Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 69 - Petasan


__ADS_3

Suara pintu terbuka dengan lebar, menimbulkan bunyi yang memekikkan telinga dan jantung yang seakan berhenti berdetak. Kenzi menghentikan ketikan di keyboard laptop, mendongakkan kepala menatap sang pelaku dengan wajah yang cemberut dan juga kesal.


"Ck, apa kamu ingin membuat aku mati? Untung saja aku tak mempunyai riwayat penyakit jantung," keluh Kenzi yang mengusap dadanya dengan pelan.


"Apa tujuan kakak sebenarnya?" Ucap Vivian tanpa menghiraukan ucapan kakaknya, berjalan mendekati Kenzi seraya memukul meja dengan menggebu-gebu.


Sekali lagi terdengar suara nyaring yang memekakkan telinga, Kenzi kembali terkejut untuk kedua kalinya. Kenzi mengambil segelas air mineral yang hampir saja tumpah, dengan cepat dia meminumnya hingga habis.


"Ck, bisakah kamu datang dengan baik-baik? Jangan ulangi kesalahanmu," cetus Kenzi yang mengatur nafasnya.


"Aku tidak peduli dengan itu, apa maksud Kakak yang memintaku untuk mengantarkan berkas-berkas itu kepada pria bodoh itu?" Pekik Vivian yang protes.


"Hah, aku hanya membantunya saja."


"Ayolah kak, aku sudah mempunyai kekasih. Untuk apa aku memikirkan pria itu? Aku sangat membencinya sekarang, dan aku mohon kepada Kakak untuk berhenti melakukan usaha mendekatkan aku dan dia," ketus Vivian yang sangat marah dan juga kecewa kepada Kenzi yang membela pria yang pernah menyakiti hatinya.


"Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja__"


"Hanya saja apa?" sela Vivian dengan sorot mata yang tajam.


"Kakak janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Kenzi yang tersenyum memperlihatkan gigi rapi dan putihnya.


"Hah, untung saja kamu adalah Kakak ku." Vivian menghela nafas dengan kasar sembari berlalu perhi meninggalkan Kenzi yang melamun sepersekian detik.


"Hei, apa itu artinya kamu memaafkan aku?" pekik Kenzi yang melihat punggung Vivian yang menjauh dari pandangan. Sedangkan yang di tatap hanya acuh tak acuh.


Amar yang ingin masuk ke dalam ruangan atasannya, melihat Vivian yang keluar dari ruangan itu. Dia tersenyum seraya mengikuti Vivian dan memanggilnya, "Nona...Nona." Amar berlari mengejar Vivian dan menghentikan langkah gadis cantik itu dengan tubuhnya yang berada di depannya.


"Ada apa?" ketus Vivian yang menatap pria tampan, tetap saja jika di mata Vivian, kekasih nya y


ang paling tampan.

__ADS_1


"Aku ingin mengundang Nona datang ke rumahku, ini undangannya." Amar memberikan Vivian sebuah undangan yang di kenas dengan sangat baik. Vivian mengambilnya, membaca undangan itu dengan seksama.


"Apa aku boleh membawa kekasih ku untuk ikut?" tanya Vivian yang menatap Amar dengan sangat antusias dan melupakan kekesalannya kepada Kenzi.


"Maafkan aku Nona, satu undangan untuk satu orang saja."


"Sayang sekali, padahal aku ingin mengajak Vero."


Amar hanya tersenyum samar dan membujuk Vivian untuk meyakinkannya datang ke rumah.


"Ini acara seperti apa? Aku tidak pernah mengikutinya? Apa kak Kenzi juga ikut?" Vivian menanyakan beberapa pertanyaan yang membuat Amar diam. Dia bisa melihat bagaimana asisten kakaknya yang melamun, Vivian menjentikkan jarinya di hadapan Amar dan menatap pria itu dengan menyatukan kedua alisnya.


"Seperti acara keluarga dan mengenai tuan Kenzi? Aku sudah memberinya undangan," jawab Amar dengan antusias.


"Baiklah, akan aku usahakan untuk datang, tapi kabari aku jika kak Kenzi juga datang."


"Tapi kenapa? Apa ada yang salah?"


"Tenang saja Nona, aku akan mengabarimu."


"Baiklah, aku pergi dulu." Vivian melangkah pergi meninggalkan Amar yang tersenyum penuh arti.


Tanpa di ketahui orang lain jika seseorang menyaksikan hal itu, menyipitkan mata saat melihat Amar. Dia mengetahui niat dan rencana yang akan di lakukan oleh Amar, salah satu sudut bibirnya terangkat dan tersenyum seakan mendapatkan ide yang sangat cemerlang.


****


Seorang wanita cantik sedang menikmati waktu bersantainya, meminum susu hamil dan satu buah apel di tangan kanannya. Semenjak di katakan sembuh dari penyakitnya, Lea seperti mendapatkan kehidupan baru yang akan di mulai saat penantiannya menunggu sang buah hati lahir ke dunia. Kehamilan Lea membuat Abian sangat cemas dan bahagia sekaligus, apalagi penantian itu di sambut baik oleh keluarganya terutama triple A dan twins N.


"Sayang, kenapa kamu selalu saja berdiri di balkon? Itu tidak baik bagi kesehatanmu," tutur Abian yang melihat keberadaan istrinya. Lea menoleh dan tersenyum seraya menggigit apel yang ada di tangan, berjalan dengan perlahan mendekati suaminya.


"Bukankah kamu ada pekerjaan di kantor?" Lea mengerutkan keningnya karena penasaran.

__ADS_1


"Ya, tadinya begitu. Tapi aku baru mengingat jika hari ini adalah pemeriksaan kandungan mu ke dokter."


"Lain kali saja, aku tidak ingin pergi ke sana yang pastinya banyak orang." Tolaknya yang kembali menggigit apel dengan keras.


"Jangan begitu, kita sudah sejauh ini melangkah. Aku juga tidak sabar melihat anakku dan jenis kelaminnya, pasti sangat seru."


"Apa kami boleh ikut?" ucap seseorang yang tak lain adalah triple A , twins N, dan Baby yang sangat betah tinggal di mansion Wijaya, di bandingkan dengan mansion keluarganya sendiri yang tampak sepi.


Kedua sepasang suami istri itu menoleh ke asal suara dan menatap mereka dengan lekat, Abian sangat mengetahui bagaimana sifat dan tingkah laku dari enam anak-anak.


"Tidak boleh," tegas Abian.


"Ayolah Uncle....Aunty, ajak kami bersama kalian." Rengek Niko dengan mata yang berbinar, mengeluarkan puppy eyes miliknya yang terlihat menggemaskan. Triple A, Baby, dan Niki hanya menggangguki kepala oleh saudaranya.


"Kami janji tidak akan berbuat nakal lagi," tutur Niki yang mengangkat tangan kanan ke atas seraya tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan juga rapi.


"Tidak, pergilah dari sini." Abian mengusir mereka membuat Niki sangat kesal dan tersenyum smirk menatap para saudara dan saudarinya.


Lea berlalu pergi meninggalkan kamarnya menuju dapur, "kamu mau kemana?" tanya Abian yang menatap punggung sang istri.


"Aku lapar dan ingin mengisi perut dulu," sahut Lea yang menoleh beberapa detik dan kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Pergilah keluar dari kamar ku," cetus Abian. Niki dengan cepat melemparkan petasan ke arah Abian, mereka segera meninggalkan kamar itu sebelum Abian benar-benar marah. Abian terus saja melompat-lompat untuk menghindari ledakan kecil


dari petasan.


"Dasar anak nakal, jangan lari kalian!" teriak Abian yang memanggil sang tersangka.


"Wlekk...itu akibatnya jika Uncle mengusir kami," jawab Niko yang juga berteriak, jarak di antara mereka membuatnya seperti saling bermusuhan.


Abian yang ingin mengejar para anak tuyul dan berpikir jika mereka akan tertangkap dengan mudah, baru saja dia keluar kamar. Tapi, tiba-tiba wajahnya terkena tepung membuat mereka kembali menertawai nasib malang dari Abian, dia berusaha membersihkan wajahnya yang penuh dengan tepung.

__ADS_1


"Wajah Uncle terlihat seperti KFC dan membuat aku semakin lapar," celetuk Niki yang memegangi perutnya.


__ADS_2