Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 95 - Taruhan Abian dan Kenzi


__ADS_3

Ponsel berdering membuatnya terbangun dari tidur, mengerjapkan mata dan melihat nama yang tertera di layar ponsel milik. "Bagaimana caraku untuk mengangkat telfon itu? Kedua tanganku di balut dengan perban," keluh Vivian yang menghela nafas.


"Kenapa ponsel itu sangat berisik sekali?" Sewot Rayyan yang juga terbangyn dari tidurnya.


"Bisakah kamu angkat ponsel itu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


"Tidak masalah, tapi siapa yang menelfonmu di tengah malam?" Rayyan berjalan mendekati nakas, membungkukkan badan untuk melihat nama yang tertera jelas di layar ponsel.


"Tante Lili? Bukankah wanita itu adalah Ibunya Amar? Kenapa dia menelfon di tengah malam begini?" gumam Rayyan di dalam hatinya seraya memikirkan kejadian ini.


"Hei, kenapa kamu melamun? Aku memintamu untuk membantuku mengangkat ponsel itu," celetuk Vivian yang mendelik kesal.


"Baiklah! sesuai keinginanmu, calon istriku." Rayyan mengangkat sambungan telfon dan sengaja membesarkan membesarkan volume agar dia juga mendengar percakapan dari wanita itu.


"Halo."


"Iya tante."


"Aku sudah menunggumu, kenapa kamu tidak datang?"


"Maafkan aku, sebenarnya aku ingin datang ke sana. Hanya saja aku mengalami kecelakaan."


"Kecelakaan?"


"Hem."


"Apa kamu berada di rumah sakit sekarang?"


"Benar, aku di rumah sakit Wijaya."


"Hah, aku sangat mencemaskanmu. Besok aku akan datang bersama dengan putraku untuk menjengukmu."


Seketika raut wajah Rayyan berubah masam saat mendengarkan ucapan Lili lewat telfon, hingga dia sengaja menganggu suasana itu.


"Sayang, ini waktumu untuk tidur. Jika tidak tidur, maka aku akan mencium bibirmu," ucap Rayyan yang sengaja mengeraskan suaranya. Vivian menoleh beberapa detik seraya menatap pria tampan itu dengan jengkel dan mendengus kesal.


"Apa dia kekasihmu, Vivian?"


"Bu__"


"Bukan hanya kekasih tetapi calon istriku, jangan berusaha untuk mendekati calon istriku dengan anakmu itu atau aku tidak tinggal diam," ancam Rayyan lewat telfon sembari memutuskan sambungan telfon dengan mendadak, membuat Vivian menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kenapa kamu berbohong kepada tante Lili?" Vivian mengerutkan dahinya.


"Aku tidak berbohong, sesuai kesepakatan itu. Aku dan kamu akan menjadi kita dalam waktu dua minggu lagi, persiapkan dirimu apalagi di malam pertama kita," ucap Rayyan dengan pandangan yang menyusuri tubuh wanita cantik itu.


"Dasar pria mesum," umpat Vivian.


"Itulah aku." Rayyan tersenyum saat melihat raut wajah kekesalan yang merona. Senyum yang tak bisa berjalan dengan lama karena tiba-tiba kepalanya seperti ada yang membidik dengan ketapel.


"Siapa yang berani bermain-main denganku?" Kekesalan Rayyan semakin dalam saat pantatnya juga menjadi sasaran, terdengar suara cekikikan membuatnya melangkahkan kaki menuju asal suara secara perlahan. "Oho, jadi kamulah pelakunya? Dasar kurang ajar, apa kamu ingin aku kutuk, hah?" Ketus Rayyan yang menarik telinga pelakunya yang tak lain adalah Baby.


"Ampun kak, aku tidak sengaja." Baby berusaha untuk melepaskan tangan sang kakak yang menempel di telinganya.


"Tidak sengaja? bahkan kamu membidikku dua kali dan apa itu masih bisa di katakan tak sengaja?" Kesal Rayyan, melepaskan tangan yang bertengger di telinga sang adik.


"Tanganku terasa licin dan tak sengaja membidik Kakak," elak Baby.


"Kenapa kamu ada di sini, dan dengan siapa kamu pergi?" Tanya Rayyan yang sangat penasaran.


"Aku bersama kak Abian, kak Lea, dan juga keponakanku Eve."


"Dimana mereka?" Rayyan celingukan ke arah pintu.


"Aku di sini," celetuk seseorang yang tak lain adalah Abian dan Lea yang sedang menggendong Eve.


"Memangnya kenapa? Vivian juga adikku," cetus Abian.


"Apa aku boleh menggendong baby Eve, Kak?" Baby menatap Abian dengan kedua matanya yang berbinar, berharap menggendong keponakannya yang sang menggemaskan.


"Tidak, bagaimana jika baby Eve jatuh? lebih baik kamu melihatnya dari dekat dan boleh menyentuh pipi gembul Eve." Raut wajah Baby yang awalnya cemberut seketika tersenyum mengembang dengan sangat sempurna, karena baru pertama kalinya dia akan menyentuh pipi Eve dan menciumnya.


"Benarkah? Tanpa batas satu meter?" Ulang Baby untuk meyakinkan dirinya, sedangkan Abian menganggukkan kepala dengan cepat. Baby bersorak riang, dia sangat senang membuat semua orang tertawa dengan tingkah gadis kecil itu. Baby mencium pipi gembul milik Eve berulang kali dengan sangat gemas.


"Wah, apa aku juga boleh mencium pipi Eve?" ucap Niki yang di angguki kepala oleh Niko, mereka berdiri di depan pintu bersama Kenzi dan juga Kayla.


Semua orang mengalihkan pandangannya menuju asal suara, terutama Abian yang menatap Niki dengan tajam. "Itu ide yang sangat buruk, hanya wanita saja yang boleh mencium baby Eve," sahut Abian dengan cepat.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Kenzi yang sangat penasaran.


"Karena itu peraturanku," sahut Abian.


"Hah, tidak bisa aku bayangkan dengan nasib Eve nantinya, melihat Daddy nya yang sangat posesif." Vivian menggeleng-gelengkan kepala melihat kakak ipar yang menurutnya sangatlah aneh.

__ADS_1


"Ayolah Uncle, aku sangat ingin mencium pipinya yang seperti bapao itu," rengek Niko.


"Tetap tidak boleh." Tolah Abian yang seketika raut wajah Niko dan Niki cemberut.


"Dasar pelit," ejek Niki, sedangkan Abian hanya acuh tak acuh.


"Jika aku nantinya mempunyai anak, aku tidak akan melakukan pengawasan seketat itu," celetuk Rayyan.


"Ck, bahkan kamu sendiri belum menikah," cibir Kenzi.


"Heh, dua minggu lagi aku akan menikah," jawab Rayyan yang membusungkan dada dengan bangga.


"APA?" Abian, Kenzi, Lea sangat terkejut mendengar penuturan dari pria tampan di hadapan mereka.


"Bagaimana bisa? Bahkan kamu saja tidak mempunyai kekasih."


"Jangan meragukan aku, kak Abian. Karena dad Zean dan papa Bara sudah merestui aku," jawabnya sombong. Lagi-lagi mereka terkejut dan hampir tak percaya.


"Hei, sejak kapan kamu memanggil sebutan papa kepada papaku?" Ketus Kenzi.


"Balum lama ini, dan Vivian juga memanggil hal yang sama dengan dad Zean dan juga Mom Caroline."


"Astaga, sepertinya aku melewatkan begitu banyak," gumam Kenzi.


"Biar aku yang menjelaskan," sela Vivian.


"Cepat katakan," desak Kenzi yang tidak sabar.


"Papa Bara dan dad Zean bertaruh, dan jika aku jatuh cinta kepada pria itu dalam dua minggu, maka kami akan menikah. Sungguh, itu taruhan yang sangat menyebalkan." Jelas Vivian yang menghela nafas dengan dalam dan mengeluarkan secara perlahan.


"Sudah aku duga, jika keluarga kita sangatlah aneh. Ternyata penyebabnya dari mereka," ujar Kenzi yang jengah.


"Hah, aku tidak yakin jika dia Mendapatkan adik iparku dalam waktu yang cukup sempit," celetuk Abian yang sangat antusias.


"Benarkah? Tapi aku merasa, Rayyan akan berhasil menaklukkan adikku," sahut Kenzi.


"Mau bertaruh?" Ajak Abian yang tersenyum mengejek.


"Deal, aku terima tantanganmu! jika kamu kalah, maka mobil keluaran terbarumu akan menjadi milikku."


"Tidak masalah, dan jika kamu yang kalah? Aku juga mengambil mobil yang paling mahal milikmu," ucap Abian.

__ADS_1


"Astaga? Kenapa aku bisa terlibat dengan keluarga seperti mereka." Vivian menggaruk pangkal hidung yang tidak gatal.


__ADS_2