
Rayyan yang telah selesai dengan keperluannya kepada Kenzi pun pamit untuk pergi dan kembali dengan rutinitasnya, yaitu ke kantor. Vivian sedikit kecewa karena baru saja dia bertemu dengan Rayyan, "secepat itu? bukankah kamu memiliki seorang asisten? minta dia saja yang mengerjakannya, bagaimana jika kita pergi ke Danau?" ajak Vivian dengan semangat.
"Tidak, kamu pergi saja sendiri." Tolak Rayyan dengan tegas membuat Vivian sedikit kecewa, dia menatap punggung Rayyan yang menghilang dari balik pintu. Hingga dia memutuskan untuk pergi, "Kak, aku pergi dulu!" pamitnya dengan wajah yang cemberut, Kenzi dan Kayla melihat dengan jelas.
"Baiklah, hati-hati di jalan dan jika terjadi sesuatu maka telfon Kakak mu ini," tukas Kenzi yang membusungkan dada.
"Baiklah, jangan memata-matai aku lagi. Aku hanya ingin sendiri saja," cetus Vivian yang berlalu pergi meninggalkan sepasang suami-istri itu.
"Aku rasa Vivian menyukai Rayyan, terlihat jelas dengan tindakannya," ucap Kayla yang menoleh ke arah Kenzi.
"Aku tidak peduli akan hal itu, jika ada yang menyakiti adikku, maka aku akan membunuhnya!" jawab Kenzi.
"Ck, terserah padamu saja. Aku pergi dulu, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan," ucap Kayla yang ingin keluar dari Mansion, dengan cepat Kenzi menggendong tubuh istrinya dan menaiki tangga menuju kamar.
"Hei, kenapa kamu menggendongku dengan tiba-tiba? turunkan aku!" pekik Kayla yang tak di hiraukan oleh Kenzi. Langkah Kenzi terhenti saat melihat 5 pasang mata yang menatapnya dengan tajam, "apa yang Paman lakukan kepada Bibi Kayla?" ucap Niko dengan polos.
"Ck, kalian selalu saja menggangguku. Pergilah ke kamar kalian," sahut Kenzi dengan kesal.
"Apa kamu tidak malu dengan mereka? cepat turunkan aku," desak Kayla.
Kenzi sangat kesal dengan kehadiran kelima keponakannya yang selalu saja membuat hari-harinya tersiksa, hingga dia mempunyai ide yang seakan muncul di waktu yang tepat.
"Apa kalian ingin seorang adik?" kata Kenzi yang membuat mata kelima anak-anak itu berbinar dengan indahnya.
"Tentu saja kami mau," jawab mereka dengan serempak.
"Maka menyingkirlah dari jalan ku."
__ADS_1
"Tapi bagaimana itu terjadi?" tanya Alex.
"Butuh waktu berapa lama kami mempunyai seorang adik?" sambung Lexa.
Kenzi menghela nafas dengan kasar sambil mengontrol emosinya saat berhadapan dengan bocah berusia 7 tahun itu, "jangan pikirkan caranya, tapi hasilnya. Dan mengenai bagaimana itu terjadi? serahkan saja kepada Paman kalian yang sangat tampan ini, tapi sebelum itu menyingkirlah. Jangan halangi jalanku," ucap Kenzi yang menyombongkan dirinya.
"Baiklah," sahut mereka dengan kompak.
"Jangan dengarkan perkataannya, mereka akan menyiksa ku," seloroh Kayla yang meminta pertolongan kepada triple A dan twins N.
"Benarkah begitu Paman?" tanya Niki dengan tatapan penuh selidik.
"Kalian percaya kepadaku atau kepada Bibi kalian ini? jika kalian memilihku, maka tidak lama lagi kalian akan punya seorang adik yang sangat lucu dan menggemaskan, bagaimana?"
"Jangan percaya kepadanya, itu hanyalah trik saja."
Kenzi tersenyum puas sembari mengangkat jempolnya ke arah triple A dan twins N, "good job."
"Sangat curang, cepat lepaskan aku sebelum aku menghajarmu," pekik Kayla yang berusaha untuk memberontak.
"Diamlah, kita akan bermain jungkat-jungkit. Itu sangat menyenangkan dan mengenai urusannu di markas, urus saja nanti."
"Bagaimana dengan wilayah selatan itu? kembalikan dulu dan aku akan melayanimu," kata Kayla.
"Aku tidak mengetahui hal itu, tapi akan aku usahakan dan meminta Bram untuk menyelidikinya. Lupakan itu, layani hasratku terlebih dahulu," ucap Kenzi tak merasa malu walau banyak pelayan yang mendengarkan pembicaraan mereka.
Bara dan Naina yang melihat bagaimana tingkah sang anak dari kejauhan hanya menggelengkan kepala, "pantas saja menantuku itu mengeluh," tutur Naina.
__ADS_1
"Jangan mengurusi masalah anak muda, jika kamu ingin kita bisa membuatkan adik untuk Kenzi dan Vivian, bagaimana?" sajut Bara yang menggoda istrinya.
"Ingatlah umurmu sekarang," ucap Naina yang menepuk lengan suaminya sembari berlalu pergi menuju dapur.
"Ck, hubungan suami istri tidak melihat umur asalkan kuat dalam berirama," pekik Bara di sela-sela tawanya, Naina menghentikan langkahnya sembari melemparkan sebuah jeruk yang tak jauh dari jangkauannya tepat mengenai mulut Bara.
"Di mansion ini masih banyak anak kecil, jika sekali lagi kamu mengatakan hal itu? bukan hanya buah jeruk saja yang masuk ke dalam mulutmu, melainkan buah durian."
Aku mengatakan hal yang benar, apa aku salah?" gumam Bara yang pergi meninggalkan tempat itu.
Kayla yang awalnya menolak menjadi pasrah, apalagi sentuhan Kenzi membuatnya juga berhasrat. Keduanya kembali menaungi gairah panas yang menuju puncak, Kenzi memainkan intonasi saat mendengarkan nada-nada indah yang keluar dari mulut sang istri membuatnya memajukan tempo dan mencapai puncak dari permainan itu. Keringat di sekujur tubuh menjadi saksi bisu di gerumulan panas samudra cinta.
****
Seorang gadis cantik dengan setelan jas putih yang melekat di tubuhnya menunggu seorang pria di ruangan Ceo, wajah yang tersenyum dan sesekali melirih jam yang melingkar di tangannya, "kenapa Kenzi belum pergi ke kantor? dia tidak pernah terlambat sekalipun," monolog wanita itu yang tak lain adalah Melodi.
Sudah 2 jam lebih dia menunggu Kenzi dengan penuh harapan untuk mengajak pria itu berkencan, sedangkan yang di tunggu sedang menjelajahi hasrat yang ke dua kalinya dengan durasi yang lama.
"Kenap bos mu belum berangkat kerja? sebelumnya dia tidak pernah terlambat," ucap Vanya yang menatap Amar dengan nanar.
"Saya juga tidak tahu, Nona. Semenjak menikah, tuan Kenzi selalu datang terlambat." Mendengar ucapan Amar, membuat Melodi sangat marah dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Melodi mengemudikan mobilnya menuju Mansion wijaya, dia sangat kesal dengan Kayla yang merebut cinta nya. "Aku akan membuat perhitungan kepadamu Kayla, kamu belum tahu siapa aku sebenarnya. Aku akan membuatmu di benci oleh Kenzi dan berpaling," monolognya sembari tersenyum smirk. Melodi tidak tau jika Kayla tidak bisa diremehkan, apalagi rivalnya itu adalah pemimpin Mafia Sky Blood.
Mobil berhenti di perkarangan Mansion dan turun dari mobilnya sambil berjalan dengan tergesa-gesa, dia tidak menghiraukan para pelayan ataupun petugas keamanan. Dengan cepat dia memdobrak pintu kamar Kenzi yang lupa akan menguncinya, hatinya sangat sakit melihat kondisi pria yang dia cintai tidur bersama wanita lain.
Kenzi menoleh ke asal suara dan menatap Melodi dengan tajam, "berani sekali kamu mendobrak pintu kamarku! dasar tidak tau malu," ucap Kenzi yang kembali membuat Melodi merasakan sakit dseperti tertusuk duri.
__ADS_1