
Aroma yang semerbak tercium oleh beberapa orang yang melewati dapur, seakan makanan itu yang memanggil mereka untuk di santap. Kenzi sangat senang karena di anugrahi seorang istri yang menurutnya sangat sempurna, sorot matanya berbinar saat melihat kedatangan Kayla yang membawa ayam bakar kesukaannya itu.
"Aromanya sangat mengugah selera," gumamnya yang hampir meneteskan air liur karena menginginkan ayam bakar. Kayla menata makanan di atas meja makan dan mengambilkan nasi dan juga lauk pauk yang ada di atas piring. Kebahagiaan Kenzi sirna saat melihat enam orang anak kecil yang juga duduk rapi di kursi, pandangan mata yang tak lepas dari piring yang berisi ayam bakar favorit semua orang.
"Astaga...kenapa kalian ada di sini?" celetuk Kenzi yang tak habis pikir dengan para keponakannya.
"Aroma ayam bakar itu mengundang kami untuk menikmatinya," sahut Alex yang membalikkan piring yang tertelungkup dari atas meja, mengambil nasi dan juga ayam bakar.
"Kalian sudah makan beberapa menit yang lalu, jangan menjadi serakah," cetus Kenzi.
"Memangnya kenapa? Kami hanya penasaran dengan aromanya yang sangat wangi dari ayam bakar itu," sela Niko yang mengendus aroma makanan.
"Aku tak menyangka jika hidung kalian sangatlah peka terhadap aroma makanan, bahkan dalam jarak yang jauh," cibir Kenzi.
"Tentu saja, Paman menyukainya!? itu salah satu kelebihan yang kami miliki," jawab Niko sekenanya.
"Hem." Kenzi hanya berdehem tanpa menghiraukan para keponakannya itu. Kayla memegang bahu suaminya dengan lembut sembari menganggukkan kepala dengan perlahan.
"Tenang saja, aku memasak banyak!" ujar Kayla yang sudah hafal dengan para keluarga Wijaya yang selalu mementingkan urusan perut apalagi triple A dan twins N sangat menyukai makanan lezat.
"Bibi yang terbaik," sela Niki yang yang mengacungkan kedua jempol tangan sembari tersenyum bahagia. Tanpa menunggu lagi, mereka memulai mengambil nasi dan juga lauk pauk yang ada di atas meja. Melihat dengan jelas bagaimana keenam anak itu makan dengan sangat lahab, mereka menyukai masakan Kayla yang sangat lezat.
"Akhirnya perut kecilku ini terisi, bahkan masakan Bibi Kayla lebih baik di bandingkan Mom Anna," ucap Niki yang memberi penilaian, menyenderkan punggung dan melonggarkan ikat pinggang yang melilit.
"Inilah hidup yang sebenarkan, aku sangat menyukai masakan Bi Kayla. Sangat lezat, sayang sekali jika aku sudah kenyang dan tidak ada muatan lagi di dalam lambung kecilku ini," sambung Niko mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
__ADS_1
"Masakan Bibi Kayla sangat fantastik, aku bahkan ingin menambahnya lagi. Sayang sekali jika perutku sudah penuh," tambah Alex.
"Wah, aku menjadi tersanjung dengan itu. Syukurlah, jika kalian menyukai masakanan ku," jawab Kayla yang tersenyum di wajah, membuat pesona kecantikan bertambah.
"Ck, kalian pintar sekali mencari perhatian istriku." Kenzi menatap kesal dengan Alex, Niko, dan Niki yang pintar sekali dalam memuji, itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
Setelah selesai makan Kenzi menyeret tangan istrinya dengan sangat lembut, membawanya ke kamar, Kayla sedikit penasaran hingga menanyakannya.
"Kenapa kamu menyeret tanganku? itu tidak baik meninggalkan anak-anak yang masih berada di meja makan."
"Memangnya kenapa?mereka sekarang sudah besar dan tidak perlu penjagaan ketat, aku hanya ingin menjenguk Baby ku saja," jawab Kenzi dengan enteng yang tanpa menoleh, meninggalkan keenam anak kecil yang menatap kepergian mereka.
"Apa paman Kenzi selalu begitu?" tanya Baby yang menatap Alex.
"Ada apa dengannya?" apa aku salah bicara?" Baby melihat punggung Alex sambil menautkan kedua alisnya.
"Dia memang seperti itu dengan orang yang baru saja dia kenal, tapi tenanglah! sifat dinginnya itu akan berubah seiring dengan waktu," celetuk Lexi yang memahami sifat kakak kembarnya.
"Apa maksudmu?" Kayla menelan saliva dengan susah payah, seakan tau apa yang di inginkan oleh suaminya.
Melihat Kenzi yang membuka pintu kamar dan menutupnya kembali dengan mengunci, berharap tidak ada yang Mengganggunya dari acara sakral hubungan intim suami istri. Tanpa menungu lama, Kenzi mulai mencium bibir Kayla. Ciuman yang sangat pelan dan menikmati setiap detiknya tanpa terlewatkan, hingga ciuman yang berlangsung sepuluh menit berubah menjadi ciuman menuntut. Ingin rasanya Kayla menolaknya, tapi kekuatan dari suaminya yang berhasrat tidak bisa dia kendalikan.
Sementara Lexa, Lexi dan twins N memilih untuk duduk di sofa empuk di ruang keluarga, perut yang kenyang membuat mereka sangat malas melakukan apapun.
"Bukankah kedua orang tua memintamu untuk pulang?" tanya Lexa menatap Baby.
__ADS_1
"Itu benar. Hanya saja aku sangat malas untuk pulang, peraturan di Mansion ku sangatlah ketat dan alasan keduanya ialah tidak ada teman di sana."
"Anggaplah ini mansion mu sendiri," celetuk Niko yang merangkul pundak Baby dengan senyum khas di wajahnya.
"Sudah beberapa kali aku katakan kepadamu untuk tidak meletakkan tanganmu di pundakku," cetus Baby yang menghempaskan tangan Niko yang bertengger di bahunya.
"Kenapa kamu cepat sekali marah? aku hanya ingin berusaha untuk mendekatimu saja," sahut Niko dengan enteng.
Perdebatan di antara kedua anak berlain jenis membuat Niki bosan dan lebih memilih menghidupkan televisi setelah menemukan remote yang terselip di sofa yang yang tak jauh darinya, sedangkan Lexa dan Lexi hanya diam dan menyaksikan perdebatan itu.
"Berhentilah mengangguku, Niki." Kesal Baby yang salah menyebutkan nama, dia tidak bisa membedakan antara Niko dan juga Niki hingga sering kali salah.
"Apa? aku hanya duduk diam sambil menonton televisi, apa masalahmu sebenarnya?" sela Niki yang jengah karena merasa namanya di panggil.
"Eh, aku salah orang lagi. Tapi itu bukan kesalahanku sebenarnya, kalian saja yang membuatku pusing saat membedakan kalian yang tidak ada bedanya," ucap Baby yang tak ingin di salahkan.
"Lalu? apa kesalahanku untuk itu?" Protes Niki yang mendelik sembari meninggalkan tempat itu dan menuju kamarnya.
"Kenapa dia cepat sekali marah? aku tidak salah mengatakan jika sangat sulit untuk membedakannya," gumam Baby yang masih terdengar jelas.
"Itu anugrah yang harus di syukuri," tukas Niko yang kembali meletakkan tangannya di bahu Baby, memasang raut wajah songongnya.
"Kenapa kamu selalu menganggu? Singkirkan tanganmu di bahuku," ketus Baby yang terus menghempaskan tangan Niko dengan kasar, bukan Niko namanya jika tak membuat orang lain kesal dengan ulahnya.
"Jangan menganggu Baby kalau tak ingin aku adukan kepada paman El," ancam Lexa yang jengah dengan sepupunya. Dengan terpaksa Niko berhenti menganggu Baby dan memutuskan untuk ke kamarnya, berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Di ruangan itu hanya ada Lexa, Lexi dan Baby yang menghabiskan waktu untuk bermain.
__ADS_1