Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 81 - Pria gila


__ADS_3

Sambungan telfon akhirnya terhubung, membuatnya tersenyum lega.


"Apa kakak sedang sibuk?"


"Hem, lumayan. Ada apa?"


"Terjadi masalah, datanglah perusahaan NC Grup."


"Baiklah, dalam sepuluh menit."


"Ck, kenapa sangat lama sekali!"


"Karena jaraknya tidaklah dekat."


Vivian memutuskan sambungan telfon dengan kesal, menunggu sepuluh menit merupakan hal yang sangat membosankan. Rayyan tersenyum miring, melihat wanita cantik itu sedang memunggunginya yang terlihat kesal.


"Aku harap kamu berhasil," cibir Rayyan, seketika Vivian membalikkan badannya sembari menunjuk wajah calon atasannya.


"Apa kamu sedang menantangku, Tuan Rayyan?"


"Tidak, kenapa kamu sangat sensitif. Aku hanya mendoakan yang terbaik untuk wanita yang secantik dirimu." Rayyan memegang tangan kanan Vivian dan mengecupnya dengan sangat lembut.


"Brengsek, berani sekali kamu menyentuh tanganku dengan bibirmu yang kotor itu," ketus Vivian. Rayyan mengangkat tangannya untuk mengkode asisten agar keluar dari ruangannya, Dino yang mengertipun keluar dari ruang atasannya.


Vivian melayangkan tangannya ke arah wajah pria tampan di hadapannya, dengan cepat Rayyan mengunci pergerakan Vivian dalam hitungan detik. "Aku bukanlah tandinganmu," ucap Rayyan yang mengecup bibir Vivian dengan lembut. Sontak mata indah itu hampir keluar dari tempatnya, melihat celah dan membalikkan keadaan, sehingga Vivian terlepas dari cengkraman dari pria itu. menghapus jejak bibir Rayyan menggunakan kedua tangan, "berani sekali kamu menciumku," pekiknya sembari menatap tajam sang tersangka.


"Bibirmu sangat manis." Rayyan tersenyum saat melihat Vivian yang tampak menggemaskan.


Tak lama datanglah seseorang yang di tunggu oleh Vivian, langkah kaki dengan penuh kharisma. Vivian tersenyum tipis dan menghampiri Kenzi yang berjalan ke arah mereka. "Kak, aku butuh bantuanmu sekarang."


"Hah, tidak salah lagi. Pantas saja nama perusahaannya tidak asing, ternyata ini juga perusahaan mu," ucap Kenzi memeluk Rayyan tanpa menghiraukan ucapan dari Vivian yang memajukan bibirnya beberapa centimeter serta bibir yang komat-kamit seperti membacakan sebuah mantra.


"Yah, aku pria tampan, mapan, dan juga kaya raya. Tentu saja ini milikku," jawab Rayyan dengan sombong.

__ADS_1


"Sial, darimana kamu mendapatkan kesombongan itu? Sepertinya kamu banyak berubah ya?!" sindir Kenzi yang melepaskan pelukannya.


"Kamu tidak perlu tau, ada apa kamu datang kemari? Apa ingin membela adikmu?"


"Yah, seperti yang kamu tau. Ini mengenai masalah Vivian, apa yang kamu lakukan sehingga adikku sepertinya tersiksa."


"Pria itu telah menjebakku dengan sangat licik, bantu aku untuk terlepas dari perusahaannya," potong Vivian yang bergelayut manja di lengan sang kakak.


"Kenapa kamu menjebaknya? Lepaskan adikku." Lantangnya dengan sangat tegas.


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Dia sudah menandatangani isi kontrak, tapi ada pilihan kedua untuk membatalkannya," kata Rayyan yang tersenyum tipis, sedangkan Vivian memicingkan kedua mata menelusuri dari ujung rambut hingga di ujung kaki calon bosnya.


"Katakan!" desak Kenzi.


"Ada satu cara, yaitu dengan menikahi Vivian denganku dan kamu menjadi kakak ipar, bagaimana?" tawar Rayyan dengan antusias.


"Apa tidak ada cara lain lagi, apa aku perlu menunjukkan kekuasaan dari keluarga Wijaya?"


"Aku tidak peduli."


"Stop! jangan katakan kalimat itu di bibir kotormu, Lakukan sesuatu, Kak." Vivian mengangkat tangannya di hadapan Rayyan sepersekian detik dan kembali mengalihkan perhatiannya menoleh ke arah Kenzi.


"Lebih baik kamu terima saja untuk bekerja di sini, bukankah kami sudah menawarkan pekerjaan di perusahaan milik keluarga. Tapi kamu sendirilah yang menempuh jalan ini, terima saja dengan lapang dada. Itu akibatnya jika kamu keras kepala, sebaiknya aku pergi daru sini. Masih banyak pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan," ucap Kenzi yang berlalu pergi sembari tersenyum samar, dia sudah hafal bagaimana kekesalan adiknya itu.


"Maafkan kakak yang tidak bisa membelamu, kami terpaksa melakukan ini agar kamu tidak mengingat Vero dan bisa melanjutkan hidupmu dengan pria yang sangat mencintaimu," batin Kenzi.


"Apa itu artinya Kakak tidak ingin membantuku?" Ucap Vivian yang meninggikan suara, dia melongo dengan sifat Kenzi. "Apa aku boleh menukar tambahnya? Ingin sekali aku meremas wajah tampan kak Kenzi," lirihnya dengan pelan, menatap punggung Kenzi yang sudah menghilang dari balik pintu.


"Bela saja sahabatmu itu, Kakakku bukan hanya satu tetapi empat...empat." Vivian mengacungkan ke empat jarinya dengan kesal, menghubungi Al, El, dan Abian tetapi hasilnya nihil. Tidak ada satu orangpun yang ingin menolongnya, ponsel mahal yang ada di genggaman terlempar ke lantai hingga LCD nya retak.


"Di mana mereka? Kenapa tidak mengangkat telfonku, aku akan memberi mereka pelajaran, lihat saja nanti!" gumamnya.


"Jadi bagaimana? cepatlah bekerja dan jangan membuang waktu lagi," titah Rayyan dalam mode tegas. Tidak ada yang bisa di lakukan oleh Vivian selain menerima dengan lapang dada, mengangguk dengan pelan.

__ADS_1


"Dino." panggil Rayyan dengan lantang membuat nama yang di panggil segera menghampiri bosnya.


"Iya, Tuan."


"Cepat antarkan Nona Vivian ke ruangannya," titah Rayyan.


"Baik. Ikuti saya!"


Tak lama, mereka sampai di ruangan milik Vivian. Dia tersenyum paksa kepada Dino, "terima kasih."


"Sama-sama, semoga Nona nyaman bekerja di sini, saya pamit dulu," tukas Dino yang melangkahkan kaki menuju ruangan milik atasannya. Jangan tanya suasana hatinya yang bercampur aduk, terpaksa menerima pekerjaan itu akibat dari kecerobohan nya sendiri.


"Baiklah, aku akan bekerja dengan sangat baik. Dia pikir, dia itu siapa? Aku Vivian Wijaya, tidak akan pernah kalah dengan pria gila itu," ucapnya penuh dengan tekad yang kuat .


Setengah jam kemudian, Dino kembali menghampiri Vivian yang menghentikan aktivitas. "Tuan meminta Nona untuk membuatkannya segelas kopi," tukas Dino.


"Aku ini sekretaris, bukan office girl."


"Jika ingin protes, katakan secara langsung kepada Tuan."


"Akan aku lakukan."


Rayyan yang tengah fokus menatap layar laptop sembari memainkan jari-jari menekan keyboard dengan kecepatan tinggi, menyelesaikan pekerjaan yang sekarang tinggal setengahnya saja. Suara gebrakan pintu mengalihkan perhatian Rayyan, menatap asal suara.


"Aku ingin protes kepadamu."


"Hem, katakan."


"Aku ini adalah sekretaris mu, bukan office girl yang bisa kamu perintahkan membuat kopi."


"Jangan terlalu emosional karena itu tidak baik bagimu."


"Karena kamulah yang membuatku begini, sebaiknya kamu pecat saja aku."

__ADS_1


"Memecatmu?" Rayyan tertawa dengan elegan, menatal wanita cantik di hadapannya. Seketika dia menghentikan gelak tawa, "jangan harap, cepat selesaikan tugas yang aku berikan atau aku akan menikahimu," ancam Rayyan berhasil membuat Vivian bergegas keluar dari ruangan untuk membuatkan kopi.


Rayyan tersenyum tipis, "kali ini kamu tidak akan lolos dariku, berjuanglah sekuat tenagamu. Cepat atau lambat, kamu akan menjadi istriku. Aku juga berterima kasih dengan diari milik Vero, sangat membantuku," batinnya.


__ADS_2