
Di sepanjang perjalanan pulang tidak ada pembicaraan diantara mereka, yang hanya terdiam dalam lamunan masing-masing. Vivian menatap kekasihnya dengan pertanyaan yang memenuhi benak dan juga pikiran, dia sedikit curiga dengan Vero yang menutupi sesuatu.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Vero seakan menyembunyikan sesuatu kepadaku," batin Vivian yang terus menatap wajah kekasihnya dengan dalam.
"Aku memang tampan, jangan menatapku begitu," celetuk Vero yang tersenyum saat menangkap basah Vivian yang terus menatapnya, dengan cepat Vivian gelagapan berusaha untuk menormalkan raut wajahnya.
"Tentu saja, seleraku cukup tinggi untuk mencari seorang kekasih."
"Kamu sangat beruntung memiliki aku, para wanita di luar sana mengantri untuk menjadi kekasihku. Hanya menjentikkan jari mereka langsung datang menghadap ku," ujar Vero sombong membuat Vivian mengerucutkan bibirnya beberapa centimeter dan terlihat menggemaskan di mata seorang Vero. "Apa bibir itu ingin di cium?" celetuk Vero menepikan mobil ke pinggir jalan, mendekatkan wajahnya ke arah Vivian yang sekarang berjarak dua inci. Vero yang ingin mengeksplor bibir Vivian tertahan saat mendengar suara deheman, dia lupa jika di dalam mobil masih ada dua anak kecil.
"Ehem...ehem." Vero mendongakkan kepala menatap dua anak kecil yang duduk di kursi belakang, tatapan dari mata Niko dan Niki sangatlah tajam.
"Eh, kenapa kalian ada di sini?" tanya vero yang belum menyadarinya.
"Dasar pikun, sejak pertama kali Paman menyalakan mobil. Menjauhlah diri Bibi ku sebelum tangan ini mendarat di wajah mu, Paman." Ancam Niki yang memperlihatkan kepalan tangannya yang kecil.
"Maaf, aku kelepasan. Eratkan sabuk pengaman kalian!" seru Vero yang kembali mengemudikan mobilnya sembari mengumpati twins N di dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di halaman mansion Wijaya. Niko dan Niki bersorak ria saat kembali pulang, mereka sangat merindukan kegiatan di mansion.
Vivian dan Vero masih berada di dalam mobil, mereka saling menatap satu sama lain. "Katakan kepadaku apa yang sedang kamu sembunyikan!" Vivian menatap mata kekasinya dengan sangat dalam mencoba untuk mencari jawaban dari sorot mata dan juga penuturan dari Vero.
"Kenapa kamu selalu mencurigaiku begitu, Hem?" Vero memegang dagu gadis cantik di sebelahnya, dia sangat bahagia bisa memiliki Vivian walau selalu saja di tolak.
"Karena perasaanku sangat gelisah," Vivian cemberut dan beranggapan jika Vero tak memahami ucapannya.
__ADS_1
"Itu hanya perasaanmu saja, ada yang ingin aku berikan kepadamu." Vero mengeluarkan beberapa dokumen mengenai aset miliknya, memindah tangan atas nama Vivian Wijaya. Hasil kerja kerasnya selama bekerja, dia ingin mengumpulkan semua itu untuk masa depan, menciptakan keluarga kecilnya yang bahagia. Tapi apa daya tuhan berkehendak lain, penyakit yang menggerogoti tubuhnya membuat Vero di vonis hanya bisa bertahan dalam 1 bulan lagi. Leukimia stadium akhir yang tidak bisa di sembuhkan lagi, sudah berbagai macam pengobatan telah dia lalui tapi hasilnya nihil.
Leukimia di derita Vero membuatnya menikmati hidup yang singkat, playboy bukanlah pilihannya tapi terpaksa dia lakukan untuk mengalihkan rasa sakit yang selalu menggerogoti tubuhnya. Dia hampir menyerah dan ingin memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, tapi James dan Berliana menyemangati Vero untuk berjuang melawan penyakitnya yang sangat berbahaya, walaupun memiliki uang tak membuatnya sembuh. Vero menetap ke Amerika bersama kakaknya yang bernama James untuk penyembuhan terakhir di Amerika.
Awal pertemuannya dengan Vivian yang saat itu sedang ke Amerika begitu terkesan baginya, hingga mencoba untuk mendekati gadis cantik nan tomboy. Sikap dan sifat yang di miliki oleh Vivian membuatnya begitu tertarik dan membuatnya mengikuti hingga ke Indonesia.
"Apa ini?" tanya Vivian yang menyatukan kedua keningnya yang sangat penasaran.
"Itu hadiah dariku," sahut Vero enteng seraya mengangkat kedua bahunya. Vivian yang penasaran membaca isi dokumen yang tak lain adalah aset kekayaan dari Vero, dia cukup terkejut dengan dengan itu, menutup mulut menggunakan tangannya.
"Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu menyerahkan ini kepadaku?" Cetus Vivian yang menutup berkas itu.
"Apa pun untuk, Sayang!"
"Apa kamu yakin? Kenapa harus aku?" Tutur Vivian yang mengedip-ngedipkan kedua matanya yang sangat syok.
"Hah, terserah padamu saja." Pasrah Vivian yang menerima berkas atas namanya.
"Apa aku boleh meminta sesuatu darimu?" Pinta Vero dengan penuh harapan.
"Tentu saja boleh, kita saling mencintai satu sama lain. Aku akan berusaha untuk mewujudkan apapun itu," jawab Vivian yang tersenyum hangat.
"Apa aku boleh menciummu? Kali ini saja," pinta Vero yang sedikit merengek.
Vivian sedikit mempertimbangkan hal itu, menatap wajah kekasihnya yang terlihat seperti anak kecil yang meminta mainan. Seketika tersenyum dan mengangguk kecil, lampu hijau yang di terima Vero tak di lewatkan. Mereka mendekatkan wajah dengan nafas yang bersatu, menikmati permainan indah dalam ciuman dengan durasi beberapa menit. Mereka melepaskan ciuman dan kembali membuka mata, Vero mencium kekasihnya sekali lagi dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Terima kasih, aku akan mengingat moment indah ini," tutur Vero yang melepaskan bibirnya dari bibir milik Vivian.
"Yasudah, aku masuk dulu," pamit Vivian yang turun dari mobil seraya memegang berkas di tangannya. Vero mengangguk pelan, "jaga diri mu."
"Hem."
Vero manatap punggung Vivian, dan kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil yang berlalu kencang menuju Danau untuk menemui seseorang setelah temu janji. Dia menuruni mobil dan celingukan mencari orang yang ingin di temuinya, hingga dia tersenyum tipis saat melihat orang itu.
"Akhirnya kamu datang juga," kata Vero yang berjalan mendekat dengan orahg itu.
"Ck, tentu saja aku datang. Tidak mungkin aku menolak undangan dari rivalku sendiri," sahut pria itu yang membalikkan badan seraya membuka kacamata menutupi matanya yang indah.
Yah, pria itu adalah Rayyan yang sengaja buat temu janji di Danau, Vero tersenyum geli saat melihat raut wajah dingin dari Rayyan yang kesal.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu, ini sangat penting," celetuk Vero.
"Waktumu hanya sepuluh menit saja, karena masih banyak pekerjaan tertunda akibat temu janji yang kamu buat itu." Rayyan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Vero membawa Rayyan menuju kursi kosong dan mulai berbincang.
"Aku tau kamu menyukai Vivi ku dan aku sangat bahagia bisa memilikinya, hanya saja___" potong Vero menundukkan kepada sembari mengelap hidungnya yang kembali mimisan.
"Ck, apa kamu sedang memamerkan hal itu saja? Sangat membuang waktuku." Rayyan berdiri dari duduknya dan ingin meninggalkan tempat itu, tapi dengan Vero mencekalnya.
"Waktuku hanya satu bulan saja," tutur Vero nanar.
Rayyan sedikit terkejut dengan penuturan Vero, membalikkan badan dengan kedua alis mata yang menyatu. "Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjaga Vivian lebih lama lagi, Leukimia stadium akhir membuatku hanya bisa bertahan selama kurang dari satu bulan."
"A-apa?"