kamu ini pengangguran?" tukas Vivian.
"Akulah bosnya, jadi terserah padaku jika bekerja ataupun tidak. Tapi keselamatan dan keamananmu yang paling utama bagiku," jawab Vero yang mengedipkan kedua matanya.
Vivian menghela nafas dengan kasar dan kembali menatap pemandangan di hadapannya, dia membiarkan Vero tanpa mengusirnya. Karena dia sudah lelah mengusir pria itu yang selalu datang dengan tiba-tiba.
"Tunggu sebentar aku akan kembali," pamit Vero yang berlari kecil tapi tak di hiraukan oleh Vivian yang tengah melamun memikirkan Rayyan.
"Kenapa Rayyan tidak pernah melirikku? apakah dia belum bisa move on dengan kak Lea? apa aku harus berubah feminim untuk mendapatkan perhatian darinya?" batin Vivian yang mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ini ambillah," ucap Vero yang memegang dua buah es krim di tangannya sembari memberikannya kepada Vivian.
"Aku bukan anak kecil," ketus Vivian yang melirik sebentar, Vero yang terbiasa dengan sikap tak peduli dan cuek dari Vivian hanya tersenyum dan kembali duduk di samping gadis itu.
"Aku tau kamu bukan anak kecil, hanya saja ini akan mengurangi kesedihan dan masalahmu dengan sekejap."
Vivian yang tidak ingin berdebat dengan cepat mengambil es krim dan memakannya dengan tergesa-gesa, "hei, jangan memakannya dengan terburu-buru." Vero tersenyum sembari menggelengkan kepala dengan pelan, mengambil sapu tangan yang ada di kantong celananya dan mengelap sisa es krim yang ada di mulut Vivian.
Vivian terdiam sembari menatap pria tampan di sampingnya beberapa detik dan kembali mengatur raut wajahnya, "maaf, aku hanya membersihkan sisa es krim di mulut mu."
"Tidak perlu meminta maaf, kamu terlihat sangat aneh jika mengatakan hal itu."
"Mau bagaimana lagi? itulah aku dan jangan berharap banyak," jawab Vero yang tersenyum.
Suasana di hati Vivian kembali cerah, dia juga tersenyum menatap pria yang telah menghiburnya. "Ternyata pria ini mempunyai sisi yang lain," batin Vivian.
"Kamu terlihat sangat cantik jika tersenyum, apa aku boleh memotretmu? untuk di jadikan album foto dan menyimpannya."
__ADS_1
"Maafkan aku yang selalu ketus kepadamu, ternyata kamu tidak seburuk dengan yang aku bayangkan."
"Aku sudah terbiasa membuat orang lain jengkel, mau bagaimana lagi?" ujar Vero yang tersenyum dan membuat Vivian tertawa.