Suamiku Limited Edition

Suamiku Limited Edition
Eps 42 - Firasat


__ADS_3

Robert tertawa saat mengetahui jika Kenzi sedang cemburu, "kenapa kamu tertawa? sangat tidak lucu," cetus Kenzi yang menatap punggung pria di hadapannya.


"Tapi bagiku kamu sangat lucu, apalagi raut wajahmu yang terbakar api cemburu itu," cibir Robert yang terus tertawa, hingga tawanya berhenti saat Kenzi menendang kursi yang sedang di gunakan oleh pria tampan itu.


"Sialan, berani sekali kamu melakukan itu kepadaku," tukas Robert yang mengerem mobil dengan tiba-tiba dan menoleh ke belakang seraya menatap Kenzi dengan tajam.


"Aku tidak takut denganmu," sahut Kenzi dengan enteng, Kayla mengusap wajahnya kasar dan menoleh pandangannya ke samping.


"Jangan bertingkah seperti anak kecil, kenapa kamu sepertinya memusuhi guruku?" tanya Kayla dengan ketus, Kenzi sangat kesal karena istrinya lebih membela pria itu di bandingkan dirinya yang nyata sebagai suami.


"Aku? bertingkah seperti anak kecil? heh, aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan."


"Gaya bicaramu sangat melantur, kenapa kamu bisa mempunyai suami sepertinya? atau paling tidak tipe suami mu seperti ku, selain tampan dan juga menawan, aku juga profesor termuda dan ahli dalam pengobatan. Tidak seperti dirinya," ungkap Robert menaikkan suhu di tubuh Kenzi yang semakin memanas, apalagi kalimat dengan perbandingan dirinya. Dengan cepat Kenzi keluar dari mobil dan menyeret tubuh Robert hingga terpental di pembatas jalan, "jangan cepat menilai seseorang karena kamu belum mengetahui siapa aku sebenarnya," ucap Kenzi yang mencengkeram kerah leher Robert.


"Oh ya? aku tau apa yang kamu maksud, dan peringatkan kepadamu agar bertingkah laku lebih sopan lagi. Jas putih ini akan menggigitmu, jika kamu berani mengusiknya," ucap Robert.


Kenzi melepaskan kerah leher Robert dan menyeret tangan Kayla untuk keluar dari mobil itu, "ayo kita pergi!" ajak Kenzi.


"Tidak, lebih baik kita mengikutinya saja. Rendamlah emosimu itu," tolak Kayla.


Kenzi menoleh menatap istrinya yang tak percaya dengan hal itu, "jadi kamu memilih pria itu?"


"Tidak, bukan begitu maksudku. Ingatlah tujuan kita dan kesempatan ini, karena sangat sulit untuk menemui guruku itu. Apakah kamu masih ingin menyembuhkan Lea atau tidak? jika kamu masih ingin menyembuhkan sepupumu itu, tahanlah emosi dan juga kemarahanmu," ujar Kayla yang menenangkan suaminya, akhirnya Kenzi sadar dan meminta maaf kepada Robert. Mereka sangat beruntung jika Robert mau memaafkan Kenzi, tapi tetap tidak merubah keputusan dan dengan terpaksa mereka tinggal di mansion milik Robert.


Sekarang mereka berhenti di perkarangan mansion yang sangat besar, hampir sama dengan mansion Wijaya. Robert meminta sepasang suami-istri itu ikut turun dan masuk ke dalam mansionnya, beberapa pelayan majikannya dengan suka cita. Robert melangkahkan kaki dan melihat suasana Mansion yang telah lama tidak dia singgahi, matanya menyusuri seluruh dekorasi yang masih terlihat sama sebelum ke pergiannya ke Rusia.


"Ayo ikut aku," celetuk Robert yang memimpin perjalanan menuju kamar Kenzi dan juga Kayla di kamar paling atas.

__ADS_1


Setelah cukup untuk berjalan, tibalah mereka sampai di sebuah kamar yang sangat mewah, "ini kamar kalian, tapi ingat! jangan masuk ke ruangan lainnya tanpa seizinku," ucap Robert yang menatap sepasang suami istri dengan dingin.


"Baiklah, terima kasih guru," sahut Kayla yang tersenyum manis, sedangkan Kenzi tak menghiraukan mereka dan lebih tertarik dengan ranjang empuk sembari merebahkan dirinya.


Setelah kepergian Robert, Kayla dengan cepat menutup pintu, berbalik badan dan bertolak pinggang menatap tingkah suaminya yang membuat geleng-geleng kepala, "apakah kamu tidak mempunyai sopan santun sedikitpun?"


"Itu tidak berlaku untuknya."


"Setidaknya kamu harus berterima kasih karena dia telah memberikan tumpangan kepada kita."


"Ck, kita hanya terpaksa di sini. Jika saja ini tidak ada sangkut pautnya dengan kesembuhan Lea, aku akan menolak hal ini. Apakah dia mengira jika kita adalah pengemis? aku sanggup untuk membeli apartemen atau penginapan lainnya di sini," seloroh Kenzi dengan malas dan kembali berbaring di ranjang empuk itu.


"Hah, terserah padamu saja. Lebih baik aku membersihkan diri," tutur Kayla yang menghela nafas dengan kasar.


Mendengar kata membersihkan diri dari mulut Kayla membuat Kenzi bersemangat, dengan cepat dia berdiri dan mengikuti istrinya yang mandi. Seperti rutinitas biasa, Kenzi kembali memaksa Kayla untuk menikmati surga dunia bersama.


Rayyan berjalan masuk ke mansion Wijaya untuk menemui Kenzi tapi terhenti saat mendengar suara,


"Kenzi sedang honeymoon bersama Kayla di Paris," tutur seseorang yang tak lain adalah Al.


Rayyan menoleh ke asal suara, "aku pikir dia masih di sini, kapan dia berangkat ke Paris?" tanyanya.


"Kemarin, ada perlu apa kamu menemuinya?" tanya Al dengan dingin.


"Masalah pekerjaan."


"Baiklah, aku tinggal dulu." Rayyan mengangguk dan menatap punggung Al yang menghilang di balik tangga.

__ADS_1


Rayyan memegang ponselnya berniat untuk menghubungi sahabatnya Kenzi, dengan cepat dia menoleh ke belakang dan tak sengaja menabrak seseorang.


"Auuhh....gunakan matamu untuk melihat jalan bukan ponsel," ketus Vivian yang segera berdiri dan tidak menghiraukan uluran tangan dari pria itu. Menatap Rayyan dengan sekilas dan berlalu pergi, Rayyan sangat bingung dengan sikap cuek dari Vivian.


"Ada apa dengan gadis itu? biasanya dia selalu menempel denganku, apa ucapanku itu membuatnya terluka?" gumam Rayyan yang ingin meninggalkan mansion. Sesaat kemudian dia melihat Vivian sedang duduk sembari di bonceng oleh seorang pria tampan, "bukankah pria itu yang selalu mendekati Vivian? setidaknya itu bagus untukku, karena mulai sekarang aku terbebas dari bocah itu," batin Rayyan yang tersenyum lega.


Vero melirik reaksi dari Rayyan dan tersenyum tipis, "peganganlah aku akan mengendarainya dengan kecepatan tinggi," tutur Vero yang menarik kedua tangan Vivian dan melingkarkan ke pinggangnya.


Vero mengendarai motor sport nya dan menuju sebuah tempat yang telah dia persiapkan untuk gadis pujaan hatinya, "kemana kamu akan membawaku?" pekik Vivian.


"Memangnya kenapa?" balas Vero yang juga meninggikan suara agar terdengar oleh lawan bicaranya.


"Aku hanya ingin tau."


"Jika aku mengatakan untuk pernikahan kita, bagaimana?"


"Jangan bercanda, aku tidak ingin menikah muda."


"Baiklah aku akan menunggumu hingga bosan, tapi satu hal yang kamu ketahui. Jika aku sudah bosan, kamu tidak akan bisa mendapatkan aku," jawab Vero dengan penuh keyakinan.


"Ck, sekarang saja kamu selalu mendekatiku tanpa bosan."


"Ya, itu benar! tapi kamu tidak akan tau nasib kita ke depan bagaimana."


"Lupakan itu karena aku tidak ingin membahasnya."


"Baiklah, apapun itu. Tapi satu pesanku yang harus kamu ingat, jangan merubah penampilan dan sikapmu menjadi orang lain. Tetaplah seperti Vivi ku, kamu gadis yang sangat unik dan itu yang membuatku tergila-gila kepadamu," jujur Vero yang tersenyum dan di ikuti oleh Vivian.

__ADS_1


"Baiklah."


__ADS_2