Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
10_Sabar, Aish!


__ADS_3

...****************...


Serasa terlepas dari sebuah himpitan batu besar yang membuat napasnya sesak, itulah yang saat ini dirasakan Aisyah. Wanita itu tersenyum sambil memeluk pinggang sang suami, menikmati semilir angin malam yang terasa hangat. Saat ini mereka dalam perjalanan pulang ke kontrakan setelah beberapa hari menginap di rumah orang tua Bayu. Aisyah ingat betul bagaimana perlakuan ayah mertua dan adik iparnya, dan hal ini yang membuat Aisyah merasa tidak betah untuk berlama-lama di sana. Dengan alasan besok Aisyah harus berangkat pagi, akhirnya ibu mertuanya memberi izin kepada Aisyah dan Bayu untuk kembali ke kontrakan.


“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga.” Aisyah merenggangkan otot punggungnya dengan menaikkan kedua tangannya tinggi-tinggi begitu mereka memasuki rumah kontrakan. “Mas, mau aku bikinin teh hangat?”


“Hm, nggak udah, Dek,” jawabnya singkat seperti biasa. Ia bergegas masuk ke kamar setelah meletakkan kunci motornya di samping televisi.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19.15 WIB. “Masih jam segini. Rebahan dulu, ah.” Aisyah mendaratkan tubuhnya di karpet kemudian menyalakan televisi. Ternyata perjalanan kurang lebih dua jam membuat tubuhnya lelah. Baru beristirahat beberapa menit, Aisyah teringat jika belum ada lauk untuk sarapan mereka besok pagi. Aisyah pun bangkit dan berjalan menuju kulkas.


“Yah, hanya ada telur. Sayuran sudah habis. Mau dimasak apa, ya?” pikirnya sambil menyisir isi kulkas, mencari sesuatu yang bisa ia jadikan pasangan untuk dimasak besok. “Telur bumbu bali aja, lah.”


Aisyah buru-buru ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan baju rumahan yang nyaman. Dilihatnya Bayu sudah tertidur di atas kasur. Aisyah tersenyum melihat wajah tampan Bayu ketika tertidur. Wajahnya terlihat begitu polos. Setelah beberapa menit, Aisyah kembali ke dapur setelah mengambil bahan-bahan yang ia perlukan.


Malam ini, tanpa menghiraukan rasa letihnya, Aisyah segera mengolah semua bahan untuk dijadikan lauk. Aisyah berpikir lebih baik lelah sekalian daripada besok pagi ia bangun kesiangan dan tidak sempat untuk memasak. Selama hampir tiga jam Aisyah berkutat di dapur. Telur bumbu Bali sudah selesai dimasak. Beras juga sudah ia masukkan ke dalam magicom. Selanjutnya Aisyah membersihkan dapur sebelum ia beranjak ke kamar untuk menyusul suaminya ke alam mimpi.


...******...


Aisyah menggeliat ketika tidurnya terusik bunyi alarm dari ponselnya. Entah itu bunyi yang ke berapa? Yang pasti itu bukan bunyi yang pertama. Meskipun matanya masih terasa berat, Aisyah pun segera keluar dari pelukan hangat selimut yang menutupi tubuhnya. Namun, tangan kekar sang suami yang melingkar di pinggangnya membuat ia susah untuk bergerak. Aisyah mencoba melerai pelukan itu, tetapi justrus Bayu semakin erat memeluknya. Akhirnya Aisyah pun pasrah. Ia membalikkan tubuh hingga posisinya berhadapan dengan Bayu.


“Mas, bangun. Sudah jam lima. Ayo kita salat dulu!” ajak Aisyah lembut sambil menepuk pipi Bayu.


“Hm … bentar.” Bukannya bangun, Bayu malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Mas, sudah siang. Aku belum masak nasi. Tolong lepaskan, nanti aku terlambat,” bujuk Aisyah.

__ADS_1


“Akan aku lepaskan, tapia da syaratnya.” Bayu berbisik tanpa membuka matanya.


“Syarat? Apa, Mas? Jangan aneh-aneh, deh.” Aisyah mulai merasakan gelagat aneh suaminya.


Wajah Bayu mendekat dan bersisik di telinga Aisyah yang sontak membuat Aisyah terkejut.


“Mas!”


...****************...


“Kapan kamu masak ini, Dek?” tanya Bayu menatap telur Bali yang sudah terhidang di meja makan.


“Semalam, Mas,” jawab Aisyah singkat.


“Wah, ini cocok banget kalau makannya sama nasi uduk buatan ibu.” Kalimat sederhana yang Bayu lontarkan, sesaat membuat gerakan tangan Aisyah tertahan.


Kali ini Aisyah tidak jadi memasukkan suapan ke dalam mulutnya. “Maaf, Mas. Hanya ini yang bisa Aisyah lakukan. Tapi Aisyah memasaknya dengan penuh cinta.” Sekuat tenaga Aisyah menahan genangan air di pelupuk matanya agar jangan sampai terjatuh. Kalimat yang bayu lontarkan sungguh melukai perasaan Aisyah. Mungkin bagi Bayu, itu adalah kalimat biasa. Namun, Bayu lupa jika dirinya tengah membandingkan masakan Aisyah dengan masakan Ambar yang sempurna di mata Bayu.


Bayu berhenti mengunyah ketika melihat Aisyah meletakkan sendoknya dan menunduk. “Kamu jangan salah paham, Dek. Aku tidak bilang masakanmu tidak enak. Aku berharap dengan kritikanku ini, masakanmu menjadi seenak masakan ibu.”


“Terima kasih, Mas. Tapi sampai kapan pun Aisyah adalah Aisyah yang tidak akan pernah bisa seperti Ibu.” Dagu Aisyah terangkat, matanya memandang netra Bayu yang masih menatap dirinya.


“Jangan nangis, Dek. Masak gitu aja kamu nangis. Kayak anak kecil.” Bayu kembali meneruskan makannya setelah melihat air mata Aisyah yang mulai menetes di pipinya.


“Mas, cara Mas menegur Aisyah itu yang membuat Aisyah tidak terima. Setiap orang pasti merasa tidak nyaman jika dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Mas kan bisa bilang akan lebih enak jika gulanya dikurangi. Bukannya membandingkan Aisyah dengan orang lain!” Kesabaran Aisyah sudah berada di ambang batas kemampuannya dalam mengontrol emosi. Dengan tangan gemetar, Aisyah meluapkan emoasi yang sudah ia tahan semenjak ia tinggal di rumah mertuanya.

__ADS_1


“Ibu itu bukan orang lain, Dek!” Bayu tidak kalah sengit membalas ucapan Aisyah. “Oh, jadi selama ini kamu menganggap ibuku adalah orang lain? Keterlaluan kamu, Dek.”


Aisyah menatap nanar wajah lelaki di hadapannya. Hatinya kecewa, ternyata Bayu tidak memahami apa yang ia ucapkan. Aisyah mengusap kasar air mata yang masi menempel di pipinya. Tanpa sepatah kata lagi, ia menghabiskan nasi yang masih tersisa di piringnya.


“Percuma aku berdebat jika mas Bayu tidak memahami ucapanku.” Aisyah berkata dalam hatinya, saat ini dia benar-benar sangat kecewa dengan sikap Bayu.


Tanpa menunggu lama, Aisyah sudah menyelesaikan sarapannya. Ia membawa piring bekas makannya ke dapur dan mencucinya. Wanita itu kemudian bergegas ke kamar untuk mengambil tas kerja. Setelah memberikan sentuhan bedak tipis di pipi, Aisyah keluar dan mengambil bekal yang sudah ia siapkan di meja makan. Ia tidak menghiraukan tatapan Bayu yang penuh tanda tanya. Aisyah malas berdebat sepagi ini.


“Aku berangkat dulu, Mas. Assalamualaikum.” Aisyah segera berlalu tanpa memandang lawan bicaranya.


Aisyah melangkah dengan hati yang menyimpan kesal. Berulang kali ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. “Sabar Aish … sabar, ya!" Aisyah mengelus dadanya mencoba berbagi kekuatan dengan dirinya.


“Aish, kamu kenapa? Sakit?”


Aisyah terhenyak ketika menyadari sikapnya sudah memancing rasa ingin tahu orang-orang yang berada di halte.


“Eh, tidak, Mbak. Hm, anu … tadi Aish tersedak. Ini kok dadanya masih terasa nyeri, ya.” Aisyah mencoba mengalihkan kecurigaan tetangga kontrakannya yang sering ingin tahu urusan orang.


“Oh, kirain kamu sakit.”


“Eh, angkotnya datang, Mbak. Aku duluan, ya.” Aisyah segera masuk ke dalam angkot dan berbaur dengan para pejuang rupiah lainnya.


...****************...


...To be continued...

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


__ADS_2