
...Selamat membaca...
...***********...
Sepulang dari bidan, raut wajah Bayu terlihat masam. Hal itu membuat Aisyah sedikit heran. Ia pun bertanya, "Mas, kenapa? Aku lihat dari tadi mukanya ditekuk terus?"
Bayu hanya mendelikkan matanya menatap Aisyah dengan sengit. Kini mereka tengah berada di dalam kamar. Sepulang tadi, Bayu belum berkomentar dan langsung merebahkan badan.
"Mas? Lihat akunya, kok, kayak gitu? Aish ada salah, ya?" tanya Aisyah, merasa tidak nyaman ditatap seperti itu oleh suaminya.
"Nggak ada. Mas cuma kepikiran sama perkataan Bidan Siti."
"Perkataan yang mana?" Aisyah duduk di tepi ranjang di samping suaminya.
"Tentang asupan makanan kamu. Kalau setiap hari makanmu cuma buah-buahan saja, itu akan menambah pengeluaran kita, Aish. Sedangkan kamu tahu sendiri, kalau penghasilan mas itu tidak seberapa. Jangankan membeli buah-buahan, buat makan sehari-hari aja masih kurang, kan?"
Aisyah tertegun mendengar perkataan Bayu. Ternyata pendapat suaminya itu seperti itu. Ia lebih sayang mengeluarkan uang banyak, daripada membuat anak dan istrinya sehat. Namun, lagi-lagi Aisyah harus bersabar. Itu demi anak yang berada dalam kandungannya. Pikirannya tidak stress dan hatinya harus selalu senang. Perasaannya tidak boleh terpengaruh dengan perkataan Bayu yang menyakitkan.
"Tapi, kan, masih ada uang Aish, Mas. Aish bisa menyisihkan sedikit gaji Aish buat membeli buah-buahan, kok. Mas tenang aja!" tutur Aisyah dengan sopan.
Bayu mendengkus. "Selalu seperti itu. Bukannya kamu pernah bilang juga kalau gaji kamu juga pas-pasan," ucapnya kesal.
"Aish akan berusaha mengaturnya dengan baik, Mas. Yang penting, kan, anak kita sehat."
Helaan napas panjang pun dilontarkan oleh Bayu. Ia tidak bisa mendebat lagi perkataan istrinya. Walaupun masih kesal, ia tidak lagi berkomentar.
...**************...
Hari berlalu meninggalkan waktu. Waktu yang berputar meninggalkan masa lalu. Gurat penyesalan tercetak jika masa tidak digunakan dengan tepat, sedangkan garis kebahagiaan bisa ditarik saat apa dilakukan adalah yang bermanfaat.
Kini usia kandungan Aisyah sudah menginjak tujuh bulan, itu artinya kehamilannya sudah masa trimester ketiga. Dengan begitu, Aisyah dan Bayu harus sudah mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses kelahiran bayinya. Tentu saja yang utama adalah uang. Mereka butuh banyak uang untuk membeli perlengkapan bayi, juga membayar jasa fasilitas kesehatan saat persalinan nanti.
__ADS_1
Walaupun sekarang makanan Aisyah sudah tidak lagi sayur dan buah saja, tetap saja pengeluaran mereka masih banyak yang tidak terduga. Gaji Aisyah hanya cukup untuk keperluan sehari-hari saja, begitu pun dengan penghasilan Bayu. Hal itu membuat Aisyah merasa khawatir jika tiba-tiba merasakan kontraksi, mereka tidak ada uang simpanan sama sekali.
"Mas, Aish mau ngomong," seru Aisyah dalam satu waktu di ruang tamu.
Bayu yang tengah asyik menonton acara televisi, langsung mengalihkan pandangannya dari layar segi empat di depannya pada wajah Aisyah. "Ada apa?" tanyanya.
Aisyah duduk di samping suaminya. Ia sedikit menggigit bibir bawahnya karena gugup. Gugup karena takut jika suaminya akan marah setelah mendengar perkataannya nanti.
"Mau ngomong apa, sih? Jangan bikin penasaran, dong, dek!" ulang Bayu tambah penasaran.
"Ehm ... gini, Mas. Sebentar lagi, kan, Aish melahirkan."
"Terus?" Bayu menukas tidak sabar. Ia menghadapkan tubuhnya ke samping agar bisa berhadapan dengan tubuh istrinya.
"Kita nggak punya tabungan yang cukup untuk biaya persalinan nanti, Mas."
"Bukannya kamu pernah bilang, kalau kamu akan mengelola keuangan kita dengan benar. Kok, bisa sekarang kita nggak punya tabungan?"
Aisyah yang semula menunduk sontak mendongak. Tidak menyangka suaminya akan berkomentar seperti itu.
"Aish sudah berusaha mengatur keuangan kita dengan baik, Mas. Tapi memang gaji Aish dan penghasilan Mas sekarang hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja. Kalaupun ada lebih itu nggak banyak," tutur Aisyah menjelaskan.
Bayu berdecak, "Terus sekarang gimana? Mas juga nggak ada uang. Selama ini penghasilan Mas selalu diberikan sama kamu. Kalau harus pinjam ke orang, Mas takut kita nggak bisa bayar."
"Gimana kalau Mas coba cari pekerjaan lain?" Hal itulah yang sedari tadi ingin Aisyah utarakan. Menyuruh Bayu untuk mengganti pekerjaan. Menurutnya, pekerjaan Bayu sekarang penghasilannya tidak menentu dan tentu saja masih kurang. Bukannya dia merendahkan suatu pekerjaan, tetapi kalau ada pekerjaan yang penghasilannya lebih lumayan, kenapa tidak diusahakan?
Bayu bukannya tidak bisa mencari pekerjaan di tempat lain. Ijazahnya mempunyai nilai tinggi dan mempunyai keterampilan otomotif yang mumpuni. Ia bahkan pernah ditawari untuk bekerja di perusahaan otomotif oleh seorang temannya, tetapi Bayu menolaknya. Alasannya cukup klasik, ia tidak mau terikat dengan peraturan pabrik.
__ADS_1
"Mau cari kerja di mana? Memangnya cari kerjaan gampang. Lagian mas udah nyaman kerja di bengkel. Lebih bebas dan tidak terikat aturan yang bikin bosan."
"Tapi penghasilannya nggak tentu, Mas. Mas, kan, punya temen yang dulu pernah nawarin kerja di pabrik? Coba aja tanya ke dia lagi. Mungkin saja masih ada lowongan pekerjaan buat Mas." Aisyah menggenggam kedua tangan Bayu dengan tatapan penuh harap. Berharap suaminya akan berubah pikiran dan mengikuti sarannya.
Namun, dengan cepat lelaki menepis tangan Aisyah. "Nggak, ah. Pokoknya Mas nggak mau kerja di pabrik," tolaknya dengan tegas.
Harus bekerja di pabrik seperti Aisyah yang tentu banyak aturan yang harus dipatuhi, membuat Bayu berpikir seribu kali. Bayu adalah type orang yang tidak mudah diperintah oleh orang lain.
Kedua bahu Aisyah melemas seketika, diiringi oleh helaan napas kasar yang terlontar ke udara. Jika sifat keras kepala suaminya itu masih bertahta dalam dadanya, lelaki itu tidak akan bisa dipaksa.
"Oh, iya. Kemarin ibu aku nanya. Katanya setelah melahirkan kamu masih mau kerja apa nggak? Terus anak kalau masih kerja, anak kita nanti mau diurus siapa?" tanya Bayu setelah hening beberapa saat.
Aisyah berpikir sejenak. Jika dirinya berhenti bekerja, sudah pasti kehidupan mereka akan tambah susah. Apalagi nanti ada anak mereka, pasti banyak pengeluaran yang harus mereka siapkan. Mengharapkan Bayu dengan penghasilannya yang tidak seberapa, tidak mungkin mencukupi itu semua.
"Kalau aku nggak kerja, dari mana kita bisa mencukupi kebutuhan anak kita nanti, Mas," jawab Aisyah datar. Hal itu sedikit menyentil hati Bayu. Ia sedikit tersinggung.
"Aku, kan, cuma nanya. Kok, kamu kayak menyepelekan penghasilan suami kamu, sih? Penghasilanku memang nggak seberapa, tapi setidaknya kamu bisa lebih berhemat kalau kamu udah nggak kerja."
Aisyah mengernyit kening. Seberapa hemat pun dirinya mengelola penghasilan Bayu, tetap saja tidak cukup juga. Pasti gajinya ikut keluar untuk mencukupi kebutuhan mereka.
"Iya, maaf. Aish cuma berpikir realistis aja, Mas. Masalah pengurusan anak, Aish masih belum tahu mau diurus siapa kalau nanti Aish bekerja," tutur Aisyah.
"Ibu bersedia mengurus anak kita kalau kamu masih mau kerja, kok."
"Oh, syukurlah. Aish setuju saja."
...****************...
...*to be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan pesan untuk Mas Bayu ya 😊*