Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 58 - Air mata Abian


__ADS_3

Semua orang sangat mencemaskan keadaan Lea dan segera membawanya ke rumah sakit untuk menangani agar tidak terlambat, Dita tak henti-hentinya menangis dan memeluk tubuh Lea di atas pangkuannya.


"Sayang, buka matamu. Jangan membuat ibu sedih, ayo buka matamu!" lirih pelan Dita yang menepuk pipi anaknya dengan pelan. Nathan berusaha menenangkan istrinya, jauh di lubuk hatinya yang sangat sedih dengan penderitaan putri kesayangannya. Mengelap cairan bening yang hinggap di pelupuk matanya agar tidak terlihat oleh orang lain, Nathan mengambil ponsel yang ada di saku celana dan menghubungi menantunya, Abian.


"Halo."


"Cepat datang ke rumah sakit Wijaya, keadaan Lea semakin memburuk."


Abian memutuskan sambungan telfonnya dan bergegas menuju lokasi tanpa memikirkan panggilan dari Kenzi dan juga twins L, Abian bergegas masuk ke dalam mobil dan menuju rumah sakit, menerobos lampu lalu lintas.


Dita terus menangis saat perjalanan menuju rumah sakit, badan Lea menimbulkan reaksi kejang membuat semua orang semakin kalab, "bisakah mobil ini berjalan lebih cepat lagi," bentak Nathan dengan lantang.


"Baik Tuan besar," sahut pak supir yang menambah laju mobil.


Hingga mobil berhenti di depan rumah sakit keluarga, Nathan memanggil para dokter dan suster yang berada di sana, "Dokter....suster, dimana kalian? cepat selamatkan putriku," lantang Nathan tanpa menghiraukan beberapa keluarga pasien yang melihat kejadian itu.


Jimmy segera keluar dengan beberapa suster yang membawakan brankar dan membawa Lea menuju salah satu ruang VVIP, tempat Kayla di tangani dengan sangat baik, "Lea kejang? berapa lama ini terjadi?" tanya Jimmy yang menatap Nathan.


"Kejang terjadi selama 15-20 detik disertai dengan kedutan pada wajah, kemudian dilanjutkan dengan munculnya kontraksi otot di seluruh tubuh," sela Kayla yang menganalisis.


"Oh ya ampun, tidak ada cara lain selain menggugurkan kandungannya itu," ucap Jimmy membuat pendengaran Lea berfungsi.


"Jika saja itu terjadi, maka aku juga akan mengakhiri hidupku," lirih pelan Lea. Jimmy bisa mendengarkan dengan jelas apa yang di ucapkan oleh Lea, dia merasa bimbang tapi segera menanganinya.

__ADS_1


Kejang berhenti membuat kesadaran Lea kembali pulih, mengerjabkan kedua matanya dan menatap Dita, Nathan, dan Kayla yang berada di dalam ruangan itu. Setelah sadar, Lea merasa sangat gelisah dan bernapas cepat karena tubuhnya kekurangan oksigen. Dengan tindakan yang sangat cepat, Jimmy memberikan tabung oksigen untuk membuat nafas Lea kembali normal. Tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk mengobati Lea yang sedikit terlambat di bawa ke rumah sakit.


Abian mencari ruangan tempat Lea di rawat, dia melihat Bara dan Naina yang ada di luar ruangan dan dengan cepat dia berlari, "dimana Lea?" desak Abian yang sangat cemas sembari menatap Bara dengan nanar.


"Dia ada di dalam," sahut Bara pelan.


Abian tidak menghiraukan apapun lagi selain istri nya, menerobos masuk ke dalam ruangan walau sudah di larang oleh suster, dia berjalan mengampiri Lea dan melihat kondisi yang membuatnya sangat menderita di bandingkan dengan yang lainnya.


"Kenapa kamu diam saja tanpa melakukan apapun?" tanya Abian tanpa melihat lawan bicaranya, perhatian yang tertuju kepada Lea.


"Cukup sulit untuk menanganinya dan aku sudah berusaha keras untuk itu."


Abian yang sangat kesal, menarik kerah leher Jimmy dengan tatapan tajamnya, "berusahalah lebih keras lagi, untuk apa kamu menjadi Dokter senior jika tak mampu mengobati apa yang di derita oleh istriku!" bentak Abian yang mencengkam kerah leher Jimmy.


"Tenangkan dirimu, lebih baik kita berdoa saja. Bukankah Kenzi dan lainnya sedang berusaha untuk menyembuhkan Lea!" tutur Nathan yang menepuk bahu menantunya.


"Cepat obati istriku, kenapa kamu hanya melihatnya saja, hah!" bentak Abian yang tak sanggup.


"Baiklah, tapi jalan satu-satunya ialah operasi dan mengeluarkan janin yang ada di perutnya." Pilihan yang di berikan oleh Jimmy membuat Abian dia terpaku, apalagi dia sudah berjanji untuk tidak melakukan aborsi.


"Kenapa aku di hadapkan dengan pilihan sulit ini?" gumamnya.


"Sebaiknya aku keluar dari ruangan ini," celetuk Dita yang berlalu pergi karena tak tega dengan nasib putrinya yang kurang beruntung. Nathan mengikuti istrinya, dia tau jika Dita sangat terluka dengan dua pilihan. Di satu sisi adalah perjuangan Lea untuk mendapatkan keturunan dan di sisi lain adalah penyakit Eklampsia yang di deritanya. Kayla yang tau dengan posisinya segara meninggalkan ruangan itu, "sebaiknya aku keluar."

__ADS_1


"Kapan operasi itu di adakan?" tanya Abian dengan nanar menatap Jimmy sendu.


"Dalam waktu 30 menit dan jika terlambat nyawa ibu dan anaklah yang menjadi taruhannya," jawab Jimmy.


Abian menatap Lea dengan sendu dan beralih menatap Jimmy, "aku percayakan kepadamu, bisakah kalian keluar dulu? aku ingin sendiri saja."


"Baik, jika itu permintaanmu!" sahut Jimmy yang berlalu pergi meninggalkan ruangan tempat Lea di rawat. Tinggallah Abian dan juga Lea, "permainan takdir ini membuat aku ingin menyerah, aku tau jika kamu sangat menginginkan anak. Tapi, aku terpaksa melakukan ini dan aku harap kamu bisa mengerti. Maafkan aku yang telah mengingkari janji dari mu, hanya saja aku tak ingin jika terjadi sesuatu kepadamu," lirih pelannya yang menatap istri tercintanya.


Seketika Abian tertawa melihat perut Lea yang sedikit membesar, "seharusnya kamu tidak ada di dalam perut istriku, kenapa kamu tidak mati saja dari awal dan sekarang lihatlah bagaimana istriku menderita karena ulahmu. Tapi kamu tenang saja, aku akan mengirimmu ke alam baka dan berkumpul dengan kakakmu yang juga telah tiada. Sebentar lagi kamu akan lenyap....akan lenyap untuk selama-lamanya," ujar Abian yang mulai kehilangan akal sembari menunjuk perut buncit Lea.


Sesaat kemudian Abian menangis dengan terisak-isak, "apa kamu marah dengan perkataan Daddy, hah? marahlah sepuas hatimu, tapi jangan siksa istriku," lirih pelan Abian yang memundurkan langkahnya karena tak kuasa dengan beban yang dia pikul. Semua orang menatap kejadian di dalam lewat pintu yang separuhnya kaca tembus pandang, tak terasa air mata Jimmy juga ikut menetes dan bisa merasakan penderitaan Abian yang sangat menyayangi calon anak yang baru berusia 5 bulan.


Abian dengan cepat mengambil ponsel dan menelfon Kenzi, hingga sambungan telfon tersambung.


"Dimana kamu sekarang?" tanya Abian yang peka.


"Sedang ada di perjalanan, membutuhkan waktu 8 menit untuk sampai ke sana."


"Apa? bagaimana ini bisa terjadi kepadaku?" Abian melihat jam yang ada di ponselnya, hitungan mundur dari 5 menit sesuai perkataan Jimmy.


"Kita tidak punya waktu lagi, karena dalam 5 menit lagi, Lea akan pergi untuk selama-lamanya, cepatlah datang dan selamatkan diriku."


"Lea adalah adik ku."

__ADS_1


__ADS_2