Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela
27_Pasca Melahirkan


__ADS_3

...Selamat membaca...


...**********...


Bayu keluar dari ruangan bersalin dengan rasa penuh haru dan sukacita. Di depan ruangan itu, sudah ada kedua orang tuanya yang menunggu kehadiran sang cucu. Melihat sang anak keluar, Ambar langsung berdiri dari bangku besi yang ada di depan koridor. “Bagaimana keadaan Aisyah dan cucu ibu? Apa keduanya sehat?” tanya Ambar antusias. Setelah mendengar suara tangis bayi dari dalam ruangan, Ambar mengucap syukur kepada Allah karena masih diberi kesehatan dan umur yang panjang untuk menimang cucu pertamanya.


 


“Alhamdulillah, Bu, keduanya sehat. Ibu dan bayinya selamat. Saat ini Aisyah anak kami masih ditangani oleh bidan.”


 


Sedangkan Herman yang masih duduk di bangku besi, hanya diam saja mendengar kabar menantu dan cucunya. Ambar pun, menoleh ke belakang tempat suaminya berada. “Pak, tidak mau mengucapkan selamat kepada Bayu, karena anak kita sudah jadi orang tua?” tanya Ambar.


 


Herman terkesiap ditanya seperti itu oleh istrinya. Baginya memiliki cucu atau tidak itu artinya sama saja. Toh, selama ini hidupnya biasa-biasa saja tanpa kehadiran cucu. Laki-laki paruh baya yang di tangannya terdapat sebatang rokok tembakau dan korek api urung dinyalakan, karena sudah mendapat pelototan tajam dari Ambar— istrinya.


 


“Sudahlah, Bu. Bapak pasti sangat bahagia. Mana mungkin cucu yang selama ini ia harapkan tidak disambut dengan bahagia,” timpal Bayu, lalu Bayu menatap kembali bapaknya. “Benar, ‘kan, Pak?” tanyanya memastikan.


 


“I-iya. Kamu ini bicara apa, sih, Bu. Masa cucu kita lahir, bapak tidak senang. Justru yang ada bapak sudah mengharapkannya  sangat lama,” dusta Herman.


 


Seorang bidan paruh baya keluar dari ruangan dan mempersilakan keluarga menjenguk Aisyah dan bayinya karena sudah dibersihkan.


 


“Silahkan pihak keluarga masuk ke dalam! Anak dan cucunya sudah bisa dijenguk,” seru Bu Bidan.


 


“Terima kasih, Bu Bidan.”


 


Di dalam kamar perawatan, Aisyah tengah menidurkan anaknya yang baru saja selesai diberi ASI. Aisyah cukup beruntung  memiliki ASI yang cepat keluar sehingga sang anak tidak rewel seperti bayi pada umumnya.


 


Begitu masuk ke dalam ruangan, Ambar senang sekali melihat cucu pertamanya berbaring di samping ibunya. Dengan hati-hati ia menggendong bayi yang diberi nama Az-Zahra Putri.


 


“Masya Allah, cucu kita cantik, Pak!” seru Ambar senang seraya memperlihatkan pada Herman bayi mungil yang ada di dalam gendongannya tersebut.


 

__ADS_1


“Hm.” Herman hanya bergumam tanpa berkomentar.


 


“Oh iya, Aish, selama pemulihan kamu tinggal bareng ibu aja, yah. Kamu pasti kewalahan merawat Zahra jika tinggal di rumah kontrakan. Apalagi kondisimu yang masih belum fit. Jadi, sebaiknya kalian berdua untuk sementara tinggal bersama ibu, agar ibu bisa membantu Aisyah merawat anak kalian.”


 


Aisyah dan Bayu saling berpandangan mendengar masukan orang tua mereka. Asalkan tidak merepotkan bagi Ambar, Aisyah dan Bayu setuju-setuju saja.


 


“Aku, sih, terserah Aish saja, Bu.”


 


“Kalau, Ibu tidak merasa direpotkan, Aish ikut saja sama ibu. Lagian, Aish belum memiliki pengalaman merawat bayi. Sekalian nanti belajar juga sama Ibu,” sahut Aisyah.


 


"Tentu saja ibu tidak merasa repot, Aish. Ibu malah senang kalau rumah ibu ramai dengan adanya cucu ibu." Ambar terlihat semringah, karena anak dan menantunya akan tinggal di rumahnya. Setelah mematikan kondisi Aisyah dan bayinya sehat, mereka pun diizinkan pulang ke rumah oleh Bu Bidan.


 


Kepulangan Aisyah ke rumah mertuanya disambut hangat oleh para tetangga yang sudah menunggu di depan rumah Bu Ambar. Seolah tidak sabar ingin melihat cucu Bu Ambar yang masih dalam gendongan usai turun dari taksi, para ibu tersebut ikutan masuk ke dalam rumah. Mereka turut bahagia dengan kehadiran anggota baru di keluarga Bayu.


 


 


“Terima kasih atas kedatangannya, ibu-ibu,” ucap Aisyah tersenyum, “silakan dicicipi kuenya,” lanjut Aisyah mempersilakan ibu-ibu untuk mencoba kue buatan Ambar. Bu Ambar memang sering membuat beberapa cemilan untuk dinikmati dengan teh hangat maupun kopi.


 


Menjelang sore, satu per satu tetangga pamit undur diri dari kediaman Herman usai menjenguk Aisyah dan bayinya. Beruntung seharian ini Zahra sangat tenang di dalam bedongnya. Hanya sesekali terbangun jika ingin menyusu, itu pun tidak rewel sehingga Aisyah masih bisa menjaga anaknya.


 


Sebagai orang tua baru, Aisyah dan Bayu bergantian merawat anak mereka. Sesekali Bayu terbangun tengah malam ketika Zahra menangis karena lapar atau popoknya basah. Untung saja, Aisyah selalu menyediakan stok ASI di dalam kulkas sehingga Bayu tidak perlu lagi membangunkan istrinya yang baru saja terlelap. Ia sangat telaten membantu Aisyah mengurus si kecil. Bahkan, tidak jarang Bayu bangun pagi dengan mata yang masih sayu akibat begadang menemani Zahra yang kadang-kadang enggan terpejam.


 


Aisyah yang tidur di ujung ranjang terbangun ketika mendengar Zahra menangis. “Mas Bayu, sini! Biar Zahra sama aku saja. Sebaiknya Mas istirahat kembali,” pinta Aisyah yang kasihan melihat suaminya kerepotan.


 


“Udah, kamu tidur saja lagi! Ini Zahra udah tenang, kok. Baru aja tidur,” ujar Bayu seraya meletakkan Zahra kembali ke kasur.


 


Aisyah tersenyum. Ia sangat bersyukur atas kelahiran putrinya. Berkat adanya Zahra, Bayu sangat perhatian dan bisa diandalkan mengurus anak mereka. Walau untuk memandikan si bayi berkulit putih itu masih dibantu dengan Ambar ibu mertuanya, karena baik Aisyah maupun Bayu masih takut untuk memandikan anak mereka secara langsung.

__ADS_1


 


Mereka kasihan dengan tubuh mungil itu menangis di dalam air. Namun, bukan berarti Aisyah tidak berani memandikan Zahra, melainkan ia tidak mau terlalu mengandalkan ibu mertuanya untuk memandikan Zahra. Karena walau bagaimana pun, Aisyah harus berani sendiri ke depannya, jika sudah tidak tinggal di rumah mertuanya.


 


Seperti hari ini, Aisyah memandikan Zahra dengan bantuan Ambar. Tiba-tiba Erina masuk ke dalam dapur sambil mengomel tidak jelas gara-gara sarapan pagi yang ada di meja makan belum tersaji.


 


“Kalau numpang di rumah mertua itu harus kerja. Bukan malah menyuruh ibu mertuanya jadi baby sitter bantuin anaknya mandi. Mentang-mentang sudah melahirkan, Mbak sudah nggak mau kerja bantuin ibu. Jangan jadikan melahirkan sebagai alasan bagi Mbak Aish bermalas-malasan, loh. Nanti kalau Mas Bayu tahu, Mbak bisa diomelin!” seru Erina, lalu melengos pergi kembali ke meja makan lagi.


 


Aisyah tercekat mendengar itu. Hatinya begitu sakit karena dimarahi oleh adik iparnya sendiri. “Kamu nggak usah dengerin omongan Erina. Anak itu selalu saja cari masalah,” kata Ambar seraya membungkus Zahra dengan handuk. Kamu kembali saja ke kamar, terus urus Zahra! Biar Ibu yang temui Erina.”


 


Aisyah pun menurut apa kata ibu mertuanya. Ia kembali ke dalam kamar memakaikan Zahra minyak telon dan baju.


 


Sementara di dapur, Ambar menghampiri Erina yang duduk di kursi meja makan sambil mengunyah bakwan goreng yang dibuat tadi subuh oleh Aisyah. Sebelumnya Aisyah bangun pagi mencuci baju-baju kotor Zahra. Selama anaknya tidur, ia pun membuat bakwan goreng dengan menggunakan bahan yang ada di kulkas.


 


“Erina, sudah berapa kali Ibu bilang kalau kamu jangan sekali-kali memarahi Aisyah. Dia itu kakak ipar kamu yang baru saja melahirkan. Terus kamu marah-marah tadi itu karena sarapanmu tidak ada?” tanya Ambar berkacak pinggang di depan anak bungusnya.


 


Erina tidak menyahut. Ia terus saja mengunyah bakwan goreng itu sambil mencolek sambel terasi yang ada di meja makan.


 


“Kamu pikir, bakwan yang kamu makan itu buatan ibu? Itu buatan Aisyah. Setelah mencuci, ia memasak membuat sarapan pagi. Ia sudah bangun dari sebelum subuh tadi. Kamu saja yang bangunnya kesiangan sampai tidak tahu kalau kakak iparmu yang menyediakan semuanya. Seharusnya kamu malu karena tidak memiliki kegiatan dan bangun langsung marah-marah tidak jelas seperti tadi.”


 


Ambar menatap tajam anaknya, sebelum ia  melanjutkan kembali omelannya, “cepat  minta maaf pada Mbakmu! Dia itu habis melahirkan, jadi butuh istirahat lebih banyak saat masa pemulihan,” ucap wanita paruh baya itu berlalu dari hadapan Erina yang diam melongo di tempatnya.


...*************...


...to be continued...


Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2