Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 62 - Merasa tertindas


__ADS_3

Kenzi sangat kesal dengan nasibnya yang malang, tidak pernah bisa mengalahkan kecerdasan Niki yang akan menjadi pemegang sahamnya 2 persen. Amar bisa melihat bagaimana Kenzi yang frustasi dengan permintaan Niki saat datang di kantor sendirian di antar oleh supir.


"Kenapa Paman melamun saja? aku datang untuk meminta hak ku dan sebagai penyewa kamar saat darurat," tuturnya.


"Apa? ini sebenarnya tidak adil dan 2 persen saham di batalkan saat kamu menendangku hingga terjerembab ke lantai, kamar yang sangat tidak nyaman untukmu. Andai saja otakku lebih keras dalam berpikir, dan aku pastinya tidak akan mau tidur di kamarmu itu."


"Kenapa Paman tampak stress begitu? apa aku salah jika hanya meminta persenan saham? nyaman atau tidaknya itu tergantung selera. Aku ingin bagianku dan tidak ingin pulang sebelum mendapatkan 2 persen saham dari perusahaan Paman," jelas Niki yang melihatkan dua jarinya di hadapan pamannya.


Kenzi mendengus kesal, "setan ini selalu saja membuat aku rugi, sifat mata duitannya sama dengan pak pitak," batin Kenzi.


"Ck, jangan mengumpatku di dalam hati Paman."


"Eh, apa kamu bisa membaca pikiran?" sontak Kenzi yang sedikit terkejut, tapi dengan cepat Niki menggelengkan kepalanya, "tidak juga, hanya terlihat di wajah bodohmu, Paman."


Seketika Amar yang mendengarkan perdebatan itu menjadi hiburan baginya, dia tertawa dengan sangat keras sembari memegang perutnya seperti di gelitik, "oh ya tuhan, ternyata tuan Kenzi mati kutu saat berhadapan anak kecil itu," gumamnya di dalam hati.


"Berhenti tertawa atau mulutmu aku sumpal dengan sepatuku," tegas Kenzi yang menoleh ke sampingnya dengan raut wajah dingin.


"Apa yang Paman tertawakan?" tanya Niki polos.


"Maaf Tuan, saya menertawakan induk kucing saya yang di suntik vaksin. Apalagi wajahnya itu yang benar-benar sangat lucu," sahut Amar.


"Kapan Paman menyuntik kucingnya?" selidik Niki dengan tatapan seperti seorang polisi yang menginterogasi para tahanan. Seketika Amar menelan salivanya dengan susah payah, mengingat pekerjaannya yang ada di ambang batas.

__ADS_1


"Sebelum berangkat ke kantor Tuan," jawab Amar sekenanya.


"Baiklah." Niki kembali menatap Kenzi dengan wajah bahagia karena sang Paman telah menandatangani berkas 2 persen saham untuknya.


"Huh, hampir saja. Tatapan keluarga Wijaya membuatku hampir tak berkutik, benar-benar tajam!" batin Amar yang mengelus dadanya.


"Karena urusan kita sudah selesai, sebaiknya aku pergi dulu. Paman yang terbaik," ucap Niki yang keluar dari ruangan CEO milik pamannya itu. Kenzi menatap punggung Niki yang menghilang sebalik pintu dan kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda akibat salah satu perusuh di keluarga Wijaya.


"Jika saja dia bukan salah satu keluarga Wijaya, sudah pasti aku akan menyentrum mulutnya itu," gumam Kenzi yang terdengar samar oleh Amar. Ada beberapa pertanyaan yang ada di benak Amar dan memutuskan untuk mengungkapkannya, "Tuan, ada yang ingin saya tanyakan."


"Hah, aku hampir lupa jika kamu masih ada di ruangan ini," sahut Kenzi yang menoleh ke arah asisten, "ada apa?" tanyanya.


"Astaga....bahkan aku dari tadi berdiri saja dan tubuhku juga sebesar ini dia mengatakan lupa dengan keberadaanku? andai saja aku terlahir kembali dan tidak ingin berurusan dengannya," batin Amar yang mencoba untuk mempertebal kesabaran.


"Darimana kamu mengetahuinya?" tanya Kenzi penuh selidik.


"Aku selalu stalking sosial medianya, Tuan." Amar tak ingin berbohong dan lebih berkata jujur untuk mendapatkan hati seorang tuan yang sebentar lagi menjadi kakak iparnya, begitulah yang dia pikirkan.


"Apa kamu juga menyukai adikku yang tomboy itu? sehingga mencarinya di sosial media?"


"Itu benar."


"Bersiaplah untuk patah hati, karena Vivian telah menjadi kekasih dari Vero." Kenzi merasa terhibur dengan dua orang yang patah hati akibat ulah adiknya itu, dia tidak ingin ikut campur dalam asmara Vivian. Hanya di perlukan saat keadaan darurat jika sang adik di permainkan oleh laki-laki.

__ADS_1


Waktu seakan berhenti membuat rasa gemuruh di hati, ucapan dari Kenzi membuatnya seakan berdenyut. Suasana yang sangat menyedihkan, kesal, patah hati yang di rasakan oleh Amar.


"Bagaimana itu bisa terjadi? apa Vivian sedang di hipnotis oleh pria itu?" karena perasaannya yang terluka, membuat Amar meninggikan suara seraya menggebrak meja kerja sang atasan dengan sangat keras membuat Kenzi sangat terkejut.


"Dasar sialan, apa kamu ingin di pecat?" ucap Kenzi yang juga meninggikan suaranya dengan lantang membuat Amar sadar.


"Ma-maaf Tuan, aku tidak bermaksud untuk membuat Tuan terkejut." Dengan cepat Amar menundukkan kepalanya dengan hormat dan keceplosan.


"Tapi itulah yang terjadi sekarang, dasar asisten jahanam. Berhentilah bekerja karena kamu telah di pecat!" Kenzi berdiri dari kursi kebanggaannya sembari menunjuk wajah menyedihkan dari asistennya.


Amar segera berlutut dengan raut wajahnya yang sangat gusar, "tolong hukum saya saja Tuan, tapi jangan di pecat. Apa yang akan Ibu saya katakan jika anaknya di pecat!"


"Aku tidak peduli, itu pantas untuk mu karena telah berani menentangku."


"Aku akan melakukan apapun Tuan!"


"Baiklah, aku akan mengampunimu. Tapi aku ingin jika kamu membelikanku es yang segar karena aku ingin menyegarkan pikiranku," tutur Kenzi yang sebenarnya tertarik saat melihat gerobak Es lilin di jalanan saat menuju kantor.


"Akan saya carikan Tuan, apapun agar tidak di pecat," bujuk Amar yang tidak ingin kehilangan cita-citanya sebagai asisten di salah satu perusahaan Wijaya yang di kelola oleh Kenzi, apalagi ibu Amar juga menceritakan pekerjaan anaknya yang berkelas di kampung. "Apa nama dari Es itu Tuan?"


"Entahlah, aku juga tidak tau. Kamu cari saja Es yang ada di jalan durian nomor 15 saat kita menuju ke kantor dan pergilah dari sini," pinta Kenzi sembari mengusir bawahannya.


Amar keluar dari ruangan sembari memikirkan Es apa yang di maksud oleh tuannya, apalagi tidak ada ciri-ciri untuk di jadikan bukti petunjuk, "sial, bahkan tuan tidak meninggalkan petunjuk mengenai ciri-ciri nya," umpat Amar yang berjalan menuju lantai satu dengan menaiki lift khusus.

__ADS_1


Kenzi yang ingin bekerja kembali terganggu dengan rasa rindunya kepada sang istri, dia merasa enggan untuk bekerja dan dengan cepat mengambil kunci mobil dan turun ke lantai yang paling bawah. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju mansion, "aku sangat merindukan istriku," gumamnya sembari melihat seikat bunga mawar berwarna merah yang dia beli di toko bunga. Kenzi tak menghiraukan dan mempedulikan bagaimana Amar yang sedang mencari Es yang dia inginkan itu.


__ADS_2