
...Selamat membaca...
...***********...
“Dek, Mas mohon tolong pikirkan lagi semua keputusanmu itu. Kalau kita berpisah bagaimana nanti dengan Zahra,” ucap Bayu dengan wajah memelas dan penuh permohonan.
“Mas tidak perlu khawatir tentang Zahra. Aish masih bisa, kok, mengurus Zahra sendiri. Lagi pula di rumah ini juga ada Bapak. Jadi Mas tidak perlu cemas soal bagaimana keadaan Zahra nanti.” Aisyah mencoba menjelaskan dan menegaskan kalau keputusannya sudah bulat.
“Apa kamu tega, Dek, membuat Zahra hidup terpisah dariku. Ayahnya sendiri,” ucap Bayu merasakan sesak di dadanya.
“Aku tidak akan pernah menjauhkan Zahra darimu, Mas. Walau bagaimanapun Zahra tetaplah putrimu, dan kamu berhak atas diri Zahra. Tapi sekarang yang aku minta hanyalah perpisahan kita. Hanya itu. Karena aku tidak mau hidup dengan laki-laki yang tidak punya prinsip sepertimu. Sekarang aku minta Mas segera pergi dari rumah ini. Aish nggak mau jika Bapak pulang dari rumah pak RT, Mas masih ada di sini. Aish nggak mau membuat Bapak semakin sedih karena memikirkan tentang hubungan kita,” ucap Aisyah datar tanpa ingin melihat wajah Bayu.
Bayu yang merasa telah di usir oleh Aisyah pun tertegun mendengarnya. Pasalnya selama menjadi istrinya, Aisyah tidak pernah bersikap kasar seperti ini. Jangankan untuk mengusirnya, membantah semua ucapan yang terlontar dari mulutnya pun Aisyah tidak akan berani melakukannya. Namun hari ini, Bayu mendengar hal itu, sungguh rasanya bagaikan tertusuk belati tak kasat mata. Sakit tapi tak berdarah.
“Sebegitu kecewanyakah kamu padaku, Dek, hingga kamu tega mengusirku. Apakah luka yang aku torehkan terlalu menyakitimu sehingga kamu meminta untuk berpisah dariku,” batin Bayu sedih.
“Baiklah, Dek, mas akan pergi. Tapi mas mohon dengan sangat, pikirkan kembali keputusanmu itu.” Setelah mengucapkan hal itu Bayu pun pergi menuju ke arah di mana Zahra terlelap. Bayu segera mencium kening dan pipi gembul milik putrinya.
“Zahra, doakan ayah, ya, supaya ayah berhasil meluluhkan hati bundamu lagi, ayah menyesal karena telah menyakiti hati bundamu,” ucap Bayu lirih seraya mengelus pucuk kepala Zahra kemudian kembali menemui Aisyah untuk berpamitan.
“Dek, mas pulang dulu. Nanti mas akan kembali lagi,” ucap Bayu di balik punggung Aisyah. Namun, tidak ada jawaban dari orang yang dituju.
...**********...
Di perjalanan menuju ke rumah, hati Bayu diselimuti perasaan resah. Bayu tidak menyangka jika istrinya akan meminta cerai darinya saat ia berhasil menemuinya. Karena ekspektasi yang Bayu harapkan adalah, Aisyah akan berlari memeluknya dan ikut kembali pulang bersamanya.
Di tengah kegelisahan yang melanda hati, Bayu berpikir ingin menemui Ambar. Ibu yang telah melahirkannya guna menceritakan seluruh keluh kesahnya. Bayu ingin meminta saran pada Ambar, bagaimana cara meluluhkan hati wanita yang sedang marah, agar nanti saat Bayu menemui Aisyah lagi, ia bisa mempraktikkannya.
__ADS_1
Dengan sekejap Bayu mulai menambah laju motor bebeknya dan mengarahkan ke rumah kedua orang tuanya.
Sesampainya di depan rumah, Bayu gegas memarkirkan motornya, kemudian segera memberi salam dan memasuki rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Bayu.
“Waalaikumusalam, Nak," jawab Ambar dari arah dapur dengan semangat. Wanita itu menantikan kedatangan Aisyah dan Zahra yang datang bersama Bayu. Karena sejujurnya Ambar sanggatlah merindukan cucu kesayangannya yang gembul itu.
“Loh, kok, kamu cuman sendiri Bay. Aisyah dan Zahranya mana?” tanya Ambar sambil celingak-celinguk mencari keberadaan menantunya.
“Aisyah gak ikut, Bu,” jawab Bayu lirih.
“Kok, bisa gak ikut sih, Nak. Sebenarnya kamu sudah menemui Aisyah dan Zahra belum di rumah mertuamu, atau jangan-jangan kamu belum ke sana.” Ambar mulai memberondong Bayu dengan berbagai macam pertanyaan.
“Bapak ini kenapa, sih. Ya, wajarlah, Pak, kalau ibu menanyakan keberadaan Aisyah dan Zahra. Lah wong Aisyah dan Zahra itu kan menantu dan cucu kita,” jawab Ambar kesal dengan sikap suaminya.
“Aisyah menolak untuk ikut dengan Bayu, Bu.” Bayu menjawab lirih. “Aisyah minta berpisah dari Bayu."
“Berpisah bagaimana maksud kamu, Nak?” tanya Ambar dengan sangat terkejut.
“Aisyah minta cerai, Bu.” Bayu menunduk tidak berani menatap wajah ibunya.
Ambar yang mendengar ucapan Bayu seketika terkejut. Ia tidak menyangka kalau ternyata masalah putranya akan seberat ini.
“Ada masalah apa, sih, Nak, antara kamu dan Aisyah. Apa masalah kalian tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik.” Ambar menghela napas berat. Ia tidak habis pikir kenapa menantunya sampai meminta cerai.
__ADS_1
Bayu yang tertunduk akhirnya mengangkat wajahnya. Ia kemudian menceritakan semua masalahnya dengan Aisyah pada Ambar. Masalah sedari baru menikah hingga lahirnya Zahra, dan kekesalan Aisyah terhadap sikap Herman dan Erina. Ditambah kehadiran Indar yang semakin memicu amarah Aisyah.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Bayu, seketika membuat Ambar terkejut dengan semua cerita putranya. Ia tidak menyangka kalau ternyata putranya sebodoh ini. Karena menjadi suami yang tega terhadap istrinya. Namun, menjadi lelaki yang sangat perhatian pada Indar yang notabene hanyalah seorang sahabat.
Ambar pun kesal akan sikap Herman. Sebagai orang tua, ia terus-menerus mengatakan hal-hal menyakitkan pada menantunya.
“Bayu, apa yang di lakukan Aisyah selama ini tidaklah salah. Jika itu terjadi pada ibu, mungkin ibu akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Aisyah.” Ucapan Ambar seketika membuat Bayu melongo, pasalnya sang ibu bukannya membelanya, tetapi malah menyetujui pilihan Aisyah.
“Ini semua pelajaran buat kamu, Nak. Seharusnya kamu lebih peka terhadap istrimu, bukannya bersikap acuh tak acuh terhadapnya. Sekarang ibu hanya bisa berdoa agar Allah mau mengetuk hati Aisyah. Ibu berharap, Aisyah bersedia mengubah semua keputusannya untuk bercerai darimu. Karena hanya Allah-lah Maha membolak-balikkan hati."
“Mulai saat ini cobalah untuk lebih bersikap baik pada Aisyah, dan jauhi Indar. Benar kata Aisyah, kalian hanya seorang sahabat. Bukan seorang muhrim yang bisa dengan leluasa pergi berdua. Apa lagi mengingat status Indar yang juga seorang janda.” Ambar mencoba menasihati Bayu.
“Ya, sudahlah Bu. Kalau memang Aisyah minta cerai dari Bayu, ya tinggal ceraikan saja. Masih banyak kok perempuan yang mau sama anak kita," sahut Herman.
“Lagi pula sedari awal bapak tidak pernah setuju kalau Aisyah itu menjadi menantu kita. Bapak lebih setuju kalau Indar yang menjadi istri Bayu,” imbuh Herman dengan santainya.
Bayu dan Ambar yang mendengar sahutan dari Herman pun terkejut. Pasalnya sebagai orang tua Herman seharusnya bisa bersikap dan memberikan contoh, tetapi ini malah menjadi pagar dalam hubungan putranya sendiri.
“Bapak ini ngomong apa, sih. Seharusnya sebagai orang tua tugas Bapak itu menasihati dan mencarikan jalan keluar untuk Bayu dan keluarganya. Bukannya menjadi kompor dan membiarkan Bayu bercerai. Lagi pula Aisyah begini juga sebagian karena sikap bapak yang terlalu sering menyalahkannya.” Kesal Ambar pada Herman.
Herman yang tidak terima disalahkan oleh Ambar pun kini berdiri menghampiri istri dan putranya.
“Terserah kalian mau bilang apa. Bapak tetap setuju kalau Bayu dan Aisyah berpisah. Buat bapak orang yang pantas menjadi menantu bapak cuman Indar.” Setelah mengucapkan hal itu Herman pun pergi meninggalkan Bayu dan Ambar dengan perasaan tidak percaya jika Herman bisa bersikap seperti itu.
...*************...
...To be continued...
Jangan lupa like, komentar dan gift, ya 🙏
__ADS_1