
...Selamat membaca...
...*************...
Sepekan telah terlewati semenjak Aisyah dan Bayu mengunjungi bidan dekat kontrakan mereka. Selama itu Aisyah masih saja mengalami morning sickness, meskipun sudah teratur minum obat antimual yang ia peroleh dari bidan. Namun begitu, Aisyah tetap berusaha untuk beraktivitas seperti biasa. Aisyah tetap bangun pagi untuk menyiapkan sarapan dan tetap berangkat kerja menggunakan angkot. Hanya sekali Bayu mengantar Aisyah ke pabrik. Yaitu ketika Aisyah terlihat benar-benar lemas.
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun ketika karyawan pabrik sejenak menghentikan kegiatan mereka. Tidak berselang lama, suara azan menggema hingga terdengar di area para pekerja. Sebagian dari mereka ada yang bergegas menuju mushola, ada juga yang pergi ke pantry dengan menjinjing bekal yang mereka bawa dari rumah. Tampak pula sebagian lagi dari mereka pergi menuju kantin. Di tengah hiruk-pikuk dalam sebuah ruangan, Aisyah justru dengan tenang meletakkan kepalanya di atas meja kerja.
“Aish, makan, yuk!” Witri mengajak Aisyah sembari mengeluarkan bekal dari tasnya.
“Aku males makan, Mbak. Biarin aku tidur sebentar saja,” jawab Aisyah tanpa menggeser posisinya saat ini.
“Eh, nggak boleh gitu. Kamu harus paksakan untuk makan barang sedikit. Kasihan, tuh, yang ada di perut kamu. Dia butuh asupan gizi,” bujuk Witri, ia merasa tidak tega melihat Aisyah yang pucat.
Aisyah mengangkat kepalanya. Bersamaan dengan itu, ponselnya bergetar. Terlihat nama Bayu terpampang di sana. Sebuah notifikasi percakapan menyala. Aisyah bergegas membuka aplikasi tersebut.
[Dek, sudah makan apa belum? Jangan lupa makan, ya!]
Senyum Aisyah merekah ketika membaca whatsapp dari suaminya. Hatinya terasa hangat, andai saja dari dulu Bayu bersikap itu, Aisyah pasti merasa menjadi wanita yang paling bahagia.
[Ini baru mau makan. Mas juga jangan lupa makan.]
Setelah membalas pesan singkat tersebut, Aisyah mengambil bekal dan segera mengikuti Witri. Tujuan mereka adalah pantry.
“Mau ini?” Witri menyodorkan kotak bekalnya yang berisi irisan buah pir. “Buah ini bisa membantu mengurangi mual, loh.”
Aisyah melirik irisan buah dalam kotak bekal itu. Meskipun tidak terlihat segar akibat dikupas terlalu pagi, tetapi bagi Aisyah hal itu mampu membangkitkan selera makannya.
“Aku makan, ya, Mbak.”
Aisyah langsung mengambil potongan pertama dan memasukkan ke dalam mulutnya sambil mendengarkan gurauan Witri. Saking asyiknya, tanpa sadar Aisyah hampir menghabiskan satu kotak penuh.
“Astaga, Mbak. Maaf, kok, malah aku yang ngabisin.” Spontan Aisyah menghentikan makannya dan mendorong kotak bekal itu ke arah Witri. Tentu saja hal tersebut membuat Witri tertawa.
“Udah habisin aja. Aku sengaja bawain ini buat kamu. Dulu waktu hamil muda, aku juga nggak doyan makan. Jadi aku cuma makan buah pir sama apel.”
__ADS_1
Aisyah merasa bersyukur mempunyai sahabat seperti Witri. Kadang Witri berperan sebagai seorang kakak yang selalu memberinya nasihat. Di lain waktu, Witri menjadi sahabat yang selalu memberinya semangat. Mungkin karena mereka sama-sama hidup di perantauan hingga merasa senasib dan saling membantu.
...**************...
Langkah lesu Aisyah menyusuri trotoar sore itu. Jalanan ramai oleh orang-orang yang baru saja keluar dari pabrik. Banyak motor berjejer di pinggir jalan, mereka dengan sabar menunggu seseorang yang masih berada di dalam kerumunan pegawai pabrik. Melihat hal itu, ada rasa iri menyelinap dalam hati Aisyah. Andai saja Bayu bisa seperti mereka, Aisyah pasti sangat bahagia.
Sambil menunggu angkot di halte, Aisyah membuka ponselnya. Ia berharap keajaiban itu menghampirinya. Namun, lagi-lagi Aisyah harus kecewa ketika sebuah pesan dari Bayu masuk lima menit lalu.
[Pulangnya hati-hati, ya, Dek. Jangan sampai anak kita berdesak-desakan.]
Aisyah hanya membuang napas, sepertinya ia harus menerima kenyataan jika memang suaminya tidak berubah.
...***************...
Hari ini hari Minggu. Aisyah kembali ke kasur setelah salat Subuh. Tiba-tiba kepalanya terasanya begitu berat hingga ia tidak mampu untuk memasak di dapur. Aisyah pun kembali terlelap beberapa saat hingga guncangan halus ia rasakan di pundaknya.
“Dek, bangun. Udah jam tujuh, kita sarapan dulu, yuk!” Samar-samar suara familier itu menggelitik indera pendengarannya.
“Kamu tidak perlu masak. Mas sudah beli soto di warung pinggir jalan sana. Kamu istirahat saja. Apa sarapannya mas bawa ke sini?” Tangan kiri Bayu menggenggam tangan Aisyah, sedangkan tangan kanannya mengelus kepala istrinya.
“Enggak usah, Mas. Kita ke meja makan saja,” tolak Aisyah lembut.
Bayu menuntun Aisyah menuju meja makan. Namun, baru saja Aisyah mendaratkan tubuhnya di kursi, perutnya kembali terasa diaduk-aduk hingga membuat Aisyah berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam. Aisyah tahu jika Bayu mengejarnya dan ia tidak ingin suaminya marah-marah dan merasa jijik melihatnya muntah.
“Dek, pintunya jangan dikunci. Kalau kamu pingsan gimana?” Bayu berdiri di depan pintu dengan wajah panik.
Tidak ada jawaban dari dalam sana. Hanya terdengar suara air yang keluar dari kran. Bayu dengan sigap menyiapkan teh hangat dan segera membawa ke meja makan. Tidak lama Aisyah keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Bayu segera membopong tubuh Aisyah dan membawanya ke kursi. Aisyah yang merasa dirinya begitu diperhatikan sedikit tersenyum. Ia tidak bisa menebak sikap Bayu yang terkadang begitu perhatian.
“Minum dulu, Dek.” Bayu mendekatkan gelas ke mulut Aisyah. Setelah meletakkan kembali gelas itu, Bayu mengambil nasi untuk Aisyah.
“Sedikit saja, Mas,” pinta Aisyah.
“Kamu harus makan yang banyak.”
__ADS_1
“Enggak bisa, Mas. Nanti aku muntah lagi,” tolak Aisyah. Bayu pun menuruti permintaan Aisyah.
“Hari ini Mas libur kan?” tanya Aisyah yang hanya dijawab anggukan oleh Bayu. “Aish bisa minta tolong?”
“Minta tolong apa, Dek?” Bayu sejenak menatap wajah Aisyah.
“Belikan buah pir untuk Aish. Kemarin Aisyah makan buah pir yang dikasih mbak Witri, dan Aish merasa perutnya enak. Enggak mual lagi,” terang Aisyah perlahan. Ia takut Bayu akan marah.
“Bukannya kemarin sudah dikasih obat antimuntah sama bu Bidan? Sudah kamu minum apa belum? Lagian buah pir itu kan mahal, Dek.”
Aisyah diam sejenak. Ia sudah bisa menebak jawaban Bayu. “Mas Bayu pasti sudah menyisihkan uangnya untuk beli soto dan tempe goreng ini,” batin Aisyah.
“Aisyah masih ada uang, Mas. Lagian ini yang minta dedeknya. Biar dia sehat.” Aisyah terpaksa menjadikan janin dalam perutnya sebagai alasan.
“Maafkan ibu, ya, Nak. Terpaksa ibu menjadikan kamu sebagai alasan biar Ayah mau pergi membelikan buat pir untuk ibu,” batin Aisyah sembari mengelus perutnya yang masih rata.
...***************...
Hari beranjak siang, tetapi Bayu masih saja bermalas-malasan di depan televisi sambil bermain game. Aisyah yang sedari tadi tiduran di sebelahnya seperti tidak dianggap. Berkali-kali Bayu meneriaki teman mabarnya tanpa menghiraukan Aisyah sedikit pun. Sementara dalam benak Aisyah, irisan buah pir itu terus saja menggoda. Andai saja kepala Aisyah tidak pusing, ia pasti sudah pergi ke pasar untuk membelinya.
“Mas.” Aisyah menyentuh pundak Bayu.
“Hhmm.” Respon Bayu tanpa mengalihkan fokusnya dari ponsel.
“Beli pirnya mau kapan?”
“Ck! Kamu merepotkan saja. Bentar, kalau sudah selesai game-nya.”
Mendengar kata ‘merepotkan’ membuat hati Aisyah sakit. Ia kira Bayu akan berubah setelah kehamilannya. Namun nyatanya, Bayu masih saja mengutamakan teman-teman dan menganggap Aisyah sebagai istri yang merepotkan.
Perlahan Aisyah pindah dari posisinya saat ini. Ia berjalan menuju kamar dan merebahkan dirinya di atas kasur. Segera ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya untuk menyembunyikan kristal bening yang mulai menetes dari pelupuk mata yang indah.
...**************...
...to be continued...
Readers tersayang, karena hari ini, hari senin. Jangan lupa kasih vote, like, komentar dan gift, ya untuk Bayu dan Aisyah. Biar Author ketche ini makin rajin nulisnya 🙏
__ADS_1