Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 98 - Salah paham yang menguntungkan


__ADS_3

Seseorang terbangun dari tidurnya, mengucek kedua mata sambil sesekali menguap, mengeliatkan tubuhnya dan tersenyum.


"Bagaimana dengan tidurmu? Apakah sangat nyenyak," ucap seseorang yang menyunggingkan senyuman khas miliknya.


"Sangat nyenyak sekali," jawab Vivian, satu detik...dua detik, dan hitunganketiga detik dia sadar jika ada orang di kamarnya. Vivian langsung membelalakkan kedua mata, hampir saja terlepas dar tempatnya saat melihat kehadiran seorang pria yang tak lain adalah Rayyan.


"Halo, Sayang!"


"Arrghh...dasar pria mesum, apa yang kamu lakukan di dalam kamarku?" Pekik Vivian yang menjauhkan tubuhnya sembari menutupi hingga di batas leher.


"Melihat mu yang tertidur, sangat menyenangkan sekali."


"Apa kamu melihat semuanya?" Ujar Vivian yang menatap pria itu dengan nanar, dengan cepat Rayyan mengangguk mengiyakan ucapan dari Vivian. "Aku tidak suci lagi, dia merenggut keperawanan ku," racau Vivian setengah kesadarannya.


"Siapa yang berani melecehkan Vivian?" Gumamnya yang saat itu Abian berjalan melewati kamar Vivian dan mendengar penuturan dari adik iparnya, masuk ke dalam kamar Vivian karena sangat mencemaskannya.


Abian mendobrak pintu bak pahlawan kesiangan, berlari menghimpit tubuh Rayyan dan memukulnya secara bertubi-tubi.


"Ampun...ini aku Rayyan, tolong hentikan ini!" cetusnya yang terus melindungi wajahnya yang di pukul.


Seketika Abian berhenti menghajar Rayyan. "Suaranya terasa tidak asing!" Abian sangat penasaran hingga menanyakannya. "Siapa kamu?" Sedangkan Vivian tersenyum dengan wajah tanpa dosa, dia sangat senang melihat Rayyan langsung mendapatkan karmanya.


"Rayyan?" Abian sedikit malu dengan tindakan gegabahnya, berusaha untuk tetap cool tanpa meninggalkan kesan jelek. Rayyan mendorong tubuh Abian, wajahnya kembali cemberut selalu saja di ganggu.


"Ya, ini aku. Apa Kakak sudah puas memukuli wajahku?" Ketus Rayyan yang memegang pipinya.


"Aku mendengar suara teriakan Vivian dan berpikir jika itu seorang penjahat yang akan melukainya, dan kenapa kamu berada di sini?" Tanya Abian yang berdiri.

__ADS_1


"Karena aku ingin, jika calon istriku melihat wajah tampanku di pagi hari. Bukankah itu sangat menyenangkan?!" Rayyan kembali membenarkan pakaiannya yang sedikit kusut.


"Terserah padamu saja, sejak kapan kamu ada di sini?


"Jam tiga dini hari," sahut Rayyan dengan bangga.


"APA? Itu berarti kamu melihatku tertidur?!" Vivian kembali membelalakkan kedua matanya, terkejut dengan kejujuran pria itu.


"Bahkan aku melihat bagaimana kamu mendengkur, dan juga mengences."


"Ini di luar urusanku, sebaiknya aku pergi saja." Abian berlalu pergi meninggalkan kedua insan di dalam kamar itu. Vivian dan Rayyan mengalihkan pandangan mereka menatap punggung Abian yang menghilang dari balik pintu.


"Apa kamu sudah gila?" Pekik Vivian gang mnggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku tergila-gila karena mu, ayo kita pergi berkencan!" ajak Rayyan yang menjulurkan tangannya.


"Baiklah, tapi sebelum itu keluarlah dari kamarku."


Vivian berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang sangat malas, membersihkan diri yang hanya menghabiskan waktu 15 menit saja. Dia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan juga handuk biru muda yang melingkar di tumbuh Vivian. Seseorang menelan saliva dengan susah payah saat melihat pemandangan yang membuat sesuatu di bawah sana beraksi.


Vivian tidak menyadari jika Rayyan belum beranjak pergi dari kamarnya, mengganti pakaian dalam dengan memunggungi pria yang sedari tadi tidak bisa berkedip. Pikiran liar mulai menjelajah sangat jauh, pemandangan indah karena kecerobohan wanita itu.


Vivian berbalik badan saat telah mengenakan pakaian dalam, dia berteriak sangat keras sembari menutupi tubuh mulusnya menggunakan handuk yang terjatuh di lantai. Beberapa detik kemudian, Rayyan berdiri di hadapan Vivian dan mencium bibir merah merekah.


Rayyan yang sangat bergairah meluapkannya dengan memperdalam ciuman itu, mengabsen gigi rapi dan putih. Dia berusaha untuk melepaskan tubuh pria itu, tetapi bukan terlepas yang dia dapatkan melainkan Rayyan semakin menekan tubuhnya.


"Kamu sendirilah yang memancing hasratku," bisik Rayyan yang kembali mencium Vivian.

__ADS_1


"Dasar pria kurang ajar," pekiknya di dalam hati berusaha untuk melepaskan dirinya dari cengkraman pria itu. Rayyan yang tersenyum smirk saat melihat pegangan pintu bergerak, tak melewatkan kesempatannya untuk mendapatkan Vivian dengan cara yang instant.


"Selagi ada cara cepat, kenapa aku harus menunggu Hingga sepuluh hari." Batin Rayyan, itulah yang di pikirkan nya ini. Apalagi dia sudah sangat berhasrat saat melihat wanitanya tanpa busana, dia merobek baju Vivian dengan paksa.


"Hei, dasar pria mesum."


Posisi yang sangat pas dengan beberapa kondisi yang sangat sesuai membuat mereka seperti sedang melakukan hubungan suami istri. Vivian ingin berusaha memberontak, tapi lengannya masih terasa ngilu jika bekerja terlalu keras.


"Hah, apa ini?" Naina yang sangat terkejut itu tak sengaja menjatuhkan segelas jus untuk putrinya, mulutnya melongo saat melihat kejadian itu. "Suamiku...suamiku, kemarilah! lihat apa yang sedang terjadi," teriak Naina yang sangat heboh mengundang semua orang datang menghampiri asal suara.


"Ini semua karena ulahmu." Vivian sangat marah dengan perlakuan Rayyan kepadanya.


"Aku akan mendapatkanmu bagaimanapun caranya, sebelum asisten Amar dan ibunya kembali mendekatimu."


"Dasar pria licik."


"Apapun demi cinta," jawab Rayyan tersenyum licik.


Tak lama datanglah para tetua di kediaman Wijaya, mereka sangat terkejut dengan kejadian itu. "Sialan, berani sekali kamu melecehkan putriku," pekik Bara yang menarik tubuh Rayyan dan menyelimuti tubuh putrinya, dengan cepat dia melayangkan tinjuan mentah di wajah Rayyan karena menodai istrinya.


Sedangkan Nathan menghubungi Zean karena ini menyangkut anaknya yang telah berani melecehkan putri dari keluarga Wijaya.


"Kenapa anak-anakku bernasib seperti ini?" Naina menangis mengenai kejadian ini. Sedangkan Al, El, dan Abian terlihat sangat marah dengan kejadian yang sangat memalukan. Tapi tidak dengan Kenzi yang tersenyum samar saat memahami situasi sebenarnya, dia sangat mengenal sahabatnya itu. "Ck, dia sangat licik dalam membuat orang lain percaya, tapi aku sangat yakin jika ini adalah jebakan." Di satu sisi juga sangat senang, itu artinya dia menang dalam taruhan dan mobil terbaru milik Abian akan menjadi miliknya.


"Astaga, karena ulah bodoh dari Rayyan membuat aku kehilangan mobil terbaruku. Dasar tidak berguna!" umpat Abian di dalam hati.


"Berani sekali kamu memperkosa putriku, aku sangat mempercayaimu tapi kamu malah bertindak nekat. Kalian akan aku nikahkan?!" ucap lantang Bara yang menendang tubuh Rayyan hingga terjungkal.

__ADS_1


Rayyan tidak melawan serangan itu, hanya menerima dengan pasrah. "Aku rela menanggung semua kebencian semua orang, tapi aku bisa memilikimu dengan sepenuhnya," batin Rayyan yang tersenyum samar sembari menatap Vivian.


Zean yang baru datang bersama dengan Caroline sangat terkejut dengan kabar yang memalukan itu, seketika dia menjadi tersenyum saat mendapatkan saham lima belas persen dari Bara. Dia sangat mengenal putranya dengan sangat baik, tak akan berani mengambil kesucian dari wanita yang dia cintai.


__ADS_2